Tampilkan postingan dengan label Maya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 18, 2009

Memahami Dunia Matrix dalam Pikiran Tuhan

Selama ribuan tahun hidup di muka bumi ini spesies manusia tak berhenti berusaha mencari dan mengetahui keberadaan Tuhan, Awal segala sesuatu dan Akhir dari semua keberadaan makhluk. Hampir semua kebudayaan menghasilkan produk agama dan kepercayaan yang bertujuan mengekalkan keyakinan akan adanya Tuhan dan keberadaanNya.


Agamawan, spiritualis, pemikir, filsuf, hingga ilmuwan dan saintis menghabiskan waktunya untuk meyakinkan atau bahkan untuk menafikan keberadaan Tuhan. Segala upaya tersebut menghasilkan berbagai penemuan, filsafat, agama, kebudayaan, seni, faham, hipotesa, teori, ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun hingga saat ini semua masih berada dalam kebingungan, di manakah Tuhan?


Untuk memberikan kemudahan bagi manusia, Allah Swt mendatangkan utusanNya dari kalangan manusia sendiri yang disebut para Rasul dan Nabi. Beberapa periode dalam kedatangan para Rasul Allah tersebut ternyata masih banyak manusia yang belum tumbuh keyakinannya akan keberadaan Allah, sehingga para utusan tersebut beserta bukti-bukti yang dibawanya berupa kitab suci dan mukjizat tidak dipedulikan dan pengingkaran terhadap ajaran dan agama yang dibawanya terus berlangsung.



Pembuktian sains dan keimanan


Sejak ilmu pengetahuan direnggut dari masa keemasannya di tangan penguasa Muslim di masa daulah Umayah dan Abbasiyah di Eropa dan Asia Tengah, dan kemudian berada di dalam penguasaan ilmuwan-ilmuwan Eropa, ilmu pengetahuan terpisah dari induknya yakni keimanan Islam.


Penelitian-penelitian sains di masa Islam yang selalu diilhami keyakinan yang teguh akan kekuasaan Allah Swt berdasarkan wahyuNya dalam Alquran kemudian bertukar menjadi usaha-usaha ilmiah untuk mengingkari keberadaanNya. Meskipun demikian masih ada sebagian ilmuwan dan saintis yang masih terjaga keimanannya dan berupaya membuktikan kebesaranNya. Mereka inilah yang terus menggali akalnya untuk membuktikan kebenaran keberadaan Tuhan.



Allah Yang Maha Besar Tak Berhingga


Dalam pembahasan di warta yang lalu berjudul “Menyingkap Misteri 7 Lapisan Langit dan Keajaiban Isra Miraj” kita sudah membicarakan mengenai 7 lapisan langit yang bertingkat-tingkat menurut penambahan tingkat dimensinya. Langit pertama atau langit dunia kita ini berdimensi 3, langit kedua berdimensi 4 dan seterusnya hingga langit ketujuh berdimensi 9.


Penambahan dimensi tersebut sebetulnya tidak tepat demikian, karena penambahan 1 dimensi untuk setiap kenaikan dimensi langit adalah asumsi untuk memudahkan pemahaman. Berapa jumlah kenaikan dimensi yang sebenarnya tidak diketahui dengan pasti, bisa 1, 2 atau lebih dari itu.


Setiap dimensi dihuni makhluk-makhluk tertentu dan semua makhluk tentu adalah ciptaan Allah. Jadi bagaimana dengan Allah sendiri? Di manakah keberadaanNya? Apakah Allah mempunyai dimensi sendiri?


Jawabannya adalah Allah Swt tidak berada di dimensi manapun. Karena dimensi adalah ciptaanNya, maka mustahil Allah bercampur dengan makhluk ciptaanNya. Namun untuk memudahkan pemahaman kita agar keberadaanNya bisa dijelaskan dengan akal manusia yang terbatas (persis seperti analogi peningkatan dimensi langit yang menggunakan ukuran dimensi ke-3, karena tingkat pemahaman kita hanya sampai di alam berdimensi 3), maka kita mengasumsikan bahwa Allah Yang Maha Besar Tak Berhingga itu berada di dimensi tak berhingga juga (tidak ada batas akhir atau ujungnya).


Kita juga mengetahui bahwa dimensi ke-1 berada di dalam dimensi ke-2, dimensi ke-2 dalam dimensi ke-3 dan seterusnya. Maka dengan berasumsi bahwa Allah berada di dimensi tak berhingga, maka semua dimensi sudah pasti berada di dalam dimensi Allah Swt.



Penjelasan tentang penciptaan


Berikut diuraikan bagaimana sebuah penciptaan terjadi. Kita ambil contoh seorang pembuat keramik atau tembikar. Sebelum seorang pembuat keramik membuat sebuah barang berupa tembikar, maka terlebih dulu dia harus membuat rancangan di dalam pikirannya. Ide awal berupa gambaran sebuah cangkir, misalnya, akan berwujud di dalam pikirannya secara lengkap dan utuh lengkap dengan detil dan warnanya.


Kemudian si pembuat keramik akan mengambil sebongkah tanah dan mencampurnya dengan air, dan mulai bekerja mewujudkan ide gambaran cangkir di dalam pikirannya. Dia bekerja dengan penuh konsentrasi sampai wujud cangkir di dalam pikirannya hadir di hadapannya dari sebongkah tanah liat bercampur air di tangannya tadi.


Sangat jelas di akhir proses ini cangkir dan si pembuat keramik sudah terpisah secara material. Artinya keberadaan cangkir dan si pembuat keramik berada di dalam ruang dan waktu yang sama.


Kalau analogi di atas dipakai dalam penciptaan alam semesta oleh Allah Swt, akan menimbulkan kemustahilan dan bertentangan dengan kebesaran Allah. Kemustahilan tersebut disebabkan ada syarat-syarat wajib keberadaan Allah yang harus berbeda dengan makhluk ciptaanNya. Syarat-syarat tersebut adalah pertama, wujud Allah tidak boleh sama dengan makhluk ciptaanNya dan kedua, keberadaan Allah tidak boleh bersamaan dengan makhluk ciptaanNya. Kalau syarat-syarat ini tidak terpenuhi berarti Allah sama dan bersekutu dengan makhlukNya dan itu menunjukkan kelemahanNya sebagai Tuhan.


Bagaimanakah penjelasan yang sesuai mengenai penciptaan alam semesta oleh Allah sebagai penciptanya?


Jawabannya adalah ide penciptaan berupa alam semesta itu mewujud tidak di luar wujud Allah tapi di dalam pikiranNya. Atau dari segi dimensi, maka dimensi makhluk yang terbatas berada di dalam dimensi pikiran Allah yang tidak terbatas. Namun perlu dicatat bahwa yang dimaksud dengan pikiran Allah di sini tidak sama dengan pikiran makhluk.



Semua makhluk ciptaan Allah mewujud dalam pikiranNya


Di dalam warta yang lain berjudul “Dunia Maya yang Menyesatkan” diungkapkan bahwa wujud alam semesta ini – termasuk kita di dalamnya – hanyalah merupakan susunan dari atom-atom dengan loncatan-loncatan elektron di antaranya. Bahkan lebih jauh lagi disimpulkan bahwa alam semesta yang berlapis-lapis dimensinya ini hanyalah kumpulan energi yang memadat.


Yang dimaksud dengan energi di sini adalah “kekuatan dari kehendak” atau Qudrat dan Iradat Tuhan. Qudrat (Kekuatan) sebagai yang mewujudkan dan Iradat (Kehendak) sebagai ide atau pikiran awal (Akal Pertama). Kedua-duanya, Qudrat dan Iradat tidak berada di luar wujud Allah Swt tapi berada di dalam diriNya karena merupakan sifat-sifatNya, atau bisa dikatakan berada di dalam pikiranNya.


Jadi semua ide mengenai alam semesta serta makhluk-makhluk ciptaanNya mewujud di dalam pikiran Allah Swt saja dan tidak berada di luar wujudNya. Kondisi ini dapat menjelaskan keutamaan sifat Allah Swt atas makhluk ciptaanNya, yakni :


1. Wujud Allah Swt tidak serupa dengan makhluknya (Laisa kamislihi sai’un). Wujud Allah Swt yang menciptakan pasti tidak sama dengan makhluk ciptaanNya yang hanya ada dalam pikiranNya.


2. Keberadaan Allah Swt tidak bersamaan dengan makhluknya (Laa syarikalah). Sangat jelas Allah Swt berdiri sendiri (Qiyamuhu binafsih) sedangkan makhluk ciptaanNya hanya berada dalam pikiranNya.


3. Allah Swt Maha Besar, Maha Berkuasa dan meliputi segala sesuatu (Innahu bikulli syaiimmuhiith – Alquran Surat Fushshilat : 54). Karena makhluk mewujud dalam pikiranNya, maka secara langsung Allah Swt meliputi semua ide-ideNya, dan Maha Besar serta Berkuasa atas apa-apa yang ada dalam pikiranNya. Sesuatu yang berada dalam pikiran bermakna dalam kekuasaan yang memikirkan.


4.Allah Swt Maha Nyata dan Maha Menjelaskan (Alquran Surah An-Nur : 25). Tampak jelas dalam pemahaman kita bahwa Allah Swt adalah Yang Maha Nyata karena benar-benar ada atau ada dengan sesungguhnya karena Dia yang berpikir, sedangkan makhluk ciptaanNya hanya bersifat semu dalam pikiranNya.


5.Allah Swt menciptakan sesuatu cukup dengan berkata: “Jadi maka jadilah” (Alquran Surah Yaasin ayat 82), dan ini bisa terjadi di dalam pikiran.



Dunia matrix yang sesungguhnya


Bagi anda yang sudah menonton film The Matrix yang diperankan oleh Keanu Reves pasti bisa menerima gambaran bahwa alam pikiran bisa dijelajahi. Diceritakan bahwa Neo dan kawan-kawannya berpetualangan di dunia matrix yang merupakan dunia di dalam pikiran mereka sendiri. Dengan dihubungkan oleh sebuah perangkat komputer, mereka bisa berkomunikasi dan bertemu di dunia maya dalam pikiran mereka masing-masing.


Kalau kita menghubungkan ide cerita film tersebut dengan isi tulisannya ini, bukankah dunia kita ini sebenarnya adalah dunia matrix dalam pikiran Tuhan? Kita semua dan seluruh alam ini hanyalah tokoh ciptaan dalam dunia maya yang semu, dan yang benar-benar nyata hanyalah Allah Swt sendiri.



Alam semesta tidak diciptakan dengan sia-sia


Walaupun kita dan alam ini hanya mewujud di dalam pikiran Allah Swt, namun semua ini tidak diciptakan oleh Allah dengan sia-sia. Tujuan akhir dari penciptaan adalah pengagungan kebesaran Allah Swt atas semua makhluk ciptaanNya, disamping manfaat tetap dirasakan oleh makhluk itu sendiri semuanya.


Seperti disebutkan di dalam Alquran Surah Ali-Imran Ayat 191:


Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.


Wallahua’lam.




Sumber gambar : http://www.princeton.edu/%7Emike/articles/amsterdam/matrix.jpg

Kamis, April 02, 2009

Dunia Maya yang Menyesatkan

Sejak manusia pertama diturunkan di bumi ini, bumi sudah menjadi tempat ujian bagi manusia. Ujian dalam menjalankan perintah Allah Swt, ujian kemampuan dalam menjaga kelangsungan hidupnya serta bagaimana manusia bisa menjadikan dirinya berguna bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.


Banyak manusia yang menemui kegagalan dalam ujian tersebut. Termasuk juga anak Adam As. bernama Qabil yang akhirnya menjadi pembunuh pertama di muka bumi karena teperdaya oleh kecantikan lahirian adik perempuan saudaranya sendiri, Habil yang dibunuhnya.


Begitu juga kisah Qarun di masa Nabi Musa As, yang menolak perintah Allah Swt untuk berzakat berupa sebagian kecil hartanya karena teperdaya oleh kilauan harta dunia, sehingga akhirnya dia ditenggelamkan ke dalam bumi dengan sebuah gempa dahsyat beserta seluruh hartanya.


Kedua kisah dari Alquran di atas adalah dua contoh kejadian bagaimana manusia bisa tertipu oleh materi duniawi yang sebenarnya adalah semu belaka. Pengertian ini bukan ungkapan puitis, tapi benar-benar bisa dijelaskan secara ilmiah. Bukan hanya materi isi bumi dan bumi, bahkan seluruh alam semesta ini adalah maya alias tidak ada.



Pemberian nama adalah penyebab utama eksistensi


Kalau setiap bayi manusia yang terlahir di muka bumi ini tidak diberi nama, kira-kira apa yang akan terjadi? Tidak akan ada eksistensi pribadi. Semua orang akan saling memanggil dengan sebutan, “Hai, manusia!”. Kalau seandainya tidak disebut dengan manusia, maka dengan apa kita dipanggil? “Hai, tulang dan daging yang berjalan!”. Dan seterusnya, yang pasti akan semakin terdengar menggelikan dan aneh kedengarannya.


Nama ternyata adalah penyebab utama munculnya eksistensi. Dengan nama-nama benda yang diajarkan oleh Allah Swt kepada Nabi Adam As, manusia pertama, setiap benda dan makhluk memiliki eksistensinya.


Selain itu nama adalah penyebab tersembunyinya kebenaran hakiki tentang sesuatu. Karena diberi nama tersembunyilah kebenaran bahwa gadis cantik yang dikagumi banyak orang itu ternyata hanyalah seonggok tulang yang dibungkus daging. Saya yakin ketika Anda – yang laki-laki tentu saja - memandangi seorang gadis yang cantik pasti lupa bahwa dia sebetulnya merupakan susunan tulang yang dibungkus daging. Kecuali Anda seorang kanibal, pemakan manusia. :)



Materi adalah energi yang memadat


Sekarang kita akan meninjau materi dari strukturnya dan asal mula terjadinya. Sebagai contohnya adalah tubuh manusia. Mari kita uraikan.


Tubuh kita ini adalah sebuah organisasi besar. Dari luar tampak kepala, badan utama dan anggota badan, yakni dua kaki dan tangan. Ditinjau dari dalam maka tubuh merupakan kumpulan beberapa organ tubuh yang saling bekerja sama. Setiap organ tubuh adalah merupakan organisasi beberapa jaringan sel yang mempunyai tujuan kerja yang sama. Setiap jaringan sel adalah kumpulan beberapa sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Sel itu sendiri adalah bagian terkecil dari makhluk hidup yang terdiri dari membran sel, sitoplasma, inti sel, ribosom dan lain sebagainya. Zat-zat penyusun sel antara lain adalah air, lemak, karbohidrat dan protein. Sampai di sini sudah pasti Anda tidak akan melihat seorang manusia lagi, kan?


Selanjutnya kita menguraikan zat-zat penyusun sel tersebut. Sebagai contoh paling mudah adalah air. Air adalah zat cair yang merupakan organisasi dari gugus-gugus molekul air atau H20. Molekul air atau H20 merupakan rangkaian dua ion, yakni H+ dan OH-. Kita menguraikan ion OH- menjadi satu atom O atau Oksigen dan H atau Hidrogen. Kita ambil contoh atom Oksigen. Atom oksigen mempunyai 8 elektron, 8 proton dan 8 neutron. Atom adalah partikel yang terkecil dari materi, sedangkan proton, neutron dan elektron adalah muatan dari atom, di mana proton bermuatan positif terdapat di tengah, neutron bermuatan netral terdapat di tengah bersama proton dan elektron bermuatan negatif mengelilingi inti atom pada orbit. Perkembangan sains terakhir telah menemukan bahwa sebuah proton merupakan ikatan dari 3 quark yang saling menguatkan.


Proton dengan proton ada gaya tolak-menolak, tapi karena ada neutron terjadilah ikatan antar proton dengan proton di mana neutron sebagai penyambungnya. Ikatan inilah yang menjadi dasar terbentuknya materi. Sedangkan gaya tarik menarik antar proton dan elektron berpadu dengan gaya sentrifugal elektron yang menyebabkan elektron tetap pada lintasan orbitnya sehingga struktur atom menjadi tetap.


Jadi kalau materi terbentuk dari ikatan beberapa proton dan neutron serta elektron yang berpotensi energi, maka bisa dikatakan bahwa materi terbentuk dari energi yang memadat.



Kenapa materi bisa dilihat dan disentuh?


Materi ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh kita selama ini, yang berwarna, berasa, berbau, bisa diraba dengan panca indra kita. Yang kita bayangkan sebagai materi, yaitu tubuh kita, kamar kita, rumah kita, dunia dan seluruh alam semesta, pada kenyataannya tidak lain adalah energi. Lalu, apa yang membuat segala sesuatu di sekitar kita dapat dilihat dan disentuh?


Alasan mengapa kita merasakan benda-benda di sekitar kita sebagai materi adalah tabrakan elektron-elektron di kulit-kulit orbit atom dengan foton, dan atom yang saling tarik dan tolak sesamanya.


Anda bahkan sebenarnya tidak memegang buku yang menurut Anda sedang dipegang. Sebenarnya, atom-atom tangan Anda tolak-menolak dengan atom-atom buku, dan Anda merasakan sensasi sentuhan tergantung intensitas gaya tolak ini. Seperti yang telah disebutkan ketika membahas struktur atom, mereka dapat saling mendekat sedekat diameter sebuah atom. Padahal, atom-atom yang mampu sedekat ini hanyalah atom-atom yang saling bereaksi. Jadi, kalau atom-atom dari zat yang sama saja tidak dapat bersentuhan, apalagi kita. Tidak mungkin kita menyentuh materi yang kita pegang, meremas atau mengangkatnya dengan tangan kita. Bahkan, bila kita dapat berada sedekat mungkin dengan benda di tangan kita, kita akan terlibat dalam reaksi kimia dengan objek tersebut. Dalam hal ini, sangat tidak mungkin bagi manusia atau makhluk hidup lain untuk bertahan hidup walapun hanya satu detik. Makhluk hidup akan langsung bereaksi dengan materi yang dia injak, duduki, sandari, dan akan berubah menjadi sesuatu yang lain.


Gambaran akhir yang muncul dalam situasi ini adalah kita hidup di dunia yang 99,95% terdiri dari kekosongan berisi atom-atom yang hampir seluruhnya merupakan energi. Sebenarnya kita tidak pernah menyentuh apa yang kita anggap "kita sentuh dan kita pegang". Jadi, sejauh mana kita mengindra materi yang kita lihat, dengar atau cium? Apakah substansi-substansi ini benar-benar seperti apa yang kita lihat dan dengar? Sama sekali tidak. Hal ini sudah dibahas pada warta berjudul “Apakah Alam Semesta Dan Kita Benar-benar Ada?”



Dunia maya yang semu


Ketika Anda menonton televisi sadarkah anda bahwa artis yang tampil di layar adalah gambar dan bukan artis yang sesungguhnya? Proses menghasilkan gambar pada layar sebuah televisi tabung dimulai ketika elektron ditembakkan dari belakang tabung gambar menuju bagian dalam tabung yang dilapis elemen yang terbuat dari bahan yang memiliki kemampuan untuk memendarkan cahaya. Sinar elektron tersebut melewati serangkaian magnet kuat yang membelok-belokkan sinar menuju bagian-bagian tertentu dari tabung.


Ketika sinar tersebut sampai ke bagian kaca tabung televisi, dia akan menyinari lapisan berpendar, menyebabkan tempat-tempat tertentu berpendar secara temporer.


Setiap tempat tertentu mewakili piksel tertentu. Dengan mengontrol tegangan dari sinar tersebut, terciptalah teknologi yang mampu mengatur piksel-piksel tersebut untuk berpendar dengan intensitas cahaya tertentu. Dari piksel-piksel tersebut, dapat dibentuklah gambar.


Teorinya, untuk membentuk sebuah gambar, sinar tadi menyapu sebuah garis horizontal dari kiri ke kanan, menyebabkan piksel-piksel tadi berpendar dengan intensitas cahaya sesuai dengan tegangan yang telah diatur. Proses tersebut terjadi pada semua garis horizontal yang ada pada pixel layar, dan ketika telah sampai ujung, sinar tersebut akan mati sementara untuk mengulang proses yang sama untuk menghasilkan gambar yang berbeda. Makanya Anda dapat nonton objek yang seolah-olah bergerak di layar televisi.


Nah, apa bedanya dunia kita ini dengan layar televisi. Gambar yang kita lihat di layar televisi merupakan hasil pancaran elektron-elektron dari atom-atom, begitu juga dengan seluruh isi alam semesta ini merupakan hasil loncatan elektron-elektron dari atom-atom. Jadi kalau gambar di televisi adalah semu, maka tidak keliru kalau dikatakan bahwa dunia dan segala isinya juga semu.



Hakikat hidup menghindari penyesatan dunia


Mungkin muncul pertanyaan di benak Anda, untuk apa kita hidup di dunia kalau memang dunia ini semu?


Jawabannya adalah kita hidup untuk 3 hal yang bukan materi:


1.Amanah dari Allah untuk menjalani hidup di dunia dan mematuhi perintahNya


2.Muamalah sesama makhluk sebagai ladang amal


3.Barokah dari Allah atas amal-amal untuk di dunia dan akhirat


Ketiga hal ini tetap memerlukan materi sebagai alat atau sarana. Tetapi akan menjadi salah apabila kita menjadikan materi yang semu sebagai tujuan hidup, karena akan membuat kita lupa dengan hakikat hidup di dunia, yakni ketiga hal tadi. Kalau kita tertipu oleh materi sama artinya dengan disesatkan oleh dunia. Sebagaimana dengan firman Allah Swt di dalam Alquran:


“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (Q.S. Al-Ankabut: 64)


Wallahua’alam.



Sumber gambar : http://mama-galang.co.cc/wp-content/uploads/2008/12/dunia-maya1.jpg