Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juni 21, 2009

6 Langkah Mengembangkan Kemampuan Psikometri Anda

Psikometri adalah seni merasakan energi-energi yang terpancar dari benda mati. Seseorang yang sudah mengembangkan anugerah kemampuan psikometri dapat merasakan energi dari benda yang dipegangnya dan membaca energi tersebut untuk memperoleh informasi.


Benda mati mempunyai ladang energi yang bersumber dari dirinya, dan mereka juga dapat menyerap energi dari orang yang memiliki benda tersebut. Prinsipnya adalah setiap molekul benda mati bergetar, begitu juga elektron-elektron dari atom-atomnya berputar dan memancarkan energi. Pengaruh gaya tarik-menarik antar molekul dan atom menyebabkan energi yang memancar dari orang atau benda di sekitar objek dapat diserap oleh objek dan disimpan sebagai rekaman kejadian.


Siapa saja yang sensitip dapat membaca energi itu. Jika suatu waktu anda sedang memegang atau berada di dekat sebuah benda lalu anda tiba-tiba merasakan perasaan tertentu – dalam bahasa sehari-hari seperti ada perasaan lain; suatu sensasi tiba-tiba seperti perasaan sedih atau perasaan nyaman, ada kemungkinan anda memiliki kemampuan psikometri. Sebaiknya kemampuan tersebut dikembangkan, karena akan sangat berguna dalam hidup anda, seperti misalkan anda seorang polisi penyelidik kejahatan, broker barang antik, atau kolektor benda seni.


Berikut langkah-langkah untuk mengembangkan kemampuan psikometri anda.



Langkah 1


Pegang sebuah benda dengan kedua tangan Anda. Sebaiknya ukurannya muat untuk berada dalam genggaman tangan. Benda itu bersifat pribadi, seperti barang perhiasan atau jam tangan, dan telah dimiliki dan dipergunakan oleh pemiliknya dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga energi yang menempel pada benda itu sangat kuat.


Langkah 2


Fokuskan pikiran anda kepada objek yang anda pegang. Tutup kedua mata jika itu bisa membantu anda untuk berkonsentrasi. Arahkan energi anda kepada objek di dalam genggaman kedua tangan Anda. Biarkan pikiran anda beristirahat dan menetap hanya pada objek itu.


Pelajari tentang kekuatan fokus pikiran pada link http://www.wikimu.com/News/displaynews.aspx?id=14491


Langkah 3


Visualisasikan dengan imajinasi anda bahwa ada sebuah jalur penghubung antara energi objek yang anda pegang dengan energi anda sendiri. Perhatikan kedua energi – energi anda dan objek – bergabung dalam satu ladang energi.


Langkah 4


Relaksasikan pikiran anda, dan lihatlah gambaran-gambaran apa yang datang dalam pikiran anda. Perhatikan dengan seksama apa-apa yang Anda sedang rasakan atau sensasi-sensai yang datang. Pencitraan mungkin datang berupa gambaran-gambaran, pemikiran-pemikiran, sensasi-sensasi atau berupa bau tertentu. Perhatikan setiap kesan yang anda terima.


Langkah 5


Kenali dan rasakan obyek dengan cara yang berbeda dalam berbagai cara. Kenali apakah rasanya panas atau dingin, kegelisahan atau ketenangan, kesedihan atau kegembiraan, marah atau kasih, dan seterusnya.


Langkah 6


Terimalah setiap perasaan, pemikiran atau pencitraan yang anda terima apa adanya – jangan menggunakan asumsi atau analisa logika anda. Jika anda sedang menggunakan psikometri untuk membaca orang lain, maka katakan kepada mereka segala sesuatu yang anda alami dan rasakan. Apabila kita mengatakan sesuatu apa adanya, biasanya orang akan jujur juga kepada anda, dan ini akan membantu anda untuk memperoleh perasaan dan pencitraan yang semakin akurat. Jika anda sedang mempraktekkan psikometri untuk pengembangan ketrampilan, catat semua pencitraan yang sudah anda terima, dan ingatlah kiat-kiat yang anda temukan sendiri selama latihan untuk mendapatkan kekuatan dan ketelitian dari kemampuan anda, kalau Anda ingin terus mempraktekkan dan mengembangkannya.


Semakin banyak anda mempraktekkan kemampuan psikometri anda, maka kemampuan anda akan semakin kuat dan informasi yang diterima menjadi lebih akurat. Temukan kesempatan untuk mempraktekkannya ketika anda berada di pesta, pertemuan-pertemuan dengan teman-teman atau keluarga. Teman-teman dan keluarga anda biasanya merasa tertarik dengan psikometri dan ingin belajar dari anda, hal ini berarti kesempatan bagi anda untuk memperbaiki ketrampilan dan mempertajam indera batin.

Sabtu, April 18, 2009

Memahami Dunia Matrix dalam Pikiran Tuhan

Selama ribuan tahun hidup di muka bumi ini spesies manusia tak berhenti berusaha mencari dan mengetahui keberadaan Tuhan, Awal segala sesuatu dan Akhir dari semua keberadaan makhluk. Hampir semua kebudayaan menghasilkan produk agama dan kepercayaan yang bertujuan mengekalkan keyakinan akan adanya Tuhan dan keberadaanNya.


Agamawan, spiritualis, pemikir, filsuf, hingga ilmuwan dan saintis menghabiskan waktunya untuk meyakinkan atau bahkan untuk menafikan keberadaan Tuhan. Segala upaya tersebut menghasilkan berbagai penemuan, filsafat, agama, kebudayaan, seni, faham, hipotesa, teori, ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun hingga saat ini semua masih berada dalam kebingungan, di manakah Tuhan?


Untuk memberikan kemudahan bagi manusia, Allah Swt mendatangkan utusanNya dari kalangan manusia sendiri yang disebut para Rasul dan Nabi. Beberapa periode dalam kedatangan para Rasul Allah tersebut ternyata masih banyak manusia yang belum tumbuh keyakinannya akan keberadaan Allah, sehingga para utusan tersebut beserta bukti-bukti yang dibawanya berupa kitab suci dan mukjizat tidak dipedulikan dan pengingkaran terhadap ajaran dan agama yang dibawanya terus berlangsung.



Pembuktian sains dan keimanan


Sejak ilmu pengetahuan direnggut dari masa keemasannya di tangan penguasa Muslim di masa daulah Umayah dan Abbasiyah di Eropa dan Asia Tengah, dan kemudian berada di dalam penguasaan ilmuwan-ilmuwan Eropa, ilmu pengetahuan terpisah dari induknya yakni keimanan Islam.


Penelitian-penelitian sains di masa Islam yang selalu diilhami keyakinan yang teguh akan kekuasaan Allah Swt berdasarkan wahyuNya dalam Alquran kemudian bertukar menjadi usaha-usaha ilmiah untuk mengingkari keberadaanNya. Meskipun demikian masih ada sebagian ilmuwan dan saintis yang masih terjaga keimanannya dan berupaya membuktikan kebesaranNya. Mereka inilah yang terus menggali akalnya untuk membuktikan kebenaran keberadaan Tuhan.



Allah Yang Maha Besar Tak Berhingga


Dalam pembahasan di warta yang lalu berjudul “Menyingkap Misteri 7 Lapisan Langit dan Keajaiban Isra Miraj” kita sudah membicarakan mengenai 7 lapisan langit yang bertingkat-tingkat menurut penambahan tingkat dimensinya. Langit pertama atau langit dunia kita ini berdimensi 3, langit kedua berdimensi 4 dan seterusnya hingga langit ketujuh berdimensi 9.


Penambahan dimensi tersebut sebetulnya tidak tepat demikian, karena penambahan 1 dimensi untuk setiap kenaikan dimensi langit adalah asumsi untuk memudahkan pemahaman. Berapa jumlah kenaikan dimensi yang sebenarnya tidak diketahui dengan pasti, bisa 1, 2 atau lebih dari itu.


Setiap dimensi dihuni makhluk-makhluk tertentu dan semua makhluk tentu adalah ciptaan Allah. Jadi bagaimana dengan Allah sendiri? Di manakah keberadaanNya? Apakah Allah mempunyai dimensi sendiri?


Jawabannya adalah Allah Swt tidak berada di dimensi manapun. Karena dimensi adalah ciptaanNya, maka mustahil Allah bercampur dengan makhluk ciptaanNya. Namun untuk memudahkan pemahaman kita agar keberadaanNya bisa dijelaskan dengan akal manusia yang terbatas (persis seperti analogi peningkatan dimensi langit yang menggunakan ukuran dimensi ke-3, karena tingkat pemahaman kita hanya sampai di alam berdimensi 3), maka kita mengasumsikan bahwa Allah Yang Maha Besar Tak Berhingga itu berada di dimensi tak berhingga juga (tidak ada batas akhir atau ujungnya).


Kita juga mengetahui bahwa dimensi ke-1 berada di dalam dimensi ke-2, dimensi ke-2 dalam dimensi ke-3 dan seterusnya. Maka dengan berasumsi bahwa Allah berada di dimensi tak berhingga, maka semua dimensi sudah pasti berada di dalam dimensi Allah Swt.



Penjelasan tentang penciptaan


Berikut diuraikan bagaimana sebuah penciptaan terjadi. Kita ambil contoh seorang pembuat keramik atau tembikar. Sebelum seorang pembuat keramik membuat sebuah barang berupa tembikar, maka terlebih dulu dia harus membuat rancangan di dalam pikirannya. Ide awal berupa gambaran sebuah cangkir, misalnya, akan berwujud di dalam pikirannya secara lengkap dan utuh lengkap dengan detil dan warnanya.


Kemudian si pembuat keramik akan mengambil sebongkah tanah dan mencampurnya dengan air, dan mulai bekerja mewujudkan ide gambaran cangkir di dalam pikirannya. Dia bekerja dengan penuh konsentrasi sampai wujud cangkir di dalam pikirannya hadir di hadapannya dari sebongkah tanah liat bercampur air di tangannya tadi.


Sangat jelas di akhir proses ini cangkir dan si pembuat keramik sudah terpisah secara material. Artinya keberadaan cangkir dan si pembuat keramik berada di dalam ruang dan waktu yang sama.


Kalau analogi di atas dipakai dalam penciptaan alam semesta oleh Allah Swt, akan menimbulkan kemustahilan dan bertentangan dengan kebesaran Allah. Kemustahilan tersebut disebabkan ada syarat-syarat wajib keberadaan Allah yang harus berbeda dengan makhluk ciptaanNya. Syarat-syarat tersebut adalah pertama, wujud Allah tidak boleh sama dengan makhluk ciptaanNya dan kedua, keberadaan Allah tidak boleh bersamaan dengan makhluk ciptaanNya. Kalau syarat-syarat ini tidak terpenuhi berarti Allah sama dan bersekutu dengan makhlukNya dan itu menunjukkan kelemahanNya sebagai Tuhan.


Bagaimanakah penjelasan yang sesuai mengenai penciptaan alam semesta oleh Allah sebagai penciptanya?


Jawabannya adalah ide penciptaan berupa alam semesta itu mewujud tidak di luar wujud Allah tapi di dalam pikiranNya. Atau dari segi dimensi, maka dimensi makhluk yang terbatas berada di dalam dimensi pikiran Allah yang tidak terbatas. Namun perlu dicatat bahwa yang dimaksud dengan pikiran Allah di sini tidak sama dengan pikiran makhluk.



Semua makhluk ciptaan Allah mewujud dalam pikiranNya


Di dalam warta yang lain berjudul “Dunia Maya yang Menyesatkan” diungkapkan bahwa wujud alam semesta ini – termasuk kita di dalamnya – hanyalah merupakan susunan dari atom-atom dengan loncatan-loncatan elektron di antaranya. Bahkan lebih jauh lagi disimpulkan bahwa alam semesta yang berlapis-lapis dimensinya ini hanyalah kumpulan energi yang memadat.


Yang dimaksud dengan energi di sini adalah “kekuatan dari kehendak” atau Qudrat dan Iradat Tuhan. Qudrat (Kekuatan) sebagai yang mewujudkan dan Iradat (Kehendak) sebagai ide atau pikiran awal (Akal Pertama). Kedua-duanya, Qudrat dan Iradat tidak berada di luar wujud Allah Swt tapi berada di dalam diriNya karena merupakan sifat-sifatNya, atau bisa dikatakan berada di dalam pikiranNya.


Jadi semua ide mengenai alam semesta serta makhluk-makhluk ciptaanNya mewujud di dalam pikiran Allah Swt saja dan tidak berada di luar wujudNya. Kondisi ini dapat menjelaskan keutamaan sifat Allah Swt atas makhluk ciptaanNya, yakni :


1. Wujud Allah Swt tidak serupa dengan makhluknya (Laisa kamislihi sai’un). Wujud Allah Swt yang menciptakan pasti tidak sama dengan makhluk ciptaanNya yang hanya ada dalam pikiranNya.


2. Keberadaan Allah Swt tidak bersamaan dengan makhluknya (Laa syarikalah). Sangat jelas Allah Swt berdiri sendiri (Qiyamuhu binafsih) sedangkan makhluk ciptaanNya hanya berada dalam pikiranNya.


3. Allah Swt Maha Besar, Maha Berkuasa dan meliputi segala sesuatu (Innahu bikulli syaiimmuhiith – Alquran Surat Fushshilat : 54). Karena makhluk mewujud dalam pikiranNya, maka secara langsung Allah Swt meliputi semua ide-ideNya, dan Maha Besar serta Berkuasa atas apa-apa yang ada dalam pikiranNya. Sesuatu yang berada dalam pikiran bermakna dalam kekuasaan yang memikirkan.


4.Allah Swt Maha Nyata dan Maha Menjelaskan (Alquran Surah An-Nur : 25). Tampak jelas dalam pemahaman kita bahwa Allah Swt adalah Yang Maha Nyata karena benar-benar ada atau ada dengan sesungguhnya karena Dia yang berpikir, sedangkan makhluk ciptaanNya hanya bersifat semu dalam pikiranNya.


5.Allah Swt menciptakan sesuatu cukup dengan berkata: “Jadi maka jadilah” (Alquran Surah Yaasin ayat 82), dan ini bisa terjadi di dalam pikiran.



Dunia matrix yang sesungguhnya


Bagi anda yang sudah menonton film The Matrix yang diperankan oleh Keanu Reves pasti bisa menerima gambaran bahwa alam pikiran bisa dijelajahi. Diceritakan bahwa Neo dan kawan-kawannya berpetualangan di dunia matrix yang merupakan dunia di dalam pikiran mereka sendiri. Dengan dihubungkan oleh sebuah perangkat komputer, mereka bisa berkomunikasi dan bertemu di dunia maya dalam pikiran mereka masing-masing.


Kalau kita menghubungkan ide cerita film tersebut dengan isi tulisannya ini, bukankah dunia kita ini sebenarnya adalah dunia matrix dalam pikiran Tuhan? Kita semua dan seluruh alam ini hanyalah tokoh ciptaan dalam dunia maya yang semu, dan yang benar-benar nyata hanyalah Allah Swt sendiri.



Alam semesta tidak diciptakan dengan sia-sia


Walaupun kita dan alam ini hanya mewujud di dalam pikiran Allah Swt, namun semua ini tidak diciptakan oleh Allah dengan sia-sia. Tujuan akhir dari penciptaan adalah pengagungan kebesaran Allah Swt atas semua makhluk ciptaanNya, disamping manfaat tetap dirasakan oleh makhluk itu sendiri semuanya.


Seperti disebutkan di dalam Alquran Surah Ali-Imran Ayat 191:


Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.


Wallahua’lam.




Sumber gambar : http://www.princeton.edu/%7Emike/articles/amsterdam/matrix.jpg

Selasa, Maret 10, 2009

Apakah Alam Semesta dan Kita Benar-benar Ada?

Persepsi berasal dari kata bahasa Inggris perception yang bermakna tindakan dari perasaan; dikenal oleh perasaan atau akal sehat; ditangkap oleh organ tubuh jasmani, atau oleh pikiran apa yang diperkenalkan kepada mereka; pembedaan; penangkapan; pengamatan. Sedangkan di dalam ilmu psikologi, persepsi bermakna pengorganisasian mental dan penafsiran atas informasi yang diterima.


Proses terbentuknya persepsi adalah proses kelahiran sebuah pengetahuan. Pengetahuan kita akan sesuatu hal selalu dimulai dengan proses penangkapan informasi oleh indrawi kita – mata (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (perasa) dan kulit (peraba) – kemudian berkas informasi yang diterima oleh indera kita disampaikan berupa sinyal-sinyal listrik ke otak dengan bantuan syaraf dan plasma sel. Berdasarkan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya informasi tadi diolah dan ditanggapi sebagai sebuah persepsi. Kesadaran kita mendapatkan gambaran berdasarkan persepsi yang terbentuk tadi, dan kita pun memiliki sebuah pengetahuan. Begitulah kira-kira sebuah persepsi terbentuk dan pengetahuah lahir dari sebuah persepsi.


Sebagai contoh adalah ketika kita membaca sebuah buku, kita sedang menggunakan satu buah indera utama yakni mata. Mata menangkap pantulan foton-foton cahaya dari buku yang membawa gambaran huruf-huruf dalam bentuk cahaya dengan frekuensi berbeda-beda melalui lensa mata. Kemudian bayangan huruf yang terbalik diterima titik api atau retina mata yang terletak di bagian belakang bola mata. Cahaya yang jatuh di retina mata ini diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan oleh syaraf-syaraf neuron ke sebuah bintik kecil di bagian belakang otak yang disebut pusat penglihatan. Setelah mengalami sederetan proses sinyal listrik diubah kembali menjadi gambaran bayangan huruf-huruf. Di bintik kecil inilah proses penglihatan terjadi.


Selesaikah sampai di situ? Tentu saja belum selesai. Gambaran bayangan huruf-huruf tadi belum dimengerti oleh kita. Rekaman pengetahuan tentang huruf dan pelajaran membaca yang sudah direkam di otak akan dibandingkan dengan informasi yang baru datang, maka kita pun mengenalinya sebagai huruf-huruf, kata-kata dan kalimat. Terakhir pengetahuan-pengetahuan kita yang lain dan tersimpan di otak akan terus dibandingkan dengan semua informasi yang masuk. Setelah itu terjadi proses berpikir yang sangat kompleks untuk mengolah data yang masuk. Dan hanya dalam hitungan beberapa detik atau menit sebuah persepsi akan terbentuk dan kita pun berkata dalam hati, “Oh, ternyata begini caranya”. Lahirlah sudah sebuah pengetahuan.


Persepsi yang terbentuk tidak pernah sama pada semua individu disebabkan perbedaan pada kemampuan fungsi organ indera, syaraf-syaraf, otak dan bagian tubuh lainnya serta pengetahuan yang sudah tersimpan sebelumnya. Persepsi yang berbeda membuat pemahaman, pengertian dan pengetahuan yang terbentuk juga berbeda.


Sebagai contoh adalah rasa masakan. Satu orang mengatakan terlalu asin, yang lain mengatakan cukup, sedang yang lainnya merasa manis. Kalaupun terjadi kesamaan pendapat itu hanyalah karena sebab sosial, seperti perasaan tidak enak kalau berbeda, tidak mau ribut dan sebagainya, tetapi secara ilmiah pasti tidak akan pernah sama.



Materi alam semesta ada karena menurut persepsi kita ada


Kita semua pasti pernah suatu saat tidak menyadari keberadaan benda-benda di sekitar kita. Pada saat lampu padam misalnya. Suasana gelap gulita membuat kita tidak bisa melihat apa pun. Kita bisa menabrak apa saja apabila mencoba berjalan di ruangan yang gelap di rumah kita. Ternyata ketiadaan cahaya membuat kita kehilangan persepsi tentang isi rumah kita. Satu-satunya bekal kita adalah memori yang menyimpan semua informasi posisi benda-benda di rumah kita menurut yang pernah kita lihat. Kita harus mengingat semua letak benda-benda itu, kalau tidak, ya kita harus berjalan dengan meraba-raba untuk mendapatkan korek api atau senter sebagai sumber cahaya.


Contoh di atas baru dari satu indra, yakni indra penglihatan atau mata. Masih ada indra lainnya yang juga sangat berperan dalam membentuk persepsi kita tentang alam sekitar kita, yakni pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Kelima indra ini yang memberi bentuk kepada kita tentang alam sekitar dan alam semesta ini.


Kalau ternyata alam semesta ini keberadaannya sangat ditentukan oleh persepsi kita, dan persepsi kita sangat ditentukan oleh panca indra kita, tidak salah rasanya kalau disimpulkan bahwa alam semesta ini dikatakan ada karena panca indra kita mengatakannya ada disertai informasi bentuk dan rupanya.


Seperti telah disebutkan di atas bahwa persepsi setiap orang tidak pernah sama disebabkan perbedaan organ tubuh yang berperan, maka keberadaan alam semesta ini pun tidak sama menurut setiap orang. Dengan kata lain masing-masing orang mempunyai gambaran yang berbeda tentang alam semesta yang dilihatnya.



Keberadaan, bentuk dan rupa alam semesta diragukan kebenarannya


Seperti diuraikan di atas tadi bahwa keberadaan, rupa dan bentuk alam semesta adalah berdasarkan informasi dari indrawi kita, yang kesemuanya itu diolah di otak kita dan dijelaskan berupa persepsi. Berarti alam semesta yang luas ini – menurut persepsi kita – sesunguhnya dan sebenar-benarnya hanya berada di bagian terkecil dari otak kita, di dalam sebuah sel yang disitu membentuk gambaran.


“Lho, laptop ini kan saya lihat dan sentuh, maka dia ada”. Benar anda melihat dengan mata dan menyentuhnya dengan ujung jari anda. Tapi bentuk yang anda lihat dan anda rasakan itu adalah sinyal-sinyal listrik yang ada di otak anda, yang kemudian lahir dalam bentuk sebuah persepsi. Jadi gambaran laptop yang anda persepsikan di otak anda, itulah hasil dari penglihatan dan perabaan. Anda hanya melihat hasil gambaran dan persepsi di otak, begitu juga hasil rabaan ujung jari anda. Syaraf-syaraf di ujung jari anda mengubah kekasaran dan kehalusan bentuk menjadi sinyal-sinyal listrik, kemudian ujung-ujung syaraf menghantarkannya ke otak anda dan mengolahnya bersama hasil penglihatan menjadi sebuah persepsi bernama laptop.


Nah, kalau seluruh alam semesta ini, termasuk juga semua pengetahuan kita tentangnya – berarti termasuk juga tubuh kita dan kesadaran kita ini – adalah hasil persepsi di otak kita, maka pertanyaan kita adalah benarkah bentuknya seperti itu? Atau pertanyaan yang lebih ekstrim lagi adalah benarkah alam semesta dan kita ini ada dengan sebenar-benarnya? Ataukah yang ada selama ini hanya merupakan hasil persepsi kolektif semua manusia yang keliru tapi terlanjur dipercaya keberadaannya?




Sumber gambar : http://www.geocities.com/yhaadee/newuniverse.jpg

Senin, Maret 09, 2009

10 Gejala Aneh Kacaukan Pikiran Manusia

Pikiran adalah sesuatu yang luar biasa. Sangat banyak hal mengenai pikiran yang masih berupa misteri hingga saat ini. Ilmu pengetahuan mungkin bisa menjelaskan bagaimana terjadi gejala-gejala aneh ini, tetapi tidak bisa menerangkan sebab-sebabnya. Barangkali di antara gejala-gejala aneh ini pernah dialami oleh anda. Bahkan mungkin pernah mengacaukan kehidupan anda.


Kita mempunyai beberapa pengalaman akan perasaan, yang datang kepada kita beberapa saat, dari apa yang kita katakan, dilakukan setelah dikatakan atau dilakukan sebelumnya, di suatu waktu yang lampau - dari hal-hal di sekeliling kita, berupa masa lalu, dengan wajah-wajah sama, benda-benda, dan keadaan - dari pengetahuan kita yang sempurna akan apa yang akan dikatakan nanti, seolah-olah kita tiba-tiba mengingatnya! - Charles Dickens



1. Deja vu


Deja vu adalah pengalaman tertentu akan sesuatu yang sedang berlangsung di mana anda sudah mengalaminya atau melihat situasi baru itu sebelumnya - anda merasa seolah-olah peristiwa telah terjadi atau sedang mengulanginya. Pengalaman itu biasanya disertai oleh perasaan yang kuat seperti sudah mengenal dan suatu perasaan berupa kengerian, asing, atau aneh. Pengalaman "yang sebelumnya" ini biasanya berhubungan dengan mimpi, tetapi kadang-kadang ada suatu perasaan pasti bahwa itu sudah terjadi di masa lalu.



2. Deja Vecu


Deja vecu (Dibaca deya vay-koo) adalah apa yang dialami banyak orang ketika mereka berpikir sedang mengalami deja vu. Deja vu adalah perasaan telah melihat sesuatu sebelumnya, sedangkan deja vecu adalah pengalaman setelah melihat suatu peristiwa sebelumnya, tapi hanya di dalam detil yang besar - seperti mengenali bau-bauan dan bunyi-bunyian. Hal ini juga biasanya disertai oleh suatu perasaan yang sangat kuat akan pengetahuan sesuatu yang akan datang kemudian. Pengalaman yang pernah terjadi - tidak hanya mengenal apa yang akan datang berikutnya - tetapi juga mampu mengatakan kepada orang di sekitar apa yang akan datang itu, dan biasanya itu adalah benar. Ini sangat aneh dan sensasi yang tidak bisa dijelaskan.



3. Deja Visite


Deja Visite adalah pengalaman yang hanya sedikit orang mengalaminya di mana melibatkan suatu pengetahuan gaib akan suatu tempat yang baru. Sebagai contoh, anda mungkin pernah mengetahui jalur jalan di suatu kota yang baru anda datangi atau pemandangannya meskipun tidak pernah ke sana sebelumnya, dan anda yakin mustahil mempunyai pengetahuan tentang itu. Kalau Deja Visite tentang hubungan-hubungan geografis dan ruang, selagi Deja Vecu adalah tentang kejadian-kejadian sementara waktu. Nathaniel Hawthorne menulis tentang sebuah pengalaman seperti ini di dalam bukunya "Our Old Home" di mana dia mengunjungi sebuah benteng yang sudah hancur dan mempunyai pengetahuan lengkap mengenai denah tata letaknya. Ia kemudiannya mampu melacak pengalaman itu dalam sebuah puisi karangan Alexander Pope yang dibacanya beberapa tahun kemudian. Puisi itu menggambarkan keadaan benteng itu dengan akurat persis seperti yang diketahuinya.



4. Deja Senti


Deja Senti adalah fenomena akan sesuatu yang pernah dirasakan. Hal ini eksklusif sebuah fenomena kejiwaan dan jarang menetap di dalam ingatan anda setelah itu. Di dalam kata-kata dari orang setelah mengalaminya adalah: "Apa yang menjadi perhatian adalah apa yang sudah diperhatikan sebelumnya, dan sungguh sudah dikenal, tetapi sudah dilupakan untuk sementara waktu, dan sekarang merasa puas seakan-akan hal itu telah diingat kembali. Kemampuan mengingat itu selalu dimulai dengan suara orang lain, atau oleh perkataan dari pikiranku sendiri, atau dengan apa yang kubaca dan perkataan jiwa. Aku pikir selama keadaan tidak normal aku berkata-kata secara umum beberapa kalimat sederhana seperti ‘Oh, ya. Aku mengerti’, ‘Tentu saja, aku ingat’, dan lain-lain, hanya satu atau dua menit kemudian aku dapat mengingat kembali semuanya, dengan tidak memerlukan kata-kata maupun pemikiran yang dinyatakan dengan lisan untuk menimbulkan ingatan. Aku hanya mendapatkan bahwa perasaan itu serupa dengan apa yang sudah kurasakan sebelumnya di dalam kondisi tidak normal seperti itu.”


Anda berpikir baru saja mengucapkannya, tetapi anda juga menyadari bahwa sesungguhnya tidak mengucapkan suatu kata pun.



5. Jamais Vu


Jamais vu (tidak pernah melihat) digambarkan sebagai sebuah situasi sudah pernah dikenal tapi tidak bisa mengenali. Hal itu sering dianggap sebagai kebalikan dari deja vu dan menimbulkan perasaan ngeri dan takut. Anda tidak mengenali sebuah situasi meskipun anda mengetahui secara rasional bahwa anda telah berada di dalam situasi itu sebelumnya. Secara umum dapat dijelaskan ketika seseorang beberapa saat tidak mengenali seseorang, kata, atau tempat yang sebetulnya sudah diketahuinya. Ini menjadikan orang percaya bahwa jamais vu merupakan sejenis gejala dari kelelahan otak.



6. Presque Vu


Presque vu sering diungkapkan dengan kata-kata, "serasa sudah di ujung lidah" - merupakan perasaan yang kuat bahwa anda akan mendapatkan petunjuk atau ilham akan apa yang terlupa, tapi tidak pernah datang. Istilah "presque vu" artinya "hampir melihat". Sensasi presque vu dapat sangat mengacaukan perasaan dan pikiran, dan seringkali orang sudah tidur dibuatnya.



7. L’esprit de l’Escalier


L'esprit de l'escalier (lelucon di tangga rumah) adalah rasa untuk berpikir suatu komentar balasan yang cerdas ketika hal itu sudah terlambat untuk disampaikan. Ungkapan itu dapat digunakan untuk menguraikan tentang komentar balasan yang cepat terhadap penghinaan, atau setiap komentar pintar dan jenaka, walaupun kedatangannya sudah terlambat dan tidak berguna lagi diumpamakan kita berpikir ketika sudah berada di atas tangga meninggalkan suatu kejadian. Sebuah kata dari bahasa Jerman “treppenwitz” digunakan untuk maksud yang sama. Ungkapan yang terdekat di dalam bahasa Inggris untuk menguraikan situasi ini adalah "being wise after the event” atau menjadi bijaksana setelah kejadian. Peristiwa itu biasanya disertai oleh perasaan penyesalan karena tidak terpikirkan sebelumnya untuk memberikan komentar balasan yang cepat di saat diperlukan. Tapi mungkin lebih bijaksana kalau kita berpikir bahwa balasan itu mungkin bisa merunyamkan hubungan. Tuhan menyintai orang yang sabar dan menahan diri.



8. Capgras Delusion


Capgras delusion adalah fenomena di mana seseorang percaya bahwa sahabat karib atau keluarganya sudah berganti identitas seperti seorang penipu. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan kuno bahwa bayi-bayi telah dicuri dan digantikan oleh peri penculik anak dalam dongeng-dongeng di abad pertengahan, seperti juga khayalan modern mengenai makhluk asing atau alien yang mengambil alih tubuh dari orang-orang di bumi untuk dijadikan sekutu mereka. Khayalan ini ditemukan paling umum pada pasien berpenyakit jiwa, tetapi tidak menutup kemungkinan itu juga sudah mengacaukan pikiran anda.



9. Fregoli Delusion


Fregoli Delusion adalah fenomena otak yang jarang terjadi, di mana seseorang mempercayai bahwa orang-orang yang berbeda, sesungguhnya adalah orang yang sama yang sedang menyamar. Hal itu sering dihubungkan dengan paranoid dan kepercayaan bahwa orang yang menyamar itu sedang berusaha untuk menganiaya dirinya. Kondisi itu diberi nama seperti aktor Italia, Leopoldo Fregoli yang terkenal dengan kemampuannya untuk merubah diri secara cepat selama penampilannya aktingnya. Laporan pertama di 1927 dalam sebuah studi kasus pada seorang wanita berusia 27 tahun yang percaya dia sedang dianiaya oleh dua yang aktor yang sering dilihatnya di sebuah teater. Dia percaya kalau orang-orang ini "mengejarnya terus-menerus dengan berubah wujud seperti orang-orang yang dikenalnya”.



10. Prosopagnosia


Prosopagnosia adalah fenomena di mana seseorang tidak mampu mengenali wajah-wajah orang atau obyek yang seharusnya sudah dikenal. Orang-orang yang mengalami kekacauan ini biasanya mampu menggunakan perasaan lainnya untuk mengenali orang-orang, seperti bau parfum seseorang, bentuk atau gaya rambut, suara, atau bahkan gaya berjalan mereka. Suatu kasus yang klasik dari kekacauan ini dimuat dalam sebuah buku yang terbit tahun 1998 dan pernah ditampilkan dalam bentuk opera Michael Nyman berjudul "The man who mistook his wife for a hat” atau orang yang keliru akan istrinya karena topinya.




Sumber Tulisan :

http://listverse.com/science/top-10-strange-phenomena-of-the-mind/

Sumber Gambar : http://www.worstpreviews.com/images/posters/dejavu/dejavu2_large.gif




Minggu, Februari 15, 2009

Wahai Laki-laki, Clean Up Your Mind Alias Jangan Piktor

Sejumlah model menggelar aksi simpatik dan mengampanyekan “Clean Up Your Mind” di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pada Jumat (6/2). Mereka mengajak masyarakat untuk berpikir positif saat melihat keindahan. Demikian berita foto singkat di harian lokal Banjarmasin Post yang sempat terbaca.


Jajaran gadis jelita berbaju kaos putih tanpa lengan berlenggak-lenggok dan menebar senyum ke arah orang-orang yang melihat seolah berbicara, “Ini, lho yang disebut keindahan itu.”


Tapi apa yang dimaksud dengan berpikir positif sehingga pikiran masyarakat perlu di-“Clean up”? Apakah yang dimaksud mereka adalah membuang piktor alias pikiran kotor atau pikiran mesum apabila melihat wanita cantik berpakaian seksi? Dan ukuran masyarakat terlalu luas. Seharusnya lebih spesifik masyarakat laki-laki atau kaum pria, sehingga maksud dari kampanye ini lebih mengena dan tidak bias.


Tapi apakah ada kaum laki-laki yang tidak berpikir “negatif” apabila melihat seorang perempuan cantik dengan pakaian seksi (setengah terbuka)? Saya ragu ada yang demikian, kecuali laki-laki yang tidak menyukai perempuan atau memang tidak melihatnya. Ya, ngga, Gus?