Tampilkan postingan dengan label Kemerdekaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemerdekaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, September 05, 2008

Cintakah Anda Pada Indonesia?


Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Opini, Minggu 17-08-2008 08:49:47

Di televisi tadi pagi, di sebuah program infotainment, artis Maia Estiani dan Mei Chan didaulat oleh wartawan untuk menyanyikan lagu kebangsaan kita – Indonesia Raya – dan mereka gelagapan, ngga hafal dan ngaco !

Coba Anda pikir, artis penyanyi yang hafal ratusan – mungkin ribuan – lagu, eh giliran menyanyikan lagu kebangsaan sendiri, ngga hafal ! Wah, ada apa, neh ? Kalau suaminya, Ahmad Dhani yang seorang Soekarnoeisme sejati mendengar berita ini, bisa jadi bulan-bulanan, tuh si Maia.

Bukti Cinta Indonesia

Wikimuers yang masih muda atau dulu pernah muda, pasti pernah falling in love kan? Barangkali semua masih ingat lagu apa yang menjadi favorit pasangannya atau lagu apa yang menjadi “lagu kebangsaan” untuk berdua. Kadang-kadang pasangan kita akan menguji kita untuk mengukur seberapa besar cinta kita kepadanya dengan menyuruh kita menyanyikan lagu itu. Kalau ngga hafal, biasanya akan dicemberuti berhari-hari.

Nah, sekarang sebagai bukti cinta Indonesia, bagaimana kalau Wikimuers menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sendirian. Masih hafal ngga ? Kalau sudah hafal sekarang bacakan sila-sila dalam Pancasila – ngurut, ya – isi pembukaan UUD 45 dan juga isi teks Proklamasi. Kalau ternyata masih belum hafal, mulai sekarang dihafalin, deh. Bukannya bernostalgia masa-masa di sekolah, tapi untuk membuktikan seberapa dalam rasa cinta Indonesia kita. Oke?!

Selamat Ulang Tahun Indonesia, MERDEKA!

Evaluasi Setelah 63 Tahun Indonesia Merdeka


Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Opini, Sabtu 16-08-2008 10:05:55

Umur 63 tahun bagi seorang manusia termasuk usia yang sudah uzur. Pengalaman hidup seorang manusia di usia ini sudah pasti sudah sangat banyak atau orang sering bilang : sudah banyak makan asam garam. Tapi sepertinya tidak dengan bangsa ini. Pengalaman tidak menjadi bahan pelajaran untuk menjadikan hidup lebih baik. Setelah 63 tahun kita banyak mengalami kemunduran fisik maupun batin.

Seperti yang saksikan, pembangunan berlangsung di mana-mana di negeri ini. Bunyi gemuruh mesin pabrik di mana-mana, riuh-rendah suara bising mesin-mesin berat mengangkut hasil kekayaan alam terdengar setiap hari di daerah-daerah pertambangan, suara deru kendaraan bermotor semakin memekakkan telinga karena selalu bertambah setiap hari memenuhi jalan-jalan di perkotaan.

Tapi coba bandingkan dengan semakin rapuhnya badan perahu nelayan-nelayan kita, karena tidak ada uang untuk memperbaikinya disebabkan semakin sulitnya ikan didapat sedangkan bahan bakar perahu motor semakin mahal. Semakin reotnya gubuk-gubuk petani dan nelayan kita karena tidak ada uang untuk memperbaikinya. Semakin bertambahnya gelandangan dan pengemis di kota-kota besar, setelah mereka meninggalkan desa-desa mereka karena tidak bisa lagi bertani karena mahalnya pupuk dan murahnya sayur-mayur dan palawija. Lihat pula buruh-buruh kita semakin terdesak oleh ganasnya kehidupan kota besar, sedangkan penghasilan mereka ditekan dengan alasan semakin mahalnya biaya produksi dan semakin sulitnya pemasaran. Bagi mereka gaji sebulan sudah habis dalam lima hari, sedangkan hutang belum terbayar.

Gambaran di atas ternyata saling berlawanan. Kesejahteraan itu bukan milik seluruh bangsa Indonesia, bukan milik segenap rakyat Indonesia Raya. Kesejaheraan itu hanya milik sebagian orang-orang beruntung di negeri ini. Kesejahteraan itu hanya bagi sebagian orang-orang yang menguasai harta kekayaan negeri ini. Kenyamanan hidup hanya milik sebagian orang-orang yang kebetulan berkuasa dan dapat dengan mudah mengontrol aliran kekayaan tanah air ini. Sedangkan para petani, nelayan, buruh merupakan objek penderita, padahal karena merekalah orang-orang kaya itu dan kita semua menjadi sehat dan sejahtera. Tanpa petani dan nelayan, makanan kita tidak akan empat sehat lima sempurna, tanpa buruh kita mungkin tidak berbusana, tidak berkendaraan dan tidak mempunyai rumah serta seluruh isinya.

Saksikan juga pembangunan tempat-tempat ibadah yang semakin megah di mana-mana. Gairah umat beragama sangat menonjol ketika memperingati hari-hari besarnya. Ceramah-ceramah, khotbah-khotban dan kegiatan keagamaan semakin marak dari mesjid di kampung hingga di gedung-gedung bertingkat. Tapi apa lacur, korupsi semakin bersimahamerajalela di negeri ini. Maling-maling kelas kakap yang menjarah kekayaan negeri ini semakin bertambah. Perampok-perampok berdasi semakin menjamur mengeruk uang rakyat dan memeras bangsa ini. Narkoba dan gaya hidup berakhlak buruk menjadi budaya yang dipuja. Pergaulan bebas dan kebejatan moral menjadi seni dalam kehidupan. Ada apa ini ?

Mari kita putar ulang sebagian syair lagu kebangsaan kita Indonesia Raya berikut ini : ".... Bangunlah jiwanya bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya".

Memaknai 17 Agustus (Indonesia, Sebuah Negara yang Pernah Kukenal)


Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Opini, Selasa 05-08-2008 16:02:32

Dulu, waktu di Taman Kanak-kanak, ibu guru memperkenalkan sebuah gambar burung dan bendera. Burung tersebut disebutnya Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia dan bendera itu adalah bendera kebangsaan Indonesia. Katanya warna merah berarti berani dan putih berarti suci.

Dulu, waktu di sekolah dasar, guru mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) pernah bercerita tentang sebuah negara yang kaya dan makmur yang bernama Indonesia. Negara tersebut dulunya bernama Nusantara yang terletak di antara dua benua dan dua samudera. Penduduknya terkenal sebagai pelaut ulung, pedagang dan petani yang rajin. Kekayaan alamnya sangat beragam dan hasilnya melimpah ruah, sehingga menarik hati bangsa-bangsa lain untuk datang ke Nusantara dan melakukan perdagangan, dan akhirnya melakukan penjajahan.

Dulu, waktu di sekolah menengah pertama, guru pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) pernah bercerita tentang perjuangan para pahlawan bangsa dalam meraih kemerdekaan bagi bangsa dan negaranya yang bernama Indonesia. Ribuan nyawa dikorbankan, kenyamanan hidup ditinggalkan, bahkan banyak para pejuang muda yang rela mengorbankan manisnya masa muda demi sebuah kata keramat : merdeka !

Dulu, waktu masa orientasi sekolah di sekolah menengah atas, guru Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Penataran P4) pernah menyampaikan bahwa Indonesia ini adalah sebuah negara demokrasi. Demokrasi yang kita anut adalah Demokrasi Pancasila yang berpedoman kepada keluruhan Pancasila sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara. Semangat gotong-royong dan kekeluargaan selalu menyemangati sendi-sendi berkehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

Dulu, waktu di bangku kuliah, dosen mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewiraan pernah menyampaikan mengenai Wawasan Nusantara. Dia menguraikan bahwa makna Wawasan Nusantara adalah suatu cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungan sekitarnya berdasarkan ide nasionalnya yang berlandaskan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 yang merupakan aspirasi bangsa Indonesia yang merdeka, berdaulat, bermartabat serta menjiwai tata hidup dalam mencapai tujuan perjuangan nasional.

Sekarang, Wawasan Nusantara itu, bendera merah putih itu, para pahlawan itu, kemerdekaan itu, Garuda Pancasila itu, Undang Undang Dasar 1945 itu, semangat gotong-royong dan kekeluargaan itu, seperti lebur di dalam satu bayang-bayang, Indonesia yang pernah kukenal.