Tampilkan postingan dengan label PDIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PDIP. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 09, 2009

Mega Dibantai 34.000 Orang di Facebook, Trik Ala Tukul Arwana?

Masa tenang dalam tahapan Pemilu 2009 sudah dimasuki. Pesta kampanye partai politik dan calon legislatif sudah usai. Atribut-atribut partai satu per satu dibersihkan dari jalan-jalan kota dan desa. Minggu ini diharapkan keadaan benar-benar tenang.


Tapi tidak demikian halnya dengan dunia internet, khususnya jejaring perkawanan facebook. Jejaring yang sedang ngetop gara-gara Barack Obama mempopulerkannya hingga menghantarkan dirinya menjadi Presiden AS terpilih ke-44 ini menjadi buah berita. Gara-garanya adalah keberadaan sekelompok orang yang berdiskusi, mengkritik dan menghujat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sehubungan dengan kampanye PDIP akhir-akhir ini. Katanya, sih dilengkapi juga dengan gambar-gambar tidak senonoh.


Dengan menggunakan nama “Say No!!! to Megawati” sebanyak 34.000 orang yang sudah terdaftar sebagai anggota diancam oleh Sekjen PDIP Pramono Anung akan dilaporkan kepada Bawaslu. Menurutnya para pelaku bisa diancam pidana dengan UU No.10 Tentang Pemilu pasal 270 dengan hukuman 24 bulan karena bisa dikatagorikan kampanye hitam (black campaign). Pramono Anung juga menuduh upaya mendiskreditkan Megawati ini dilakukan oleh lawan politik Megawati.


Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Wahidah Suaib, yang dihubungi melalui telepon, Minggu (5/4) siang, mengatakan, di dalam Pasal 84 tentang Larangan Kampanye, sanksi hanya dapat dikenai jika kampanye hitam dilakukan oleh peserta, pertugas, atau pelaksana kampanye parpol.


Artinya, jika itu bukan dari ketiga unsur tersebut, tak bisa dikenai pidana pemilu. "Kita harus lihat dulu, siapa yang melaksanakan grup tersebut, ketiga unsur tadi, karena ada pembatasan dalam konteks UU Pemilu. Ada pembatasan dalam pasal ini hanya untuk aktivitas dalam kampanye," ungkapnya.


Tapi ada yang perlu dicermati dalam dunia politik, bahwa upaya menjelek-jelekkan diri sendiri ala Tukul Arwana sudah menjadi trend agar dibelaskasihani sebagai orang teraniaya. Bisa jadi dibalik kasus jejaring facebook ini ada orang PDIP sendiri di belakangnya?




Sumber berita : http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/04/06/11414393/PDI-P.Laporkan.Facebook.Say.No.to.Megawati.ke.Bawaslu

Sumber gambar : http://www.biskom.web.id/wp-content/uploads/2009/03/republik-facebook1.jpg

Kamis, April 02, 2009

PDIP (Partai Dengan Indikasi Plin-plan)

Judul di atas bagi Anda akan terlihat keliru dari segi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) karena menggunakan kata penghubung “dengan” dengan huruf awal kapital atau huruf besar. Seharusnya untuk judul sebuah tulisan kata penghubung harus diawali dengan dengan huruf kecil.


Tetapi judul di atas merupakan kepanjangan baru untuk singkatan PDIP atau Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang diketuai oleh Ibu Megawati Soekarnoputri. Kenapa demikian?


Beberapa waktu yang lalu PDIP sebagai partai oposisi pemerintah mengritik Program BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang merupakan program pemerintah SBY. Dalam sebuah kampanye terbuka PDIP, Megawati mengkritik keras program BLT sebagai upaya menyogok rakyat.


Menurut Sekjen DPP PDIP, Pramono Anung, dosa besar bagi pihak tertentu yang memanipulasi kesusahan rakyat untuk kepentingan politik sesaat. “Akan menjadi dosa besar jika kesulitan hidup rakyat dimanipulasi untuk kepentingan politik jangka pendek,” ujar Pramono di kediaman Megawati Soekarnoputri, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (24/3 inilah.com).


Nah, sekarang PDIP dan Megawati seperti menjilat ludah sendiri. Dalam sebuah iklan kampanye politik PDIP baru-baru ini di televisi, PDIP menggunakan BLT sebagai bahan kampanye. Yang begini apa bukan plin-plan namanya?




Sumber berita :

http://www.inilah.com/berita/politik/2009/03/24/93242/menjual-rakyat-miskin-di-kampanye/

http://pemilu.detiknews.com/read/2009/03/29/051643/1106579/700/reposisi-pdip-terhadap-program-blt

Kamis, Desember 18, 2008

Saran agar Mega Berkerudung atau Warna Diganti Hijau?


“Mereka Bicara Mega” adalah sebuah buku yang diluncurkan oleh PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) menjelang Pemilu 2009. Buku yang memuat komentar, pendapat, pujian dan lain-lain dari 38 tokoh di Indonesia, ada politisi, pengamat politik, akademisi dan budayawan adalah “buku kampanye” yang diterbitkan – tentu saja – untuk mendukung “penampilan “ Megawati Soekarno Putri menjelang Pemilu 2009.


Yang menarik dari isi buku tersebut adalah sebagian besar tokoh berbicara mengenai kemuslimahan Mega dan keislaman PDIP secara umum. Dan karena tokoh-tokoh yang berbicara adalah tokoh-tokoh yang sudah dipilih, semua pembicaraan sudah pasti sesuai dengan maksud diterbitkannya buku tersebut, yakni mencapai suatu kesimpulan akhir bahwa Megawati dan PDIP tidak perlu diragukan kemuslimahan dan keislamannya.



Jangan lupakan sejarah


PDIP bukan partai Islam, semua sudah tahu. PDIP merupakan transform dari PDI (Partai Demokrasi Indonesia) di era Orde Baru semua juga sudah tahu. Dan PDI yang berdiri pada tanggal 10 Januari 1973 merupakan fusi dari 5 partai politik, yakni Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan Murba (gabungan Partai Rakyat, Partai Rakyat Jelata dan Partai Indonesia Buruh Merdeka).


Semua orang boleh berubah. Jadi secara pribadi Mega sah-sah saja mau berkerudung atau tidak, karena dia memang muslimah. Tapi secara partai – eit, nanti dulu. Apa PDIP mau menyingkirkan kawan-kawan di partainya yang non Muslim, atau ingin mengganti ideologi partai, atau ingin betul-betul berganti warna menjadi hijau?


Saya hanya memberi saran kepada saudara-saudaraku sesama Muslim di PDIP, berbicara harus realistis, jangan melupakan sejarah dan jangan menimbulkan kesan PDIP adalah bunglon yang bisa berganti warna sesuai tempat dan keperluan.