Tampilkan postingan dengan label Partai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Partai. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 10, 2009

Melihat Presiden SBY Bermain Catur (Raja Pesta Dansa)

Pemilu legislatif telah rampung, sekarang rakyat Indonesia sedang menantikan hasil akhir perhitungan suara partai mana yang akan tampil sebagai pemenang. Hasil perhitungan suara resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum diturunkan, namun hasil quick count sudah bisa menjadi bahan pertimbangan.


Blessing in disguise atau berkah tersembunyi dalam situasi tidak menguntungkan adalah kebetulan, pikiran itu mungkin yang terlintas dibenak kita setelah melihat perolehan suara Partai Demokrat yang cukup tinggi. Tetapi saya termasuk salah seorang yang tidak percaya dengan hukum kebetulan. Kalau bukan manusia yang mengatur, berarti Tuhan yang mempunyai pekerjaan. Kata Einstein, “Tuhan tidak bermain dadu” adalah ungkapan yang menjelaskan semuanya. Walaupun sebagian ilmuwan percaya bahwa foton gelombang cahaya melakukan pilihan acak dalam fisika kwantum, peluang-peluang yang ada tetap merupakan pilihan ciptaanNya.



Langkah menteri meninggalkan raja


Dalam warta sebelumnya berjudul Melihat Presiden SBY Bermain Catur (Menjelang Babak Akhir), diceritakan strategi menteri meninggalkan raja. Dalam permainan catur, ketika pion menteri meninggalkan raja maka tidak ada yang terpikir dalam benak lawan selain awasi jalan menteri untuk “sikat habis” sang raja. Pemikiran seperti inilah yang akhirnya menjebak lawan untuk memakan umpan dan mendekati menteri.


Bagi seorang pecatur langkah pengorbanan seorang menteri layak diambil apabila tujuannya memang sebuah kemenangan. Apalagi menghadapi lawan yang memang sudah kehilangan arah permainan. Toh, akhirnya lawan yang termakan umpan, tetap tidak bisa mengambil langkah lanjutan yang lebih baik.



SBY korban pengkhianatan


Bagi orang awam yang tampak dipermukaan adalah gambaran pengkhianatan. Kalla telah “berselingkuh” dengan Mega, Golkar menelikung Demokrat dan “berbagi cinta” dengan PDIP. Hanya itu.


Citra sebagai “korban pengkhianatan” dan “orang teraniaya” semakin menaikkan pamor SBY dan Partai Demokrat, dan ini turut mendongkrak perolehan suara secara signifikan di Pemilu 2009 ini dibandingkan dengan pemilu sebelumnya.


Apa yang diperoleh Kalla dan Golkar? Kekalahan. Hasil suara pada Pemilu 2004 sekarang sudah berceceran, begitu juga dengan PDIP. Persis drama perselingkuhan antara dua orang suami istri. Pada akhirnya istri tertua akan didukung banyak orang, sedangkan sang suami beserta selingkuhannya menerima hujatan bertubi-tubi dari masyarakat.



Keberhasilan pembangunan karakter


Kata orang seorang pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan. Tetapi pembangunan karakter juga memerlukan usaha, dan usaha SBY tidak sia-sia. Dengan sebuah karakter yang sudah terbangun, citra diri yang baik gampang diraih.


Rakyat pada umumnya, termasuk kita semua, akan dengan mudah melihat karakter pemimpin yang baik, tanpa harus belajar psikologi apalagi dengan menggunakan kemampuan telepati. Kalau secara lahiriah dia tampak gagah dan berwibawa, itu sebetulnya pancaran karakter yang baik tersebut. Kalaupun pembawaan dan tutur katanyanya seperti penuh dengan rencana dan pengaturan, itu adalah buah dari kedisiplinan dan perencanaan yang baik.



Raja pesta dansa


Pesta tengah berlangsung. Musik sedang dimainkan. Para tamu dan undangan sedang menuju lantai dansa untuk menari berpasang-pasangan. Kalau sudah menjadi raja di tengah pesta, siapa yang tidak mau menjadi pasangannya?




Sumber gambar : http://www.reallyvirtual.com/images/dead-king.jpg



Baca juga : Melihat Presiden SBY Bermain Catur (Menjelang Babak Akhir)





Jumat, Januari 23, 2009

ABOG, Asal Bukan Orang Gagal

Menjelang Pemilu 2004 lalu bergaung suara-suara AMB (Asal Bukan Mega) lantaran 3 tahun pemerintahan Megawati diwarnai dengan kegagalan-kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut antara lain lemahnya penegakan hukum dengan bukti pemerintah memberikan “pengampunan hukum” terhadap beberapa konglomerat (obligator), rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat ditandai dengan meningkatnya pengangguran, penjualan aset-aset negara berupa saham-saham BUMN kepada asing, dan yang paling krusial adalah semakin merajalelanya korupsi di lembaga-lembaga pemerintah karena dibiarkan oleh pemerintah pada saat itu, baik di pusat maupun di daerah.


Pada Pemilu 2009 ini, walaupun tidak begitu terdengar ungkapan “Asal Bukan SBY”, tapi bila dilihat dari semakin ramainya bursa calon presiden terbukti adanya aspirasi untuk mencari wajah baru di dunia perpolitikan Indonesia.


Namun yang cukup mengherankan adalah semangat yang menggelora untuk mengusung nama-nama baru dengan semangat baru tersebut, seperti menciut beberapa bulan menjelang Pemilu ini. Yang sebelumnya begitu bersemangat ingin menjadi orang nomor satu di negeri ini, diam-diam bersedia menurunkan levelnya menjadi orang nomor dua dan menempel ke nama lain yang sebetulnya sudah diketahui gagal sebagai presiden.


Siapa saja berhak dicalonkan dan mencalonkan diri, begitulah hak setiap warga negara di dalam sebuah negara demokrasi. Setiap orang bisa salah dan berhak menyesal serta memperbaiki diri, itu juga benar. Tetapi perlu diingat bahwa negara ini bukan laboratorium untuk percobaan-percobaan dari orang-orang yang gagal.