Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 03, 2009

Fakta Sejarah dan Analisa Kepentingan di Balik Kisruh Hubungan Indonesia-Malaysia

Hubungan Indonesia dengan Malaysia akhir-akhir ini tampak semakin memanas. Intervensi wilayah sekitar perbatasan laut oleh Angkatan Laut Diraja Malaysia, kekalahan Indonesia atas kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan di Mahkamah Internasional, penganiayaan sejumlah TKI oleh beberapa oknum warga Malaysia, klaim obyek seni dan budaya Indonesia oleh pihak Malaysia dalam rangka promosi wisata kunjungan ke sana, dan yang terakhir adalah pelecehan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh pihak yang tidak dikenal, adalah sederetan fakta-fakta yang menunjukkan ada upaya terencana dan sistematis untuk memperburuk hubungan kedua negara.


Konfrontasi dengan “Ganyang Malaysia”


Sejarah mencatat hubungan buruk tersebut bermula dari semangat anti kolonialisme dan imperialisme Presiden RI pertama Ir. Soekarno yang begitu bergelora, ditunjang dengan rasa nasilonalisnya yang tinggi, membuat Bung Karno begitu marah ketika mengetahui Malaysia berencana membentuk federasi Malaysia – dengan menarik Sabah, Serawak, Brunei dan Singapura ke dalam persemakmuran Inggris Raya (Commont Wealth) bersama-sama dengan Persekutuan Tanah Malaya – setelah sebelumnya diberi kemerdekaan oleh Inggris tanggal 31 Agustus 1963. Bagi Bung Karno hal itu sama dengan memberi peluang kepada imperialis Inggris untuk berkuasa di Kalimantan Utara, dan berarti bisa membahayakan kemerdekaan Indonesia.


Kemarahan Bung Karno pun semakin memuncak disebabkan tindakan para demonstran anti Indonesia di Kuala Lumpur pada tanggal 18 September 1963 – dua hari setelah pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris tanggal 16 September 1963 – yang merobek-robek gambarnya dan memaksa Perdana Menteri Malaysia pada waktu itu, Tengku Abdul Rahman, untuk menginjak-injak gambar Garuda Pancasila. Rasa nasionalisme Bung Karno terusik, maka lahirlah semangat memerangi Malaysia dengan “Ganyang Malaysia”-nya, yang kemudian menjadi sebuah peperangan, konfrontasi terhadap Malaysia yang berlangsung hingga masa akhir jabatannya.


Reformasi dan Soekarnoisme


Pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto lengser dari kekuasaannya, dan menyerahkannya kembali kepada rakyat dalam hal ini Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang kemudian menunjuk B.J. Habibie, yang waktu menjabat sebagai Wakil Presiden, sebagai Presiden Ad-interim sampai dilaksanakannya Pemilu tahun 1999. Lengsernya Soeharto menandai berakhirnya era kekuasaan Orde Baru dan memasuki era Reformasi, yang merupakan hasil gerakan mahasiswa Indonesia yang dimulai sejak tahun sembilan puluhan.


Perlu diperhatikan bahwa konfrontasi terhadap Malaysia berakhir ketika Jenderal Soeharto berkuasa, dan selanjutnya hubungan baik dengan Malaysia terus dibina oleh persahabatan yang manis antara Soeharto sebagai Presiden RI dengan Mahathir Mohammad sebagai Perdana Menteri Malaysia pada waktu itu. Tercatat pembentukan ASEAN (South East Asian Nation) atau organisasi bangsa-bangsa di Asia Tenggara diprakarsai oleh kedua pemimpin ini.


Pada tanggal 7 Juni 1999 diselenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu) ke-8 sepanjang sejarah politik kita, dan pertama sepanjang sejarah reformasi. Meskipun Pemilu baru saja diselenggarakan dua tahun sebelumnya, yakni tahun 1997, namun untuk memperoleh pengakuan atau kepercayaan dari publik, termasuk dunia internasional, karena pemerintahan dan lembaga-lembaga lain yang merupakan produk Pemilu 1997 sudah dianggap tidak dipercaya. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan Sidang Umum MPR untuk memilih presiden dan wakil presiden yang baru, di mana dipilih dan ditetapkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden ke-4 RI dengan Megawati Soekarnoputri sebagai Wakil Presiden.


Dalam kampanye politik beberapa partai politik yang berfaham nasionalis, dimunculkan kembali semangat Soekarnoisme. Di mana-mana gambar mantan presiden pertama itu ditampilkan berikut cerita-cerita heroik dan rasa nasionalisnya yang tinggi, serta semangatnya yang sangat anti penjajahan, kolonialisme dan imperialisme, termasuk cerita tentang konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia. Melihat hal itu beberapa pihak mengkhawatirkan terbukanya luka lama di kedua belah pihak mengenai hubungan buruk di masa lalu.


Kasus tapal batas teritorial negara


Kasus pulau Ambalat sebetulmnya merupakan kasus lama yang berawal pada tahun 1967 ketika pertama kali diadakan pertemuan teknis hukum laut antara Indonesia dan Malaysia di mana kedua belah pihak akhirnya membentuk kesepakatan (kecuali Sipadan dan Ligitan diberlakukan sebagai keadaan status quo).


Pada tanggal 27 Oktober 1969 dilakukan penandatanganan perjanjian antara Indonesia dan Malaysia yang disebut sebagai Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia - Malaysia, di mana kedua negara masing-masing melakukan ratifikasi pada 7 November 1969. Namun tidak lama berselang, masih pada tahun 1969, Malaysia membuat peta baru yang memasukan pulau Sipadan, Ligitan dan Batu Puteh (Pedra blanca) ke dalam wilayahnya, tentunya hal ini membingungkan Indonesia dan Singapura, dan pada akhirnya Indonesia maupun Singapura tidak mengakui peta baru Malaysia tersebut.


Kemudian pada tanggal 17 Maret 1970 kembali ditandatangani Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia, akan tetapi kembali pada tahun 1979 pihak Malaysia kembali membuat peta baru mengenai tapal batas kontinental dan maritim dengan serta merta secara sepihak membuat perbatasan maritimnya sendiri dengan memasukan blok maritim Ambalat kedalam wilayahnya yaitu dengan memajukan koordinat 4° 10' arah utara melewati pulau Sebatik. Tentu peta ini pun sama nasibnya dengan terbitan Malaysia pada tahun 1969, yakni diprotes dan tidak diakui oleh pihak Indonesia.


Dengan berkali-kali pihak Malaysia membuat peta sendiri padahal setelah adanya Perjanjian Tapal Batas Kontinental Indonesia - Malaysia tahun 1969 dan Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia tahun 1970, bagi masyarakat Indonesia melihatnya sebagai bentuk ekspansi dari pihak Malaysia terhadap wilayah Indonesia.


Tindakan Malaysia tidak hanya sampai di situ, tetapi berlanjut dengan aksi-aksi sepihak seperti menangkap dan mengusir nelayan Indonesia dari wilayah Ambalat, dan pemerintah Malaysia ikut-ikutan memberikan hak menambang kepada perusahaan asing di Ambalat. Masalah tapal batas wilayah di sekitar pulau Sipadan, Ligitan, Batu Puteh dan Ambalat ini berujung kepada ketegangan-ketegangan yang terus terjadi antara angkatan laut kedua negara di daerah perbatasan laut tersebut.


Sebagai puncaknya adalah keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, dalam sidangnya pada tanggal 17 Desember 2002 yang memutuskan bahwa dalam kasus sengketa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan, Indonesia dinyatakan kalah dari Malaysia, dan Malaysia berhak atas Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan dengan dasar efektivitas. Dalam beberapa hal, Mahkamah Internasional menerima argumentasi Indonesia bahwa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan tidak pernah masuk dalam kesultanan Sulu seperti yang diklaim Malaysia. Namun, di sisi lain, Mahkamah Internasional mengakui klaim-klaim Malaysia bahwa mereka telah melakukan administrasi serta pengelolaan konservasi alam di kedua pulau tersebut. (www.gatra.com)


Blok Ambalat kembali memanas dalam tahun ini ketika beberapa kali kapal perang Diraja Malaysia memasuki wilayah teritorial milik Indonesia, yang berhasil diusir oleh kapal perang Angkatan Laut RI. Tindakan memanas-manasi dari pihak Malaysia ini, masih ditanggapi dengan kepala dingin oleh Pemerintah Indonesia, sementara masyarakat Indonesia melihatnya sebagai sebuah kelemahan kita terhadap tindakan sewenang-wenang pemerintah Malaysia.


Insiden-insiden lain sebagai pemicu


Istilah “Ganyang Malaysia” kembali mencuat setelah dipicu oleh aksi pemukulan wasit karate asal Indonesia Donald Peter Luther Kolobita, Jumat (24/8/2007) di Kuala lumpur. Sekelompok pengunjuk rasa kemudian membakar bendera Malaysia di Medan dan Jakarta, Rabu (29/8). Aksi ini kemudian meluas ke seluruh Indonesia diiringi desakan agar Pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Kejadian ini mengagetkan pemerintah kedua negara, namun permasalahan berhasil diselesaikan, dan keempat polisi diraja Malaysia itu dinyatakan sudah diskors.


Berita mengenai penganiayaan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari di media-media kita. TKI yang bermaksud mencari rezeki di negeri orang ini, pada akhirnya hanya pulang dengan penderitaan, diperkosa, dianiaya, dan bahkan sampai meninggal dunia.


Kasus penganiayaan TKI di Malaysia termasuk yang paling sering. Penistaan warga Indonesia di Malaysia, khususnya yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, seringkali berakhir tragis seperti penganiayaan hingga cacat bahkan meninggal dunia. Sedangkan rekaman film mengenai pemukulan orang yang diduga TKI disebuah tempat yang diduga kantor polisi Diraja Malaysia, semakin memanaskan keadaan. Padahal penyebaran rekaman film ini perlu dicurigai seperti ada unsur kesengajaan untuk semakin mempertajam kebencian kita kepada Malaysia.


Insiden lainnya adalah klaim obyek seni dan budaya Indonesia oleh pihak-pihak di Malaysia (pemerintah dan swasta). Dari klaim lagu Rasa Sayange, seni Batik, musik Gamelan, tari Reog Ponorogo, dan lain-lain, termasuk yang terakhir pemuatan seni tari Pendet dari Bali dalam iklan promosi pariwisata mereka. Perlu diketahui, berdasarkan sebuah informasi dari warga Malaysia sendiri, ternyata mereka tidak begitu jelas mengenai permasalahan klaim-klaim obyek seni dan budaya Indonesia oleh negaranya. Bahkan hubungan antara mereka dengan beberapa mahasiswa Indonesia di Malaysia baik-baik saja dan tidak pernah ada masalah.


Analisa pihak-pihak berkepentingan di balik kisruh hubungan Indonesia-Malaysia


Dalam setiap sengketa dan pertikaian di dunia ini, baik antar negara maupun internal sebuah negara, selalu melibatkan kepentingan-kepentingan banyak pihak, baik asing maupun lokal. Faktor ekonomi dan politik biasanya menjadi alasan campur tangan pihak-pihak tersebut untuk ikut memancing di air keruh dan mengambil manfaat apabila persengketaan berubah menjadi pertikaian dan peperangan.


Sekarang, marilah kita melakukan analisa dengan melihat faktor ekonomi dan politik, serta beberapa kemungkinan yang akan terjadi apabila pihak-pihak yang berkepentingan ikut melakukan manuver agar maksudnya terealisasi.

Pihak-pihak yang kemungkinan ikut mengambil manfaat apabila Indonesia-Malaysia benar-benar bertikai dan terjadi peperangan, adalah:


1. Malaysia sendiri.


Malaysia mempunyai kepentingan dengan sumber-sumber minyak, gas bumi dan sumber-sumber hayati laut di wilayah laut Indonesia yang sangat kaya. Batas wilayah negara di laut mempunyai kekuatan hukum yang sangat lemah, karena sebagai warisan penjajah batas-batas daerah jajahan di laut tidak ditetapkan dengan pasti antara Belanda sebagai penjajah Indonesia dengan Inggris sebagai penjajah Malaysia. Akhirnya digunakan data sejarah mengenai batas-batas wilayah kerajaan di masa lalu sebagai dasar, dan ini juga masih bisa diperdebatkan.


Selain itu sejarah mencatat mengenai adanya Gagasan pembentukan “Melayu Raya” ketika Indonesia-Filipina-Malaysia berencana mendirikan Maphilindo, singkatan dari Malaysia-Philipina-Indonesia di Manila pada 1963. Para presiden dari ketiga negara tersebut mengumumkan Deklarasi Manila yang menggabungkan negara mereka ke dalam Maphilindo.

Dalam pidato penutupan, Presiden Filipina Macapagal mengajak hadirin untuk mengenang kembali mimpi para nasionalis Filipina mulai Jose Rizal, Presiden Manuel Quezon, Wenceslao Vinzons, sampai Presiden Elpidio Quirino untuk menyatukan bangsa-bangsa Melayu. Macapagal menyebut Presiden Indonesia Soekarno dan Perdana Menteri Malaysia Tengku Abdul Rahman sebagai “two of the greatest sons of the Malay race“.


Gagasan ini berdasarkan peta antropologi bangsa-bangsa di mana Indonesia, Malaya, Temasek (Singapura), Filipina, Thailand, Burma (MYanmar), Vietnam, Kambodia, sampai Madagaskar dan Hawaii dikenal sebagai bangsa serumpun Melayu-Polinesia. Tapi sayang ide ini pudar seketika setelah Presiden RI Soekarno menyatakan perang terhadap Malaysia yang telah menjadi boneka imperialis Inggris.


Malaysia yang merasa sebagai satu-satunya negara perhimpunan bangsa Melayu bisa saja berkeinginan untuk mewujudkan Melayu Raya itu di bawah kepemimpinannya. Meskipun menurut sejarah kerajaan Melayu pertama adalah kerajaan Malayapura di Sumatera – di bawah kekuasaan Majapahit – dengan rajanya Adityawarman tahun 1347. Adityawarman adalah utusan Majapahit untuk menaklukan kerajaan Sriwijaya, yang kemudian berhasil memaksa Parameswara, putra Raja Sam Agi untuk melarikan diri ke Semenanjung Malaya dan mendirikan kerajaan Malaka (1380-1403). Malaka kemudian jatuh ke tangan Portugis tahun 1511.


2. Inggris


Sebagai pemimpin negara persemakmuran (commont wealth) dan bekas penjajah negara-negara anggotanya tersebut, tentu saja Inggris mempunyai kepentingan atas kekayaan negera-negara anggotanya. Dengan kepentingan ekonomi dan juga politik atas wilayah-wilayah Indonesia, bisa saja Inggris ikut memberikan bantuan militer kepada Malaysia dalam konflik ini.


Melihat kondisi perekonomian AS yang anjlok sekarang ini, bisa saja muncul keberanian Inggris untuk membuka front perlawanan melalui kaki tangannya, Malaysia, untuk merebut sumber minyak di Indonesia yang sekarang dikuasai perusahaan-perusahaan besar AS. Seperti diketahui Angkatan Laut Inggris adalah pasukan tempur laut terbaik di dunia, sehingga denga modal ini Inggris cukup berani berhadapan dengan AS di Asia Tenggara.


3. Amerika Serikat (AS)


Kondisi ekonomi AS yang sedang mengalami penurunan berpengaruh terhadap kondisi perusahaan-perusahaan minyaknya yang sekarang sedang beroperasi di Indonesia. AS tentu tidak mau hak eksplorasi minyak di lepas pantai Indonesia akan jatuh ke tangan Inggris yang berada di belakang Malaysia. Kemungkinan besar AS akan memberikan bantuan militer kepada Indonesia apabila Malaysia memulai penyerangan dan perang tidak bisa dihindari.


Selain itu perseteruan AS dengan Korea Utara mengenai senjata berhulu ledak nuklir milik Korut semakin memanas, yang mungkin akan memaksa AS untuk menempatkan persenjataannya di wilayah Asia, dalam hal ini yang terdekat dengan Kores Utara adalah Asia Tenggara. Apabila terjadi peperangan antara Indonesia dengan Malaysia, maka AS mempunyai alasan untuk menempatkan kapal perang dan persenjataannya dengan membuat pangkalan militer di Indonesia.


4. Republik Rakyat Cina (RRC)


Sebagian besar orang-orang keturunan Cina di negara-negara Asia Tenggara bergerak di bidang perdagangan dan ekonomi, sebagian adalah para konglomerat dan pengusaha kelas dunia. Orang-orang keturunan Cina umumnya tidak bisa melepaskan diri dari keterkaitan budaya dengan tanah leluhurnya di Cina, termasuk juga dengan pemerintahan yang sedang berkuasa di sana.


Keterikatan yang nyata adalah para pengusaha konglomerat keturunan tersebut menempatkan sebagian besar dana investasi usahanya di Cina. Mereka juga mempunyai hubungan bisnis dengan banyak pengusaha di tanah leluhur.

Selain keterikatan budaya dan ekonomi, warga keturunan Cina juga ada yang mempunyai hubungan politik dengan pemerintah Cina yang sosialis komunis. Sejarah mencatat ada Partai Komunis Malaysia di era 60-an yang sebagian besar penggeraknya adalah warga keturunan.


Ada kemungkinan pergerakan komunisme di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia mempunyai keterkaitan yang terencana. Bisa saja para aktivis komunis di Malaysia, Indonesia dan Cina saling berhubungan dan bersama-sama memblow-up isu-isu pertentangan agar situasi semakin memanas, khas gaya komunis, dengan cara mencetuskan masalah, ikut mempublikasikannya, dan terakhir ikut berdemonstrasi agar suasana berkesan semakin kisruh.


Kepentingan RRC yang terbesar adalah perluasan skop ekonomi dan politik mereka, sehingga negara-negara yang dikuasai komunis akan berkiblat secara ekonomi dan politik ke negara tirai bambu tersebut, atau dengan kata lain RRC berniat membentuk RRC yang lebih luas atau Cina Raya.


Menurut sejarah gerakan komunis di Indonesia mudah untuk membonceng pada organisasi atau orang berfaham nasionalis, seperti PKI yang didukung oleh Bung Karno disebabkan PKI satu-satunya yang mendukung program “Ganyang Malaysia”-nya Soekarno. Maka mungkin saja kelompok komunis berkeinginan untuk mengulang sejarah di masa lalu dengan mengatasnamakan nasionalisme mereka bergerak merealisasikan cita-citanya, mengkomuniskan Indonesia dan Malaysia.


5. Indonesia


Kepentingan Indonesia terutama adalah mempertahankan wilayahnya, harga diri bangsa dan aset-aset sumber kekayaan alam berupa minyak bumi lepas pantai, hutan kayu di daerah perbatasan dan sumber daya hayati laut. Sedangkan kemungkinan adanya kepentingan politik sangat kecil.


6. Gerakan kelompok Islam radikal


Gerakan kelompok Islam radikal yang akhir-akhir ini semakin menjadi sorotan setelah beberapa kali melakukan insiden pengebomam di beberapa negara termasuk di Indonesia ada kemungkinan ikut mengambil manfaat dari keruhnya situasi hubungan Indonesia dengan Malaysia ini. Cita-cita mereka untuk mendirikan Negara Islam Indonesia – untuk gerakan lokal Indonesia – mungkin bisa berkembang menjadi Negara Islam Asia Tenggara, dengan menjalin kerjasama dengan kelompok-kelompok Islam radikal di Malaysia, Moro di Filipina dan Pattani di Thailand.


Mungkinkah perang akan terjadi?


Kemungkinan perang benar-benar terjadi sangat kecil apabila dilihat dari kondisi hubungan AS dan Inggris. Kedua negara ini selalu sefaham, baik di bidang politik dan ekonomi, dari era “Perang Dingin” melawan Uni Sovyet, perang melawan Irak, hingga perlawanan terhadap teroris Al-Qaeda. Kecuali perang dimulai sendiri oleh Malaysia atau Indonesia, atau kesepakatan keduanya tanpa mendengarkan suara AS dan Inggris.


Apabila mendengar berita terakhir mengenai terjadi peningkatan kekuatan angkatan bersenjata oleh militer kedua belah pihak, Indonesia dan Malaysia, di daerah perbatasan, maka analisanya adalah kedua negara berusaha keras mencegah terjadi pertikaian sporadis di pihak sipil kedua negara karena terpancing situasi yang kian memanas. Kalau analisa ini benar, kemungkinan perang akan terjadi benar-benar kecil sekali.


Ada yang perlu dicermati sehubungan dengan insiden-insiden yang memicu kemarahan warga Indonesia terhadap Malaysia akhir-akhir ini, bahwa kemungkinan sebagian insiden-insiden itu dilakukan dengan terencana oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari kekisruhan hubungan Indonesia-Malaysia.

Senin, April 06, 2009

Program Kuliner Versus Memasak, Bagaimana Bangsa Bisa Bangkit?

Program kuliner adalah salah satu acara televisi yang banyak penggemarnya, karena menampilkan berbagai ragam masakan lezat yang khas berbagai daerah dan bangsa. Hampir semua stasiun televisi yang ada di Indonesia mempunyai program kulinernya sendiri-sendiri, dari mulai kuliner jajanan pinggir jalan, keliling nusantara untuk menampilkan makanan-makanan khas daerah hingga makanan luar negeri.


Acara kuliner yang populer dan sering dinantikan banyak orang ini semula adalah bagian dari sebuah program salah satu stasiun televisi swasta berupa jalan-jalan keliling daerah yang dipandu oleh Dorce Gamalama. Sebuah acara keliling Nusantara ini kemudian seperti megnet dan menarik perhatian banyak orang. Gaya khas Dorce dan tampilan acara yang unik menyajikan jenis-jenis makanan khas daerah Nusantara, sempat menjadi ikon dan menarik minat banyak pemirsa televisi. Mengikuti tren ini banyak stasiun televisi lain berlomba membuat acara khusus kuliner.



Kemana program memasak?


Setelah beberapa tahun acara kuliner mewabah di hampir semua stasiun televisi swasta, tampaknya telah menggusur program yang lebih senior yaitu acara masak-memasak. Beberapa acara masak-memasak di televisi mengalami “kematian” dalam persaingan dengan program acara ini. Tidak ketinggalan host acara memasak dan koki terkenal Rudi Haerudin pun ikut-ikutan meninggalkan program memasaknya dan “terpaksa” berkeliling dari rumah makan ke rumah makan untuk sekedar menjelaskan lezatnya suatu masakan dan bahan-bahan apa yang ada di dalamnya.


Kurangkah minat belajar memasak pada pemirsa televisi? Bukankah program memasak juga mempunyai banyak penggemar? Atau barangkali fans acara memasak sudah berpindah ke acara kuliner.


Secara teoritis memasak adalah pekerjaan mudah, karena tinggal mengikuti resep dan tata cara memasak yang ditunjukkan oleh pakarnya. Tetapi pada prakteknya memasak sulit, karena setelah dilakukan percobaan ternyata hasilnya seringkali tidak seperti yang diharapkan. Jadi kesimpulannya acara memasak hanya digemari oleh orang-orang tertentu saja, khususnya ibu rumah tangga dan para pehobi memasak, selebihnya orang menontonnya hanya karena rasa ingin tahu bagaimana sebuah masakan bisa dihasilkan.



Mental konsumtif dan lemahnya gairah belajar


Seperti yang terjadi pada kasus acara masak-memasak begitu juga dengan acara televisi belajar menjahit pakaian, ketrampilan elektronik, pembuatan barang kerajinan, pembuatan teknologi sederhana dan lain-lain. Acara-acara televisi sejenis ini biasanya tidak bertahan lama dan ditinggalkan oleh pemirsanya. Pada acara seperti ini pemirsa tidak bisa mengharapkan sekedar melihat-lihat berbagai jenis barang dengan bentuk-bentuknya yang indah, tetapi dituntun untuk belajar dan mencoba mempraktekkan cara pembuatannya.


Sampai di sini kita dapat menyimpulkan bahwa bangsa kita – dalam hal ini pemirsa televisi bisa saja dianggap mewakili bangsa karena acara televisi sudah hampir bisa ditonton di seluruh Indonesia dan menonton televisi sudah menjadi kebutuhan pokok bangsa ini – lebih menyenangi barang sedia jadi daripada bersusah payah membikinnya sendiri. Semangat konsumtif dan belanja sepertinya sudah mengalahkan semangat berkarya dan mencipta.


Nah, bagaimana mengharapkan Indonesia bisa bangkit kalau mental bangsa seperti ini?




Sumber gambar : http://www.kafebalita.com/content/files/article/sue_mcdonald_and_kids_cooking_large.jpg

Jumat, Januari 23, 2009

ABOG, Asal Bukan Orang Gagal

Menjelang Pemilu 2004 lalu bergaung suara-suara AMB (Asal Bukan Mega) lantaran 3 tahun pemerintahan Megawati diwarnai dengan kegagalan-kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut antara lain lemahnya penegakan hukum dengan bukti pemerintah memberikan “pengampunan hukum” terhadap beberapa konglomerat (obligator), rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat ditandai dengan meningkatnya pengangguran, penjualan aset-aset negara berupa saham-saham BUMN kepada asing, dan yang paling krusial adalah semakin merajalelanya korupsi di lembaga-lembaga pemerintah karena dibiarkan oleh pemerintah pada saat itu, baik di pusat maupun di daerah.


Pada Pemilu 2009 ini, walaupun tidak begitu terdengar ungkapan “Asal Bukan SBY”, tapi bila dilihat dari semakin ramainya bursa calon presiden terbukti adanya aspirasi untuk mencari wajah baru di dunia perpolitikan Indonesia.


Namun yang cukup mengherankan adalah semangat yang menggelora untuk mengusung nama-nama baru dengan semangat baru tersebut, seperti menciut beberapa bulan menjelang Pemilu ini. Yang sebelumnya begitu bersemangat ingin menjadi orang nomor satu di negeri ini, diam-diam bersedia menurunkan levelnya menjadi orang nomor dua dan menempel ke nama lain yang sebetulnya sudah diketahui gagal sebagai presiden.


Siapa saja berhak dicalonkan dan mencalonkan diri, begitulah hak setiap warga negara di dalam sebuah negara demokrasi. Setiap orang bisa salah dan berhak menyesal serta memperbaiki diri, itu juga benar. Tetapi perlu diingat bahwa negara ini bukan laboratorium untuk percobaan-percobaan dari orang-orang yang gagal.

Minggu, Januari 18, 2009

Isu Hangat: RI Diseru Membentuk Koalisi Melawan Israel

Setelah bergabung dengan beberapa negara bersama-sama mengecam serangan-serangan Israel atas target-target Hamas dan rakyat sipil Palestina di Jalur Gaza, Indonesia sedang dihimbau untuk memulai sebuah "koalisi suka rela" untuk memaksa negara Yahudi itu meninggalkan Palestina.


Berikut beberapa komentar yang dilansir oleh The Jakarta Post (17/01/2009) dari forum pembaca:


Saya mempunyai sebuah gagasan - bagaimana dengan pemboikotan setiap komputer yang menggunakan prosesor Intel. Intel mempunyai riset yang besar dan memproduksi fasilitas-fasilitas di Israel yang berharga milyaran dolar.


Marilah kita menghimbau orang-orang untuk hanya membeli komputer-komputer dengan AMD atau prosesor-prosesor lain, atau meminta pabrik-pabrik komputer untuk menggunakan prosesor yang lain saja. Profit Intel yang sangat besar (US$5 milyar per tahun) berasal dari praktek-praktek monopoli yang mematikan semua pesaingnya dan menguntungkan Israel.


TONY


Kenapa anda tidak menyiapkan koalisi lain untuk permasalahan di Somalia? Ada banyak dari wilayah-wilayah konflik lain di mana Muslims dilibatkan di dalamnya -siapkan sebuah koalisi bagi mereka juga.


PETER LINK


Saya secara penuh mendukung usaha-usaha Indonesia dalam membentuk sebuah "koalisi suka rela". Indonesia dapat melakukan sebuah tindakan yang lebih baik dibanding negara-negara Arab.


ARGUN


Seperti dilaporkan pada tahun lalu bahwa Bush menolak permohonan Israel untuk menyerang Iran. Itu adalah saat di mana Bush sudah mulai melakukan hal yang benar daripada menyeret rakyat Amerika ke dalam konflik Israel. Rakyat Amerika, khususnya para pengabar Injil, harus sadar bahwa ada orang-orang di dalam gerakan neo-konservatif yang menempatkan kepentingan Israel di atas kepentingan Amerika.


Mereka lebih setia kepada Israel dibanding Amerika. Alkitab tidak pernah menyatakan adanya kewajiban orang-orang Kristen untuk mempertahankan Israel. Tempat-tempat suci bagi umat Kristen di Yerusalem selalu terhormat di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam Turki, sebelum negara Israel berdiri.


Kepada semua pengabar Injil – jangan pernah percaya propaganda yang menyebutkan konflik di Israel adalah antara Islam dan Kristen. Di sana ada bangsa Palestina yang Muslim dan Kristen bersama-sama berperang melawan Israel. Popular Front for the Liberation of Palestine (Rakyat di Garis Depan untuk Kebebasan Palestina atau PFLP) dipimpin oleh George Habash seorang Kristen Palestina.


BRAD


Saya membaca artikel - adalah menggelikan kalau Indonesia perlu bergabung dengan setiap diplomatik atau embargo militer melawan sebuah negara yang secara teknis tidak dikenali. Itu akan seperti sebuah koalisi melawan Sinterklas. Saya tahu dia tidak ada, tetapi kita bisa memeranginya bagaimanapun caranya. Barangkali anda bisa bergabung denganku dalam perkelahian itu juga – karena ia tidak membawa hadiah yang saya inginkan tahun ini.


Indonesia, saya setuju, perasaan lalai dengan apa yang terjadi di Gaza dan Lebanon. Apa yang anda tidak sadari adalah sebuah negara tidak bisa mendikte politik luar negeri berdasarkan alasan-alasan keagamaan. Untuk mengatakan bahwa kita mendukung suatu negara secara sepihak hanya karena mereka adalah Muslim adalah suatu kesalahan yang serius dalam penilaian saya.


Jika Hitler adalah seorang Muslim, apakah anda akan mendukungnya? Saya tidak akan begitu. Sungguh, perang salib yang terjadi di waktu yang lampau, menyimpulkannya. Kedua belah pihak kehilangan Yerusalem. Solusi itu untuk Gaza adalah sederhana: Bikin perbatasan dan masing-masing pihak membangun sebuah tembok yang besar, tanpa ada kelebihan untuk rumah dan pekarangan orang Israel atau tanah pertaniannya.


ROD


Sydney


Seruan ini hanya tinggal sebuah seruan apabila pemerintah RI tidak menindaklanjutinya. Bagaimana pendapat anda sendiri mengenai seruan ini?

Minggu, Desember 21, 2008

Pobia Lemparan Sepatu Menjangkiti Pejabat Indonesia


Rupanya dampak insiden pelemparan sepatu oleh wartawa Irak, Muntadar Al-Zaidi terhadap Presiden USA George W. Bush sampai ke Indonesia. Dampak berupa pobia lemparan sepatu kepada pejabat negara ini terjadi di saat hendak diadakan acara rutin Wakil Presiden Jusuf Kalla setiap Jumat yakni memberikan keterangan kepada pers. Dan yang terkena dampak tentu saja para wartawan.


Pada saat menjelang jumpa pers tersebut, Pasukan Pengamanan Presiden (Secret service-nya Indonesia) masuk ke ruangan tempat para wartawan berkumpul. Salah satu anggota Paspampres menegur salah seorang wartawan yang sedang menunggu kehadiran Kalla dengan berkata, “Tolong diikat sepatunya.”


Pada awalnya para wartawan tidak begitu memperhatikan teguran tersebut karena dikira sedang bercanda. Tetapi petugas pampapres tersebut kembali menegaskan perintahnya, “Amankan sepatunya, ya.” Para wartawan pun terdiam. Namun yang membuat para wartawan kesal bukan instruksi mengikat tali sepatu itu, tetapi acara jumpa pers itu tenyata dibatalkan tanpa alasan apa pun.


Saat bertemu dengan para wartawan dari News Safety Institute di Istana Wakil Presiden, Selasa lalu, Kalla sempat bercanda. “Nanti sepatu wartawan harus diikat. Jangan-jangan ada yang mau melempar sepatu ke saya,” ujarnya.


Tetapi tidak dijelaskan bagaimana kalau sepatu yang dikenakan wartawan tidak menggunakan tali, apakah mesti dicopot ketika memasuki ruang pertemuan?


Oh, ya, karena saya belum menemukan istilah psikologi untuk pobia lemparan sepatu tersebut, maka saya beri nama abiciocalceolariusphobia (abicio = yang dilemparkan, calceolarius = sepatu, phobia = rasa takut).

Kisah-kisah Kekeliruan Manusia Menurut Jaya Suprana

Tidak sedikit kekeliruan yang beredar di dalam kehidupan kita dan diakui sebagai kebenaran. Mungkin karena ketidaktahuan atau bisa juga karena ketidakacuhan. Pada pokoknya banyak orang menganggap apa yang dilihat, didengar dan diketahuinya itu adalah kebenaran karena semua orang menganggapnya benar. Apabila nanti ada yang mengatakannya salah atau keliru, itu tergantung siapa yang berkata.


Dari sebuah buku yang sudah terkenal mengkompilasi kekeliruan yang beredar di masyarakat, saya mencoba menghadirkan kembali kepada Wikimuers sebagian kecil cuplikan kisah-kisah kekeliruan tersebut. Bagi yang sudah membaca bukunya, barangkali akan disegarkan kembali ingatannya akan buku tersebut, yakni Antologi Kelirumologi, karya Jaya Suprana.


(Hal 68)

Sate-kambing lazim dituduh berbahaya bagi pengidap hipertensi. Akibatnya bukan saja bisa memperparah tekanan darah tinggi sampai berdampak kelumpuhan, malah juga bisa fatal.

Maka saya sangat terkejut, ketika di Semarang, melihat bagaimana seorang warga keturunan Arab dalam kondisi tubuh lumpuh sebagian, tertatih-tatih masuk ke warung sate kambing, lalu memesan dan melahap sate kambingdengan nikmatnya.

Demi mencegah hal tak diinginkan terjadi pada penggemar sate kambing itu, saya mempertanyakan peristiwa terkesan berbahaya tersebut akibat melanggar norma umum itu kepada pemilik warung sate kambing yang kebetulan teman saya dan juga warga keturunan Arab.

Terenyata dia malah heran, dan balik bertanya, “Lho, kenapa? Di kalangan kita (etnis Arab), sate kambing justru berkhasiat menyembuhkan penyakit tekanan darah tinggi!”

Lain padang, lain belalang. Lain budaya, lain paham.


(Hal 73)

Mungkin akibat secara ragawi saya memang tampak sebagai insan keturunan Cina, maka saya kerap diundang ke berbagai seminar untuk bicara soal shio atau hsio atau entah bagaimana cara menulisnya yang benar. Sebenarnya saya bukan ahli kebudayaan Cina, termasuk shio dan sama sekali tidak percaya shio. Slah satu bukti betapa shio pada hakikatnya tidak mengandung unsur kebenaran tentu bukan sekedar pendapat atau selera saya pribadi, namun kenyataan-kenyataan yang terjadi secara kolektif pada masyarakat tertentu yang tentu semjua warganya pasti tidak memiliki shio yang sama dan seragam. Apabila shio mereka tidak sama dan seragam, kenapa bisa terjadi bahwa nasib mereka ternyata sama dan seragam seperti terbukti pada kecelakaan kendaraan umum mulai dari bus, kereta api, pesawat terbang sampai kapal pesiar dengan penumpang ratusan insan berbeda shio namun terbukti memiliki nasib naas yang sama. Tragedi bencana-bencana alam seperti di Aceh dan Nias juga membuktikan bahwa shio tidak memiliki makna apalagi daya apa pun!


(Hal 82)

Kwik Kian Gie juga sengit mengkoreksi pernyataan dalih Pemerintah RI menaikkan harga BBM adalah akibat terlalu berat terus-menerus memberikan subsidi terhadap harga jual BBM di dalam negeri.

Menurut Pak Kwik, sebenarnya secara faktual tidak ada yang dirugikan karena sebenarnya subsidi itu secara faktual tidak pernah diberikan. “Subsidi” yang mengakibatkan “kerugian” itu adalah sekadar perhitungan terhadap andaikata BBM dijual di pasar luar negeri dengan harga yang berlaku di luar negeri. Harga jual BBM di pasar luar negeri memang lebih tinggi dibanding dengan harga jual BBM yang sedang berlaku di dalam negeri. Perbedaan nilai harga BBM antara yang andaikata dijual di pasar luar negeri dan di dalam negeri itu lah yang dianggap sebagai “kerugian” oleh Pemerintah. Mungkin istilah yang lebih tepat adalah “pengorbanan” atau “keuntungan yang tidak jadi diterima sebab tidak jadi dijual” atau entah bagaimana.


(Hal 99)

Salah satu jenis billboard paling keliru adalah yang terpancang di ambang jalan-jalan raya tertentu dengan lantang mengumumkan “Anda masuk kawasan tertib lalu lintas”.

Apa pun makna tujuan pemasangan papan pengumuman semacam itu, hasilnya pasti memalukan yakni menyadarkan para pengguna jalan bahwa di luar kawasan tertib lalu lintas itu, pasti lalu lintas tidak tertib. Andaikata tujuan papan pengumumam tersebut untuk menggugah kesadaran disiplin lalu lintas para pengguna jalan, alhasil seolah malah menyadarkan bahwa di luar kawasan tertib lalu lintas itu tidak jadi masalah bagi para pengguna jalan untuk tidak berdisiplin. Dan yang paling keliru adalah di kawasan tertib lalu lintas yang seharusnya sudah tertib maka tidak perlu pengawasan lagi itu, para polisi yang jumlah keseluruhannya belum memenuhi tuntutan realita kebutuhan itu malah bergerombol menggumpal. Sementara di kawasan yang nyata rutin kacau sampai macet lalu lintas, malah tak ada seorang polisi pun berupaya menertibkan kekacau-balauan lalu lintas.


(Hal 108)

Fanatisme kerap menimbulkan dampak perilaku keliru. Termasuk fanatisme melawan paham jam karet demi selalu disiplin tepat waktu ternyata tidak selalu benar bahkan dampaknya bisa keliru dan fatal. Terbukti pada bencana kecelakaan kereta api paling naas dalam sejarah perkeretaapian Jepang, terjadi di dekat kota Osaka, Jepang, 25 April 2005, dengan korban jiwa 107 insan. Dari hasil investigasi atas sebab-musabab kecelakaan tersebut, ternyata sang pengemudi fanatik tepat waktu meningkatkan kecepatan KA sampai melampaui batas bahaya demi mengejar waktu keterlambatan selama 90 bukan menit namun detik!


(Hal 110)

Istilah “Slam dunk” berasal dari permainan basketball populer di USA untuk mengomentari keberhasilan seorang pemain basketball melompat tinggi lalu memasukkan bola lewar rogohan tangan langsung ke mulut keranjang. Dalam urusan sehari-hari istilah slam dunk digunakan dalam arti telak atau dijamin pasti benar.

Di tahun 2002,. Direktur CIA, George Tenet memberikan jaminan kepada Presiden Amerika Serikat, George Bush bahwa CIA memiliki bukti “slam dunk” bahwa Irak diam-diam punya senjata-senjata ampuh pemusnah massal!

Akibat yakin atas kebenaran bukti “slam dunk” nya Tenet itu, Bush tida ragu lagi untuk menyerbu Irak demi menemukan, merampas dan melumpuhkan senjata pemusnah massal Hussein. Setelah Irak dibumihanguskan dan Hussein dipenjara, terbukti bahwa di Irak sama sekali tidak ditemukan secuil pun senjata permusnah massal yang dijamin pasti ada itu!

Setelah mundur dari jabatan direktur CIA, ketika di awal Mei 2005 diingatkan tentang bisikan “slam dunk” ke Bush dulu itu, tersipu-sipu George Tenet terpaksa mengaku “Those were the two dumbest words I ever had said” = Dua kata itu merupakan kata-kata paling tolol yang pernah saya ucapkan!

Selasa, Desember 16, 2008

Politik Dendam dan Dendam Politik, Masa Depan Politik Indonesia


Frasa di atas bukan asal dibolak-balik atau diplintir, tapi artinya memang berbeda. Politik dendam artinya politik yang dijalankan berdasarkan dendam, sedangkan dendam politik maknanya dendam karena permasalahan politik. Dendam politik bisa menyebabkan munculnya politik dendam, dan politik dendam akan menjadi abadi karena selalu berlandaskan dendam politik.


Sebagian besar permasalahan politik (perang) di dunia dibentuk oleh dendam politik. Sebut saja pertikaian Arab-Israel, genocide oleh Jerman terhadap orang Yahudi, perang Serbia-Bosnia, Perang Dunia I dan II, Perang Korea, Perang Vietnam, Perang Irak-Iran, dan pertikaian di dalam negeri seperti yang terjadi di Maluku dan Poso. Dendam kesumat yang diwariskan turun temurun itu kemudian dicarikan alasan pembenarannya untuk diwujudkan menjadi perang atau pertikaian terbuka. Dan itu tidak pernah berakhir sampai rasa dendam kesumat itu habis atau terkikis oleh waktu.



George W. Bush penerus dendam sang ayah


Cerita yang paling up to date adalah penyerbuan pasukan AS ke Irak yang disebut Perang Teluk II atau Operasi Pembebasan Irak yang sebenarnya hanyalah sebuah perang yang diciptakan oleh Presiden AS George Walker Bush atau Bush Junior dalam rangka mewujudkan dendam sang ayah, George Herbert Walker Bush atau Bush Senior, Presiden AS ke-41 yang gagal menangkap dan membunuh Saddam Husein pada Perang Teluk I atau Operasi Badai Gurun.


Kemudian Bush Junior dengan enteng mengaku menyesal telah menyerang Irak disebabkan adanya kesalahan informasi intelijen mengenai senjata pemusnah massal milik Irak. Penyesalan basi-basi yang diungkapkan setelah dia puas dengan keberhasilannya membunuh (menghukum mati) Saddam Husein tersebut adalah bernilai 4.119 pasukan AS yang tewas ditambah tewasnya: 311 pasukan koalisi negara lain, 6.370 militer era Saddam, 23.500 kelompok perlawanan Irak, 1.186 tentara sewaan, 112 jurnalis, 40 pekerja media, 95 pekerja sosial, 97.762 rakyat sipil Irak, dan 4 juta jiwa menjadi pengungsi di negara sendiri dan 2 juta jiwa di negara lain. Bush is the real terrorist!



Keluarga Soekarno versus keluarga Soeharto


Sejarah mencatat bahwa kejatuhan pemerintahan Soekarno merupakan “kudeta politik” dari mantan presiden Soeharto yang pada saat itu adalah Menteri Panglima Angkatan Darat. Kemudian dendam politik terbentuk di antara dua keluarga ini. Lihat saja bagaimana dianaktirikannya keluarga Soekarno di masa pemerintahan Soeharto.


Ketika Megawati Soekarno Putri menduduki jabatan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada waktu itu, PDI pun diobok-obok dengan munculnya PDI tandingan yang dipimpin oleh Yusuf Merukh. Pada Kongres PDI tandingan itu, diangkatlah Soeryadi sebagai Ketua Umum PDI yang diakui oleh pemerintahan Soeharto dan Megawati pun tersingkir.


Pergolakan semakin memanas ketika trio “sakit hati” yang ditindas semasa pemerintahan Soeharto, yakni Amin Rais, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati bersama-sama menggalang kekuatan melengserkan pemerintahan Soeharto dengan menggunakan massa rakyat dan mahasiswa. Dengan mengusung nama “Reformasi”, maka bergaunglah era yang disebut-sebut akan merubah kondisi politik dan ekonomi rakyat ini menjadi lebih baik dibanding era Orde Baru.


Megawati yang masih sakit hati dengan penzoliman semasa menjadi ketua PDI di era Orde Baru kemudian mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan menjadi ketua umumnya. Begitu juga setiap tokoh reformasi kemudian mendirikan partai politiknya masing-masing, Amin Rais dengan Partai Amanat Nasional dan Gus Dur dengan Partai Kebangkitan Bangsa.


Apabila banyak orang melihat bahwa pertarungan politik sesungguhnya di Pemilu 2009 adalah antara Megawati dan SBY, maka saya bilang itu adalah riak permukaan. Arus di dalamnya adalah pertarungan keluarga Soekarno dan keluarga Soeharto (keluarga Cendana).



Kebangkitan keluarga Cendana


Keleluasaan keluarga Soekarno, dalam hal ini diwakili oleh Megawati Soekarno Putri, menikmati kekuasaan tidak begitu lama. Setelah menduduki jabatan wakil presiden di masa awal reformasi dengan Abdurrahman Wahid sebagai Presidennya melalui kesepakatan politik – karena belum ada pemilihan presiden secara langsung di Pemilu 1999 – Megawati kemudian berhasil menjadi Presiden setelah Gus Dur berhasil dilengserkannya dari kursi presiden gara-gara keterlibatannya dalam kasus Bulog-Goro.


Namun di Pemilu 2004, pertarungan sengit Megawati versus SBY (mantan Mentri Politik dan Keamanan atau Menkopolkam di masa pemerintahan Megawati yang mengundurkan diri) akhirnya dimenangkan SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla yang sebelumnya pernah menjabat Mentri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) di masa Megawati dan juga mengundurkan diri.


Apakah tanda-tanda kebangkitan keluarga Cendana itu?


Jawabannya adalah kemenangan SBY dan Jusuf Kalla di Pemilu 2004. Di masa pemerintahan SBY-Kalla, Tommy Soeharto – yang berhasil dipenjarakan di masa Gus Dur sebagai presiden karena kasus pembunuhan Hakim Agung Syaifudin Kartasasmita – dibebaskan bersyarat. Selain itu mantan presiden Soeharto yang di masa presiden Gus Dur maupun Megawati sudah digugat dengan kasus yayasan Supersemarnya, di masa SBY-Kalla kembali berhasil diselamatkan hingga wafatnya.


Menjelang Pemilu 2009 kemunculan Keluarga Cendana semakin tampak nyata, salah satunya adalah upaya kampanye PKS yang kontroversial dengan memunculkan Soeharto sebagai simbol “guru bangsa” dan “pahlawan”. Untuk usahanya ini PKS mendapatkan ucapan terimakasih dari Ketua Partai Golkar sekaligus Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kemudian disusul rencana menjadikan Siti Hardiyanti Rukmana sebagai calon penerima anugerah dari PKS sebagai “Wanita yang mengispirasi”, tetapi dibatalkan kemudian setelah mendapatkan serangan di sana-sini.


Barisan Nasional versi Indonesia?


Di Malaysia dikenal adanya Barisan Nasional, yakni sebuah koalisi partai-partai sepeti UMNO (United Malays National Organization/etnis Melayu), MCA (Malaysian Chinese Association/etnis Tionghoa), MIC (Malaysian Indian Congress/etnis India) dan sejumlah partai kecil lainnya. Untuk Indonesia apakah tidak mungkin nantinya akan terbentuk barisan nasional versi Indonesia? Ditambah lagi banyaknya partai-partai kecil yang didalamnya adalah orang-orang Golkar di masa lalu.