Tampilkan postingan dengan label Pendapatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendapatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Februari 15, 2009

10 Anggapan Keliru Tentang Kreatifitas

Menjadi kreatif adalah impian bagi banyak orang. Sayangnya tidak ada sekolah atau kursus yang khusus mengajarkan kreatifitas. Sifat kreatif adalah pembawaan manusia sejak lahir, namun potensi ini harus dikembangkan agar bisa bermanfaat bagi kehidupan. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah kreatifitas yang positif dan tidak merugikan.


Pemusik, pengarang novel, penulis buku, seniman pada umumnya, perancang busana, perekayasa teknologi adalah beberapa contoh pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas tinggi. Mereka-mereka ini tidak boleh kering ide, karena apa yang dilakukan adalah mengandalkan ide-ide baru yang segar dan cemerlang.


Namun ada beberapa anggapan keliru yang seringkali mematikan kreatifitas kita. Anggapan-anggapan tersebut biasanya terus berkembang karena dibantu oleh orang-orang di sekitar kita yang secara tidak sadar turut melemahkan semangat kita untuk berkreatifitas.


Berikut ini adalah 10 anggapan yang keliru tentang kreatifitas. Hendaknya kita memperbaiki anggapan-anggapan ini dan mencoba juga untuk menanamkan semangat berkreatifitas kepada orang-orang di sekitar kita.



1. Aku bukan seorang yang kreatif


Banyak orang berkata, “Aku bukan seorang yang kreatif”. Suatu perasaan yang dikelirukan dengan perasaan malas untuk berpikir dan berbuat.


Semua orang pada dasarnya kreatif. Tidak percaya, lihat saja semua anak-anak kecil berumur 2 tahunan. Apa yang tidak bisa dijadikannya mainan? Mereka dengan kreatif menggunakan barang-barang disekitarnya sebagai mainan. Tapi apabila dia kemudian terbiasa dibelikan mainan – khususnya mainan yang tidak memancing kreatifitas – maka di umur 6 tahunan kreatifitas tersebut akan menumpul dan akhirnya anak tersebut akan terbiasa menikmati mainan sudah jadi.


Jadi mulai dari sekarang tanamkan di dalam pikiran kita sebuah ide: Saya adalah manusia yang sudah ditakdirkan untuk kreatif.



2. Ini adalah ide gila, bodoh atau menggelikan untuk dilakukan


Banyak dari kita berpikir begitu apabila tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala kita. Sensor negatif terhadap ide kreatif biasa bermain di pikiran kita, dan sensor ini membatasi kreatifitas kita. Begitu juga apabila kita melakukan hal ini terhadap orang lain, berarti kita sudah mematikah sebuah kreatifitas.


Sekarang marilah berpikir terbuka: dengarkan dan terima semua ide, bagaimana pun bodoh kedengarannya. Apalagi itu adalah dari pemikiran kita sendiri.


Kita masih mempunyai banyak waktu untuk memperbaiki ide-ide tersebut. Membetulkan konstruksinya dan memolesnya sehingga menjadi lebih cantik.



3. Orang-orang yang kreatif selalu mempunyai ide-ide besar dan pemikiran yang brilian


Keliru besar! Orang-orang kreatif tidak pernah kering ide, betul. Tapi tidak selalu ide-ide itu besar dan brilian. Semua ide pantas untuk ditampung dan dipertimbangkan. Ketika sebuah ide berada pada saat yang tepat untuk dilahirkan, ketika itulah sebuah ide dikatakan brilian.


Leonardo Da Vinci melahirkan banyak ide pada jamannya dan dianggap ide gila, namun sekarang ide tersebut dianggap brilian oleh kita karena lahir dari seorang pelukis dan realisasinya baru terjadi beratus-ratus tahun kemudian.


Jadi jangan meremehkan ide-ide yang muncul. Terus gali ide-ide kita, walau terdengar menggelikan sekalipun.



4. Kritik adalah penghancur kreatifitas


Tidak ada ide yang betul-betul sempurna. Maka kesempurnaan sebuah ide bisa didapat dari beberapa kepala orang-orang yang memberikan kritikan. Kepandaian kita menerima dan menyaring kritikan-kritikan yang masuk akan menyempurnakan ide-ide cemerlang kita. Karena ide yang masih segar biasanya rapuh dan perlu perbaikan.


Jadi sebaiknya jangan apriori dengan seorang kritikus, karena dia adalah asisten kita untuk memperbaiki ide. Tanyakan kepada kritikus kita apa yang harus dilakukan agar ide kita menjadi hebat. Biarkan dia mengeluarkan semua pengetahuannya dan kita memperoleh keuntungannya.



5. Ide terbatas, sulit untuk menjadi kreatif


Banyak kepala tetap lebih baik dari satu kepala. Ungkapan ini menggambarkan bahwa ide-ide akan lebih beragam dan berkembang apabila dipikirkan oleh banyak orang.


Mulai dari sekarang hubungi banyak orang untuk ikut memikirkan ide-ide yang diperlukan oleh anda. Hidupkan diskusi dan tanya jawab. Lakukan secara acak dan brain storm. Arahkan ide-ide lebih meluas ke arah yang lain secara kreatif. Secara tidak sadar mereka yang memberi masukan kepada anda sudah menjadi penyumbang ide-ide yang tidak terbatas.



6. Peninjauan ulang suatu ide akan menghancurkan ide-ide


Proses penyaringan beberapa ide atau gagasan adalah hal harus dilakukan untuk mendapatkan satu ide yang terbaik. Peninjauan ulang menjadi prosedur umum suatu penyaringan ide, dan apabila ada ide yang terkalahkan itu sudah menjadi sebuah resiko penyaringan.


Namun perlu dicatat bahwa tidak ada ide yang menjadi terbuang, karena suatu saat nanti ide-ide yang belum terpakai mungkin akan berguna dan menjadi sebuah ide brilian. Ingatlah rumusan ini: ide yang tepat di saat yang tepat adalah sebuah ide brilian.



7. Kita harus mengikuti sebuah ide pertama yang kelihatannya baik


Sebuah ide akan menjadi sempurna setelah menjalani proses penyaringan dari beberapa ide yang dikumpulkan. Jadi jangan gegabah menerapkan sebuah ide yang kelihatannya baik sebelum melakukan peninjauan ulang terhadap ide-ide kreatif yang lain.


Jangan langsung puas dengan satu ide, carilah ide yang lain dari pemikiran orang lain. Mulai dari sekarang diskusi dan interview harus menjadi acara utama bagi pencari ide dan gagasan. Membaca buku adalah salah satu bentuk diskusi satu arah dengan pengarangnya, bukan?



8. Dengan narkoba akan menolong saya menjadi lebih kreatif


Budaya penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang – dimulai era 60-an – mulai berkembang di kalangan musisi dan seniman di Barat. Cara payah seperti ini masuk ke Indonesia dan dianut oleh sebagian seniman kita.


Mereka beranggapan bahwa dengan memakai narkoba tersebut pikiran mereka menjadi segar dan ide-ide hebat akan terlahir. Ya, beberapa ide cemerlang terlahir seiring putusnya ribuan syaraf dan matinya jutaan sel di otak dan tubuh mereka.


Ide-ide yang telah usai akhirnya tinggal kenangan di balik tubuh yang sakit atau terbujur kaku menemui ajal. Dan yang tersisa hanya sebuah cerita buruk yang menjadi kenangan banyak orang.



9. Sesuatu yang sudah berjalan baik, tidak perlu diperbaiki


Kebanyakan orang menjadi terpancing mencari gagasan-gagasan baru setelah muncul permasalahan. Ketika penjualan menurun dengan tajam, tim marketing sibuk berkumpul membahas jalan keluarnya. Ketika sebuah album tidak laku, musisinya sibuk mencari ide-ide lagu yang lebih sesuai pasar.


Seharusnya ide-ide lahir setiap hari, bahkan setiap saat. Biarkan ide-ide itu muncul dengan sendirinya dan kumpulkan. Lalu lakukan penyaringan dan lahirkan sebagai ide yang cemerlang.


Perbaiki sistem yang sudah kelihatan berjalan sempurna sekalipun, karena pasti ada yang masih perlu disempurnakan. Karena hukum termodinamika II (hukum entropi, sebuah hukum dasar fisika) yang berlaku di alam ini mengatakan: pada kondisi normal semua sistem yang dibiarkan tanpa gangguan cenderung menjadi tak teratur, terurai, dan rusak sejalan dengan waktu. Jadi seluruh alam semesta bergerak menuju keadaan yang semakin tidak teratur, tidak terencana, dan tidak terorganisir.


Jadi kenapa harus menunggu rusak untuk diperbaiki?



10. Semua gagasan dapat diingat, jadi tidak perlu dicatat


Mungkin bila anda terlahir memiliki kemampuan memori otak yang hebat seperti sebuah komputer, saya tidak bisa membantah anda. Tetapi apakah orang-orang yang lain demikian juga?


Kelemahan manusia pada umumnya, termasuk juga perusahaan dan bahkan sebuah negara adalah pencatatan dan pengarsipan. Bidang yang dianggap remeh oleh banyak orang ini sebenarnya adalah bagian akhir yang diributkan setelah masalah muncul. Ketika terjadi permasalahan komputer di awal tahun 2000 (Y2K) banyak orang kelimpungan mencari manual program dan pencatatan pembukuan tertulis, yang lupa dicatat atau hilang entah kemana.


Untuk menghindari kehilangan ide-ide yang sudah diperoleh dengan susah-payah atau ide-ide yang datang dengan sendirinya ketika anda siap-siap tidur di malam hari, maka adakanlah pencatatan sesegera mungkin sebelum ide itu lenyap.


Sediakan kertas kecil dan pulpen di saku anda ketika anda sedang pergi keluar rumah, atau letakkan dia disamping tempat tidur anda di malam hari. Segera catat pokok-pokok ide-ide yang muncul seketika. Ingatlah bahwa sebuah mimpi akan segera hilang dari ingatan kita dalam waktu 10 menit sejak kita bangun.




Sumber gambar : http://www.customerserviceworks.com/uploads/iStock_000002055573Small.jpg

Selasa, Februari 03, 2009

10 Sebab Kenapa Orang Belanjakan Uang Melebihi Pendapatan

Aturan pertama apabila anda ingin sukses dalam keuangan adalah belanjakan uang anda lebih sedikit dari pendapatan yang diperoleh. Jika anda tidak bisa melakukan hal itu, anda tidak akan pernah sukses dalam keuangan, sekeras apa pun usaha anda, berapa pun banyak waktu yang anda habiskan untuk bekerja, berapa pun banyak peluang-peluang yang anda terima, atau berapa pun banyak uang yang berhasil anda hasilkan.


Ini adalah aturan yang sederhana, dan kebanyakan orang menerimanya sebagai aturan yang masuk akal. Namun pada kenyataannya banyak orang tidak mempunyai tabungan dan banyak hutang, berarti aturan masuk akal ini tidak dipatuhi.


Berikut ini adalah 10 alasan yang menjadi sebab seseorang melakukan pembelanjaan yang berlebihan, dan mungkin saja ini juga terjadi pada saya dan anda.



1. Menjaga status di mata orang lain


Faktor psikologi memainkan peran yang besar di dalam kebiasaan belanja kita. Kita ingin merasa sukses atau lebih sukses dibanding orang-orang di sekitar kita. Kita membelanjakan banyak uang untuk menjaga gambaran itu di mata mereka. Padahal di dalam kenyataannya orang-orang itu juga tidak bisa membeli seperti yang dibeli oleh kita secara habis-habisan.



2. Menghindari kenyataan


Adalah mudah membelanjakan uang secara berlebihan apabila kita melupakan rekening-rekening tagihan kita. Kebanyakan orang tidak acuh pada situasi sesungguhnya dari keuangan mereka karena mereka ketakutan untuk memperhatikan kekacauan yang sebenarnya terjadi. Dan itu menjadi lebih mudah untuk sementara dengan menghindarinya. Mereka akan membayar sejumlah pembayaran minimum dari kartu kredit dan kemudian menambah lagi pemakaiannya atau membuka pinjaman baru lalu mengabaikan jumlah keseluruhan hutang yang terus bertambah.



3. Menghitung uang yang belum pasti akan diterima


Banyak dari kita menghabiskan cadangan uang atau meminjam sejumlah uang dan berharap mendapatkan lain sebagai ganti. Misalnya ada rumor mengenai bonus akhir tahun yang belum pasti kebenarannya, atau THR dengan jumlah tertentu. Kita sering terlalu optimis tentang uang yang akan datang berikutnya. Uang itu dibelanjakan sebelum diterima, dan akhirnya – dan ini sering terjadi – jumlahnya tidak sebanyak yang telah dibelanjakan.



4. Uang plastik tidak sama rasanya dengan uang sebenarnya


Pada umumnya kita akan belanja berlebihan di saat menggunakan kartu kredit dibandingkan dengan uang tunai. Ketika kita menggunakan kartu kredit dan kemudian kartu diserahkan kembali oleh kasir kepada kita setelah digunakan, tidak sama rasanya ketika kita membelanjakan uang tunai dan mendapati uang di dompet kita telah berkurang. Kartu kredit tetap utuh kecuali batas kredit terpenuhi, sedangkan uang tunai bisa lenyap.



5. Kepuasan segera


Semua ini mengenai sifat yang mendasar dari kita. Kita telah dibombardir oleh mentalitas yang ingin puas dengan segera. Seperti misalnya "Obat penghilang rasa sakit dengan cepat", "makanan siap saji", atau ada pesan iklan "beli sekarang, bayar kemudian". Apabila kita masih bersikap mental seperti itu, kita akan terus dimanfaatkan oleh produsen karena kita selalu menginginkan apa yang kita mau sekarang juga, tanpa mau tahu bagaimana nanti kita membayarnya.



6. Gaya hidup yang meningkat


Banyak orang mengalami peningkatan biaya hidup seiring dengan peningkatan pendapatan mereka. Tapi tidak pernah terjadi hal sama apabila terjadi penurunan pendapatan. Apabila kita terbiasa dengan suatu gaya hidup tertentu, maka sangat sulit untuk menurunkannya, sekali pun situasi keuangan kita memburuk.



7. Lemah seperti anak-anak


Barangkali masih ada sifat kekanak-kanakan kita yang tidak pernah bisa memegang uang dalam waktu lama karena tidak tahan dengan godaan dan selalu ingin segera menghabiskannya, atau kurangnya pemahaman keuangan menjadi suatu alasan kita membelanjakan uang secara berlebihan.



8. Perasaan akan kekuasaan


Membelanjakan uang seringkali membuat orang merasa kuat dan berkuasa. Semakin banyak mereka berbelanja, semakin kuat dan berkuasa rasanya, dan satu-satunya cara untuk mendapatan kembali rasa berkuasa tersebut adalah dengan membelanjakan lebih banyak uang lagi.



9. Membuktikan harga diri


Seseorang yang membeli sebuah mobil terbaru idaman banyak orang, misalnya, akan merasa telah membuktikan bahwa dia sudah menjadi orang yang sukses. Karena bagi sebagian orang apa yang dibelinya menjadi ukuran penghargaan orang lain terhadap mereka.



10. Tidak bisa berkata tidak


Sebagian orang merasa gagal ketika mereka tidak bisa memenuhi keinginan orang lain. Misalnya mainan baru yang mahal yang sangat diinginkan anak-anaknya, peralatan rumah baru yang sangat diidamkan istrinya, atau sebuah acara jalan-jalan keluar bersama teman-teman lama. Sebagian orang sulit berkata tidak, bahkan ketika mereka tidak bisa memenuhinya sekali pun.