Tampilkan postingan dengan label Anggapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anggapan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Maret 10, 2009

Apakah Alam Semesta dan Kita Benar-benar Ada?

Persepsi berasal dari kata bahasa Inggris perception yang bermakna tindakan dari perasaan; dikenal oleh perasaan atau akal sehat; ditangkap oleh organ tubuh jasmani, atau oleh pikiran apa yang diperkenalkan kepada mereka; pembedaan; penangkapan; pengamatan. Sedangkan di dalam ilmu psikologi, persepsi bermakna pengorganisasian mental dan penafsiran atas informasi yang diterima.


Proses terbentuknya persepsi adalah proses kelahiran sebuah pengetahuan. Pengetahuan kita akan sesuatu hal selalu dimulai dengan proses penangkapan informasi oleh indrawi kita – mata (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (perasa) dan kulit (peraba) – kemudian berkas informasi yang diterima oleh indera kita disampaikan berupa sinyal-sinyal listrik ke otak dengan bantuan syaraf dan plasma sel. Berdasarkan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya informasi tadi diolah dan ditanggapi sebagai sebuah persepsi. Kesadaran kita mendapatkan gambaran berdasarkan persepsi yang terbentuk tadi, dan kita pun memiliki sebuah pengetahuan. Begitulah kira-kira sebuah persepsi terbentuk dan pengetahuah lahir dari sebuah persepsi.


Sebagai contoh adalah ketika kita membaca sebuah buku, kita sedang menggunakan satu buah indera utama yakni mata. Mata menangkap pantulan foton-foton cahaya dari buku yang membawa gambaran huruf-huruf dalam bentuk cahaya dengan frekuensi berbeda-beda melalui lensa mata. Kemudian bayangan huruf yang terbalik diterima titik api atau retina mata yang terletak di bagian belakang bola mata. Cahaya yang jatuh di retina mata ini diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan oleh syaraf-syaraf neuron ke sebuah bintik kecil di bagian belakang otak yang disebut pusat penglihatan. Setelah mengalami sederetan proses sinyal listrik diubah kembali menjadi gambaran bayangan huruf-huruf. Di bintik kecil inilah proses penglihatan terjadi.


Selesaikah sampai di situ? Tentu saja belum selesai. Gambaran bayangan huruf-huruf tadi belum dimengerti oleh kita. Rekaman pengetahuan tentang huruf dan pelajaran membaca yang sudah direkam di otak akan dibandingkan dengan informasi yang baru datang, maka kita pun mengenalinya sebagai huruf-huruf, kata-kata dan kalimat. Terakhir pengetahuan-pengetahuan kita yang lain dan tersimpan di otak akan terus dibandingkan dengan semua informasi yang masuk. Setelah itu terjadi proses berpikir yang sangat kompleks untuk mengolah data yang masuk. Dan hanya dalam hitungan beberapa detik atau menit sebuah persepsi akan terbentuk dan kita pun berkata dalam hati, “Oh, ternyata begini caranya”. Lahirlah sudah sebuah pengetahuan.


Persepsi yang terbentuk tidak pernah sama pada semua individu disebabkan perbedaan pada kemampuan fungsi organ indera, syaraf-syaraf, otak dan bagian tubuh lainnya serta pengetahuan yang sudah tersimpan sebelumnya. Persepsi yang berbeda membuat pemahaman, pengertian dan pengetahuan yang terbentuk juga berbeda.


Sebagai contoh adalah rasa masakan. Satu orang mengatakan terlalu asin, yang lain mengatakan cukup, sedang yang lainnya merasa manis. Kalaupun terjadi kesamaan pendapat itu hanyalah karena sebab sosial, seperti perasaan tidak enak kalau berbeda, tidak mau ribut dan sebagainya, tetapi secara ilmiah pasti tidak akan pernah sama.



Materi alam semesta ada karena menurut persepsi kita ada


Kita semua pasti pernah suatu saat tidak menyadari keberadaan benda-benda di sekitar kita. Pada saat lampu padam misalnya. Suasana gelap gulita membuat kita tidak bisa melihat apa pun. Kita bisa menabrak apa saja apabila mencoba berjalan di ruangan yang gelap di rumah kita. Ternyata ketiadaan cahaya membuat kita kehilangan persepsi tentang isi rumah kita. Satu-satunya bekal kita adalah memori yang menyimpan semua informasi posisi benda-benda di rumah kita menurut yang pernah kita lihat. Kita harus mengingat semua letak benda-benda itu, kalau tidak, ya kita harus berjalan dengan meraba-raba untuk mendapatkan korek api atau senter sebagai sumber cahaya.


Contoh di atas baru dari satu indra, yakni indra penglihatan atau mata. Masih ada indra lainnya yang juga sangat berperan dalam membentuk persepsi kita tentang alam sekitar kita, yakni pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Kelima indra ini yang memberi bentuk kepada kita tentang alam sekitar dan alam semesta ini.


Kalau ternyata alam semesta ini keberadaannya sangat ditentukan oleh persepsi kita, dan persepsi kita sangat ditentukan oleh panca indra kita, tidak salah rasanya kalau disimpulkan bahwa alam semesta ini dikatakan ada karena panca indra kita mengatakannya ada disertai informasi bentuk dan rupanya.


Seperti telah disebutkan di atas bahwa persepsi setiap orang tidak pernah sama disebabkan perbedaan organ tubuh yang berperan, maka keberadaan alam semesta ini pun tidak sama menurut setiap orang. Dengan kata lain masing-masing orang mempunyai gambaran yang berbeda tentang alam semesta yang dilihatnya.



Keberadaan, bentuk dan rupa alam semesta diragukan kebenarannya


Seperti diuraikan di atas tadi bahwa keberadaan, rupa dan bentuk alam semesta adalah berdasarkan informasi dari indrawi kita, yang kesemuanya itu diolah di otak kita dan dijelaskan berupa persepsi. Berarti alam semesta yang luas ini – menurut persepsi kita – sesunguhnya dan sebenar-benarnya hanya berada di bagian terkecil dari otak kita, di dalam sebuah sel yang disitu membentuk gambaran.


“Lho, laptop ini kan saya lihat dan sentuh, maka dia ada”. Benar anda melihat dengan mata dan menyentuhnya dengan ujung jari anda. Tapi bentuk yang anda lihat dan anda rasakan itu adalah sinyal-sinyal listrik yang ada di otak anda, yang kemudian lahir dalam bentuk sebuah persepsi. Jadi gambaran laptop yang anda persepsikan di otak anda, itulah hasil dari penglihatan dan perabaan. Anda hanya melihat hasil gambaran dan persepsi di otak, begitu juga hasil rabaan ujung jari anda. Syaraf-syaraf di ujung jari anda mengubah kekasaran dan kehalusan bentuk menjadi sinyal-sinyal listrik, kemudian ujung-ujung syaraf menghantarkannya ke otak anda dan mengolahnya bersama hasil penglihatan menjadi sebuah persepsi bernama laptop.


Nah, kalau seluruh alam semesta ini, termasuk juga semua pengetahuan kita tentangnya – berarti termasuk juga tubuh kita dan kesadaran kita ini – adalah hasil persepsi di otak kita, maka pertanyaan kita adalah benarkah bentuknya seperti itu? Atau pertanyaan yang lebih ekstrim lagi adalah benarkah alam semesta dan kita ini ada dengan sebenar-benarnya? Ataukah yang ada selama ini hanya merupakan hasil persepsi kolektif semua manusia yang keliru tapi terlanjur dipercaya keberadaannya?




Sumber gambar : http://www.geocities.com/yhaadee/newuniverse.jpg

Minggu, Februari 15, 2009

10 Anggapan Keliru Tentang Kreatifitas

Menjadi kreatif adalah impian bagi banyak orang. Sayangnya tidak ada sekolah atau kursus yang khusus mengajarkan kreatifitas. Sifat kreatif adalah pembawaan manusia sejak lahir, namun potensi ini harus dikembangkan agar bisa bermanfaat bagi kehidupan. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah kreatifitas yang positif dan tidak merugikan.


Pemusik, pengarang novel, penulis buku, seniman pada umumnya, perancang busana, perekayasa teknologi adalah beberapa contoh pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas tinggi. Mereka-mereka ini tidak boleh kering ide, karena apa yang dilakukan adalah mengandalkan ide-ide baru yang segar dan cemerlang.


Namun ada beberapa anggapan keliru yang seringkali mematikan kreatifitas kita. Anggapan-anggapan tersebut biasanya terus berkembang karena dibantu oleh orang-orang di sekitar kita yang secara tidak sadar turut melemahkan semangat kita untuk berkreatifitas.


Berikut ini adalah 10 anggapan yang keliru tentang kreatifitas. Hendaknya kita memperbaiki anggapan-anggapan ini dan mencoba juga untuk menanamkan semangat berkreatifitas kepada orang-orang di sekitar kita.



1. Aku bukan seorang yang kreatif


Banyak orang berkata, “Aku bukan seorang yang kreatif”. Suatu perasaan yang dikelirukan dengan perasaan malas untuk berpikir dan berbuat.


Semua orang pada dasarnya kreatif. Tidak percaya, lihat saja semua anak-anak kecil berumur 2 tahunan. Apa yang tidak bisa dijadikannya mainan? Mereka dengan kreatif menggunakan barang-barang disekitarnya sebagai mainan. Tapi apabila dia kemudian terbiasa dibelikan mainan – khususnya mainan yang tidak memancing kreatifitas – maka di umur 6 tahunan kreatifitas tersebut akan menumpul dan akhirnya anak tersebut akan terbiasa menikmati mainan sudah jadi.


Jadi mulai dari sekarang tanamkan di dalam pikiran kita sebuah ide: Saya adalah manusia yang sudah ditakdirkan untuk kreatif.



2. Ini adalah ide gila, bodoh atau menggelikan untuk dilakukan


Banyak dari kita berpikir begitu apabila tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala kita. Sensor negatif terhadap ide kreatif biasa bermain di pikiran kita, dan sensor ini membatasi kreatifitas kita. Begitu juga apabila kita melakukan hal ini terhadap orang lain, berarti kita sudah mematikah sebuah kreatifitas.


Sekarang marilah berpikir terbuka: dengarkan dan terima semua ide, bagaimana pun bodoh kedengarannya. Apalagi itu adalah dari pemikiran kita sendiri.


Kita masih mempunyai banyak waktu untuk memperbaiki ide-ide tersebut. Membetulkan konstruksinya dan memolesnya sehingga menjadi lebih cantik.



3. Orang-orang yang kreatif selalu mempunyai ide-ide besar dan pemikiran yang brilian


Keliru besar! Orang-orang kreatif tidak pernah kering ide, betul. Tapi tidak selalu ide-ide itu besar dan brilian. Semua ide pantas untuk ditampung dan dipertimbangkan. Ketika sebuah ide berada pada saat yang tepat untuk dilahirkan, ketika itulah sebuah ide dikatakan brilian.


Leonardo Da Vinci melahirkan banyak ide pada jamannya dan dianggap ide gila, namun sekarang ide tersebut dianggap brilian oleh kita karena lahir dari seorang pelukis dan realisasinya baru terjadi beratus-ratus tahun kemudian.


Jadi jangan meremehkan ide-ide yang muncul. Terus gali ide-ide kita, walau terdengar menggelikan sekalipun.



4. Kritik adalah penghancur kreatifitas


Tidak ada ide yang betul-betul sempurna. Maka kesempurnaan sebuah ide bisa didapat dari beberapa kepala orang-orang yang memberikan kritikan. Kepandaian kita menerima dan menyaring kritikan-kritikan yang masuk akan menyempurnakan ide-ide cemerlang kita. Karena ide yang masih segar biasanya rapuh dan perlu perbaikan.


Jadi sebaiknya jangan apriori dengan seorang kritikus, karena dia adalah asisten kita untuk memperbaiki ide. Tanyakan kepada kritikus kita apa yang harus dilakukan agar ide kita menjadi hebat. Biarkan dia mengeluarkan semua pengetahuannya dan kita memperoleh keuntungannya.



5. Ide terbatas, sulit untuk menjadi kreatif


Banyak kepala tetap lebih baik dari satu kepala. Ungkapan ini menggambarkan bahwa ide-ide akan lebih beragam dan berkembang apabila dipikirkan oleh banyak orang.


Mulai dari sekarang hubungi banyak orang untuk ikut memikirkan ide-ide yang diperlukan oleh anda. Hidupkan diskusi dan tanya jawab. Lakukan secara acak dan brain storm. Arahkan ide-ide lebih meluas ke arah yang lain secara kreatif. Secara tidak sadar mereka yang memberi masukan kepada anda sudah menjadi penyumbang ide-ide yang tidak terbatas.



6. Peninjauan ulang suatu ide akan menghancurkan ide-ide


Proses penyaringan beberapa ide atau gagasan adalah hal harus dilakukan untuk mendapatkan satu ide yang terbaik. Peninjauan ulang menjadi prosedur umum suatu penyaringan ide, dan apabila ada ide yang terkalahkan itu sudah menjadi sebuah resiko penyaringan.


Namun perlu dicatat bahwa tidak ada ide yang menjadi terbuang, karena suatu saat nanti ide-ide yang belum terpakai mungkin akan berguna dan menjadi sebuah ide brilian. Ingatlah rumusan ini: ide yang tepat di saat yang tepat adalah sebuah ide brilian.



7. Kita harus mengikuti sebuah ide pertama yang kelihatannya baik


Sebuah ide akan menjadi sempurna setelah menjalani proses penyaringan dari beberapa ide yang dikumpulkan. Jadi jangan gegabah menerapkan sebuah ide yang kelihatannya baik sebelum melakukan peninjauan ulang terhadap ide-ide kreatif yang lain.


Jangan langsung puas dengan satu ide, carilah ide yang lain dari pemikiran orang lain. Mulai dari sekarang diskusi dan interview harus menjadi acara utama bagi pencari ide dan gagasan. Membaca buku adalah salah satu bentuk diskusi satu arah dengan pengarangnya, bukan?



8. Dengan narkoba akan menolong saya menjadi lebih kreatif


Budaya penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang – dimulai era 60-an – mulai berkembang di kalangan musisi dan seniman di Barat. Cara payah seperti ini masuk ke Indonesia dan dianut oleh sebagian seniman kita.


Mereka beranggapan bahwa dengan memakai narkoba tersebut pikiran mereka menjadi segar dan ide-ide hebat akan terlahir. Ya, beberapa ide cemerlang terlahir seiring putusnya ribuan syaraf dan matinya jutaan sel di otak dan tubuh mereka.


Ide-ide yang telah usai akhirnya tinggal kenangan di balik tubuh yang sakit atau terbujur kaku menemui ajal. Dan yang tersisa hanya sebuah cerita buruk yang menjadi kenangan banyak orang.



9. Sesuatu yang sudah berjalan baik, tidak perlu diperbaiki


Kebanyakan orang menjadi terpancing mencari gagasan-gagasan baru setelah muncul permasalahan. Ketika penjualan menurun dengan tajam, tim marketing sibuk berkumpul membahas jalan keluarnya. Ketika sebuah album tidak laku, musisinya sibuk mencari ide-ide lagu yang lebih sesuai pasar.


Seharusnya ide-ide lahir setiap hari, bahkan setiap saat. Biarkan ide-ide itu muncul dengan sendirinya dan kumpulkan. Lalu lakukan penyaringan dan lahirkan sebagai ide yang cemerlang.


Perbaiki sistem yang sudah kelihatan berjalan sempurna sekalipun, karena pasti ada yang masih perlu disempurnakan. Karena hukum termodinamika II (hukum entropi, sebuah hukum dasar fisika) yang berlaku di alam ini mengatakan: pada kondisi normal semua sistem yang dibiarkan tanpa gangguan cenderung menjadi tak teratur, terurai, dan rusak sejalan dengan waktu. Jadi seluruh alam semesta bergerak menuju keadaan yang semakin tidak teratur, tidak terencana, dan tidak terorganisir.


Jadi kenapa harus menunggu rusak untuk diperbaiki?



10. Semua gagasan dapat diingat, jadi tidak perlu dicatat


Mungkin bila anda terlahir memiliki kemampuan memori otak yang hebat seperti sebuah komputer, saya tidak bisa membantah anda. Tetapi apakah orang-orang yang lain demikian juga?


Kelemahan manusia pada umumnya, termasuk juga perusahaan dan bahkan sebuah negara adalah pencatatan dan pengarsipan. Bidang yang dianggap remeh oleh banyak orang ini sebenarnya adalah bagian akhir yang diributkan setelah masalah muncul. Ketika terjadi permasalahan komputer di awal tahun 2000 (Y2K) banyak orang kelimpungan mencari manual program dan pencatatan pembukuan tertulis, yang lupa dicatat atau hilang entah kemana.


Untuk menghindari kehilangan ide-ide yang sudah diperoleh dengan susah-payah atau ide-ide yang datang dengan sendirinya ketika anda siap-siap tidur di malam hari, maka adakanlah pencatatan sesegera mungkin sebelum ide itu lenyap.


Sediakan kertas kecil dan pulpen di saku anda ketika anda sedang pergi keluar rumah, atau letakkan dia disamping tempat tidur anda di malam hari. Segera catat pokok-pokok ide-ide yang muncul seketika. Ingatlah bahwa sebuah mimpi akan segera hilang dari ingatan kita dalam waktu 10 menit sejak kita bangun.




Sumber gambar : http://www.customerserviceworks.com/uploads/iStock_000002055573Small.jpg

Kamis, Januari 08, 2009

10 Macam Pikiran Negatif yang Merusak

Pemikiran negatif adalah pemikiran yang mengganggu, gambaran-gambaran atau ide-ide yang jelek namun menghantui, bersifat menyusahkan, dan sulit diatur sehingga kita tidak merasa bebas.


Pemikiran yang mengganggu tersebut umumnya berupa suara hati dan pemikiran yang memberikan saran-saran dan gambaran-gambaran yang bersifat curiga, menuduh, menghujat, menghakimi dan memvonis.


Banyak orang mengalami pemikiran ini, dan dapat dihubungkan dengan obsessive-compulsive disorder/OCD (gangguan berupa pemikiran irrasional dan penuh kecurigaan) atau rasa sedih. Pemikiran ini bisa melumpuhkan, kekuatiran yang menggusarkan dan bersifat menetap.


Percakapan dengan diri sendiri


Ketika anda sedang sendirian di dalam kamar anda, cobalah anda sesekali menatap bayangan anda di dalam cermin, dan ajaklah dia berbicara. Percakapan dengan diri sendiri bukanlah keanehan apalagi kegilaan, tetapi merupakan cara yang efektif untuk memperbaiki diri anda.


Mulailan dengan menggali pemikiran-pemikiran negatif yang ada pada diri anda. Kemudian diskusikan objek permasalan itu dengan diri anda. Kemukakan pemikiran-pemikiran negatif yang harus diperbaiki dan temukan cara mengatasi.


Tahap pertama, anda harus memaafkan diri anda karena memiliki pemikiran-pemikiran negatif itu. Penerimaan yang terbuka dan pengakuan akan keberadaannya di dalam diri anda adalah tahap awal yang memudahkan untuk menghilangkannya.


Tahap kedua, anda harus mengakui bahwa pemikiran-pemikiran negatif itu benar-benar buruk. Bukan hanya buruk dalam bentuk dan sifatnya, tapi juga buruk dalam dampak yang diakibatkannya, baik terhadap diri anda sendiri maupun orang lain di sekitar.


Tahap ketiga, anda harus berani mengoreksinya dan menggantikannya dengan pemikiran-pemikiran positif yang bersifat membangun dan memperbaiki – biasanya berlawan dengan pemikiran negatif itu.


10 macam pemikiran negatif yang harus diangkat dari benak anda


1. Berpikir hitam-putih


Berpikir secara hitam-putih itu mudah tapi berbahaya, karena berpikir secara hitam-putih bisa membuat orang sombong atau sebaliknya mudah menjadikannya putus asa.


Yang dimaksud berpikir secara hitam-putih adalah menempatkan batasan pemikiran berupa ukuran-ukuran yang sempit. Cara berpikir seperti ini tidak mengandung nilai toleransi, tenggang rasa dan memudahkan. Seorang hakim yang bertugas menegakkan hukum di depan pengadilan sekalipun tidak boleh berpikir secara hitam-putih. Pertimbangan-pertimbangan rasa keadilan selalu berada pada bagian abu-abu yang mempunyai wilayah lebih luas dan tidak terbatas.


Contoh orang yang berpikir hitam-putih adalah orang yang memilih untuk tidak melakukan apa pun dari pada keliru, atau seseorang yang tidak mau menikah selamanya apabila tidak bisa mendapatkan pujaan hatinya, misalnya. Ada juga orang yang memvonis sebuah kesalahan secara maksimal. Ketika dia dibohongi sekali oleh orang lain, maka dia tidak mempercayai orang itu sepenuhnya.


2. Menjeneralisasi secara berlebihan


Berpikir secara jeneral bermakna melihat hal kecil atau bagian-bagian dan menganggapnya sebagai keseluruhan.


Kata yang dipergunakan biasanya, “selalu” dan “tidak pernah”


Cara berpikir dengan menjeneralisasi membuat orang menjadi mudah menyalahkan, menganggap remeh, tapi juga bisa menyempurnakan secara berlebihan. Sebagai contoh, ketika seorang suami pada suatu hari menemukan istrinya terlambat menyiapkan sarapan dibanding hari yang lain, maka dia dengan mudah mengatakan bahwa istrinya “selalu” terlambat menyiapkan sarapan, atau “tidak pernah” tepat waktu menyiapkan sarapan.


Begitu juga dengan pemikiran-pemikiran rasial, seperti misalnya orang “suku” ini begini dan “bangsa” ini begitu adalah juga pemikiran yang menjeneralisasi. Pertikaian dan permusuhan antar kelompok biasanya bersumber dari pemikiran negatif menjeneralisasi.


3. Hal negatif mengalahkan yang positif


Anda memilih suatu bagian yang negatif dan memikirkannya secara khusus dan mendalam, sedangkan bagian yang positif dilupakan.


Sebagai contoh ketika anda menerima banyak komentar yang positif tentang hasil pekerjaan anda dari rekan-rekan di kantor, maka anda merasa bahagia sekali dan terlambung. Tetapi ketika ada sebuah kritikan dari salah satu rekan yang sampai ke telinga, anda lalu menjadi murung dan memikirkannya berhari-hari dan anda merasa menjadi tidak sempurna. Dan anda melupakan hal-hal positif yang sudah anda dengar.


4. Diskon untuk hal positif


Anda menolak pengalaman-pengalaman positif dan dengan tegas tidak menanggapnya. Biasanya orang yang berpikiran negatif seperti ini tidak mudah memuji dan menganggap remeh kebaikan orang lain.


Jika anda melihat orang lain melakukan suatu pekerjaan yang baik, anda bilang kepada diri Anda bahwa itu hal biasa dan siapa pun bisa melakukan hal seperti itu. Memotong makna positif dari suatu perbuatan baik akan membuat anda orang yang tidak bahagia, karena selalu merasa tidak cukup dan bersyukur.


5. Terlalu cepat mengambil kesimpulan


Anda menginterpretasikan hal-hal secara negatif ketika tidak ada fakta-fakta yang mendukung kesimpulan anda. Pikiran anda secara sewenang-wenang, tanpa penyelidikan yang mendalam, menyimpulkan bahwa seseorang sedang berbuat negatif terhadap anda.


Orang dengan mudah memprediksikan sesuatu hal akan berakibat sangat buruk. Contohnya ketika seseorang sedang menghadapi sebuah ujian dan merasa belum siap, maka dia berpikir bahwa ujian ini pasti gagal dan tidak akan lulus. Padahal dia belum mengetahui soal-soal yang harus dijawabnya.


6. Pemikiran hiperbola atau melebih-lebihkan


Anda melebih-lebihkan pentingnya permasalahan dan kelemahan anda, atau anda terlalu memperkecil pentingnya kualitas yang diinginkan.


Keadaan tidak seimbang di dalam pemikiran juga bisa berakibat melupakan sisi-sisi lain yang seharusnya mendapatkan perhatian yang sama. Penyakit kejiwaan berupa pobia terhadap sesuatu termasuk dalam jenis ini.


7. Penalaran Secara Emosional


Anda berasumsi bahwa emosi anda yang negatif selalu mencerminkan hal yang benar-benar akan terjadi.


Sebagai contoh ketika anda sedang menaiki pesawat terbang dan anda merasa hati anda tidak enak, maka dalam hati anda berkata, "Aku merasakan ketakutan di dalam pesawat terbang ini. Ini pasti menandakan bahwa sangat berbahaya untuk terbang saat ini." Atau pemikiran seperti, "Aku merasa berdosa berarti aku adalah orang yang jahat" atau, "Aku merasakan marah. Hal ini membuktikan bahwa aku sedang diperlakukan tanpa keadilan."


Penalaran emosional ini belum tentu benar apabila di dalam kenyataan, fakta dan bukti tidak mengarah kepada hal itu. Ketika muncul perasaan takut di dalam pesawat terbang, bukan berarti pesawat terbang yang anda tumpangi akan benar-benar mengalami kecelakaan, bisa saja anda memang mengidap pobia kan ketinggian.


8. Memaksakan suatu kondisi


Penggunaan kata “seharusnya”, “perlu” dengan harapan sesuatu menjadi seperti yang anda harapkan, bisa berakibat keputusasaan dan frustasi.


Ketika anak anda yang sedang berlatih sebuah alat musik dengan giat, misalnya, dan anda sedang ikut menontonnya ternyata dia melakukan banyak kekeliruan. Anda berkata padanya, “Seharusnya kamu tidak melakukan banyak kasalahan dengan masa latihan yang sudah berlangsung sekian bulan ini.” Padahal di hari-hari latihan sebelumnya anak anda sedikit sekali melakukan kesalahan, hanya di saat anda ikut menonton dia menjadi gugup, dan anda sudah mengeluarkan komentar yang bisa membuatnya frustasi.


9. Label-label negatif yang menghakimi


Label-label yang negatif berupa gelar atau julukan buruk atas sebuah perbuatan adalah sebuah pemikiran negatif yang paling ekstrim.


Ketika seseorang melakukan suatu kesalahan misalnya dia menumpahkan makanan pada saat pesta, lalu beberapa orang menyebutnya, “Dasar pecundang”, lalu label itu melekat padanya selama-lamanya. Maka dia sudah menjadi pesakitan dalam penjara label tersebut. Dia akan sulit untuk menampakkan kebaikannya, karena tidak diperhatikan oleh orang lain, sedangkan dia sulit menyembunyikan keburukannya karena selalu dicari-cari oleh orang lain.


Pemberian label seperti “si kikuk”, “otak kriminal”, dan lain-lain hanya akan membuat orang yang diberi label tersebut betul-betul menjadi frustasi dan tidak bisa memperbaiki keadaannya, dan semakin terpuruk dalam keburukan sifatnya.


10. Menyalahkan secara personal atau bagian tertentu


Yang dimaksud menyalahkan secara personal adalah menimpakan suatu kesalahan yang menyebabkan keadaan yang buruk kepada satu orang saja, padahal masih ada personal lain yang mungkin memiliki kontribusi kesalahan.


Menyalahkan diri sendiri saja atau menyalahkan orang lain saja, termasuk ke dalam katagori ini. Sebagai contoh seorang ibu yang mendapatkan kabar dari sekolah bahwa anaknya mendapat nilai buruk dalam sebuah pelajaran. Si ibu, tanpa melihat sebab-musababnya, langsung menyalahkan anaknya, atau dia akan menyalahkan diri sendiri dan menganggap dirinya bukan orang tua yang baik, atau dia akan menyalahkan guru atau sistem di sekolah.


Menyalahkan secara personal hanya akan berakibat kemarahan dan keputusasaan bagi pihak yang disalahkan dan kelalaian dari pihak yang menyalahkan, karena tidak menyadari kesalahan diri sendiri. Yang lebih buruk lagi adalah menyalahkan keadaan karena tidak akan ada pemikiran untuk mencari solusi apabila semua orang menyalahkan keadaan atau kondisi yang bersifat pasif dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Yang perlu mendapatkan perhatian kita pertama kali adalah penanggulangan dampak buruk dari pemikiran-pemikiran negatif tersebut. Caranya dengan perlahan menurunkan kadar pemikiran negatif di pikiran anda. Bisa dengan berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan orang yang dipikirkan secara negatif oleh anda atau anda melihat kepada diri anda sendiri bahwa anda pun mungkin akan berada pada posisinya.


Namun apabila ternyata dampaknya sulit untuk dinetralisir dari pikiran anda, berarti anda harus segera menggantikan pemikiran-pemikiran negatif dengan pemikiran-pemikiran positif – lawan langsung dari pemikiran-pemikiran negatif itu.


Ingatlah pemikiran-pemikiran negatif yang dipelihara lama di dalam diri anda, akan semakin sulit untuk dinetralisir atau digantikan dengan pemikiran positif ketika anda semakin menjadi tua.