Tampilkan postingan dengan label Sunatullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunatullah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Maret 14, 2009

Kenapa Persepsi Semua Orang Tentang Alam Semesta Bisa Sama?

Seperti dibahas pada tulisan yang lalu berjudul “Apakah Alam Semesta dan Kita Benar-benar Ada?” bahwa keberadaan alam semesta ini beserta kita di dalamnya adalah hasil persepsi kita atas informasi dari alat sensor di tubuh yang bernama panca indra. Bentuk alam semesta ini sebenarnya tidak pernah diketahui oleh kita, karena pengetahuan kita akan bentuk alam semesta sebatas hasil pengindraan tadi.


Tetapi ada yang aneh dengan persepsi manusia terhadap bentuk dan kejadian di alam ini, yakni persepsi semua orang relatif sama. Sebagai contoh dalam kejadian sehari-hari, beberapa orang sedang menyaksikan sebuah acara televisi yang menayangkan seorang artis penyanyi. Semua penonton bersepakat bahwa nama artis tersebut adalah si anu, berjenis kelamin wanita, pakaian yang dikenakannya berwarna merah bergaris-garis, suaranya serak dan wajahnya cantik. Kalaupun ada perbedaan pendapat biasanya hanya sebatas kualitasnya, seperti warna merah bajunya terlalu tua dan yang lain bilang merahnya agak gelap, atau kecantikan tidak sempurna karena bibirnya terlalu lebar dan sebagainya – ini bisa terjadi karena kemampuan alat pengindraan dan cara pandang yang berbeda. Tetapi pada prinsipnya semua sepakat dalam beberapa hal seperti telah disebutkan sebelumnya.


Satu lagi contoh mengenai kejadian di alam. Semua orang relatif sama persepsinya bahwa langit mendung akan turun hujan. Apabila hujan turun maka tanah dan lain-lain akan basah terkena air. Kemudian air akan menyuburkan tanaman – pohon mangga misalnya, lalu pohon tersebut akan tumbuh baik, berbunga dan berbuah. Dan semua orang ternyata sepakat tentang rasa buah mangga apakah asam atau manis.


Kedua cerita di atas menimbulkan pertanyaan: kenapa persepsi semua orang bisa relatif sama terhadap wujud benda dan kejadian di alam semesta ini? Apakah yang menjadi penyebab persepsi itu bisa sama? Apakah kesamaan persepsi itu kebetulan belaka?



Tidak ada kebetulan, yang ada adalah ketetapan


Kita semua pasti sudah mengetahui tentang hukum alam (natural law) sebuah istilah lain yang digunakan sarjana-sarjana Barat untuk istilah hukum Allah (sunatullah) yang digunakan para ilmuwan Islam. Hukum inilah yang dijadikan dasar dalam penciptaan dan pengelolaan alam semesta.


Menurut keyakinan sebagian ilmuwan fisika, keberadaan hukum alam bersamaan dengan kejadian awal terciptanya alam seemsta pada waktu ledakan besar pertama (teori Big Bang). Jadi sebelum ada alam semesta, hukum-hukum itu belum ada.


Tetapi saya berpandangan hukum-hukum itu ditetapkan oleh Tuhan sebelum alam semesta diciptakan. Logika sederhanya adalah pembuat kue tidak akan membuat kue sebelum menetapkan takaran bahan-bahan kue di dalam sebuah resep masakan. Jadi hukum alam itu sudah ditetapkan kemudian dijadikan dasar penciptaan dan proses kejadian alam semesta selanjutnya.



Dua faktor penyebab persepsi manusia yang sama terhadap alam semesta


Ada dua kemungkinan faktor penyebab yang membuat persepsi semua orang sama terhadap keberadaan dan bentuk alam semesta, yakni:


1. Faktor pengetahuan tentang hukum alam


Seperti telah disebutkan di atas bahwa hukum alam itu diciptakan sebelum penciptaan alam semesta. Hukum-hukum alam tersebut dijadikan dasar penciptaan dan juga proses kejadian alam selanjutnya. Diibaratkan alam semesta ini adalah sebuah komputer raksasa, maka hukum-hukum alam tadi sudah diinstal ke dalam alam semesta. Software hukum alam tadi akan memproses kejadian-kejadian di alam semesta sehingga semua proses kejadian selalu mematuhi ketentuan hukum-hukum tadi.


Demikian juga halnya dengan penciptaan manusia. Karena tubuh manusia juga diciptakan sesuai dengan hukum alam – dan manusia memang bagian dari alam semesta – maka hukum alam tadi juga diinstalkan ke tubuh manusia. Tempat yang mungkin untuk itu adalah otak. Jadi sesungguhnya manusia sudah memiliki pengetahuan tentang hukum alam secara lengkap dan sempurna di dalam otaknya.


Keterangan di atas bisa menjelaskan bagaimana proses belajar bisa terjadi, apakah dengan membaca buku, menerima penjelasan orang lain, melihat kejadian alam atau menerima ilham. Membaca buku, menerima penjelasan orang lain dan melihat kejadian alam yang dilakukan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah proses membandingkan apa yang dilihat diluar dirinya dengan hukum alam yang sudah diinstal di otak tadi. Mengerti dan memahami suatu pengetahuan adalah hasil akhir dari pencocokan realita yang dilihat dengan informasi hukum alam di otak. Jadi pengetahuan bukan datang dari luar masuk ke dalam otak, tapi sudah ada di dalam tapi belum dicocokkan dengan realita. Sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui ilham – tanpa melalui proses belajar – hukum-hukum yang telah diinstal di otak tadi akan muncul ke bagian otak yang memberikan gambaran dan memunculkan persepsi tanpa perbandingan dengan realita.


Begitu juga dengan proses mempersepsi wujud benda di alam semesta. Pada cerita para penonton televisi di atas, hukum-hukum alam di otak mereka masing-masing mengenai spektrum warna (untuk wana baju), struktur dan bangun tubuh (untuk pengenalan pribadi, jenis kelamin, kecantikan dan jenis suara) adalah sama. Karena alat indrawi mereka juga sama, maka hasil persepsi mereka terhadap objek yang sama menjadi sama. Sedikit perbedaan persepsi mungkin terjadi disebabkan ada faktor lain seperti buta warna, mata rabun, menggunakan kaca mata berwarna, sedang mabuk minuman keras dan lain sebagainya, sehingga fungsi alat indra, kelancaran proses menghantarkan sinyal-sinyal listrik di syaraf ke otak dan proses pengolahan informasi di otak bisa terganggu.


2. Faktor pengetahuan tentang kejadian alam semesta


Ada perbedaan pandangan yang sangat prinsip di kalangan ilmuwan mengenai kejadian alam semesta. Kelompok penganut faham materialisme berpandangan bahwa alam semesta statis dan berdiri sendiri. Sedangkan kelompok penganut faham kreasion meyakini alam semesta diciptakan, berawal dan berakhir. Walaupun mereka tidak mengetahui siapa yang menciptakan, bagaimana keadaan sebelum penciptaan dan apa yang terjadi sesudah kehancuran alam semesta.


Tapi kita tidak akan membahas perbedaan kedua pandangan tersebut. Kita akan membahas pandangan kaum spiritualis dan agamis – terutama kalangan sufisme – yang berpendapat bahwa kejadian penciptaan alam semesta ini sudah selesai. Mereka berkeyakinan bahwa dari kejadian awal hingga kehancuran alam semesta ini, termasuk juga dimensi akhirat sebagai alam lain setelah dunia menurut keyakinan spiritualis dan agamis, sudah selesai. Jadi menurut keyakinan mereka manusia dan seluruh isi alam sedang menjalani kehidupan yang sebetulnya sudah selesai dalam pengetahuan Tuhan.


Informasi kejadian alam semesta dari awal hingga selesai itulah yang diinstal ke otak kita. Namun tidak mudah menggalinya, karena bukan pengetahuan siap pakai. Informasi itu hanya sebagai alat untuk mencocokkan persepsi kita terhadap alam.


Kemajuan sains di masa sekarang sedang mengembangkan sebuah teknologi bernama virtual reality. Teknologi ini berupa sebuah alat yang bisa memberikan gambaran kejadian berupa program komputer melalui kejutan-kejutan listrik ke otak. Game komputer yang menggunakan teknologi virtual reality akan membuat si pemain seperti berada di dalam dunia nyata, bisa merasakan sakitnya pukulan bahkan bisa berdarah dan mati.


Sehubungan dengan teknologi virtual reality tersebut ada sebuah pendapat ekstrim yang mengatakan bahwa hidup kita di dunia ini adalah sebuah program virtual reality milik Tuhan yang sudah diinstalkan ke otak kita. Jadi kita sedang hidup di dalam dunia maya yang kita anggap sebagai sebuah dunia nyata!



Sumber gambar : http://networkinstruments.files.wordpress.com/2007/08/virtualarnie.jpg

Sabtu, Agustus 30, 2008

Peringatan Global : Kiamat Sudah Dekat

Pernah dimuat di Wikimu pada Kanal Opini, Selasa 22-04-2008 14:36:46


Hari Bumi yang tahun ini jatuh pada hari Selasa, 22 April telah diperingati selama 38 tahun. Adakah perubahan yang terjadi dalam perlakuan kita terhadap bumi ? Sepertinya tidak. Kita ketahui lubang ozon semakin membesar, pemanasan global terus mengalami peningkatan, hutan yang dibabat bertambah luas, penggasakan sumber daya alam dilakukan dimana-mana. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa yang selalu menekan negara dunia ketiga perihal pelestarian lingkungan sebagai salah satu syarat atas bantuan yang akan diberikan, ternyata hanyalah pembual bermulut besar. Karena sebagian besar kerusakan di bumi ini adalah sumbangan dan peran serta mereka. Merekalah yang memiliki industri-industri raksasa yang menyumbang sebagian besar polutan di darat, laut dan udara. Mereka adalah pengguna terbesar bahan-bahan tambang dan hasil hutan yang dieksploitasi di negara-negara dunia ketiga. Negara-negara besar itulah yang paling banyak memproduksi dan menggunakan mobil sebagai penyumbang terbesar kedua polusi udara setelah industri.

Hukum alam (Natural law)

Bumi yang sudah sangat tua ini adalah bagian tidak terpisahkan dari struktur alam semesta. Bumi adalah perwakilan alam semesta. Dan bumi menjadi begitu sangat penting di alam raya yang luas tak terbatas ini adalah karena adanya peran manusia di dalamnya. Manusia adalah sebagai pengatur, penjaga, pemelihara dan sekaligus pengguna bumi. Peran manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi ini.

Alam mempunyai hukumnya sendiri yang disebut hukum alam (natural law) atau bagi orang beragama disebut hukum Tuhan (Sunatullah) yang ditempatkan di alam. Hukum tersebut mempunyai aturan yang baku dan tidak pernah berubah. Hukum itu bersifat eksak atau pasti dan tidak bisa diubah oleh manusia. Hukum alam itu berjalan sesuai mekanisme yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Hukum alam itu bersifat :

1. Eksak atau pasti dan dapat dihitung.

2. Seimbang dan selalu menuju kepada keseimbangan

3. Berkesinambungan dan saling mempengaruhi

4. Konservatif atau tetap dari awal terbentuknya alam sampai hancurnya kembali.

Hukum dasar dalam mekanisme kerjanya adalah hukum sebab akibat. Hukum fisika, kimia dan matematika adalah hukum-hukum yang dipergunakan oleh alam sebagai bagian dari hukum alam yang berlandaskan pada hukum sebab akibat tersebut.

Mekanisme kerja hukum alam (Sunatullah) itu adalah seperti tumbukan bola bilyar yang apabila satu bola disodok, maka daya (energi) dorong bola akan berpindah ke bola lain yang dikenainya. Disebut juga efek berantai dimana proses akan berakhir sampai daya atau energi itu habis berpindah atau berubah. Jadi apa pun yang kita lakukan di bumi ini akan mempengaruhi makhluk lain, planet lain, bahkan seluruh alam semesta secara berkesinambungan dan terus-menerus.

Pengurasan sumber daya alam berarti percepatan kerusakan

Akhir-akhir ini pengurasan sumber daya alam dan penggunaannya sudah sangat luar biasa dan terjadi di mana-mana. Di semua bagian bumi sudah terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumber energi, hasil bumi dan laut. Kegiatan yang tidak terkendali ini pada akhirnya berbuah kerusakan. Penggunaan sumber energi secara besar-besaran mengakibatkan meningkatnya jumlah polutan di udara, air dan tanah sebagai limbah dari proses pembakaran secara cepat, tanpa sempat untuk dinetralisir oleh alam. Pengurasan bahan-bahan tambang, seperti minyak bumi, batu bara, gas, dan logam mengakibatkan kerusakan pada struktur tanah yang demikian besar dan cepat sehingga alam tidak sempat untuk memperbaikinya. Penebangan hutan yang berlangsung cepat membuat bertambahnya tanah-tanah gundul yang rawan erosi, sedangkan alam tidak sempat untuk menumbuhkannya kembali.

Pada dasarnya alam mempunyai kemampuan untuk memperbaiki dirinya, baik berupa restrukturisasi (penataan kembali unsur dan bangunan alam) atau regenerasi (proses pembentukan dan pertumbuhan kembali unsur-unsur alam). Tetapi proses ini biasanya memakan waktu yang lama dan sangat lambat. Apabila laju perusakan alam lebih cepat dari pada perbaikan alaminya, maka alam akan berada pada suatu kondisi tidak seimbang. Untuk memenuhi asas keseimbangan maka alam akan mengadakan suatu proses alami yang progresif. Proses yang dilakukan dengan cepat ini terjadi karena alam memberikan reaksi atas perusakan alam yang dilakukan manusia yang juga berlangsung meluas dan cepat. Hukum aksi reaksi tersebut kurang lebih berbunyi “Besaran suatu reaksi akan sama dengan besaran aksi yang telah diberikan” atau “aksi = reaksi”. Bentuk dari reaksi alam tersebut adalah pergeseran kerak bumi dan struktur tanah atau kita menyebut gempa, dan perpindahan unsur penyusun udara dan energi panas di angkasa atau kita menyebut perubahan iklim dan cuaca.

Proses penyeimbangan yang dilakukan oleh alam sebetulnya akan berakhir cepat dan mencapai titik keseimbangannya dengan tidak memakan waktu lama. Akan tetapi proses tadi menjadi berkelanjutan apabila perusakan alam oleh manusia dilakukan tanpa henti dan semakin tidak terkendali. Luasnya areal yang rusak serta besarnya jumlah polutan menyebabkan proses penyeimbangan menjadi rumit dan lama. Yang lebih berbahaya adalah apabila menurut ukuran alam, kerusakan yang terjadi sudah melebihi kemampuan alam untuk mengadakan perbaikan restrukturisasi dan regenerasi. Atau dengan kata lain, alam kepayahan untuk menyelesaikan tugasnya memperbaiki diri. Bisa kita bayangkan, kiamat atau kehancuran alam secara total adalah hasil akhirnya.

Mari kita perhatikan peringatan Allah SWT di dalam Al-Quran :

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Ruum : 41)

Telah dekat terjadinya hari kiamat. (An-Najm : 57)

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-A’raaf : 187)