Tampilkan postingan dengan label Cinta dan Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta dan Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 20, 2008

Tips Jitu Menghindari Selingkuh dan Poligami

Akhir-akhir ini banyak pasangan suami istri muda yang sudah mengalami tantangan berat di awal masa perkawinannya – dalam masa 5 sampai 10 tahun usia perkawinan – yakni terjadinya perselingkuhan dari salah satu pasangan. Yang kemudian akan diikuti oleh terjadinya perceraian atau poligami. Dan hal ini seperti sudah menjadi sebuah fenomena kehidupan di zaman modern.


Saya tidak menyebutkan bahwa perselingkuhan hanya dilakukan oleh pihak suami atau laki-laki, pihak istri pun mempunyai peluang yang sama. Pertama, disebabkan semangat persamaan gender yang sudah diakui oleh banyak kaum perempuan dan kedua disebabkan sebagian besar istri sudah bekerja di luar rumah. Jadi tulisan ini bukan hanya untuk kaum laki-laki, tapi juga untuk para perempuan.


Kondisi kehidupan manusia modern yang sibuk, money oriented dan individualistis menjadi salah satu akar permasalahan dari fenomena perselingkuhan. Tapi kita jangan menjadi putus asa, lalu berdiam diri menerima keadaan ini. Memang ada orang berkata, “Kalau memang niatnya ingin selingkuh, ya tetap saja selingkuh.”


Tapi selingkuh bisa dihindari, kok, asal kita mau mengubah pandangan kita tentang cinta dan perkawinan dan mengikuti tips berikut. Cobalah anda menyimaknya :



1. Janganlah menuntut sesuatu yang tidak dimiliki atau tidak bisa dilakukan oleh pasangan kita.


Tak ada gading yang tak retak, itu kata peribahasa. Maknanya tidak ada manusia yang sempurna. Berarti tidak ada manusia – termasuk anda sendiri – yang bisa menjadi apa pun dan bisa melakukan segala hal. Lalu kenapa kita harus menuntut pasangan kita untuk menjadi seseorang yang dia tidak mampu menjadi seperti itu?


Banyak hal bisa dipelajari, seperti ketrampilan dan beberapa kebiasaan. Perempuan yang tidak bisa memasak, bisa mulai belajar memasak setelah menjadi seorang istri. Laki-laki yang pemalas, bisa memaksa dirinya sendiri untuk rajin bekerja setelah menjadi seorang suami. Dan itu semua bisa dipelajari, walaupun mungkin dengan sedikit usaha keras dan sungguh-sungguh agar tampak hasilnya.


Tapi ada juga hal-hal yang memang tidak bisa, seperti wajah dan profile tubuh secara keseluruhan, misalnya. Kecantikan dan ketampanan bisa dipoles, tapi tentu saja membutuhkan biaya. Jadi apabila anda berdua tidak mempunyai cukup uang, kenapa harus menuntut pasangan anda tampil lebih cantik atau tampan ?


Selain itu permasalahan keuangan juga sering menjadi sorotan. Dan ini harus difahami dalam kerangka rezeki yang sudah diusahakan. Apabila tingkat kemampuan pasangan kita terbatas dengan apa yang bisa dilakukannya, sedangkan dia sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dan keras, kenapa kita harus menuntutnya untuk memperoleh uang yang lebih banyak lagi, sampai-sampai melakukan perbuatan yang melanggar hukum ?



2. Jangan mencari model lain dari sebuah keluarga yang bahagia selain yang bisa dilakukan oleh anda berdua.


Anda bisa saja berpaling ke tetangga sebelah rumah, dan berkata, “Mereka bisa bahagia seperti itu, memiliki cukup materi dan bisa jalan-jalan di akhir minggu, kenapa aku tidak ?” Atau, “Mereka bisa rukun dan damai, padahal secara materi mereka tidak berkecukupan, kami pasti bisa melakukannya.”


Boleh saja perbandingan seperti itu anda lakukan, dan berusaha dengan pasangan anda untuk menerapkannya. Tapi harus diingat, ada hal-hal mendasar yang harus diubah dan itu mempunyai resiko. Apabila tetangga anda yang bahagia secara materi itu diambil sebagai contoh, maka anda akan dituntut untuk mencari materi lebih banyak. Siapkah anda dan pasangan dengan kondisi banyak waktu yang akan tersita untuk berkumpul bersama keluarga ? Karena tetangga itu mempunyai ukuran rezeki yang lebih dari anda. Dan ini berarti lebih banyak kerja keras bagi anda untuk memperoleh jumlah yang sama.


Apabila contoh keluarga sederhana yang diambil, berarti anda harus menurunkan kuantitas kerja anda, banyak meluangkan waktu dan ini berarti anda harus siap menghadapi penurunan perolehan rezeki.

Anda boleh bereksperimen dengan menjadikan keluarga lain sebagai standar, tapi saya sarankan anda berusaha bereksperimen dengan diri dan keluarga anda sebagai standar. Jadikan apa yang dimiliki oleh anda, pasangan dan seluruh anggota keluarga sebagai modal dasar dari sebuah keluarga yang bahagia. Potensi-potensi yang ada bisa diramu dengan kesempatan-kesempatan yang ada. Cari pola-pola kebahagiaan yang bisa diciptakan dengan memanfaatkan segala potensi yang ada. Dan yang penting niat baik harus disepakati bersama disertai dengan ketulusan semua pihak. Percayalah keluarga yang bahagia tidak hanya terdapat di sebelah rumah anda.



3. Jangan berpandangan “sekuler” dalam urusan cinta dan rumah tangga, dengan memisahkan kebahagiaan pribadi di luar dan kebahagiaan bersama – dengan pasangan dan anak-anak – di dalam rumah.


Ini salah satu dampak dari peri kehidupan zaman modern yang sekuler. Banyak orang yang berpandangan “sekuler” dalam urusan cinta dan rumah tangga. Ada sebuah ungkapan buruk yang agak porno (maaf): “Biarlah suami saya membuang air di luar rumah, asalkan botolnya dibawa pulang.” Dan ini kabarnya – walaupun saya tidak tahu tingkat kebenarannya sampai dimana – pada masyarakat di Cina sudah menjadi suatu pandangan umum, bahwa seorang suami boleh pergi ke pelacuran dan melakukan apa pun disana, asalkan cintanya hanya untuk si istri. Apabila si suami kemudian tepergok berulang-ulang mendatangi pelacur yang sama, maka oleh si istri akan dikatagorikan selingkuh karena diindikasikan ada perasaan cinta. Aneh, ya ?


Di luar pembicaraan mengenai “kebolehan selingkuh” dari para istri seperti disebutkan di atas, pada dasarnya saya ingin menyampaikan bahwa kebahagiaan di luar rumah dan di dalam rumah tidak bisa dipisahkan karena saling mempengaruhi dan berdampak satu sama lain. Selain itu cinta bukan seperti makanan yang apabila tidak enak di dalam rumah bisa dicari keluar. Untuk makanan pun seharusnya bisa diusahakan untuk belajar bagaimana membuat makanan yang lebih enak supaya tidak perlu selalu keluar rumah, kan ?



4. Cintailah pasangan anda tanpa alasan.


Ungkapan ini mungkin sedikit membingungkan bagi anda. Tetapi sesungguhnya ungkapan ini masuk akal dan sudah dilakukan oleh kita. Contohnya perasaan cinta kita dengan anak-anak kita – bagi pasangan yang sudah memiliki anak. Pernahkan anda mencintai anak anda dengan ukuran-ukuran dan alasan ? Bisa jadi anak anda jelek, gemuk dan kulitnya hitam. Pernahkan anda lebih mencintai anak tetangga anda yang lebih putih, langsing dan tampan ? Boleh-boleh saja anda berharap anak anda seperti anak tetangga anda itu, tetapi – saya yakin – anda tetap mencintai anak anda dan hanya sedikit menyukai anak tetangga anda.


Begitulah seharusnya kita mencintai pasangan kita. Tanpa alasan dan ukuran-ukuran. Karena pada akhirnya alasan dan ukuran-ukuran juga yang akan mengganggu hubungan cinta anda berdua. Percayalah.



5.Lakukan keempat poin tersebut mulai dari sekarang!


Semoga bermanfaat. Salam.

Minggu, September 07, 2008

Penghargaan Privasi di Dalam Rumah Tangga


Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Opini, Senin 01-09-2008 15:09:01

Pelanggaran terhadap privasi seseorang sering terjadi di tengah masyarakat, terutama pemberitaan-pemberitaan media yang dengan mudah mengupas keburukan-keburukan seseorang padahal belum ada kejelasan hukum yang dapat dijadikan alasan untuk menyampaikannya ke tengah publik atau masih berupa dugaan atau praduga.

Sebaliknya hak untuk berprivasi sering kali menjadi kata kunci sebagai legalisasi menyembunyikan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma agama atau pun sosial di tengah masyarakat. Biasanya seseorang akan bersembunyi di balik hak privasinya untuk menutup-nutupi perbuatan buruknya, padahal secara hukum perbuatan buruk tersebut seharusnya bisa dipersalahkan dan dituntut secara hukum.

Berikut kita akan membahas mengenai keberadaan hak privasi di dalam rumah tangga dan implementasinya di dalam kehidupan sehari-hari.

Pelanggaran hak privasi sebagai salah satu sebab terjadinya KDRT

Adalah hak setiap manusia untuk dihargai keberadaannya di muka bumi ini. Tidak dibenarkan tindakan sewenang-wenang terhadap hak hidup apalagi sampai membahayakan kehidupan seseorang. Permasalahan kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan terhadap anak-anak sudah mendapatkan porsi yang cukup baik di mata masyarakat dan pemerintah. Untuk kedua hal tersebut pemerintah telah mengeluarkan peraturan berupa undang-undang yang melindungi hak-hak setiap individu di dalam masyarakat terutama di dalam sebuah keluarga, yakni UU No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Tapi ada satu hak yang masih belum tersentuh dan terlindungi oleh kedua undang-undang tersebut yakni hak privasi seseorang di dalam rumah tangga. Hak untuk dihormati kerahasiaan keberadaannya, kegiatan-kegiatannya, pilihan-pilihannya, hak untuk melakukan sesuatu yang pribadi dan menyimpan sesuatu yang rahasia. Seringkali kita mendengar bahwa pelanggaran terhadap hak privasi ini menjadi pangkal sebab terjadinya KDRT. Salah satu pihak merasa berhak mengontrol dan mengadakan pengawasan sedangkan pihak lain merasa mempunyai hak untuk berprivasi. Tidak adanya titik temu dalam memahami hak-hak privasi ini sebetulnya menjadi sebab terjadinya KDRT, namun ternyata tidak dibahas di dalam kedua undang-undang tersebut.

Apa sajakah definisi privasi itu ? Dan bagaimana implementasinya di dalam kehidupan sebuah rumah tangga ?

Ensiklopedi Wikipedia menyebutkan Privasi (Bahasa Inggris : privacy) adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. Privasi kadang dihubungkan dengan anonimitas walaupun anonimitas terutama lebih dihargai oleh orang yang dikenal publik. Privasi dapat dianggap sebagai suatu aspek dari keamanan.

Di dalam rumah tangga batas-batas privasi seseorang yang harus dihargai sangat tidak jelas. Komitmen berupa keterbukaan di antara pasangan suami istri seringkali menjadi alasan hilangnya privasi individu dan ini kemudian menular kepada anggota keluarga lainnya di dalam satu rumah. Selain pasangan suami isteri sendiri, anak serta anggota keluarga lain yang bukan berhubungan darah pun turut menjadi korban. Tidak jelasnya batasan privasi yang harus dijaga berbuah keributan dan keretakan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Seorang anak, terutama yang sudah dewasa akan merasa keberatan apabila orang tuanya atau anggota keluarga lainnya memasuki kamar pribadi mereka tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Padahal di dalam kamar itu dia merasa aman untuk melakukan hal-hal pribadi dan tidak perlu diketahui oleh orang lain. Namun rasa keberatan ini seringkali tidak bisa terungkapkan dengan baik, terutama di dalam lingkungan rumah tangga yang tidak ada keterbukaan di dalam hubungan antar individunya.

Dengan alasan kontrol orang tua boleh dengan sebebas-bebasnya membongkar isi tas atau lemari anaknya. Padahal di dalam tas atau lemari tersebut tersimpan barang-barang yang berkaitan dengan privasi si anak, baik rahasia hubungan pribadinya dengan seseorang maupun hal-hal yang berkaitan dengan kegiatannya.

Begitu juga seorang isteri secara diam-diam membuka dompet atau tas kerja suaminya dan memeriksa isinya atau membuka ponsel dan memeriksa setiap nomor kontak dan pesan yang masuk atau keluar. Demikian juga halnya dengan seorang suami.

Meminta izin

Komitmen untuk saling terbuka di antara pasangan dan anggota keluarga lainnya, hendaknya dibarengi dengan rasa penghargaan yang tinggi terhadap privasi setiap individu di dalam rumah tangga tersebut.

Setiap individu juga hendaknya menjaga kepercayaan yang telah diberikan karena kepercayaan ini adalah landasan dari komitmen keterbukaan, yang apabila terjadi suatu kesalahan atau keteledoran, maka bisa berakibat hilangnya kepercayaan. Dan hilangnya kepercayaan akan mengakibatkan rasa curiga yang bisa berbuntut pelanggaran hak privasi individu di dalam rumah tangga tersebut.

Ada suatu cara yang sangat mudah namun seringkali sulit untuk dilakukan adalah meminta izin terlebih dulu kepada pasangan kita, anak atau anggota keluarga lainnya apabila harus melanggar batas-batas privasi mereka di dalam rumah. Apabila komitmen keterbukaan telah menjadi prinsip dalam membina hubungan antar personal di dalam suatu rumah tangga, biasanya tidak ada keberatan untuk sedikit melonggarkan privasinya dan bertoleransi terhadap keterbukaan. Apalagi memang tidak ada kesalahan atau kejahatan yang disembunyikan.


Selasa, September 02, 2008

Perjanjian Pra Nikah, Perlu Ngga, Sih ?

Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Gaya Hidup, 28-07-2008 08:48:14

Kata orang hidup kita ini secara umum terdiri dari tiga fase atau tahapan kehidupan, yakni lahir, menikah dan meninggal dunia. Oleh sebab itulah orang-orang tua kita dulu sangat menganggap sakral sebuah pernikahan. Buktinya di dalam budaya banyak bangsa di dunia ini, seperti juga di dalam adat etnik-etnik di negeri kita upacara pernikahan dilakukan dengan tahapan-tahapan yang begitu rumit dan melibatkan banyak orang. Pernikahan bukan hanya penyatuan dua orang anak manusia yang berlainan jenis, tetapi juga merupakan penyatuan dua buah keluarga. Bahkan pernikahan di dalam aturan banyak agama merupakan penyatuan dua orang insan di hadapan Tuhan, dengan atas nama Tuhan.

Kemajuan jaman dan perubahan perilaku manusia kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran pragmatis terhadap hal-hal yang sebetulnya ideal dan sakral. Dilatarbelakangi faham serba kebendaan yang dianut banyak orang dewasa ini, maka pertimbangan-pertimbangan adat-istiadat, budaya, bahkan agama bisa dikalahkan oleh pertimbangan ekonomi dan uang.

Pernikahan sama dengan persekutuan dagang ?

Apabila dua orang anak manusia, laki-laki dan perempuan saling jatuh cinta dan kemudian sepakat untuk mengikat hubungan mereka dalam suatu ikatan pernikahan, apakah kira-kira mungkin ada pertimbangan untung rugi sebelumnya? Bukankah saat mereka saling menyatakan cinta, perasaan itu begitu luhur dan tidak dicemari oleh faktor-faktor lain selain perasaan suci yang mendalam yang bernama cinta? Seringkali kita menyaksikan bahwa perasaan cinta bisa mengalahkan segala bentuk penentangan, baik dari pihak ketiga yang tidak menyetujui hubungan mereka maupun segala kekurangan material yang mungkin mengganjal suatu hubungan kasih.

Tapi bagaimana kemudian apabila ada sebagian orang yang berpandangan berbeda? Apabila kemudian ketika muncul rencana untuk menyatukan diri dalam suatu lembaga sakral yang bernama pernikahan mereka berprinsip bahwa harta benda yang sudah dimiliki harus diselamatkan terlebih dulu sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Harta itu, kan saya cari dengan susah payah sebelum kenal dengan dia, masak setelah menikah dan kemudian bercerai dia dengan seenaknya mengakui harta tersebut sebagai harta gono-gini dan minta bagian. Enak aja. Demikian kira-kira ungkapan sebagian orang yang berprinsip jaga-jaga.

Saya jadi ingat dengan pasal-pasal di akta perusahaan yang bunyinya sebagian berisi tentang jumlah penyertaan modal atau saham serta pembagian saham dan harta perusahaan apabila ada pemegang saham yang ingin menarik sebagian sahamnya atau ingin berhenti dan menarik keseluruhan sahamnya. Dan juga apabila perusahaan dinyatakan bubar atau dibubarkan oleh pihak-pihak yang berjanji, maka disitu diatur bagaimana tata cara pembagian saham dan harta perusahaan serta perhitungannya.

Apakah sebuah pernikahan itu sama dengan sebuah persekutuan dagang? Apakah pernikahan harus seperti itu?

Memang perceraian adalah suatu kemungkinan yang bisa terjadi di dalam kehidupan dua orang yang sudah mengikat diri dalam sebuah pernikahan. Tapi apakah persiapan dalam menghadapi sebuah kemungkinan sebuah perceraian menjadi begitu mendesaknya sehingga sampai perlu membuat sebuah perjanjian pra nikah ? Kayaknya terjadinya sebuah perceraian menjadi sebuah kejadian yang sudah direncanakan.

Saya yang kolot dan berpikiran kuno ini memang masih tidak mengerti kenapa ada trend baru di tengah masyarakat kita dewasa ini - khususnya di kalangan artis dan selebritis - untuk membuat sebuah perjanjian pra nikah sebelum mereka menyakatan diri sebagai sepasang suami istri. Apakah tidak ada sebuah perasaan suci lagi di dalam hati mereka bahwa mereka ingin menjalin hubungan suci tersebut untuk seumur hidup sampai maut memisahkan ?

Tips : Menyiapkan Kakak yang Baik untuk Adik Baru

Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Opini, Kamis 24-07-2008 16:06:55

Bagi pasangan suami isteri yang sudah mempunyai anak lebih dari satu, barangkali pernah mengalami buruknya sikap anak kita yang lebih tua dalam menerima kehadiran adik barunya. Adanya perasaan iri, cemburu dan perasaan tersaingi akan kasih sayang kedua orangtuanya - terutama perhatian dari ibunya - seringkali berakibat munculnya penolakan dari si kakak atas kehadiran adik barunya.

Penolakan si kakak ini biasanya ditunjukkan dengan keengganan untuk membantu ibu menjaga adik, tidak mau disuruh ibunya untuk hal-hal yang berhubungan dengan adiknya, sikap perlawanan yang lebih ekstrim, misalnya suka memukul atau menyakiti adik kecilnya, suka marah-marah, membuang barang-barang atau merusaknya, atau ada anak yang tiba-tiba menjadi gemar bermain di luar rumah dalam jangka waktu yang lama padahal sebelumnya lebih sering bermain di dalam rumah.

Bagi Anda yang mempunyai anak pertama laki-laki, apalagi yang sudah terlanjur dimanjakan, biasanya proses penyesuaian diri dengan adik barunya akan lebih lambat dan sering berbuah penolakan bahkan permusuhan terhadap adik barunya atau orang tuanya. Sebetulnya berbagai bentuk sikap penolakan tersebut hanya merupakan upaya untuk menarik perhatian yang dikuatirkannya "hilang" dari kedua orangtuanya terhadap dirinya.

Pada dasarnya seorang anak adalah manusia yang belum matang dalam proses berpikirnya. Kematangan proses berpikir seorang anak dapat dilatih dengan penanaman kebiasaan yang baik. Kebiasaan-kebiasaan yang baik adalah pengulangan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan terus-menerus dengan melibatkan emosi (perasaan) yang paling mendasar dari kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan penghormatan.

Karena ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari kedua orangtuanyalah yang membuat anak menjadi agresif dan menunjukkan penolakan terhadap kehadiran adik barunya. Sikap kontra produktif ini harus diatasi dengan menunjukkan kepada anak bahwa kehadiran adik baginya tidak akan menggantikan kasih sayang kedua orangtuanya, tetapi kasih sayang itu akan dinikmati bersama-bersama antara dia dengan adiknya. Apabila anak sudah menyadari bahwa kasih sayang kedua orangtuanya masih didapatkannya secara adil dengan adik barunya, maka secara otomatis perasaan sayang akan tumbuh di dalam dirinya terhadap adiknya.

Upaya-upaya orangtua

1. Kenalkan kepada anak kondisi kehamilan orangtuanya sejak dini. Semakin cepat dikenalkan akan semakin baik. Penerimaan anak atas kehadiran adik barunya juga tergantung dari keterlibatannya sejak awal. Pengenalan ini bisa dengan berbagai cara, misalnya mengajak anak untuk menemani ibunya memeriksakan kondisi kehamilan ke dokter spesialis kandungan atau dengan menunjukkan hasil foto USG (Ultra Sono Grafi) kandungan ibunya dan menjelaskan tentang kondisi adik barunya yang sedang berada di dalam rahim di perut ibunya.

2. Berikan pengetahuan secukupnya kepada anak - tentu saja sesuai dengan tingkat usia dan pemahamannya - mengenai kehamilan dan janin di dalam rahim.

3. Libatkan anak di dalam masa-masa kehamilan, seperti ikut ke pasar atau supermarket untuk membeli makanan sehat dan susu untuk ibu hamil, atau ikut mengantar dan menemani ibunya ke tempat senam untuk orang hamil.

4. Sampaikan kepadanya informasi yang cukup mengenai peran seorang kakak dan adik di dalam rumah, dan jelaskan bagaimana menyenangkannya apabila sesama saudara saling menolong dan berbagi.

5. Ciptakan perasaan sama-sama menunggu akan kehadiran adik baru antara orangtua dan anak dengan cara melibatkannya dalam persiapan kelahiran adiknya, seperti mengajaknya untuk berperan dalam persiapan kamar untuk adik yang akan lahir, mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan bayi atau turut mengajaknya menanti kelahiran adik barunyanya di rumah sakit.

6. Setelah masa kelahiran, terus libatkan si kakak untuk turut membantu dalam hal-hal kecil seperti mengambilkan popok untuk adiknya atau turut menjaga adiknya ketika Anda sedang melakukan sesuatu yang sangat mendesak. Tentu saja dengan tetap memperhatikan hak-hak si kakak untuk menikmati waktu bermain dan belajarnya.

7. Tetap penuhi kebutuhan mendasar si kakak akan perhatian dan kasih sayang Anda. Apabila ternyata ada kebutuhan yang harus diprioritaskan untuk adiknya, hendaknya dibicarakan secara baik-baik terlebih dulu dengan si kakak. Berikan pengertian kepadanya untuk mengalah untuk hal yang sangat mendesak tersebut, namun jangan lupa tetap berjanji untuk memenuhi kebutuhannya tersebut di lain waktu.

8. Berikan penghargaan dan pujian kepada si kakak atas segala pengertian dan pertolongan yang diberikannya selama masa persiapan kelahiran dan pemeliharaan adik barunya. Sampaikan bahwa perannya sangat penting dan sangat membantu. Katakan bahwa tanpa bantuannya, mungkin adiknya tidak akan setampan / secantik dan sesehat ini.

Jangan ada perbandingan

Jangan pernah membandingkan antara si kakak dengan adiknya dalam hal apa pun. Apabila memang ada nasihat yang harus diberikan kepada si kakak atau memang harus memarahinya, jangan dilakukan di depan adiknya dan jangan ada kata-kata yang membandingkan antara keduanya, misalnya adiknya lebih penyabar sedangkan dia tidak, atau adiknya lebih penurut sedang dia tidak. Anak Anda juga ingin dihargai dan dihormati sebagai dirinya sendiri, maka berikanlah nasihat dengan tidak membandingkannya dengan orang lain, apalagi dengan adiknya sendiri.

Senin, September 01, 2008

11 Hal Terbaik yang Dialami Orangtua

Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Gaya Hidup, Minggu 15-06-2008 08:30:46

Saat kita menjadi orangtua, minggu dan bulan berlalu, siang dan malam silih berganti. Dan waktu terasa abadi saat kita menikmati bagian terbaik sebagai orangtua. Keberhasilan yang sedikit rasanya seperti sudah mencapai puncak gunung tertinggi, dan apabila cita-cita sudah berhasil dicapai, hati kita pun serasa meledak dalam kegembiraan. Ya, peran sebagai orangtua adalah sebuah perjuangan yang unik, dan hanya sedikit hal dalam kehidupan yang sebanding dengan kebahagiaan itu, seperti yang akan dipaparkan berikut ini.

Saat kelahiran bayi

Barangkali istilah "kesenangan" adalah kurang pas untuk menggambarkan saat-saat kelahiran bayi; bagi banyak pasangan persalinan dan kelahiran adalah hal yang menakutkan, namun setiap pasangan akan tetap bertahan menghadapinya. Dan ketika hal tersebut berhasil dilalui walaupun dengan begitu sulit, akhirnya pengalaman indah itu telah menganugerahkan sebuah penghargaan akan kehidupan. Itu adalah benar-benar sebuah keajaiban. Betapapun, tubuh seorang ibu telah menunaikan tugasnya lebih baik daripada yang dapat dilakukan oleh sebuah perusahaan manapun: merencanakan dan kemudian meluncurkan produk baru hanya dalam waktu sembilan bulan. Tanpa harus ada rancangan anggaran, presentasi atau pun rencana pemasaran.

Saat pertama keluar rumah

Sebelum bayi dibawa jalan-jalan ke luar rumah biasanya dia diselimuti rapat-rapat, ditutupi kepalanya dengan topi, dimasukkan ke dalam keranjang, dan kemudian dimasukkan ke dalam kereta bayi. Dengan penuh perasaan kuatir kita sering kali bolak-balik menengok keadaan bayi kita sebelum kita mengajaknya berjalan-jalan. Kereta bayi kemudian didorong secara perlahan ke seputar komplek dan hanya dalam udara yang hangat. Dan ketika kemudian sudah tiba di rumah kembali, kita bersyukur bahwa kita dan bayi kita sudah pulang dalam keadaan selamat. Hal ini barangkali seperti sebuah keberhasilan yang tidak berarti, tetapi dengan pengalaman ini kepercayaan diri kita seperti bertambah. Maka sejak saat itu banyak hal menjadi mungkin untuk dilakukan bersama bayi kita.

Latihan kecil

Ya! Adalah hal yang mengagumkan bagaimana bergairahnya kita ketika berhasil mengikat tali popok bayi kita. Kita barangkali kuatir kalau-kalau bayi kita akan terlepas dari diapers yang dikenakannya pada saat kita tertidur. Tiada hal yang lebih membahagiakan selain melihat kemajuan yang berhasil dicapai bayi kita yang berumur 3 tahun ketika ia berhasil duduk di toilet pada saat buang air. Sepertinya akan ada banyak uang yang bisa dihemat untuk membeli diapers. Jumlahnya mungkin bisa untuk mengongkosinya mendaftar ke perguruan tinggi bila nanti sudah besar.

Makan Bersama Keluarga

Sebagai orangtua, kita belajar kembali bagaimana caranya memasak makanan yang sehat, alih-alih memesan makanan dari luar. Bahkan akan menjadi lebih baik apabila kita berbicara dengan keluarga kita pada saat makan. Kita akan saling berbagi informasi mengenai sekolah anak kita dan apa-apa yang sudah dipelajarinya. Kita akan mendengarkan bagaimana pandangnya tentang hal-hal yang sedang terjadi. Mungkin kita akan tertawa bersama pasangan kita. Memang tidak semua makanan yang dimakan akan terasa begitu memuaskan, namun menyediakan waktu untuk berbagi pada saat makan dengan keluarga itulah yang penting. Pada suatu saat nanti kita akan menuai manfaatnya.

Waktu untuk bermain

Pada saat bermain dengan anak orang tua diibaratkan seperti berada di mesin waktu. Kita berpindah dari suatu permainan ke permainan yang lain, bermain boneka-boneka, bermain petak umpet dan bermain dengan binatang kesayangan. Bermain dengan anak kita akan membangkitkan ingatan kita kembali akan masa kecil, perasaan yang sudah lama terlupakan. Setiap kali bermain membuat bangunan dengan Lego, berdandan seperti seorang puteri, atau permainan lainnya, kita akan menemukan kembali sebuah pemikiran kreatif, yang di dunia orang dewasa mungkin sangat jarang ditemukan. Biasanya akan terasa sulit bermain bersama anak kita setelah habis jam kantor - tanpa harus berpikir mengenai tenggat waktu pekerjaan yang dibebankan kantor kepada kita - tetapi sekali saja kita berhasil membebaskan pikiran kita, maka kita akan dapat menikmati saat-saat bersama anak kita dan serasa ingin selamanya.

Pelukan dan ciuman

Barang kali berupa ciuman sekilas yang diam-diam diberikan di pipi pada saat anak kita tidur. Atau pelukan yang hangat sebelum berangkat ke kantor yang kemudian dibalas oleh anak kita dengan pelukan dan ciuman khas anak-anaknya. Balasan itu seakan membangkitkan daya hidup kita, seperti campuran kopi dengan gula yang diminum di pagi hari. Pengungkapan rasa kasih sayang mungkin akan semakin berkurang seiring makin dewasanya anak-anak kita.

Anak adalah cerminan kita

Anak kita mungkin mempunyai selera humor yang diwarisinya dari kita, sehingga ia bisa menghibur pasangan kita yang sedang sedih. Sungguh bagus karena anak kita tidak mewarisi kelemahan kita yang tidak bisa memperbaiki perbedaan yang ada yang akan mengkibatkan keretakan hubungan. Pengamatan kita akan ciri-ciri fisik dan kepribadian yang menjelma secara alami pada anak-anak kita - dan yang selebihnya, syukurlah, tidak mewujud - adalah salah satu bagian yang paling memuaskan dari pengawasan tumbuh kembang anak-anak kita.

Menemukan Hobi Baru

Anak-anak memperkenalkan kepada kita hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh kita bahwa akan begitu menyenangkan. Sebelum mempunyai anak, misalnya kita sama sekali tidak mengenal mainan peralatan konstruksi. Sekarang kita bisa mengenali sebuah mesin berat dari jarak jauh sambil kita berkendara dalam kecepatan tinggi - dan kita merasa sangat bergairah akan hal itu. Kalau kita sebenarnya tidak begitu menyukai olah raga, kita bisa kaget bahwa ternyata anak kita bisa menjadi anggota tim basket. Seandainya pendengaran musikal kita jelek, mungkin saja anak kita bisa menjadi pemain utama di sekolah musik. Yang pasti anak-anak kita telah memperluas dunia kita, membuatnya menjadi tempat yang menyenangkan.

Membangkitkan kenangan akan cinta dan patah hati yang pertama.

Ketika anak-anak kita jatuh cinta terhadap lawan jenis untuk pertama kalinya, kita akan dibikin pusing oleh gejolak perasaan anak remaja ingusan, apalagi bila mereka mengalami ciuman pertama yang membara - dan hal-hal pertama lainnya. Tapi kemudian, ketika kita menyaksikan anak kita menunggu panggilan telepon dari pacarnya pada kencan berikutnya, dan ternyata pacarnya yang ditunggu tidak datang. Hati kita terasa sedih karena ikut merasakan kekecewaannya, tetapi kita bersyukur karena tidak harus merasakan sakit hati remaja seperti itu. Cinta pertama adalah kenangan terindah yang harus dialami sendiri.

Hari Wisuda

Apakah kelulusan di jenjang taman kanak kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, atau yang lainnya, hari itu anak kita secara formal menjalani dari satu jenjang ke jenjang pendidikan berikutnya. Walaupun hal tersebut sangat mendebarkan, namun cukup melegakan seperti berlalunya sebuah beban kecil. Kekuatiran kita yang mendalam akan kemampuan anak kita telah digantikan oleh kegembiraan yang meluap-luap akan masa depan mereka. Dan juga kebanggaan akan kerja keras kita dengan pasangan yang telah berhasil menanamkan pendidikan kepada mereka mulai dari mengenal abjad sampai dengan mereka lulus sarjana.

Menemukan kembali pasangan kita

Kita mengira telah mengetahui hal lain tentang dirinya, tetapi keberadaan anak telah memberikan sebuah peran kepada pasangan kita yaitu sebagai tokoh baru - bukan sekedar pasangan hidup, seorang kekasih, atau seorang teman, tapi sebagai ibu atau ayah. Kita akan tersenyum melihat pasangan kita bergumul dengan anaknya, mengajarinya berkendara, atau menjelaskan kepadanya mengapa tidak boleh menyakiti binatang. Melihat pasangan kita menjadi seorang ayah atau ibu - kadang terlihat penyabar, kadang bodoh, kadang lembut, kadang melawan - membuat kita bertambah mencitainya.

Oleh : Jill Jasper, seorang penulis yang tinggal di Seattle, USA

Sumber: http://men.msn.com/article.aspx?cp-documentid=7609562&GT1=32001