Tampilkan postingan dengan label Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jiwa. Tampilkan semua postingan

Minggu, Mei 31, 2009

10 Kekacauan Mental Mengerikan Karena Makanan

Ada beberapa orang yang mengidap penyakit mental yang berhubungan dengan makanan (ED=Eating Disorder). Kemungkinan ada kelainan dalam sistem hormonal tubuh, atau ada kelainan pada otak mereka yang membuat mereka menjadi bertingkah aneh terhadap makanan, atau terobsesi oleh suatu kondisi yang berhubungan dengan makanan.


Apabila Anda mengidap salah satu gangguan mental ini, sebaiknya segera melakukan konsultasi dengan ahlinya dan jangan menganggapnya hanya merupakan lelucon, tingkah aneh atau keyakinan dan prinsip. Untuk itu lihat saja daftar berikut ini.



1. Orthorexia


Ciri-cirinya adalah terobsesi dengan makan makanan-makanan sehat, penyakit ini bisa dikacaukan dengan diagnose sebagai anoreksia di mana perbedaan utamanya adalah alasan di balik kebiasaan makan ini. Anorexics (pengidap anarexia) terobsesi dengan pengurangan berat badan, sedangkan orthorexics (pengidap orthorexia) merasakan suatu kebutuhan akan makanan yang sehat atau makanan "murni" atau alami. Orthorexia tidak dikenal oleh DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) dan secara umum tidak terdiagnosa, tetapi gejalanya sedang mewabah dewasa ini. Anda dapat membaca cerita tragis tentang seorang gadis yang pada akhirnya menyerah pada orthorexia ini.


2. Prader-Willi Syndrom (PWS)


PWS disebabkan adanya cacat chromosomal. Ini bukanlah penyakit turunan dan penyakit ini bisa menyerang laki-laki atau perempuan semua ras. PWS dapat membawa serta sejumlah gejala-gejala termasuk kekurangan ketrampilan gerak motorik tubuh, pertumbuhan yang tidak sempurna, dan keterbelakangan mental. Sebagai tambahan, PWS juga menyebabkan selera yang tak terpuaskan. Meninggalkan sifat tidak terkendali, yang mana si penderita memakan – arti sebenarnya – diri sendiri sampai mati. Perawatan dengan hormon pertumbuhan dan diet kalori rendah mutlak harus dilakukan. Pada film serial televisi CSI tahun 2005, sindrom Prader-Willi diangkat sebagai salah satu tema cerita.


3. Pica


Pica barangkali penyakit paling menarik di daftar ini. Ini adalah gabungan antara kekacauan mental mengenai makanan dan masalah kejiwaan umum. Orang-orang dengan pica merasakan adanya paksaan untuk memakan benda yang bukan makanan dan bukan bahan nutrisi. Seperti memakan puntung rokok, obat nyamuk bakar, rambut, tanah, atau kaca dan benda tajam lainnya. Penderita pica beresiko sakit atau bahkan kematian disebabkan masuknya bahan-bahan berbahaya ke dalam tubuh.


4. Bigorexia


Bigorexia dikatakan sebagai lawan dari anorexia. Bigorexia adalah satu-satunya kekacauan mental disebabkan makanan di daftar ini dengan penderitanya lebih banyak pria dibanding wanita. Bigorexics adalah latihan penuh paksaan, mengambil suplemen tambahan, dan sangat memperketat diet mereka. Bagaimana pun berotot dan kekarnya tubuh mereka, mereka tetap merasa malu untuk memperlihatkan tubuh mereka karena mereka pikir tubuh mereka belum cukup bagus. Karena gangguan mental jenis ini sudah lama diihat sebagai penyakit anak perempuan sehingga banyak kaum yang mengidap gangguan malu untuk mengakuinya.


5. BED (Binge Eating Disorder=gangguan kesenangan berlebihan dengan
makanan)


BED adalah suatu kondisi yang terpisah dibanding bulimia. Kondisi ini dianggap sebagai kekacauan yang umum karena makanan, namun ditetapkan di dalam DSM IV sebagai suatu bagian dari EDNOS (Eating Disorder Not Otherwise Specified=Kekacauan makan bukan oleh sebab-sebab yang spesifik). Ini adalah suatu kategori yang luas dari kekacauan mental disebabkan makanan dengan ciri-ciri sebagai berikut:


- Pada perioide tertentu mengonsumsi makanan secara tidak terkontrol, baik jumlahnya maupun temponya, di luar serangan bisa normal kembali.


- Makan dengan gelisah, dan biasanya makan dalam jumlah berlebihan saat bosan, stres atau depresi.


- Makan dalam jumlah besar walaupun tidak benar-benar lapar.


- Takut makan di depan orang lain karena malu dengan kelainan ini.


- Timbul perasaan bersalah, menyesal diakhiri dengan depresi pada pasca serangan.



6. Anorexia Athletica


Sementara tidak secara teknis digolongkan sebagai penyakit terkait dengan makanan, karena orang yang menderita kekacauan ini hampir tidak pernah didiagnose tanpa kehadiran dari kekacauan yang lain. Seperti namanya, seseorang dengan anoreksia athletica melampaui perasaan yang normal dari kebanyakan kita setelah mereka menempuh sebuah latihan lari panjang yang bagus atau suatu sesi yang berhasil di dalam ruang senam atau fitness. Perasaan ini bukanlah pilihan untuk mereka pada penyakit ini, dan mereka sering kali mendorong diri mereka sendiri untuk melakukan tindakan berlebihan atau bahkan rasa sakit serius hanya untuk mendapatkan tubuh yang sempurna.


7. NES (Night Eating Syndrome=sindrom makan malam)


NES adalah jenis kekacauan baru, mirip seperti orthorexia dalam diagnosa cepat. Korban makan malam berupa kegemukan biasa atau kegemukan berlebihan, yang hampir tidak makan apa pun di pagi hari dan sepanjang hari atau makan kurang dari separuh kalori yang dimakan pada malam hari. Mereka sering kali mengalami kesulitan untuk tidur atau terjaga pada malam hari untuk memenuhi hasrat untuk makan. Seperti orang dengan ED lainnya, orang-orang dengan NES sering tertutup tentang kebiasaan makan mereka dan tidak suka mengakui bahwa ada masalah.


8. BBD (Body Dysmorphic Disorder=kekacauan tubuh dysmorphic)


Sementara BDD bisa saja didiagnose tanpa kehadiran suatu ED. Orang-orang dengan BDD diyakinkan mereka mempunyai sejumlah cacat-cacat, tidak hanya termasuk perasaan kegemukan yang jelek, tapi juga karena mempunyai rambut, gigi yang jelek, atau bau badan yang sangat tidak enak. Hal ini melampaui kegelisahan remaja secara umum tentang penampilan. Ketika seorang penderita BDD melihat bayangan dirinya di dalam cermin, mereka melihat sosok yang benar-benar berbeda dibanding orang di sekitarnya.


9. Bulimia Nervosa


Bulimia dicirikan ditandai oleh lingkaran kesenangan berlebihan akan makanan dan pembersihan. Ketika kebanyakan orang berpikir tentang bulimics (pengidap bulimia), mereka berpikir tentang diri sendiri yang terbujuk memuntahkan makanan dengan maksud membersihkan. Selain dengan cara memuntahkan untuk membersihkan, para bulimics juga melakukan pembuangan air seni dan berak. Selain itu, para bulimics menggunakan sirop ipecac atau gerakan menggelitik kerongkongan untuk memuntahkan. Seorang bulimics sangat menyadari perilaku mereka itu adalah hal yang tidak biasa atau tidak benar, dan mereka akan bersusah payah untuk menyembunyikannya. Yang menarik, seorang bulimics dengan siklus pembersihan yang tidak berlebihan akan mempunyai berat badan yang normal. Hanya mereka yang membersihkan lebih dari ukuran normal yang memperlihatkan tanda-tanda suatu ED.


10. Anorexia Nervosa


Penelitian-penelitian terbaru memperkiraka ada 1 dari 100 gadis remaja menderita anorexia, yakni kekacauan berupa kesediaan untuk tidak makan dan lapar dalam jangka waktu lama, dengan hanya makan sedikit sekali disebabkan stres untuk menjaga berat badan. Anak-anak perempuan berusia 8 tahun-an sudah ada yang diopname dengan kondisi ini. Pemetaan otak pada penderita anorexia menunjukkan kecanduan mereka untuk tidak makan adalah sama besarnya seperti orang yang kecanduan narkoba atau alkohol berat. Anorexics (penderita anorexia) beresiko lebih besar untuk berbuat lebih parah disebabkan anorexia itu sendiri dan kemungkinan mengidap ED yang lain, seperti kebanyakan rasa kecanduan, tidak pernah hilang begitu saja. Mereka yang mengalami perawatan dan tidak lagi menunjukkan gejala-gejala atau tanda-tanda kekambuhan mereka dipertimbangkan di dalam penyembuhan dan harus menjaga diri dari dorongan-dorongan di luar kendali. Bahkan orang sembuh setelah bertahun-tahun, hanya karena suatu peristiwa dapat memicu ulang penyakit ini. Bagaimanapun, mereka yang sungguh-sungguh mengatur untuk memelihara datangnya penyakit dapat memulihkan diri secara penuh dan dapat hidup dan makan secara normal.




Sumber : Wikipedia


Sumber gambar : http://images-cdn01.associatedcontent.com/image/A9089/90897/300_90897.jpg

Jumat, Mei 01, 2009

Kita Semua Mungkin Tidak Normal

Anda barangkali pernah mendengar orang bilang, “Si anu tidak normal”, atau “Dia itu orang yang abnormal”, atau “Anak itu aneh dan tampak tidak normal”. Cap “tidak normal” mudah diberikan kepada orang lain yang tidak sesuai dengan ukuran tertentu si pemberi gelar, sehingga bisa menjadi vonis yang menjatuhkan harga diri seseorang.


Istilah yang digunakan dengan maksud menunjukkan ketidaknormalan seseorang biasanya – diurut sesuai intensitasnya – adalah “unik”, “tidak biasa” atau “tidak umum”, “luar biasa” atau “di luar kebiasaan”, dan “aneh”. Yang disebutkan tadi masih dalam skala sehat. Kemudian dalam skala medium adalah “tidak normal” atau “abnormal”, dan “kurang beres”. Dan yang paling parah atau berada pada skala tidak sehat disebut “kurang ingatan”, “sinting”, atau “gila”.


Namun yang sangat disayangkan adalah pemberian vonis ketidaknormalan orang lain sering diberikan secara serampangan atau asal-asalan, tanpa penyelidikan yang akurat dan persaksian sendiri dengan standar yang dapat dipertanggungjawabkan. Akibatnya yang terjadi adalah tuduhan yang mengarah ke fitnah, dan ini bisa menjadi bahan pertikaian yang mengakibatkan perpecahan.


Berhakkah orang menuduh orang lain tidak normal? Berdasarkan ukuran apa ketidaknormalan ditetapkan? Mari kita membahasnya.


Definisi normal menurut artdictionary.com adalah bersesuaian dengan norma yang sudah mapan, aturan, atau prinsip; yang diselaraskan kepada suatu jenis, standar/patokan tertentu, atau bentuk umum; menampilkan fungsi-fungsi yang sesuai; bukan termasuk yang tidak biasa; berlaku umum/reguler; alami atau wajar; berdasarkan persamaan umum/analogika.



Aturan yang mana dijadikan dasar pengukuran?


Setelah kita membaca definisi normal tersebut di atas, maka di sini kita perlu menetapkan norma, aturan, prinsip, standar yang diperlukan untuk dijadikan ukuran resmi dalam menentukan dengan tepat kenormalan atau ketidak normalan seseorang.


Permasalahannya adalah ukuran-ukuran tersebut di atas – norma, aturan, prinsip, standar – sangat beragam. Perbedaan wilayah geografis, kultur, adat istiadat, keyakinan atau agama, dan lingkungan menjadikan variasi ukuran semakin banyak dan mempunyai perbedaan yang tajam. Bahkan dalam satu wilayah geografis yang sama, atau dalam sebuah komunitas masyarakat terdapat dua atau lebih ukuran yang berbeda.


Ketika kita menetapkan suatu ukuran untuk menyatakan kenormalan atau ketidaknormalan seseorang, bisa saja ukuran itu digunakan hanya oleh kita sendiri atau sebagian kecil (minoritas) dari populasi, dan tidak diakui oleh komunitas lain.


Di dalam sebuah komunitas yang majemuk di mana suatu ukuran diakui secara umum, bisa saja terjadi “penjajahan” mayoritas terhadap minoritas, contohnya dalam sebuah negara demokrasi yang mengandalkan suara terbanyak. Sedangkan di bawah kekuasaan tunggal yang otoriter, tirani minoritas akan menguasai mayoritas untuk memaksakan ukuran-ukuran pribadi agar berlaku umum, seperti pemerintahan monarki atau kerajaan.



Kita tidak normal menurut ukuran orang lain


Setiap manusia adalah unik dan mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. Dari keunikan ini bisa saja menjadi ketidaknormalan bagi orang lain. Begitu juga dengan suatu masyarakat, suku, kelompok keagamaan, sebuah komunitas sosial dengan kultur tertentu, kelompok remaja dengan gaya dan penampilan khas, bisa saja dianggap tidak normal oleh kelompok atau komunitas lain yang tidak sefaham.


Kalau semua orang menjadikan ukurannya atau komunitasnya sendiri sebagai dasar untuk menyatakan ketidaknormalan orang lain di luar dirinya atau komunitasnya, maka klaim normal dan tidak normal bisa dilakukan sekehendak hati. Sebagai akibatnya adalah pertentangan antar kelompok menjadi semakin marak dan sulit untuk dihindari.


Sekarang marilah kita memahami bahwa bisa saja kita dianggap tidak normal oleh orang lain menurut ukuran mereka, walaupun menurut kita sendiri normal-normal saja. Oleh karena itu hindarilah juga memberikan cap “tidak normal” kepada orang lain atau kelompok lain, karena mungkin saja “ketidaknormalan” kita sedang menjadi pembicaraan mereka.


Atau barangkali sekarang “ketidaknormalan” manusia sedang menjadi bahan diskusi umum dan pembicaraan di seminar-seminar oleh makhluk di dimensi lain. Siapa tahu?



Sumber gambar : http://www.lepsoc.org/myimages/a_io_abnormal.jpg

Selasa, Maret 10, 2009

Apakah Alam Semesta dan Kita Benar-benar Ada?

Persepsi berasal dari kata bahasa Inggris perception yang bermakna tindakan dari perasaan; dikenal oleh perasaan atau akal sehat; ditangkap oleh organ tubuh jasmani, atau oleh pikiran apa yang diperkenalkan kepada mereka; pembedaan; penangkapan; pengamatan. Sedangkan di dalam ilmu psikologi, persepsi bermakna pengorganisasian mental dan penafsiran atas informasi yang diterima.


Proses terbentuknya persepsi adalah proses kelahiran sebuah pengetahuan. Pengetahuan kita akan sesuatu hal selalu dimulai dengan proses penangkapan informasi oleh indrawi kita – mata (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (perasa) dan kulit (peraba) – kemudian berkas informasi yang diterima oleh indera kita disampaikan berupa sinyal-sinyal listrik ke otak dengan bantuan syaraf dan plasma sel. Berdasarkan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya informasi tadi diolah dan ditanggapi sebagai sebuah persepsi. Kesadaran kita mendapatkan gambaran berdasarkan persepsi yang terbentuk tadi, dan kita pun memiliki sebuah pengetahuan. Begitulah kira-kira sebuah persepsi terbentuk dan pengetahuah lahir dari sebuah persepsi.


Sebagai contoh adalah ketika kita membaca sebuah buku, kita sedang menggunakan satu buah indera utama yakni mata. Mata menangkap pantulan foton-foton cahaya dari buku yang membawa gambaran huruf-huruf dalam bentuk cahaya dengan frekuensi berbeda-beda melalui lensa mata. Kemudian bayangan huruf yang terbalik diterima titik api atau retina mata yang terletak di bagian belakang bola mata. Cahaya yang jatuh di retina mata ini diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan oleh syaraf-syaraf neuron ke sebuah bintik kecil di bagian belakang otak yang disebut pusat penglihatan. Setelah mengalami sederetan proses sinyal listrik diubah kembali menjadi gambaran bayangan huruf-huruf. Di bintik kecil inilah proses penglihatan terjadi.


Selesaikah sampai di situ? Tentu saja belum selesai. Gambaran bayangan huruf-huruf tadi belum dimengerti oleh kita. Rekaman pengetahuan tentang huruf dan pelajaran membaca yang sudah direkam di otak akan dibandingkan dengan informasi yang baru datang, maka kita pun mengenalinya sebagai huruf-huruf, kata-kata dan kalimat. Terakhir pengetahuan-pengetahuan kita yang lain dan tersimpan di otak akan terus dibandingkan dengan semua informasi yang masuk. Setelah itu terjadi proses berpikir yang sangat kompleks untuk mengolah data yang masuk. Dan hanya dalam hitungan beberapa detik atau menit sebuah persepsi akan terbentuk dan kita pun berkata dalam hati, “Oh, ternyata begini caranya”. Lahirlah sudah sebuah pengetahuan.


Persepsi yang terbentuk tidak pernah sama pada semua individu disebabkan perbedaan pada kemampuan fungsi organ indera, syaraf-syaraf, otak dan bagian tubuh lainnya serta pengetahuan yang sudah tersimpan sebelumnya. Persepsi yang berbeda membuat pemahaman, pengertian dan pengetahuan yang terbentuk juga berbeda.


Sebagai contoh adalah rasa masakan. Satu orang mengatakan terlalu asin, yang lain mengatakan cukup, sedang yang lainnya merasa manis. Kalaupun terjadi kesamaan pendapat itu hanyalah karena sebab sosial, seperti perasaan tidak enak kalau berbeda, tidak mau ribut dan sebagainya, tetapi secara ilmiah pasti tidak akan pernah sama.



Materi alam semesta ada karena menurut persepsi kita ada


Kita semua pasti pernah suatu saat tidak menyadari keberadaan benda-benda di sekitar kita. Pada saat lampu padam misalnya. Suasana gelap gulita membuat kita tidak bisa melihat apa pun. Kita bisa menabrak apa saja apabila mencoba berjalan di ruangan yang gelap di rumah kita. Ternyata ketiadaan cahaya membuat kita kehilangan persepsi tentang isi rumah kita. Satu-satunya bekal kita adalah memori yang menyimpan semua informasi posisi benda-benda di rumah kita menurut yang pernah kita lihat. Kita harus mengingat semua letak benda-benda itu, kalau tidak, ya kita harus berjalan dengan meraba-raba untuk mendapatkan korek api atau senter sebagai sumber cahaya.


Contoh di atas baru dari satu indra, yakni indra penglihatan atau mata. Masih ada indra lainnya yang juga sangat berperan dalam membentuk persepsi kita tentang alam sekitar kita, yakni pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Kelima indra ini yang memberi bentuk kepada kita tentang alam sekitar dan alam semesta ini.


Kalau ternyata alam semesta ini keberadaannya sangat ditentukan oleh persepsi kita, dan persepsi kita sangat ditentukan oleh panca indra kita, tidak salah rasanya kalau disimpulkan bahwa alam semesta ini dikatakan ada karena panca indra kita mengatakannya ada disertai informasi bentuk dan rupanya.


Seperti telah disebutkan di atas bahwa persepsi setiap orang tidak pernah sama disebabkan perbedaan organ tubuh yang berperan, maka keberadaan alam semesta ini pun tidak sama menurut setiap orang. Dengan kata lain masing-masing orang mempunyai gambaran yang berbeda tentang alam semesta yang dilihatnya.



Keberadaan, bentuk dan rupa alam semesta diragukan kebenarannya


Seperti diuraikan di atas tadi bahwa keberadaan, rupa dan bentuk alam semesta adalah berdasarkan informasi dari indrawi kita, yang kesemuanya itu diolah di otak kita dan dijelaskan berupa persepsi. Berarti alam semesta yang luas ini – menurut persepsi kita – sesunguhnya dan sebenar-benarnya hanya berada di bagian terkecil dari otak kita, di dalam sebuah sel yang disitu membentuk gambaran.


“Lho, laptop ini kan saya lihat dan sentuh, maka dia ada”. Benar anda melihat dengan mata dan menyentuhnya dengan ujung jari anda. Tapi bentuk yang anda lihat dan anda rasakan itu adalah sinyal-sinyal listrik yang ada di otak anda, yang kemudian lahir dalam bentuk sebuah persepsi. Jadi gambaran laptop yang anda persepsikan di otak anda, itulah hasil dari penglihatan dan perabaan. Anda hanya melihat hasil gambaran dan persepsi di otak, begitu juga hasil rabaan ujung jari anda. Syaraf-syaraf di ujung jari anda mengubah kekasaran dan kehalusan bentuk menjadi sinyal-sinyal listrik, kemudian ujung-ujung syaraf menghantarkannya ke otak anda dan mengolahnya bersama hasil penglihatan menjadi sebuah persepsi bernama laptop.


Nah, kalau seluruh alam semesta ini, termasuk juga semua pengetahuan kita tentangnya – berarti termasuk juga tubuh kita dan kesadaran kita ini – adalah hasil persepsi di otak kita, maka pertanyaan kita adalah benarkah bentuknya seperti itu? Atau pertanyaan yang lebih ekstrim lagi adalah benarkah alam semesta dan kita ini ada dengan sebenar-benarnya? Ataukah yang ada selama ini hanya merupakan hasil persepsi kolektif semua manusia yang keliru tapi terlanjur dipercaya keberadaannya?




Sumber gambar : http://www.geocities.com/yhaadee/newuniverse.jpg