Tampilkan postingan dengan label Moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Moral. Tampilkan semua postingan

Senin, Oktober 27, 2008

6 Prinsip Cara Berpikir Seorang Pemimpin Bernama Muhammad


Seorang pemimpin dinilai bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam kepemimpinannya. Salah satu yang terpenting adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan, efektifitas sebuah kebijakan dan bagaimana dampak atas kebijakan tersebut.


Sebuah keputusan lahir dari sebuah proses berpikir. Bermula dari cara pandang seseorang dalam menilai sesuatu yang kemudian berpengaruh terhadap cara berpikirnya. Cara berpikir yang dilandasi cara pandang tadi akan menjadi penentu, tepat atau tidaknya keputusan seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan.


Kebijakan seorang pemimpin seringkali berpengaruh terhadap banyak orang dan ruang lingkup serta waktu yang lebih luas. Kesalahan dalam mengambil sebuah keputusan dalam memilih sebuah kebijakan akan berujung pada kegagalan suatu program atau bahkan kehancuran sebuah negara dan bangsa.



Bagaimana cara Muhammad Saw berpikir?


Sebagian besar dari kita pernah mendengar tentang kepemimpinan seorang Muhammad Saw. Dalam masa 22 tahun beliau sanggup mengangkat derajat bangsa Arab dari bangsa jahiliah yang diliputi kebodohan dan keterbelakangan menjadi bangsa terkemuka dan berhasil memimpin banyak bangsa di dunia. Orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya merasakan kelembutan, kasih sayang dan penghormatan dari seorang pemimpin bernama Muhammad.


Cara berpikir Muhammad Saw yang lurus terlahir dari cara pandangnya yang juga lurus terhadap hidup dan kehidupan ini. Cara berpikir yang lurus tadi menghasilkan sebuah keputusan yang tepat sekaligus dapat diterima semua pihak.


Inilah cara berpikir Muhammad Saw tersebut :


1. Beliau menomorsatukan fungsi sebagai landasan dalam memilih orang atau sesuatu, bukan penampilan atau faktor-faktor luar lainnya


Keempat sahabat yang dikenal sangat dekat dengan Beliau, yakni Abu Bakar Assidiq ra, Umar ibnu Khattab ra, Ustman ibnu Affan ra dan Ali ibnu Abi Tholib ra adalah gambaran jelas kemampuan Muhammad Saw dalam melihat fungsi. Keempat sahabat tersebut memiliki fungsi sendiri-sendiri dalam era kepemimpinan Muhammad Saw, yaitu :


- Abu Bakar Assidiq ra yang bersifat percaya sepenuhnya kepada Muhammad Saw, adalah sahabat utama. Ini bermakna kepercayaan dari orang lain adalah modal utama seorang pemimpin.


- Umar ibnu Khattab ra bersifat kuat, berani dan tidak kenal takut dalam menegakkan kebenaran. Ini bermakna kekuasaan akan efektif apabila ditunjang oleh semangat pembelaan terhadap kebenaran dengan penuh keberanian dan ditunjang kekuatan yang memadai.


- Ustman ibnu Affan ra adalah seorang pedagang kaya raya yang rela menafkahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Muhammad Saw. Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah pendanaan. Sebuah kepemimpinan akan lebih lancar apabila ditunjang kondisi ekonomi yang baik dan keuangan yang lancar. Dan juga dibutuhkan pengorbanan yang tulus dari pemimpinnya demi kepentingan orang banyak.


- Ali ibnu Abi Thalib ra adalah seorang pemuda yang berani dan tegas, penuh ide kreatif, rela berkorban dan lebih suka bekerja dari pada bicara. Kepemimpinan akan menjadi semakin kuat karena ada regenerasi. Tidak ada pemimpin yang berkuasa selamanya, dia perlu menyiapkan penerus agar rencana-rencana yang belum terlaksana bisa dilanjutkan oleh generasi berikutnya.



2. Beliau mengutamakan segi kemanfaatan daripada kesia-siaan


Tidak ada perkataan, perbuatan bahkan diamnya seorang Muhammad yang menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Pilihan terhadap kurma, madu, susu kambing dan air putih sebagai makanan yang bermanfaat untuk tubuh adalah salah satu contohnya. Bagaimana sukanya Muhammad terhadap orang yang bekerja keras dan memberikan manfaat terhadap orang banyak dan kebencian beliau terhadap orang yang menyusahkan dan merugikan orang lain adalah contoh yang lain.



3. Beliau mendahulukan yang lebih mendesak daripada yang bisa ditunda


Ketika ada yang bertanya kepadanya, mana yang harus dipilih apakah menyelamatkan seorang anak yang sedang menghadapi bahaya atau meneruskan shalat, maka beliau menyuruh untuk membatalkan shalat dan menyelamatkan anak yang sedang menghadapi bahaya.



4. Beliau lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri


Ketika datang wahyu untuk melakukan hijrah dari kota Makkah ke Madinah, Muhammad Saw baru berangkat ke Madinah setelah semua kaum Muslimin Makkah berangkat terlebih dulu. Padahal saat itu beliau terancam akan dibunuh, namun tetap mengutamakan keselamatan kaumnya yang lebih lemah.

Ketika etnik Yahudi yang berada di dalam kekuasaan kaum Muslimin meminta perlindungan kepadanya dari gangguan orang Islam di Madinah, beliau sampai mengeluarkan pernyataan : Bahwa barang siapa yang mengganggu dan menyakiti orang-orang Yahudi yang meminta perlindungan kepadanya, maka sama dengan menyatakan perang kepada Allah dan Rasulnya. Padahal tindakan demikian bisa menjatuhkan kredibilitas Beliau di mata kelompok-kelompok etnik Arab yang sudah lama memusuhi etnik Yahudi.



5. Beliau memilih jalan yang tersukar untuk dirinya dan termudah untuk umatnya


Apabila ada orang yang lebih memilih mempersulit diri sendiri dari pada mempersulit orang lain, maka dia adalah para Nabi dan Rasul. Begitu pun dengan Muhammad Saw. Ketika orang lain disuruh mencari jalan yang termudah dalam beragama, maka Beliau memilih untuk mengurangi tidur, makan dan shalat sampai bengkak kakinya.


Ketika dia menyampaikan perintah Allah Swt kepada umat untuk mengeluarkan zakat hartanya hanya sebesar 2,5 bagian saja dari harta mereka, dia bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan dan tidak menyisakan untuknya dan keluarganya, kecuali rumah yang menempel di samping mesjid, satu dua potong pakaian dan beberapa butir kurma atau sepotong roti kering untuk sarapan. Sampai-sampai tidurnya hanya di atas pelepah korma.


Seperti pernah dia bertanya kepada Aisyah ra. Istrinya apakah hari itu ada sepotong roti kering atau sebiji korma untuk dimakan. Ketika istrinya berkata bahwa tidak ada semua itu, maka Muhammad Saw mengambil batu dan mengganjalkannya ke perut untuk menahan lapar.



6. Beliau lebih mendahulukan tujuan akhirat daripada maksud duniawi


Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang terpilih sekaligus contoh teladan bagi kita. Muhammad Saw menunjukkan bahwa jalan akhirat itu lebih utama daripada kenikmatan dunia dengan seluruh isinya ini. Karena pandangannya yang selalu melihat akhirat sebagai tujuan, maka tidak ada yang sanggup menggoyahkan keyakinannya untuk menegakkan kebenaran.


“Seandainya kalian letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti dalam menyampaikan risalah ini.” Demikian Muhammad Saw berkata kepada para pemimpin Quraisy yang mencoba menyuap Muhammad Saw dengan harta benda, menjanjikan kedudukan tertinggi di kalangan suku-suku Arab dan juga menyediakan wanita-wanita cantik asalkan Muhammad Saw mau menghentikan dakwahnya di kalangan mereka.



Apakah kita dan pemimpin-pemimpin kita sudah berpikir seperti itu?


Senin, September 01, 2008

Suami-suami Takut Istri, Tayangan Tidak Mendidik

Pernah dimuat di Wikimu pada Kanal Suara Konsumen, Senin 12-05-2008 13:56:24


Sinetron komedi situasi berjudul Suami-suami Takut Istri yang ditayangkan oleh stasiun Trans TV setiap hari Senin sampai dengan Kamis pada pukul 18.00 WIB memang terlihat lucu bagi sebagian orang. Sinetron yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat sebuah komplek perumahan ini, mengangkat cerita tentang suami-suami di komplek perumahan tersebut yang selalu takut kepada istrinya masing-masing, dalam hal ini takut bila ketahuan menggoda janda seksi di komplek mereka.

Tapi pernahkan Anda memperhatikan dengan seksama bahwa tayangan tersebut sangat tidak mendidik dan membahayakan perkembangan kejiwaan dan budi pekerti anak-anak kita yang ikut-ikutan menonton tayangan tersebut ? Mungkin kita akan berdalih bahwa cerita itu lucu dan hanya merupakan cerita rekaan atau fiksi dan tidak benar-benar terjadi. Tapi apakah Anda bisa memberikan alasan tersebut kepada anak-anak yang ikut menyaksikan sinetron itu, dan yakin bahwa anak-anak itu tidak akan mencontoh beberapa adegan yang sangat tidak sesuai dengan norma-norma pendidikan budi pekerti ?

Adegan beraroma sex

Kebiasaan para suami di dalam tayangan sinetron tersebut yang suka menggoda - sering kali dengan menyerempet-nyerempet "wilayah berbahaya" - si janda muda cantik dan cara berbusana si janda yang sexy, bukanlah penampilan tayangan yang mendidik buat anak-anak. Kesimpulan yang diambil seorang anak adalah bahwa ayah-ayah mereka juga bertabiat yang sama dengan yang ditampilkan di sinetron tersebut. Sehingga rasa hormat mereka kepada orang tua akan berkurang karena asumsi buruk (prasangka jelek) sudah terbangun di dalam pikiran mereka.

Istri-istri dan anak-anak yang berani kepada suami dan ayahnya

Ada lagi adegan sangat - sangat - tidak mendidik, yaitu adegan para istri yang marah kepada suaminya karena ketahuan para suami itu sedang asyik menggoda si janda muda, lalu masing-masing istri tersebut ada yang menjewer, mencubit perut, menarik leher baju, bahkan ada yang menjambak rambut suaminya sambil menarik pulang ke rumah. Yang lebih parah lagi ditambahkan adegan si anak ikut menarik ayahnya bersama-sama dengan ibunya. Bila si istri menarik baju suaminya, si anak juga menarik baju ayahnya. Bila si istri mencubit perut suaminya, si anak juga mencubit perut ayahnya. Yang lebih parah lagi adalah adegan si istri memaki-maki suaminya diikuti oleh anaknya. Apa tidak ada lagi adegan lucu yang bisa ditampilkan, sampai harus menampilkan keburukan akhlak seperti ini ? Apa anak-anak kita akan dijadikan anak durhaka semua ?

Mungkin beberapa pihak berdalih bahwa kalau tidak mau nonton, ya ganti aja kanalnya. Itu bukan jawaban yang bermuatan niat baik, tetapi tidak lebih dari pada jawaban mau menang sendiri. Apakah Trans TV ingin ikut andil dalam penghancuran moral bangsa ?

Karena Ciuman Setitik, Rusak Moral Bangsa Sebelanga

Pernah dimuat di Wikimu pada Kanal Opini, Minggu 04-05-2008 09:24:34

Ini kan cuma chick to chick, bukan lip to lip, begitu komentar Tukul Arwana berkilah ketika penonton menyorakinya setelah melakukan cipika-cipiki (istilah Tukul Arwana untuk cium pipi kanan dan kiri) dengan bintang tamunya di acara Empat Mata, salah satu acara andalan sebuah stasiun televise swasta.

Komentar tukul Arwana bisa jadi terkesan wajar, karena kita juga sering menyaksikan adegan cium pipi kanan dan kiri apabila para pejabat saling bertemu, bahkan mereka saling berpelukan sebagai tanda persahabatan. Eit, nanti dulu. Adegan para pejabat tersebut hanya terjadi antar dua orang yang berjenis kelamin sama, laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Bukan antar dua orang yang berbeda jenis kelamin seperti yang dilakukan Tukul Arwana. Bila Tukul melakukannya sekitar dua dekade lalu, mungkin Tukul bisa disumpahserapahi para penggemarnya. Barangkali kita ingat bahwa Tukul juga sempat menerima protes dari pemirsanya gara-gara dengan enteng cipika-cipiki, bahkan ada sebagian adegan ditambah dengan pelukan terhadap bintang tamunya yang wanita.

Nah, nantinya adegan ciuman bibir (lip to lip) kemungkinan besar akan mudah dijumpai di setiap tayangan sinetron televisi atau di dalam adegan film layar lebar Indonesia. Hal ini akan dimungkinkan setelah berhasilnya Masyarakat Film Indonesia (wadah persatuan insan perfilman) mendapatkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang uji materi UU No.8 Tahun 1992 tentang Perfilman di gedung Mahkamah Konstitusi di Jakarta, Rabu tanggal 30 April kemarin. MK menyatakan UU Perfilman yang berlaku saat ini termasuk ketentuan yang mengatur sensor dan lembaga sensor film sudah tidak sesuai dengan semangat zamannya sehingga sangat mendesak untuk dibentuk Undang-undang Perfilman yang baru yang lebih sesuai dengan semangat demokratisasi dan penghormatan terhadap HAM.

Kita mungkin akan bertanya-tanya semangat demokratisasi yang mana yang dimaksud oleh MK, dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) yang bagaimana yang diinginkan oleh MK. Kalau memang ingin sesuai dengan semangat demokratisasi, bikin saja uji publik dan sosialisasi. Mintalah pendapat publik secara nasional, apa perlu UU Perfilman tersebut diubah. Apa perlu lembaga sensor dihapus. Bukannya mengakomodir pendapat insan perfilman yang hanya merupakan segelintir orang dari ratusan juta rakyat Indonesia. Sudah jelas terlihat di sini ada kepentingan sepihak dari insan perfilman akan revisi dari UU ini. Tentu saja kepentingan materi. Kepentingan jual film yang mereka bikin.

Kalau memang ada unsur penghormatan terhadap HAM dalam keputusannya, MK harusnya mempertimbangkan HAM dari ratusan juta juta rakyat Indonesia yang lain, yang juga punya hak untuk menjaga moral anak-anak mereka. Saya jadi bertanya-tanya, apakah hakim-hakim agung di MK tersebut tidak mempunyai kemampuan analisa jangka panjang akan kemungkinan dampak dari keputusannya ini ? Apakah mereka di MK tidak mempunyai kepedulian sedikitpun akan perkembangan moral dan akhlak bangsa, satu atau dua dekade kemudian setelah UU tersebut direvisi dan memberi peluang untuk munculnya adegan-adegan yang tak pantas di sinetron dan film Indonesia ?

Nah, siap-siaplah generasi muda kita menerima akibatnya. Dan siap-siaplah kita melihat adegan ciuman di layar kaca dan layar putih kita sebagai tontonan sehari-hari. Siap-siap jugalah kita menyaksikan anak remaja dan pemuda pemudi kita beradegan cium di tengah umum, seperti yang sekarang sudah terjadi di Amerika sana. Contoh yang buruk dari akhlak yang buruk itu cepat menularnya, bahkan akan bersifat seperti gelindingan bola salju. Kecil pada awalnya dan akan membesar dengan sendirinya secara dahsyat kemudian. Jadilah karena nila setitik, rusak susu sebelanga.