Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 06, 2009

Balita Tembak Pengasuh Gara-gara Terinjak Kakinya

Dampak adegan kekerasan di televisi dan film pada anak di Amerika Serikat ternyata sudah sangat parah. Setelah sering terdengar berita penembakan membabi buta yang dilakukan oleh anak remaja di beberapa sekolah, baru-baru ini juga terjadi penembakan oleh seorang anak balita berumur 4 tahun di Distrik Jackson, Negara Bagian Ohio.


Seorang pengasuh anak, bernama Nathan Beavers (18 tahun) dimasukkan ke rumah sakit (4/1) karena mengalami luka-luka setelah ditembak pada lengan dan sisi tubuhnya dengan senapan jenis shotgun. Diberitakan juga ada seorang remaja lain yang juga terluka.


Menurut keterangan seorang saksi kepada polisi, pelaku penembakan tersebut adalah seorang anak balita laki-laki berumur 4 tahun yang diasuh oleh Beavers. Anak itu marah disebabkan Beavers telah menginjak kakinya ketika berjalan, lalu dia mengambil sebuah shotgun yang berada di kamar kecil dan menembaknya. Pada saat itu Beavers sedang mengawasi anak itu di sebuah rumah mobil di Jackson bersama dengan beberapa anak belasan tahun lain yang juga sedang mengawasi anak-anak yang lain.


Sherif Distrik Jackson, John Shashteen mengatakan bahwa pihak kepolisan sedang menyelidiki kasus itu. Sementara si anak balita yang melakukan penembakan sudah tidak marah lagi.


Kepada anda yang memiliki anak kecil, hendaknya berhati-hati dengan acara televisi tertentu yang mengumbar kekerasan – apalagi anda yang menyukai film laga – khususnya adegan menggunakan senjata tajam dan adegan perkelahian dengan mencekik dan membanting.


Selain itu simpanlah dengan baik keping vcd atau dvd film laga anda, jangan sampai anak-anak ikut menontonnya. Begitu juga dengan peralatan-peralatan anda yang berbahaya apabila dipergunakan oleh anak-anak seperti pisau dan senjata tajam lainnya. Jangan sampai anak anda meniru adegan berbahaya di film tersebut dan melakukannya pada temannya sambil bermain-main dan berakibat fatal



Sumber : http://www.foxnews.com/story/0,2933,476525,00.html

Minggu, Desember 14, 2008

Film “Lastri”-nya Erros Djarot Diaborsi Sebelum Lahir


Perjalanan sebuah bangsa pada umumnya sudah melalui lorong waktu sejarah yang cukup panjang. Begitu banyak peristiwa buruk tercatat di benak pelaku sejarah. Kemudian pengalaman itu disampaikan kepada generasi sesudahnya, dan sesudahnya, terus berlanjut sehingga menjadi sebuah traumatik yang diwariskan.


Kita tidak mungkin mendustakan cerita pengalaman para pelaku sejarah di negeri ini, khususnya pelaku sejarah pasca kemerdekaan sampai akhir tahun 1967. Apabila secara kebetulan di masa itu mereka adalah seorang anggota partai Islam, pasti cerita traumatik mereka adalah berupa ketakutan dengan tindakan anggota partai komunis dengan antek-anteknya yang membabi buta membantai mereka pada waktu itu. Demikian juga sebaliknya bila mereka adalah anggota partai yang merupakan underbow-nya Partai Komunis Indonesia, maka cerita mereka adalah tragisnya penderitaan mereka di-screening, ditahan, disiksa, dan kemudian dianaktirikan dari kehidupan berbangsa dan bernegara di kemudian hari hingga anak-cucu.


Cerita itu kemudian hendak diangkat oleh Erros Djarot – Ketua Partai PNBK – menjadi sebuah cerita film berjudul Lastri. Cerita yang diilhami oleh pengalaman seseorang ini ditambah beberapa literatur sejarah, kemudian disinyalir oleh sekelompok orang sebagai “berbau komunis” dan harus ditolak kehadirannya.


Saya tidak berpihak kepada pelaku sejarah yang anti komunis maupun yang pernah komunis – atau setidaknya tertuduh sebagai komunis. Saya hanya melihat 2 hal: pertama, ketakutan kepada “monster” yang berada di balik Lastri telah membuatnya diaborsi sebelum lahir. Dan kedua, apakah bung Erros ingin mengungkapkan fakta sejarah sekaligus juga menunjukkan isi perut ideologi partainya?

Sabtu, Oktober 25, 2008

Adegan-adegan Tidak Masuk Akal Film Hollywood


Sebuah film dibuat dengan maksud memberikan gambaran visual dari ide dan kreatifitas berpikir para pembuatnya. Adegan-adegan di dalam film dibuat sedemikian rupa sehingga mampu menggambarkan ide-ide kreatif tersebut dan kesan serta pesan yang tersembunyi di balik setiap adegan akan mampu diterjemahkan kembali di dalam pengertian penontonnya. Ribet? Abaikan saja.



Berikut ini adalah adegan-adegan di dalam beberapa film yang dibikin oleh sineas Hollywood yang dibikin terlalu berlebihan, sehingga tidak masuk akal. Selain itu di dalam kehidupan nyata hal tersebut hampir tidak pernah terjadi, padahal adegan itu menggambarkan kejadian sehari-hari.



1. Minum obat – berbentuk tablet atau kapsul – dalam jumlah banyak dan diminum dengan minuman keras atau minuman bersoda


Adegan ini selain tidak masuk akal juga bisa berbahaya apabila ditiru oleh penonton yang tidak mengerti bahwa adegan itu adalah bohong belaka. Bagaimana mungkin seorang yang digambarkan banyak pikiran, stress atau sakit kepala, tiba-tiba membuka botol obatnya dan menuangkan hampir setengah isi botol itu ke telapak tangannya. Lalu mengambil sekaleng bir atau sebotol wiskey, memasukkan butir-butiran obat yang ada di telapak tangannya tadi ke dalam mulutnya – semuanya! – lalu menelannya dengan bantuan minuman keras!

Begitu saktikah orang Amerika?



2. Muntah dengan memasukkan kepala di lobang toilet bukan di westapel


Adegan ini adalah salah satu adegan yang menjijikan yang pernah saya lihat di film Barat. Seseorang yang merasa mau muntah, mungkin karena minuman keras, langsung memasukkan separuh kepalanya ke dalam dudukan toilet dan muntah di sana. Padahal hanya satu meter dari tempatnya berdiri terdapat westafel.


Saya yakin hanya sedikit orang Amerika yang melakukan hal itu. Tapi adegan ini sering sekali terdapat di dalam film Hollywood.



3. Merobek uang 100 dollar


Adegan merobek uang 100 Dollar dan menyerahkan yang separuh itu sebagai alat pembayaran adalah hal yang sangat tidak masuk akal, karena uang itu tidak akan laku. Memang bisa ditukarkan di bank sentral sebagai uang yang rusak, dengan ketentuan ¾ rusak tidak akan berlaku. Namun adegan ini memang mulai jarang di film-film Amerika akhir-akhir ini.



4. Menyalakan geretan dengan sepatu


Adegan menyalakan geretan atau batang korek api ke sepatu atau ikat pinggang adalah adegan film Amerika era western atau film-film cowboy. Sekarang masih ada beberapa tapi dengan menggeretnya ke kosen pintu, jendela atau dinding.


Apabila keadaan benda tempat menggesek sangat panas mungkin saja hal ini terjadi, tapi pada dasarnya apabila tidak bertemu dengan bahan belerang, kepala korek api tidak akan menyala.



5. Kejar mengejar antara mobil dengan orang yang berlari


Sampai saat ini masih banyak film Hollywood yang menampilkan adegan orang berlari dikejar oleh orang yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi atau tampak berkecepatan tinggi. Anehnya orang yang berlari itu tidak terkejar oleh orang yang menaiki mobil, sampai dia berhasil lolos.



6. Besembunyi di dalam bagasi mobil yang tertutup rapat


Adegan bersembunyi di dalam bagasi mobil sejenis sedan yang tidak ada lorong tembus ke dalam bagian dalam mobil adalah adegan yang mustahil. Apalagi dalam kondisi udara luar sangat terik, karena hampir bisa dipastikan orang yang bersembunyi di dalam bagasi mobil yang tertutup rapat, sedikit udara di dalamnya akan pinsan atau mati lemas.


Adegan ini dalam beberapa film diperbaiki dengan cara orang yang masuk ke dalam bagasi mengganjal pintu bagasi dengan sesuatu sehingga tidak tertutup rapat.



7. Membuka kunci pintu dengan sebilah kawat.


Dalam film aksi dimana seorang anggota polisi atau detektif membuka kamar atau rumah seorang tersangka dengan jalan menggunakan sebilah kawat kecil. Yang lebih aneh lagi adalah membuka borgol dengan hanya menggunakan paper klip. Teknik aneh ini sudah dicek ke anggota polisi dan tukang ahli kunci adalah suatu kemustahilan.



8. Tembak-menembak seru yang dilakukan banyak orang


Adegan tembak menembak di dalam film aksi atau laga, dimana beberapa orang terlibat adegan tembak-menembak yang seru, peluru berdesingan di udara dan orang-orang itu berlarian ke sana kemari, namun si pahlawan kita tidak terkena peluru, yang nyasar sekalipun.



9. Mendobrak pintu dengan tendangan atau bahu


Mendobrak pintu yang normal pada umumnya dengan sekali tendang atau sekali terjang dengan kekuatan bahu adalah kebohongan besar. Dengan tenaga terkuat sekalipun yang dikeluarkan oleh kita dijamin hanya tulang bahu kita bisa lepas atau patah, atau paling sedikit kulit lecet atau lebam dan pintu pasti tidak akan terbuka.



10. Mengendarai mobil berkecepatan tinggi di malam hari dengan berkacamata hitam.


Pernahkah Anda mencobanya sendiri? Adegan ini sangat tidak masuk akal, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, di tengah lalu lintas padat dengan lihainya berzikzak sedangkan pengemudinya berkacamata hitam pekat!(Anw)


Wikimuers mungkin memiliki catatan lain mengenai adegan tidak masuk akal dari sebuah film Hollywood. Bagaimana dengan film atau sinetron Indonesia ?

(Film mempunyai banyak kebohongan karena penontonnya menyukai hal itu – Anwariansyah).

Senin, September 01, 2008

Karena Ciuman Setitik, Rusak Moral Bangsa Sebelanga

Pernah dimuat di Wikimu pada Kanal Opini, Minggu 04-05-2008 09:24:34

Ini kan cuma chick to chick, bukan lip to lip, begitu komentar Tukul Arwana berkilah ketika penonton menyorakinya setelah melakukan cipika-cipiki (istilah Tukul Arwana untuk cium pipi kanan dan kiri) dengan bintang tamunya di acara Empat Mata, salah satu acara andalan sebuah stasiun televise swasta.

Komentar tukul Arwana bisa jadi terkesan wajar, karena kita juga sering menyaksikan adegan cium pipi kanan dan kiri apabila para pejabat saling bertemu, bahkan mereka saling berpelukan sebagai tanda persahabatan. Eit, nanti dulu. Adegan para pejabat tersebut hanya terjadi antar dua orang yang berjenis kelamin sama, laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Bukan antar dua orang yang berbeda jenis kelamin seperti yang dilakukan Tukul Arwana. Bila Tukul melakukannya sekitar dua dekade lalu, mungkin Tukul bisa disumpahserapahi para penggemarnya. Barangkali kita ingat bahwa Tukul juga sempat menerima protes dari pemirsanya gara-gara dengan enteng cipika-cipiki, bahkan ada sebagian adegan ditambah dengan pelukan terhadap bintang tamunya yang wanita.

Nah, nantinya adegan ciuman bibir (lip to lip) kemungkinan besar akan mudah dijumpai di setiap tayangan sinetron televisi atau di dalam adegan film layar lebar Indonesia. Hal ini akan dimungkinkan setelah berhasilnya Masyarakat Film Indonesia (wadah persatuan insan perfilman) mendapatkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang uji materi UU No.8 Tahun 1992 tentang Perfilman di gedung Mahkamah Konstitusi di Jakarta, Rabu tanggal 30 April kemarin. MK menyatakan UU Perfilman yang berlaku saat ini termasuk ketentuan yang mengatur sensor dan lembaga sensor film sudah tidak sesuai dengan semangat zamannya sehingga sangat mendesak untuk dibentuk Undang-undang Perfilman yang baru yang lebih sesuai dengan semangat demokratisasi dan penghormatan terhadap HAM.

Kita mungkin akan bertanya-tanya semangat demokratisasi yang mana yang dimaksud oleh MK, dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) yang bagaimana yang diinginkan oleh MK. Kalau memang ingin sesuai dengan semangat demokratisasi, bikin saja uji publik dan sosialisasi. Mintalah pendapat publik secara nasional, apa perlu UU Perfilman tersebut diubah. Apa perlu lembaga sensor dihapus. Bukannya mengakomodir pendapat insan perfilman yang hanya merupakan segelintir orang dari ratusan juta rakyat Indonesia. Sudah jelas terlihat di sini ada kepentingan sepihak dari insan perfilman akan revisi dari UU ini. Tentu saja kepentingan materi. Kepentingan jual film yang mereka bikin.

Kalau memang ada unsur penghormatan terhadap HAM dalam keputusannya, MK harusnya mempertimbangkan HAM dari ratusan juta juta rakyat Indonesia yang lain, yang juga punya hak untuk menjaga moral anak-anak mereka. Saya jadi bertanya-tanya, apakah hakim-hakim agung di MK tersebut tidak mempunyai kemampuan analisa jangka panjang akan kemungkinan dampak dari keputusannya ini ? Apakah mereka di MK tidak mempunyai kepedulian sedikitpun akan perkembangan moral dan akhlak bangsa, satu atau dua dekade kemudian setelah UU tersebut direvisi dan memberi peluang untuk munculnya adegan-adegan yang tak pantas di sinetron dan film Indonesia ?

Nah, siap-siaplah generasi muda kita menerima akibatnya. Dan siap-siaplah kita melihat adegan ciuman di layar kaca dan layar putih kita sebagai tontonan sehari-hari. Siap-siap jugalah kita menyaksikan anak remaja dan pemuda pemudi kita beradegan cium di tengah umum, seperti yang sekarang sudah terjadi di Amerika sana. Contoh yang buruk dari akhlak yang buruk itu cepat menularnya, bahkan akan bersifat seperti gelindingan bola salju. Kecil pada awalnya dan akan membesar dengan sendirinya secara dahsyat kemudian. Jadilah karena nila setitik, rusak susu sebelanga.