Tampilkan postingan dengan label Perang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Januari 24, 2009

Israel, Negara Penjahat Perang



Argumentasi bahwa serangan yang dilakukan rezim Israel atas Gaza dilakukan semata-mata untuk bertahan dari serangan Hamas – yang merusak masa enam bulan gencatan senjata – telah banyak mendapatkan penentangan, tidak hanya oleh para peninjau yang mengetahui seluk-beluk permasalahan seperti Jimmy Carter (mantan presiden AS) yang membantu jalannya gencatan senjata, tetapi juga oleh kelompok riset intilijen pusat hak-hak asasi Israel sendiri.


Pusat Informasi Intelijen dan Terorisme, pada 31 Desember memberikan laporan dengan judul "Laporan Intelijen atas Enam Bulan Kesepakatan Diam-diam" yang menetapkan bahwa gencatan senjata 19 Juni hanya "dilanggar secara sporadis, dan bukan oleh Hamas tapi oleh organisasi-organisasi teroris penjahat".


Sebagai balasannya, Israel membunuh enam anggota Hamas pada 4 Nopember tanpa provokasi dan lalu menempatkan seluruh pasukan yang melakukan lebih dari satu pengepungan yang intensive di hari berikutnya.


Sesuai dengan hasil riset dari kerjasama Universitas Tel Aviv dan Universitas Eropa, hal ini sebagai contoh kekerasan Israel yang bertanggung jawab atas berakhirnya 79 persen keseluruhan masa tenang sejak berlangsungnya intifada yang kedua. Bandingkan dengan hanya 8 persen yang disebabkan peran Hamas dan fraksi-fraksi Palestina lainnya. Departemen Luar Negeri Israel tampaknya menyadari bahwa argumentasi ini telah menurunkan kredibilitas pemerintahannya.


Selama konferensi yang mempertemukan setengah lusin para profesor yang pro-Israel pada Hari Kamis, Asaf Shariv, Konsulat Jenderal Israel di New York, lebih memfokuskan akan pentingnya penghancuran sistem terowongan yang kompleks yang menghubungkan Gaza dengan Sinai.


Ia mengklaim bahwa terowongan-terowongan itu adalah “sebesar terowongan-terowongan Holland dan Lincoln," dan menunjukkan bukti berupa "fakta" bahwa singa-singa dan monyet-monyet telah diselundupkan melalui terowongan-terowongan itu ke sebuah kebun binatang di Gaza. Padahal dalam kenyataannya, yang dimaksud singa-singa itu hanyalah dua ekor anak singa yang sedang dalam pengobatan, dimasukkan ke dalam kantung, dan dibawa melalui sebuah terowongan menuju ke kebun binatang pribadi.


Citra diri Israel di mata dunia


Dengan setiap keluarga yang terkubur di bawah puing bangunan di Gaza, klaim bahwa pasukan Israeli sudah menghentikan tindakannya untuk mengurangi korban-korban sipil – gambaran yang diperluas oleh pusat perdamaian Israel sebagai suatu demokrasi moral dan pencerahan – adalah suatu ungkapan yang menyakitkan perasaan.


Siapapun dengan koneksi internet dapat menemukan di Google: Gaza humanitarian catastrophe (bencana kemanusiaan di Gaza), atau UN’s Office for the Coordination of Humanitarian Affairs in the Occupied Territories (Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di wilayah pendudukan), membaca ribuan halaman dari bukti dokumentasi berupa kenyataan pertempuran yang sedang berlangsung, atau pengepungan jangka panjang atas Gaza yang sudah berlangsung lama.


Palang Merah dengan kritis mengungkapkan keengganannya untuk menempatkan sukarelawan ke daerah konflik, dan dengan tajam mengkritisi Israel yang mencegah personil medis untuk membantu rakyat Palestinina yang terluka, sampai terjebak selama berhari-hari, pelan-pelan kelaparan dan sekarat di dalam puing-puing di Gaza, di tengah-tengah keluarga mereka yang mati.


Sementara itu, PBB telah menolak pengakuan Israel bahwa pejuang-pejuang Palestina menggunakan sekolah UNRWA sebagai tempat berlindung – yang kemudian dibomnya pada 6 Januari lalu dan telah menewaskan 40 warga sipil – dan menantang Israel untuk membuktikan dengan cara lain.


Jalan menuju tuntutan kejahatan perang


Di dalam peninjauan ulang statemen-statemen dari perencana militer Israeli sebelum invasi dilakukan, sudah jelas bahwa pihak Israel sudah memperhitungkan dengan cermat penyerangan-penyerangan atas infrastruktur sipil di Gaza beserta warga sipilnya.


Kutipan berikut adalah hasil wawancara dengan Major-General Gadi Eisenkot yang ditampilkan dalam harian Israel Yedioth Ahronoth pada Bulan Oktober, yang mengatakan:


"Kita akan menggunakan kekuatan yang lebih dahsyat melawan setiap desa yang menembaki Israel untuk menyebabkan kerusakan dan kehancuran tak terukur. Dari sudut pandang kami desa-desa mereka adalah basis militer," katanya.


"Ini bukan saran. Ini adalah sebuah rencana yang telah diotorisasi."


Menyebabkan "kerusakan dan kehancuran tak terukur" dan menganggap seluruh desa sebagai "basis militer" adalah mutlak dilarang di dalam hukum internasional.


Uraian Eisenkot atas rencana yang jelas diungkapkan di Gaza adalah jalan yang jelas akan adanya konspirasi yang bertujuan untuk melakukan kejahatan-kejahatan perang, dan yang terkesan dari komentar-komentar di atas, dan banyak yang lain, maka argumentasi dari pihak Israel bahwa mereka sudah mencoba untuk melindungi warga sipil dan tidak menggunakan kekuatan luar biasa yang tidak sebanding, ternyata tidak benar.


Pelanggaran Hukum internasional


Pada dasarnya, sejumlah data dan fakta membuktikan bahwa Israel telah secara sistematis melanggar sejumlah hukum internasional, termasuk di antaranya Artikel 56 dari Konvensi Hague ke-4 tahun 1907, Protokol Tambahan Pertama dari Konvensi Genewa, Konvensi Genewa Ke-4 (Secara spesifik dikenal dengan "Konvensi Genewa yang berhubungan dengan Perlindungan Orang-orang Sipil di Masa Perang pada 12 Agustus 1949), Konvensi Internasional atas Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, dan prinsip-prinsip Hukum Kemanusiaan International Umumnya.


Tidak satu pun dari hukum-hukum ini memaafkan atau melegitimasi tembakan roket-roket atau mortir terhadap warga sipil dan target bukan militer oleh tentara Israel terhadap warga dan infrastruktur di Gaza.


Richard Falk, reporter khusus untuk PBB, mengatakan di dalam pernyataan terbarunya tentang Gaza: "Haruslah ditunjukkan secara jelas bahwa tidak benar secara hukum dan moral melakukan penembak roket pada target-target sipil, dan perilaku seperti itu adalah suatu pelanggaran IHR, yang berhubungan dengan hak untuk hidup, dan dapat digolongkan sebagai suatu kejahatan perang."


Tim Amnesti Internasional yang diutus secara khusus ke Jalur Gaza sejak Sabtu (18/1) untuk menyelidiki lebih jauh permasalahan kemanusiaan dan pelanggaran yang dilakukan Israel saat menginvasi Gaza sepanjang hampir dua puluh empat hari itu mulai menghasilkan.



Situs berita Aljazeera (20/1) mengabarkan jika tim yang beranggotakan empat orang itu berhasil menghimpun data-data yang menegaskan jika Israel telah melanggar undang-undang internasional, kemanusiaan, serta berbagai kesepakatan perdamaian internasional.





Selama invasi Gaza, Israel terbukti menggunakan senjata yang dilarang penggunaannya, salah satunya adalah bom posphor putih jenis terbaru yang mematikan dan mampu melelehkan kulit tulang manusia.




Selain itu, Israel juga terbukti banyak membunuh rakyat sipil secara brutal, yang kebanyakan di antara mereka adalah anak-anak, wanita, dan para lanjut usia, disamping menghancurkan gedung-gedung sipil semisal sekolah, rumah sakit, kantor-kantor administrasi dan lain-lain.




Christopher C Smith, ahli senjata yang juga salah satu anggota tim amnesti menjelaskan bahwa pada penyelidikannya di jalan-jalan Gaza yang hancur akibat serangan Israel ditemukan beberapa bukti-bukti nyata jika Israel menggunakan senjata yang dilarang penggunaannya.

Minggu, Januari 18, 2009

Blog “From Gaza With Love”, Berita Memilukan dari Gaza


Dia bernama Dr. Mona El-Farra, seorang wanita berumur 54 tahun yang bertugas sebagai dokter dan juga aktivis HAM dan perempuan di Jalur Gaza. Di blog miliknya “From Gaza With Love” dengan alamat http://fromgaza.blogspot.com/, dia menulis banyak tulisan yang memberikan informasi singkat situasi dan kondisi di Jalur Gaza sejak serangan-serangan dilancarkan rezim Israel.


Terdapat dua posting dengan judul Gaza Update, satu bertanggal 4 Januari dan terakhir bertanggal 8 Januari, seperti di tulis salinan terjemahannya di bawah ini. Hingga saat ini belum ada posting baru yang diterbitkan. Tidak tahu apakah Mona El-Farra sedang sibuk bertugas menolong para korban yang luka-luka atau apakah dia sendiri masih hidup atau tidak, tidak dapat diketahui.


Kamis, 08 Januari 2009


Gaza Update


8 Januari - Hari ke-13 Serangan Israel terhadap Gaza


720 orang dibunuh

termasuk :-

215 orang anak-anak

89 orang wanita

12 orang pekerja P3K


lebih dari 3.000 orang terluka dan banyak dengan luka-luka serius


11 buah ambulan diserang dan dihancurkan ketika sedang dipergunakan


para pekerja kesehatan tidak diizinkan mengevakuasi banyak orang yang terluka, di dalam banyak kesempatan tim medis menjumpai sejenis bahan yang membakar, ada kemungkinan Israel menggunakan fosfor putih terhadap orang sipil, PENYELIDIKAN DIPERLUKAN SEKALI WAKTU.


tim kesehatan di Gaza perlu dibantu, karena terus terjadi peningkatan jumlah korban, ketiadaan persediaan bahan makanan dan obat-obatan serta listrik,


bayi-bayi yang baru dilahirkan di rumah sakit berada di bawah ancaman besar, karena turun naik tenaga listrik di dalam unit-unit khusus perawatan bayi SCBU


43 orang dibunuh di salah satu sekolah PBB, ketika mereka melarikan diri ke dalam sekolah tersebut ketika rumah-rumah mereka di bombardir atau dihancurkan, PBB meminta penyelidikan segera dan menolak pengakuan Israel mengenai kehadiran orang bersenjata Hamas di dalam sekolah tersebut


Ketiadaan listrik di Gaza


80% wilayah tidak memiliki air, disebabkan kehancuran infra struktur, disebabkan serangan bom-bom


70% jaringan telekomunikasi dihancurkan juga


Kemarin tentara Israel mengizinkan 3 jam gencatan senjata, sehingga warga sipil dapat keluar untuk mendapatkan persediaan makanan, tapi tidak ada cukup roti, sayur-mayur, daging, berbagai barang kebutuhan lainnya dan tidak ada uang tunai di tangan penduduk, dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal!


ribuan para warga Rafah pada saat yang sama tidak mempunyai rumah, telah diungsikan, dan rumah-rumah mereka dirobohkan di perbatasan bagian selatan Rafah.


saya sedang mengadakan kontak secara tidak langsung dengan rekan-rekan dokterku di Gaza, tetapi mungkin saya akan kehilangan kontak ini segera, ketika sarana komunikasi semakin terbatas, dan ini akan menjurus kepada tragedi kematian yang nyata pada tingkat evakuasi korban.


BERDOALAH UNTUK KAMI, ini adalah pesan umum yang sering saya terima dari rekan-rekan, tetangga dan keluarga di Gaza


terimakasih kepada kalian semua atas solidaritas, persahabatan, dan perhatian yang luar biasa.


Diposting oleh Mona_Elfarra pada pukul 08:15 pagi.

Yahudi Sekarang Bukan Keturunan Abraham



Klaim kepemilikan atas tanah Palestina oleh bangsa Yahudi berdasarkan berita kitab suci Taurat dan Talmud adalah merupakan klaim sepihak dengan tidak melihat garis keturunan mereka. Bangsa Yahudi yang berdatangan dari negara-negara di Eropa Timur, Jerman, Belanda, Spanyol, Portugal, Timur Tengah dan Asia Tengah ke tanah Palestina setelah Perang Dunia II secara genealogi bukanlah keturunan Abraham atau Nabi Ibrahim As. yang mempunyai anak bernama Ishak As. dan kemudian mempunyai anak Yaqub As (Israil) yang menurunkan bangsa bani Israil (anak-anak Israil/Yaqub).


Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah tim arkeologi Rusia yang pada tanggal 30 Juli 2005 melakukan penggalian arkeologi dari abad ke-11 dan 12 berupa bangunan pondok yang dibuat dari batu bata dibakar di Itil, kota Silk Road, yang dulunya merupakan ibu kota Khazar, dekat Astrakha sekitar 800 mil (1280 km) sebelah selatan Moscow, Khazar didirikan sebagai negara feodal pertama di Eropa timur.


Menurut e-mail Kevin Brook, seorang pengarang Amerika dengan buku berjudul “Yahudi dan Khazaria” yang melaporkan bahwa ia sudah mengikuti penggalian di kota Itil menggali selama bertahun-tahun, namun demikian penggalian itu tidak ada menemukan sedikitpun artefak-artefak Yahudi, "Sekarang aku yakin seperti juga seluruh tim arkeologis lainnya bahwa mereka sudah benar-benar menemukan kota yang sudah sangat lama hilang."


Dmitry Vasilyev, seorang pakar arkeologi Rusia yang juga professor dari Astrakhan State University, mengatakan bahwa dia sudah menemukan ibukota kerajaan Khazar yang hilang, sebuah negara kuat di abad pertengahan yang kekuasaannya meliputi pantai-pantai utara dari Laut Hitam hingga Asia Tengah dan para pemimpinnya mengadopsi Judaisme (agama Yahudi) sebagai agama negara. Bangsa Khazar adalah bangsa yang tangguh yang mengadopsi agama Judaisme (agama Yahudi) sebagai agama resmi negara lebih dari 1.000 tahun yang lalu, hanya untuk menghilangkan jejak kecil yang ditinggalkan oleh kebudayaannya.


Khazar adalah anak suku dari bangsa Turkic yang menjelajahi padang rumput dari China Utara ke Laut Hitam. Di antara abad ke-7 dan 10 mereka menaklukkan wilayah luas yang meliputi selatan Rusia dan Ukraine sekarang, termasuk pegunungan Caucasus hingga Asia Tengah sampai Laut Aral.


Dinasti dan kebangsawanan para Khazar itu yang kemudian dikonversi menjadi Judaisme di abad ke-8 atau 9. Vasilyev berkata jumlah yang terbatas dari artifak keagamaan Yahudi seperti mezuzas dan Bintang Daud yang ditemukan pada lokasi-lokasi Khazar yang lain membuktikan bahwa orang-orang Khazars pada umumnya atau rakyat jelatanya lebih menyukai kepercayaan-kepercayaan tradisional seperti shamanism, atau agama-agama yang baru diperkenalkan termasuk Islam.


Yevgeny Satanovsky, direktur Middle Eastern Institute (Institut Timur Tengah) di Moscow percaya bahwa kalangan elite dari kerajaan Khazar memilih Judaisme di luar kerangka politis - untuk tetap tidak terikat dengan negara Muslim dan Kristen yang menjadi tetangganya. Mereka memeluk Judaisme karena mereka ingin tetap netral, seperti Switzerland sekarang ini.


Secara khusus orang-orang Khazar menentang perpindahan bangsa Arab ke pegunungan Caucasus dan berperan sebagai penolong bagi bangsa Eropa atas desakan Muslim dari timur. Ia membandingkan peran bangsa Khazar di Eropa timur seperti para bangsawan Prancis yang mengalahkan tentara Arab di peperangan Tours di Prancis tahun 732.


Khazars berhasil membendung serbuan Arab, tapi kemudian dalam perluasan negara, Rusia berhasil menaklukkan kerajaan Khazar di akhir abad ke-10. Syair-syair kepahlawanan (epik) bangsa Rusia di abad pertengahan menyebutkan perihal perkelahian para pejuang Rusia dengan para "Raksasa Yahudi."


Dilihat dari segi etnik, Yahudi Ashkenazi adalah satu jalur keluarga yang dapat ditelusuri sampai kepada Bangsa Yahudi dari Eropa Tengah dan Timur. Untuk perkiraan kasar selama seribu tahun, Ashkenazim itu adalah sebuah populasi reproduktif yang diasingkan di Eropa, meskipun tinggal di banyak negara, dengan sedikit arus migrasi masuk dan keluar, konversi, atau perkawinan campuran dengan golongan lain, termasuk Yahudi yang lain. Pakar genetik manusia sudah mengenali variasi genetik di mana terdapat frekwensi yang tinggi di antara Yahudi Ashkenazi, tetapi bukan di dalam populasi orang Eropa pada umumnya.


Suatu studi oleh Mikhael Seldin, seorang pakar genetika dari Sekolah Kedokteran Davis, Universitas California, menemukan dengan jelas bahwa Yahudi Ashkenazi merupakan subgrup genetik homogen yang relatif. Yang menarik, dengan mengabaikan tempat dari asal-muasalnya, Yahudi Ashkenazi dapat dikelompokkan di dalam kelompok genetik yang sama - dengan mengabaikan apakah seorang nenek moyang Yahudi Ashkenazi datang dari Polandia, Rusia, Hungaria, Lituania, atau tempat lain di manapun dengan suatu populasi historis Yahudi, mereka termasuk ke dalam kelompok etnik yang sama.


Dari perkiraan 88 juta orang Yahudi yang tinggal di Eropa pada awal Perang Dunia II, mayoritas terdiri dari Yahudi Ashkenazi, sekitar 6 juta – atau lebih dari dua pertiga – yang secara sistematis dibunuh di dalam Holocaust. Ini termasuk 3 juta dari 3,3 juta Yahudi di Polandia (91%), 900.000 dari 11 juta Yahudi di Ukraine (82%) dan 50-90% dari Bangsa Yahudi di negara-negara Slavic lainnya, Jerman, Prancis, Hungaria, dan negara-negara Baltic. Komunitas Yahudi Sephardi (berasal dari Spanyol dan Portugal) menderita karena mengalami pemusnahan yang serupa di beberapa negara, termasuk Yunani, Belanda dan Yugoslavia. Banyak dari Yahudi Ashkenazi yang menyelamatkan diri dengan berpindah ke luar negeri seperti Israel (tanah Palestina), Australia, dan Amerika Serikat setelah peperangan.


Dewasa ini, Yahudi Ashkenazi melembagakan diri sebagai kelompok yang paling besar di antara Yahudi, tetapi merupakan minoritas kecil dari Yahudi Israel (lihat Demographics dari Israel). Bagaimanapun, mereka sudah memainkan suatu peran yang terkemuka di dalam ekonomi, media, dan politik di Israel karena perannya dalam pendirian negara Israel. Ketegangan-ketegangan kadang-kadang muncul di antara Yahudi yang tradisional dari Timur Tengah (Sephardim dan Mizrahim) dan kelompok Yahudi

Ashkenazim dari Eropa yang mendirikan negara Israel. Kemudian imigran dari kelompok non ashkenazi yang datang belakangan kadang-kadang mengakui bahwa mereka mengalami diskriminasi di bidang pendidikan, kesempatan kerja atau penghasilan, perumahan dan di bidang-bidang lainnya.


Jadi para pendiri negara Israel sebagai negara Zionis yang modern bukanlah Semitic keturunan dari Abraham, Ishak dan Yakub akan tetapi adalah kelompok etnik dari Eropa bagian Timur yang mengkonversi diri mereka menjadi Judaisme di Abad Pertengahan. Mereka ini - yang terlibat dalam pembentukan negara Zionis Israel – ternyata tidak pernah tinggal di Palestina sebelum mereka datang di tahun 1947, jadi tidak berhak mengakui tanah Palestina sebagai warisan leluhurnya. Orang Arab Palestina, Yahudi dan orang-orang Kristen yang merupakan penduduk asli di Palestina telah hidup tenang bersama-sama untuk selama berabad-abad sebelum akhirnya bangsa Yahudi Ashkenazim dari Eropa mengambil alih Palestina atas mandat PBB di tahun 1947.

Isu Hangat: RI Diseru Membentuk Koalisi Melawan Israel

Setelah bergabung dengan beberapa negara bersama-sama mengecam serangan-serangan Israel atas target-target Hamas dan rakyat sipil Palestina di Jalur Gaza, Indonesia sedang dihimbau untuk memulai sebuah "koalisi suka rela" untuk memaksa negara Yahudi itu meninggalkan Palestina.


Berikut beberapa komentar yang dilansir oleh The Jakarta Post (17/01/2009) dari forum pembaca:


Saya mempunyai sebuah gagasan - bagaimana dengan pemboikotan setiap komputer yang menggunakan prosesor Intel. Intel mempunyai riset yang besar dan memproduksi fasilitas-fasilitas di Israel yang berharga milyaran dolar.


Marilah kita menghimbau orang-orang untuk hanya membeli komputer-komputer dengan AMD atau prosesor-prosesor lain, atau meminta pabrik-pabrik komputer untuk menggunakan prosesor yang lain saja. Profit Intel yang sangat besar (US$5 milyar per tahun) berasal dari praktek-praktek monopoli yang mematikan semua pesaingnya dan menguntungkan Israel.


TONY


Kenapa anda tidak menyiapkan koalisi lain untuk permasalahan di Somalia? Ada banyak dari wilayah-wilayah konflik lain di mana Muslims dilibatkan di dalamnya -siapkan sebuah koalisi bagi mereka juga.


PETER LINK


Saya secara penuh mendukung usaha-usaha Indonesia dalam membentuk sebuah "koalisi suka rela". Indonesia dapat melakukan sebuah tindakan yang lebih baik dibanding negara-negara Arab.


ARGUN


Seperti dilaporkan pada tahun lalu bahwa Bush menolak permohonan Israel untuk menyerang Iran. Itu adalah saat di mana Bush sudah mulai melakukan hal yang benar daripada menyeret rakyat Amerika ke dalam konflik Israel. Rakyat Amerika, khususnya para pengabar Injil, harus sadar bahwa ada orang-orang di dalam gerakan neo-konservatif yang menempatkan kepentingan Israel di atas kepentingan Amerika.


Mereka lebih setia kepada Israel dibanding Amerika. Alkitab tidak pernah menyatakan adanya kewajiban orang-orang Kristen untuk mempertahankan Israel. Tempat-tempat suci bagi umat Kristen di Yerusalem selalu terhormat di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam Turki, sebelum negara Israel berdiri.


Kepada semua pengabar Injil – jangan pernah percaya propaganda yang menyebutkan konflik di Israel adalah antara Islam dan Kristen. Di sana ada bangsa Palestina yang Muslim dan Kristen bersama-sama berperang melawan Israel. Popular Front for the Liberation of Palestine (Rakyat di Garis Depan untuk Kebebasan Palestina atau PFLP) dipimpin oleh George Habash seorang Kristen Palestina.


BRAD


Saya membaca artikel - adalah menggelikan kalau Indonesia perlu bergabung dengan setiap diplomatik atau embargo militer melawan sebuah negara yang secara teknis tidak dikenali. Itu akan seperti sebuah koalisi melawan Sinterklas. Saya tahu dia tidak ada, tetapi kita bisa memeranginya bagaimanapun caranya. Barangkali anda bisa bergabung denganku dalam perkelahian itu juga – karena ia tidak membawa hadiah yang saya inginkan tahun ini.


Indonesia, saya setuju, perasaan lalai dengan apa yang terjadi di Gaza dan Lebanon. Apa yang anda tidak sadari adalah sebuah negara tidak bisa mendikte politik luar negeri berdasarkan alasan-alasan keagamaan. Untuk mengatakan bahwa kita mendukung suatu negara secara sepihak hanya karena mereka adalah Muslim adalah suatu kesalahan yang serius dalam penilaian saya.


Jika Hitler adalah seorang Muslim, apakah anda akan mendukungnya? Saya tidak akan begitu. Sungguh, perang salib yang terjadi di waktu yang lampau, menyimpulkannya. Kedua belah pihak kehilangan Yerusalem. Solusi itu untuk Gaza adalah sederhana: Bikin perbatasan dan masing-masing pihak membangun sebuah tembok yang besar, tanpa ada kelebihan untuk rumah dan pekarangan orang Israel atau tanah pertaniannya.


ROD


Sydney


Seruan ini hanya tinggal sebuah seruan apabila pemerintah RI tidak menindaklanjutinya. Bagaimana pendapat anda sendiri mengenai seruan ini?

Sabtu, Januari 17, 2009

2 Penyebab Utama Konflik Palestina – Israel Tak Pernah Berakhir


Konflik Palestina – Israel yang berlangsung sejak tahun 1948 hingga kini seperti tidak akan pernah bisa diakhiri. Penyerangan-penyerangan di antara kedua belah pihak selalu akan terjadi. Pihak Israel beralasan mempertahankan diri dari serangan pejuang Palestina dan tentara Hamas, sedang pihak Palestina mengadakan perlawanan karena merasa wilayahnya semakin menyempit direbut rezim zionis dengan pendudukan bersenjata maupun mendirikan pemukiman-pemukiman yahudi dengan cara merampas tanah rakyat Palestina.


Masyarakat dunia khususnya negara-negara Arab yang semula memihak bangsa Palestina dan berperang dengan Israel untuk membela hak-hak bangsa Palestina yang dijajah, akhirnya lebih banyak berdiam diri. Terutama sejak berdirinya negara Palestina secara resmi pada tanggal 15 Nopember 1988, dukungan negara Arab semakin melemah terhadap perjuangan bangsa Palestina menghadapi rezim zionis yang didukung mutlak oleh Amerika Serikat (AS). Sepertinya negara-negara Arab melihat Palestina bukan lagi sebagai bangsa yang lemah yang harus didukung sepenuhnya oleh sesama bangsa Arab, tapi sudah sebagai negara yang berdaulat dan mempunyai kekuatan sendiri. Atau karena ada kepentingan politik dan ekonomi sehingga rasa persaudaraan kearaban dan keislaman di antara bangsa-bangsa arab meluntur.


Kebingungan kaum Muslimin dan masyarakat dunia akan nasib rakyat Palestina selanjutnya dan kapan konflik mereka dengan pemerintah Israel akan berakhir adalah pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban memilukan. Kalau dilihat dari sepak terjang rezim zionis, maka jawabannya adalah sampai seluruh tanah Palestina habis dikuasai oleh mereka dan sebagian bangsa Palestina yang tersisa mau menjadi rakyat jajahan, bangsa kelas dua atau bahkan menjadi budak. Sedangkan bila dilihat dari semangat perjuangan bangsa Palestina melawan rezim zionis, maka jawabannya adalah sampai titik darah penghabisan dari para pejuang, mujahid mereka yang membela tanah air dan keberadaan mereka sebagai bangsa merdeka dan berdaulat di tanah sendiri.


Apabila diringkas ada dua penyebab terkatung-katungnya penyelesaian konflik antara Palestina dan Israel, yakni:


1. Perbedaan yang menonjol dan prinsip berupa pengakuan akan keberadaan kedua negara dan bangsa tersebut di mata mereka sendiri khususnya, dan di mata negara-negara lain di dunia termasuk Amerika Serikat yang sampai saat ini masih berpihak kepada pemerintah Israel.


2. Kedudukan kota Jerusalem dengan mesjid Alaqsanya sebagai tempat ibadah dan bersejarah bagi kedua bangsa yang secara umum berbeda agama tersebut.


Dunia arab dan dunia Islam memandang bangsa Palestina adalah pemilik sah tanah air mereka. Sedangkan bangsa Yahudi adalah bangsa yang tidak memiliki tanah air dan menolak serta keluar dari tanah perjanjian (Holy Land) yang dijanjikan Tuhan sesuai dengan berita di kitab suci.


Kedaulatan bangsa Palestina dengan berdirinya negara Palestina merdeka yang diproklamirkan di Aljazair ternyata tidak sepenuhnya diakui oleh Israel. IsraelJerusalem dan Gaza sebagai bagian dari tanah perjanjian menganggap seperti yang disebutkan di dalam kitab suci mereka, yang masih dikuasai oleh bangsa Palestina. Inilah alasan kenapa bangsa Yahudi dengan semangat zionismenya lebih memilih tanah Palestina sebagai tempat untuk mendirikan negara.


Amerika Serikat sendiri masih menerapkan standar ganda dalam hal ini. Sebagai anggota dewan keamanan PBB mengakui legalitas negara Palestina, namun di sisi lain membantu Israel secara politik, militer dan ekonomi untuk menguasai Palestina.


Dunia arab dan Islam menganggap berdirinya negara Israel adalah bentuk dari pemaksaan atas keberadaan orang-orang Yahudi di tanah Palestina. Bagi bangsa Palestina rezim zionis Israel dan bangsa Yahudinya adalah penjajah yang mendatangi dan ingin merebut tanah air mereka, bukan sebuah negara tetangga yang sedang bertengkar dengan mereka. Bagi para pejuang Palestina peperangan yang mereka lakukan adalah sebuah perjuangan heroik mempertahankan keberadaan tanah air dan bangsanya, persis seperti pejuangan kita memerdekan diri dari penjajah Belanda dan Jepang.


Memang benar perang antara Palestina dan Israel bukan perang agama, tetapi tidak bisa dilepaskan dari sebab-sebab pemikiran keagamaan yang berasal dari kitab suci. Alasan utama mereka berperang adalah memperebutkan tanah air, termasuk juga daerah Jerusalem yang merupakan tempat suci bagi tiga agama samawi di dunia, di mana di sana berdiri mesjid Alaqsa (Alharam alqudsi ashsharif) yang dijadikan tempat ibadah umat Islam atau disebut juga sebagai Bukit Bait Allah (The Temple Mount / Har ha-Bayit) bagi umat Yahudi dan Nasrani. Dan terkenal dengan dinding ratapan (The Western Wall/The Wailing wall/Ha Kotel Ha Ma’aravi) yang terletak di sebelah barat masjid Alaqsa sebagai tempat ibadah umat Yahudi, atau disebut Alburaq Wall oleh kaum Muslimin.


Perhatikan kegiatan pemerintah Israel yang mengadakan pembongkaran dan penggalian di bagian dinding ratapan yang nota bene bagian dari mesjid Alaqsa. Perhatikan juga kata-kata Theodore Herzl (merupakan pengulangan sumpah tua dari para Talmudis) pada pembukaan Konggres Zionis Dunia di Basel, Swiss pada tahun 1897:


"Jika aku melupakanmu, Oh, Yerusalem, maka tangan kananku ini tidak akan bisa melakukan apa pun".

Rabu, Januari 07, 2009

Horor di Gaza, Bibit Kekerasan di Masa Depan


Ada lingkaran setan yang tidak terputus dari sebuah perang. Dendam yang tidak berkesudahan. Seperti tidak pernah berakhirnya pertikaian antara Palestina dan Israel yang merupakan warisan dendam turun-temurun, dari generasi ke generasi.


Seperti cerita Muhammad Abu Hassanin, anak laki-laki Palestina yang masih kecil, tetapi sudah cukup besar untuk mengerti ketakutannya akan serangan-serangan yang sedang dilakukan oleh Israel di Gaza.


“Ketika orang Yahudi membom kami, saat itu kami sedang tidur, Hassanin berkata, ‘Kami jadi takut,’ " kata seorang penerjemah dari TV Hamas.


Tercatat sepertiga dari korban-korban yang dirawat di rumah sakit utama di Gaza adalah anak-anak seperti Hassani, seperti diungkapkan seorang dokter asing. Dan sekarang Hamas dan medianya menjadikan mereka sebagai tampilan akibat serangan-serangan itu.


Anak-anak telah menyaksikan gambaran-gambaran yang mengerikan dari tragedi itu. Ada teman-teman mereka yang terluka atau terbunuh, dan juga tubuh-tubuh berlumuran darah di jalan-jalan. Dan bagi Hassanin gambaran memilukan itu tidak akan pernah dilupakannya. Ia akan menyimpannya dalam pikiran sampai ia cukup dewasa untuk melakukan sesuatu tentang itu.


"Apabila kami sudah cukup besar, kami akan mengebom mereka juga," jelas seorang penerjemah dari CNN mengutip perkataan anak laki-laki itu di Hamas TV.


Seorang dokter jiwa di Gaza berpendapat bahwa perang ini bisa berakibat sebuah masa depan yang menakutkan yang mana anak-anak yang menjadi saksi mata suatu kekerasan akan berkeinginan untuk melakukan hal yang sama di masa depan.


Eyad el Sarraj, seorang ahli psikiatri dari Gaza berkata, "Sekarang ini anak-anak itu sedang mengalami trauma yang serius, dan aku kawatir akan masa depan mereka. Anak-anak intifada yang pertama sedang melemparkan batu-batu ke tentara Israel. Dan disebabkan oleh trauma yang dialaminya, 10 tahun kemudian anak-anak yang sama bisa menjadi pelaku bom bunuh diri."



Bukan hanya bagi anak-anak Palestina, bagi anak-anak Yahudi perang ini juga berdampak yang sama. Ketakutan akan perang yang tidak pernah berakhir, kebencian yang ditanamkan oleh orang tua mereka terhadap bangsa Palestina dan bangsa lain, menjadikan mereka bibit-bibit agresor di masa depan nanti.


Akhirnya kita hanya menjadi saksi sebuah konflik tanpa akhir sampai salah satu atau kedua-duanya lenyap dari muka bumi. Tidak adakah jalan keluar dari semua itu?



http://edition.cnn.com/2009/WORLD/meast/01/05/gaza.children/index.html

Kamis, Januari 01, 2009

Serangan Israel ke Gaza, Penghinaan untuk Tiga Agama


Menjelang tahun baru Islam, umat Islam berduka. Rezim Zionis Israel pada hari Sabtu 27 Desember melakukan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza. Rezim penjajah itu mengerahkan pesawat-pesawat tempur jenis F-16 dan helikopter-helikopter Apache-nya dan membantai warga Gaza yang sebagian besar bangsa Palestina yang beragama Islam yang sudah tak berdaya setelah selama setahun lebih diblokade oleh Israel.


Laporan Press TV menyebutkan, akibat serangan brutal itu, dalam waktu singkat 180 warga Palestina di Gaza gugur syahid dan 800 orang lainnya luka-luka. Cuplikan tayangan televisi memperlihatkan jenazah para korban yang terdiri dari anak-anak, laki-laki dan perempuan bergelimpangan di jalur gaza.


Boleh saja pemerintah Israel berdalih bahwa serangan mereka itu dilakukan terhadap Hamas di Gaza. Namun dari serangan-serangan yang dilakukan tampak jelas bahwa mereka ingin membumihanguskan Gaza dan membantai habis warga Palestina di sana. Dan serangan brutal itu dilakukan setelah mendapat restu dari sekutu-sekutu Israel, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa.


Penghinaan terhadap tiga agama besar di dunia


Seperti diketahui wilayah Palestina adalah daerah tempat tiga agama samawi terbesar di dunia berkumpul dalam satu bangsa. Ketiga agama yang berasal dari rumpun yang sama, yakni agama yang dibawa oleh keturunan Nabi Ibrahim as. atau Abraham ini merupakan agama terbesar yang dianut oleh bangsa Palestina dan sebagian warga Israel sendiri.


Tragisnya, serangan brutal rezim zionis Israel tersebut yang membantai umat Islam Palestina itu bukan hanya menyakitkan hati umat Islam saja, tetapi juga penghinaan besar-besaran terhadap Agama Nasrani dan Agama Yahudi sendiri! Dan penghinaan ini tidak disadari sama sekali oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropanya yang nota bene bangsanya adalah umat Kristiani.


Serangan tersebut dilakukan dua hari setelah Natal, 25 Desember, hari bagi umat Kristiani merayakan kelahiran Jesus Kristus Sang Juru Selamat. Dengan ajaran Cinta Kasihnya Jesus membawa kedamaian di dunia, dan kedamaian serta cinta kasih itu dinodai dan dihinakan oleh serangan brutal penuh darah oleh rezim zionis Israel terhadap bangsa Palestina.


Yang lebih fatal lagi adalah serangan sadis itu dilakukan pada hari Sabtu, Hari Syabbat menurut Kitab Taurat (Perjanjian Lama), kitabnya umat Yahudi. Hari Syabbat yang seharusnya dijadikan sebagai hari suci setelah Tuhan beristirahat menciptakan alam semesta selama 6 hari dan kemudian beristirahat pada hari ke-7.


Di dalam Kitab Taurat disebutkan bahwa Tuhan menyukai belaskasihan pada hari Syabbat (Hosea 6:6) yang berarti tidak ada perkelahian, pembunuhan apalagi pembantaian manusia. Kemudian Tuhan juga melarang merobohkan rumah, menyalakan api dan membakar (Misynah Syabbat 7:2), ini bermakna serangan beruntun dengan roket yang telah menghancurkan pemukiman di Gaza hingga terbakar dan roboh telah melanggar hukum larangan hari Syabbat.


Ayo, umat beragama sedunia, mari kita bersama-sama berdo’a agar serangan itu segera berakhir. Karena tidak ada yang lebih indah selain perdamaian.


Lihat juga Konflik Palestina - Israel dari Masa ke Masa.




Senin, Desember 15, 2008

Lemparan Sepatu Wartawan Irak untuk Ciuman Selamat Jalan Bush

Saya kira wartawan Irak yang bernama Muntadar al-Zaidi, seorang korespondensi untuk televisi Al-Baghdadiya, adalah seorang wartawan yang betul-betul pemberani. Di tengah konferensi pers dengan Presiden George W. Bush dan PM Irak Nouri Maliki, dia dengan berani melemparkan sepatunya kepada Bush.


"Ini adalah ciuman selamat jalan dari rakyat Irak, Anjing!”, katanya sebelum melemparkan sebuah sepatu ke arah Bush, namun meleset.


Kemudian dengan lemparan sepatu yang kedua, yang mana presiden Bush juga berhasil menghindar, Zaidi berkata lagi: "Dan yang ini adalah untuk para janda dan yatim piatu dan semua yang terbunuh di Iraq."

Kemudian Zaidi bergumul di lantai dengan personil keamanan yang berusaha menariknya untuk menjauh.


Pemimpin kantor Al-Baghdadiya mengatakan Associated Press bahwa ia tidak bisa menebak apa yang telah memprovokasi Zaidi untuk menyerang President Bush, meski ada laporan-laporan yang mengatakan Zaidi pernah mengalami sebuah penculikan oleh milisi dan diserang habis-habisan.


"Saya berusaha untuk mengontak Muntadar sejak peristiwa itu, namun sia-sia," kata Fityan Mohammed. "Teleponnya dimatikan."


Para wartawan berkata serangan itu adalah simbolis. Menunjukkan sol sepatu kemuka seseorang adalah simbol sebuah penghinaan di dalam budaya Arab. Orang Irak melemparkan sepatu-sepatu dan menjadikannya sebagai kebiasaan terhadap patung Saddam Hussein setelah dia digulingkan.


Sedangkan komentar Bush sendiri terhadap insiden ini adalah sebuah kelakar. "Jika anda menginginkan fakta-fakta, inilah sebuah sepatu nomor 10 yang telah dilemparkannya."