Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Agustus 01, 2009

7 Prinsip Pendidikan Tanpa Kekerasan

Dewasa ini banyak pendidik atau guru dan para orang tua yang kebingungan menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat di mana era kebebasan, keterbukaan dan kemajuan sains teknologi telah mempengaruhi anak didik dan remaja pada umumnya begitu rupa sehingga mereka menjadi lebih bebas, terbuka dan berpikir maju dalam membela hak-haknya.


Ketika Indonesia memasuki era reformasi politik, yang kemudian mengalami pelebaran hingga reformasi di bidang hukum, hal-hal yang dulunya tidak begitu dimengerti oleh masyarakat umum akhirnya difahami dengan baik, terutama dengan adanya kebebasan media dalam memberitakannya. Hal itu adalah pemahaman tentang hak-hak asasi manusia secara luas. Apalagi ditunjang dengan ketersediaan sarana undang-undang yang diperkuat oleh publikasi media yang tanpa tekanan.


Undang-undang Perlindungan Anak dan Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah contoh ketentuan yang sangat memperhatikan hak-hak asasi anak dalam perannya di antara orang dewasa. Kelemahan dari segi fisik dan kelabilan mental yang belum dewasa pada anak dan remaja, dilindungi oleh kedua undang-undang ini dari kekuasaan orang dewasa yang sewenang-wenang. Pelanggaran terhadap kedua perundangan ini dikatagorikan pidana dan bisa menyeret pelakunya ke dalam penjara.



Sejarah kekerasan di dunia pendidikan


Pendidikan dan pengajaran memang tidak identik dengan kekerasan, baik di masa yang lalu apalagi sekarang ini. Tapi kekerasan sering kali dihubung-hubungkan dengan kedisiplinan dan penerapannya dalam dunia pendidikan. Istilah “tegas” dalam membina sikap disiplin pada anak didik, sudah lazim digantikan dengan kata “keras”. Hal ini kemudian ditunjang dengan penggunaan kekerasan dalam membina sikap disiplin di dunia militer, khususnya pendidikan kemiliteran.


Ketika kemudian cara-cara pendidikan kemilitera itu diadopsi oleh dunia pendidikan sipil, maka cara “keras” ini – istilah sekarang adalah kekerasan – juga ikut diambil alih. Teriakan, tendangan, tamparan menjadi cara-cara biasa dalam membina kedisiplinan anak didik, khususnya di bidang pelajaran yang melatih fisik seperti olah raga.


Namun saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua guru olah raga suka main pukul. Tapi sejarahnya sering kali mengidentikan guru olah raga dengan guru yang suka menghukum – push up atau lari keliling lapangan – dan suka memukul atau menendang terutama anak yang bandel.


Dari sinilah kemudian cara kekerasan dicontoh oleh guru-guru di bidang lain – biasanya materi pelajaran yang “berat” bagi siswa secara umum, misalnya matematika dan ilmu pengetahuan alam. Kekerasan pendidik di bidang ini bisa berbentuk bentakan, merobek buku pe-er bagi yang lupa melakukan pekerjaan rumahnya, atau menyuruh anak didik berdiri di tengah lapangan pada hari panas terik.



Bagaimanakah seharusnya para guru, pendidik dan pengajar, bersikap menghadapi kebandelan siswa tanpa harus menggunakan kekerasan?


Anak didik tidak jauh berbeda dengan manusia biasa. Mereka akan membentuk pertahanan diri apabila diserang. Pertahanan itu berupa balas membentak apabila dimarahi, melawan dengan fisik kalau disakiti, atau lari bila dia merasa tidak mempunyai kemampuan membalas.


Seni menghadapi anak didik sama seperti seni menghadapi anak-anak da remaja pada umumnya. Mereka sebenarnya adalah makhluk yang lemah yang mudah diajak berunding. Mereka mudah percaya dengan orang lain, apalagi orang yang dianggapnya lebih dewasa dan pandai. Membuka hati anak untuk menerima pendapat orang dewasa, sebetulnya adalah seni menumbuhkan kepercayaan.


Ada 7 prinsip yang harus difahami dan kemudian diterapkan oleh pendidik untuk memperoleh kepercayaan anak didik agar mencapai maksud dari pendidikan itu, tanpa harus menggunakan kekerasan.



1. Tindakan alternatif


Cara pendidikan tanpa kekerasan digambarkan sebagai sebuah cara ketiga atau alternatif ketiga, setelah tindakan menyalahkan dan aksi kekerasan karena hal itu. Seorang pendidik yang melihat kesalahan seorang siswa, mempunyai tiga pilihan setelah itu, apakah dia akan menyalahkannya, menggunakan kekerasan untuk memaksa siswa memperbaiki kesalahan itu atau menggunakan cara ketiga yang tanpa kekerasan.


Menahan diri untuk tidak menyalahkan tentu bukan perkara mudah bagi orang dewasa apabila melihat sebuah kesalahan dilakukan oleh anak di depan matanya. Tapi perlu diingat bahwa sebuah tudingan bagaimanapun akan berbuah balasan dari anak, karena secara insting dia akan mempertahankan dirinya. Reaksi atas sikap anak yang membela diri inilah yang ditakutkan akan berbuah kekerasan dari pendidik terhadap anak didik.



2. Keakraban penuh keterbukaan


Dasar pemikirannya adalah persaudaraan kemanusiaan. Bahwa antara pendidik dan anak didik ada sebuah benang merah persaudaraan kemanusiaan yang tidak akan terputus sampai kapan pun, di mana telah terjadi hubungan memberi dan menerima ilmu pengetahuan.


Keakraban maksudnya berbagi dengan orang lain dengan tidak membeda-bedakan anak-anak didik, dan terbuka adalah tidak menutup-nutupi hal apa pun atau mencoba mengambil keuntungan dari hal-hal yang tidak diketahui siswa. Sebuah keakraban yang penuh keterbukaan hanya bisa terjalin apabila adalah rasa persaudaraan kemanusiaan antara pihak pendidik dan siswa.


Di dalam keakraban ada kasih sayang, keramahan, sopan-santun, saling menghargai dan menghormati. Sedang keterbukaan mengandung unsur kejujuran, kerelaan dan menerima apa adanya.

Keakraban yang terbuka ini ibarat pintu bagi masuknya sebuah kepercayaan. Ketika anak didik sudah merasakan keakraban yang terbuka dari gurunya, maka dia dengan senang akan mendengarkan apa pun yang disampaikan oleh sang guru.



3. Komunikasi yang jujur


Anugerah terbesar dari kecerdasan manusia adalah komunikasi yang jelas satu sama lain, tidak hanya berupa tindakan-tindakan langsung, tapi juga secara simbolis dengan bantuan bahasa. Karena bahasa adalah sebuah simbol abstrak yang mengacu pada obyek, hubungan-hubungan, dan konsep-konsep, kata-kata boleh jadi tidak akurat dengan kenyataan, namun kata-kata mencoba untuk menjelaskannya. Dengan kata lain, bahasa bisa salah, atau kita bisa berbohong ketika menggunakannya. Penipuan adalah sesuatu yang sulit dipisahkan dari kekerasan, disebabkan kurangnya rasa hormat kepada orang lain atau takut terhadap kenyataan. Tindakan dengan kasih sayang didasarkan pada ukurannya dalam kebenarannya setiap orang, yang tidak bisa memisahkan dirinya dari kebenaran dan kenyataan.


Jadi, untuk menjadi benar kepada diri sendiri, kita juga harus benar terhadap orang lain. Sampaikan kepada anak didik kebenarannya; arahkan kemarahan kita terhadap kesalahannya, bukan kepada orangnya. Temukan solusi dalam konflik dan kesalahfahaman, dan itu tidak bisa dibangun apabila kita menggunakan kebohongan dan penipun.



4. Hormati Kebebasan dan Persamaan


Pendidikan tanpa kekerasan adalah juga cara kebebasan, karena hanya diri kita sendiri yang mengarahkan bagaimana caranya mewujudkannya. Hal ini sangat bertentangan dengan otoritarianisme militer, di mana setiap individu harus mengikuti perintah-perintah atasan secara mutlak. Di dalam pendidikan tanpa kekerasan ini, kita semuanya bebas dan setara, setiap orang mendengarkan suara nurani sendiri dan saling berbagi perhatian. Lalu kemudian dengan bebas diputuskan, berdasarkan pada semua pertimbangan individu-individu, bagaimana keinginan bersama ingin diwujudkan. Dengan demikian kita harus mengenali dengan jelas kebebasan memilih dan hak yang sama setiap orang untuk mengambil bagian dalam kegiatan itu.


Yang lebih penting lagi adalah kita menyadari persamaan semua manusia dan menghormati kebebasan anak didik sama seperti kita menghendaki kebebasan kita sendiri dihormati. Tindakan tanpa kekerasan bukanlah bentuk usaha untuk mengendalikan yang lain atau penggunaan paksaan terhadap mereka. Jika kita mencintai anak didik, kita menghormati otonomi mereka untuk membuat keputusan-keputusan mereka sendiri. Kita pasti dapat berkomunikasi dengan mereka, dan kita bahkan dapat menghadapi mereka dengan kehadiran kita untuk memaksa mereka tanpa kekerasan untuk membuat sebuah pilihan, jika kita yakin mereka telah melakukan kesalahan. Perbedaan yang penting adalah kita tidak memaksa mereka secara fisik atau dengan kasar untuk mencapai apa yang kita inginkan.


Dalam pendidikan tanpa kekerasan kita tidak menyakiti anak didik, meski pun mungkin mereka merasa tidak nyaman di dalam urusan ini. Di dalam hal ini kita memperlakukan anak didik sebagaimana kita menghormati mereka sebagai individu.



5. Rasa kasih yang berani


Bertentangan dengan kepercayaan umum, pendidikan tanpa kekerasan bukan sebuah metoda pasif dan lemah, dan itu pasti bukan untuk para penakut. Tindakan tanpa kekerasan lebih banyak membutuhkan keberanian dibanding perkelahian dengan kekerasan seperti dalam peperangan, meski tampaknya itu semacam keberanian. Karena jika kita melihat lebih jauh penggunaan senjata merupakan kompensasi dari rasa takut terhadap lawan. Dan tindakan kekerasan merupakan bukti adanya perasaan takut lawan lebih dulu melakukannya terhadap kita. Jadi melakukan tindakan tanpa kekerasan menunjukkan ketinggian martabat yang penuh keberanian.


Rasa kasihan adalah anugerah kepada hati kita. Rasa kasihan bisa digambarkan sebagai kasih yang tidak hanya berempati terhadap orang lain di dalam merasakan apa yang mereka alami, tetapi juga mempunyai keberanian dan kebijaksanaan untuk melakukan sesuatu terhadap hal itu. Di dalam rasa kasihan, kita tidak melampiaskan kemarahan dan rasa benci kepada anak didik yang melakukan kesalahan, namun dengan kemurahan hati dan kepedulian, kita memperbaikinya. Rasa kasihan datang dari rasa kesatuan dengan orang lain, memperluas hati kita sehingga kita bisa merasakan empati atas penderitaan orang lain dan menolong mereka.



6. Saling mempercayai secara penuh


Cara dengan kasih sayang didasarkan pada keyakinan bahwa jika kita bertindak dengan cara yang baik tidak akan pernah merugikan bagi siapapun, dan akan menghasilkan kebaikan juga. Alih-alih mengendalikan anak didik dengan ancaman dan kekuasaan kita, lebih baik menggunakan kecerdasan masing-masing pihak untuk memecahkan masalah dengan komunikasi yang baik dan negosiasi.


Untuk mempercayai anak didik secara penuh kita harus melepaskan kepercayaan itu dari kendali kita sendiri, dan membiarkan situasi memprosesnya. Tentu saja melepaskan kepercayaan tidak berarti kita mempercayai dengan membabi buta. Kita harus tetap memonitor apa yang terjadi dan memantau hasilnya secara terus menerus. Jika anak didik mengkhianati kesepakatan, sampaikan hal itu kepada orang banyak agar yang lain mengetahui hal itu.

Penghargaan hanya diberikan kepada anak didik yang berintegritas, sedangkan yang jahat tidak pantas mendapatkannya. Pada kasus tersebut kita tidak menarik rasa kasih sayang kita untuk mereka, tetapi kita hanya menarik kerjasama kita dari mereka karena tidak bisa memegang kepercayaan.



7. Ketekunan dan kesabaran


Dalam pendidikan tanpa kekerasan, kesabaran adalah kebaikan yang bersifat revolusioner. Kesabaran bukanlah sebuah pembiaran tanpa tindakan apa pun, tetapi peningkatan kualitas dari sebuah pertolongan yang bertahan pada tuntutannya, dan melanjutkannya dengan cara cerdas penuh ketenangan. Ketika kita terperangkap dalam situasi konflik, emosi kita sering sangat aktif dan bergolak. Kita harus hati-hati dengan reaksi tanpa pemikiran atas apa yang sedang kita lakukan dan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi. Kesabaran memberikan kepada kita waktu untuk berpikir tentang tindakan-tindakan kita agar terhindar dari kekerasan dan bertindak efektif. Lebih baik menunggu dan kehilangan sebuah peluang kecil dibandingkan terburu-buru namun menemui sesuatu yang bodoh dan tidak dipersiapkan. Peluang baru pasti akan muncul kemudian, jika kita berusaha memecahkan persoalan, karena di lain waktu kita akan siap untuk bertindak dengan cara yang baik.


Tidak seperti cara militer yang cepat dan kasar, pendidikan tanpa kekerasan bersifat melambat dan dimulai dengan peringatan-peringatan untuk memberikan kesempatan kepada anak didik secara sadar berpikir bagaimana seharusnya. Kita tidak menghendaki anak didik bereaksi dengan cepat secara insting. Kita menghendaki anak didik mengetahui metoda-metoda kita sehingga mereka dapat menanggapi sama tenang dan cerdasnya.


Ketekunan juga berarti kita harus fleksibel di dalam strategi dan taktik kita. Jika metodanya tidak berhasil, kita perlu mencoba cara lain. Jika jalannya mendapatkan halangan, kita dapat beralih ke hal lain yang juga memerlukan perhatian. Jika anak didik seperti kehilangan minatnya, kita dapat dengan kreatif mencoba pendekatan baru terhadap permasalahan. Jika kita merasa lelah, kita dapat beristirahat sejenak untuk mengisi sumber daya kita secara rohani dan kembali agar energi kita diperbaharui. Kita perlu tetap bertahan bukan hanya dalam usaha kita mengadakan perbaikan, tetapi yang lebih penting lagi kita harus tetap pada kasih sayang kita satu sama lain.


Pendidikan tanpa kekerasan harus dipenuhi kesabaran dan memaafkan dan di saat yang sama gigih dalam membantu. Ketika anak didik mengakui bahwa mereka sudah melakukan kesalahan, kita harus menunjukkan sifat pemaaf kepada mereka. Sasaran terakhir dari pendidikan tanpa kekerasan bukanlah kemenangan atas anak-anak didik kita tetapi menemukan sebuah kehidupan yang harmonis antara pendidik sebagai orang tua, bersama-sama dengan anak didik dalam damai dan keadilan.



Kita semua berharap kisah-kisah suram kekerasan oleh pendidik dan orang tua secara umum tidak terjadi lagi. Pendidikan dengan kekerasan hanya akan melahirkan traumatis-traumatis yang berujung pada pembalasan dendam, dan kita semua pasti tidak menghendaki hal demikian terus berlanjut tanpa berkeputusan, kemudian melahirkan generasi-generasi penuh kekerasan.

10 Tips untuk Pelajar yang Ingin Sukses

Hari-hari di minggu ini adik-adik pelajar sedang merasakan suasana baru di tahun ajaran baru. Ada yang berada di sekolah yang baru, karena kemarin sudah lulus dari sekolah yang lama, namun ada juga yang masih berada di sekolah lama, tapi sedang menikmati kelas barunya. Tetapi yang pasti semua harus mempunyai semangat baru, semangat sukses belajar dan belajar untuk sukses.


Bagaimanakah sekolah saya nantinya? Apakah yang harus saya lakukan agar sukses di sekolah atau di kelas yang baru? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin sedang menghantui langkah adik-adik yang ingin bersungguh-sungguh bersekolah dan berhasil dengan baik.


Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dan kegalauan hati adik-adik akan coba saya bantu dengan memberikan tips di bawah ini. Semoga 10 tips ini bisa dipraktekkan dengan mudah dan dapat membantu kelancaran studi adik-adik semua.



1. Jawablah pertanyaan ini dengan mantap, “Kenapa saya bersekolah?”


Kebanyakan pelajar benar-benar tidak mempunyai alasan yang cukup jelas kenapa harus bersekolah, selain dari kenyataan bahwa mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan selain bersekolah. Mereka menerima pendapat-pendapat tentang hal itu dari keluarganya atau teman-temannya, tapi bukan dari dirinya sendiri. Kemudian atas dasar pendapat-pendapat itu mereka bersekolah. Apakah kamu juga demikian?


Temukan tujuanmu bersekolah sebelum kamu terlanjur sudah lama berada di sana, namun tidak memiliki arah dengan pasti. Tujuan-tujuan ini, jawaban dari pertanyaan kenapa ini, akan membawa perjalanan studi kamu lebih terarah dan mantap. Tidak ada yang akan bisa menggoyahkan semangat kamu untuk belajar dan menimba ilmu. Bahkan tidak ada yang sanggup memalingkan wajahmu dari cita-citamu.



2. Imajinasikan pengalaman-pengalaman yang ideal di sekolahmu


Ketika kamu sudah tahu kenapa kamu bersekolah, bayangkan hasil akhir ideal yang bisa kamu bisa raih. Biarkan imajinasimu mengalir dari alasan yang kamu buat “kenapa saya bersekolah?”. Apakah kamu sudah merasa siap bersekolah atau tidak, bukan itu permasalahannya. Sekarang mulailah mencatat beberapa pengalaman-pengalaman ideal yang mungkin akan didapatkan di sekolah. Uraikan secara detil semampu kamu.


Kira-kira inilah contoh visualisasinya, yang tergambar dalam imajinasimu.


“Aku adalah seorang pelajar yang suka akan tantangan, namun aku pandai mengaturnya dan tidak mudah tertekanan. Aku melihat diriku menjalin persahabatan dengan teman-teman baru. Aku melihat diriku memiliki waktu yang cukup luas dan kesempatan yang sangat terbuka. Aku juga membayangkan sebuah pengalaman yang seimbang – kombinasi dari pengalaman akademis, aktivitas fisik, sosialisasi, namun tetap dipenuhi kesenangan. Kata kunci yang kupergunakan adalah ‘kesempurnaan’. Semuanya harus berpadu secara ideal dan sempurna.


Inilah adalah sebuah langkah penting yang harus kuambil. Aku harus memprogram diriku untuk berhasil. Kapan pun aku bertemu rintangan dan hambatan, maka visi idealku adalah aku harus kuat dan mampu menemukan cara untuk mengatasinya. Aku harus menjadi seorang manajer dan kreator yang aktif dari pengalaman-pengalamanku, alih-alih sebagai korban yang pasif dan pasrah menghadapinya.”


Jika kamu tidak bisa mendapati sebuah penggambaran yang jelas dan bersih, pengalamanmu akan tampak tidak jelas juga. Pemberian gambaran itu akan menjadi sumber inspirasi bagimu.


Kehidupan yang nyata akan berbeda dengan apa yang dikhayalkan. Namun maksud pemberian gambaran itu bukan untuk meramalkan masa depan atau untuk membatasi kebebasanmu dalam mengambil keputusan di masa depan. Intinya adalah memberi kamu lebih banyak kejelasan untuk membuat keputusan-keputusan itu sekarang. Gambaran yang ideal akan menjadi peta yang dapat memandu kamu melalui kesulitan-kesulitan dalam menentukan pilihan.



3. Ambil sedikitnya satu kursus atau les tambahan di tiap semester.


Jadwal belajar kamu di kelas mungkin sudah cukup padat, tapi mengambil kursus atau les tambahan yang berhubungan dengan pelajaran mutlak perlu. Mengikuti sebuah bimbingan belajar, misalnya, akan sangat membantu kamu dalam mengikuti materi pelajaran di sekolah.


Kurangi kegiatan ekstra kurikuler dan batasi hanya pada satu bidang yang benar-benar kamu minati, selebihnya gunakan waktu luangmu untuk meningkatkan kemampuan atau prestasimu di bidang mata pelajaran. Mengikuti kursus bahasa Inggris, les matematika, atau bimbingan belajar akan membantu ketertinggalanmu di kelas, dan membantu menambah materi latihan yang kurang pada pelajaran yang kamu masih kurang mengerti.



4. Tetapkan sasaran yang jelas untuk setiap pelajaran


Kamu harus belajar menentukan target pada setiap mata pelajaran. Misalkan aku harus berhasil mendapatkan sedikitnya nilai 8 untuk pelajaran Matematika. Target itu harus diusahakan secara maksimal dengan berbagai cara, antara lain:


-Aku harus memperhatikan penjelasan guru setiap hari dengan seksama


-Aku harus aktif mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan guru di kelas


-Aku harus aktif melatih diri di rumah sedikitnya 2 soal untuk setiap bab/materi


-Aku harus mencari teman yang pintar dalam pelajaran itu dan meminta bimbingannya.


-Aku harus mengambil les tambahan dan seterusnya


Tanyakan perihal kemajuan belajarmu di kelas kepada guru mata pelajaranmu itu. Minta nasehatnya dalam mata pelajaran yang diberikannya untuk kemajuan belajarmu. Bukankah evaluasi kemajuan belajarnya selalu dilakukan oleh gurumu setiap pembagian rapor akhir semester?



5. Alokasikan menurut skala prioritas


Kamu tidak harus menerapkan suatu nilai usaha yang sama pada setiap mata pelajaran. Melakukan usaha tambahan memang penting, tetapi perasaan bebas untuk menguranginya pada pelajaran-pelajaran tertentu yang lebih rendah skala prioritasnya pada sasaranmu yang lebih spesifik juga perlu. Karena sangat penting untuk memelihara energi, dan tidak menghabiskannya untuk semua mata pelajaran karena kamu bisa kelelahan. Investasikan energimu dengan sebaik-baiknya menurut skala prioritas.



6. Bangunlah lebih pagi setiap hari


Banyak keuntungan yang bisa kamu peroleh apabila bangun lebih pagi. Banyak hal di rumah yang bisa kamu selesaikan sehingga tidak menjadi beban pikiran di sekolah. Begitu pun kamu dapat mengingat-ingat dan mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas sekolah tanpa harus terburu-buru.


Bagi kamu yang muslim, kewajiban menjalankan shalat Subuh akan membantu untuk memudahkan bangun pagi dan menjadi kebiasaan setiap hari. Benahi buku pelajaran, lihat apa yang mesti kamu bawa hari itu ke sekolah, periksa pekerjaan rumah (PR), dan baca beberapa penjelasan penting dari materi yang akan diberikan oleh gurumu hari itu. Kalau kamu lebih dulu memahami materi yang akan diberikan, berarti kamu selangkah lebih pandai dari teman-temanmu.


Selain itu jangan lupa sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Energi yang cukup ditambah mental yang siap dan siaga, akan membuat kamu merasa gembira dan tertantang untuk bersekolah dan memperhatikan pelajaran.



7. Aturlah perhatian dan konsentrasi selama di kelas


Tidak semua pelajaran membutuhkan konsentrasi penuh. Karena berkonsentrasi membutuhkan energi, maka pandai-pandailah membagi energi itu secara proporsional pada setiap mata pelajaran.


Misalnya pelajaran Matematika berada pada jam ke-1 dan ke-2, sedangkan Fisika pada jam ke-5 dan ke-6 setelah pelajaran bahasa Indonesia pada jam ke-3 dan ke-4.


Aturlah untuk mengendurkan konsentrasi dan sedikit melemaskan otot-otot dan mengurangi tekanan di otak pada jam ke-3 dan ke-4, setelah konsentrasi cukup di jam ke-1 dan ke-2. Kemudian bersiap-siap kembali konsentrasi pada jam ke-5 dan ke-6. Jangan lupa mempergunakan waktu jeda istirahat untuk melemaskan otot-otot dan menyantaikan otak dengan bersantai.


Di dalam kelas pun kamu bisa mengatur irama konsentrasi. Pada bab-bab yang kamu sudah memahaminya dengan baik, kamu bisa sedikit mengurangi konsentrasi, sedangkan pada bab-bab yang kamu masih belum begitu jelas, kamu harus lebih fokus.



8. Pelajari dengan sungguh-sungguh materi pelajaran ketika pertama kali diperkenalkan


Adalah suatu pemborosan waktu kalau kamu harus mengulangi mempelajari suatu materi yang sebelumnya kamu tidak begitu memahami, sedangkan pelajaran sudah berlanjut ke materi berikutnya.


Apabila kamu kurang mengerti suatu materi, secepatnya kamu harus mengulanginya. Kunjungi seorang teman yang menurut kamu pintar dan mengerti betul materi itu. Atau kamu meminta bimbingan di luar waktu sekolah kepada guru mata pelajaran itu. Jangan malu untuk bertanya sebelum waktumu habis dan pelajaran berlanjut ke tingkat yang lebih sulit.


Bayangkan seandainya sebuah bangunan di bangun di atas pondasi yang tidak kuat, kemudian di atasnya ditumpuk batu bata. Tumpukan batu bata yang tidak kuat kemudian ditumpuki lagi batu bata lain, sehingga bangunan itu benar-benar bisa goyah dan roboh.


Setiap pelajaran disusun atas materi-materi yang saling menunjang dan berpengaruh. Apabila kamu tidak memahami dengan baik materi pada bab ke-1, kamu pasti akan mengalami kesulitan memahami materi-materi pada bab-bab selanjutnya.



9. Kembangkang dan pelajari teknik-teknik mengingat pelajaran


Menghafal adalah langkah kedua setelah memahami materi pelajaran. Ada materi yang memang harus dihafalkan, suka atau tidak suka. Seperti definisi-definisi, teori-teori, rumus-rumus dan rincian-rincian.


Kamu bisa mengembangkan cara menghafal dengan menggunakan singkatan huruf depan atau akronim, misalnya sebagai contoh adalah yang sudah sangat terkenal, tujuh warna-warna pelangi dengan menyingkat suku kata setiap warna dan menggabungkannya menjadi sebuah kalimat. Me – ji – ku – hi – bi – ni- u atau merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.


Untuk teori-teori dan rumus-rumus bisa dengan menuliskannya di selembar kertas karton tebal dengan spidol warna yang mencolok mata, dan menempelkannya di dinding kamar kamu. Perhatikan dan baca setiap malam sebelum kamu tidur, lalu ulangi lagi setelah kamu bangun. Ini akan sangat membantu menanamkannya di dalam memori kamu.

Ada juga yang suka menggubah suatu definisi atau teori ke dalam rangkaian nada sebuah lagu yang sudah terkenal. Bagaimana kalau kamu menyanyikan sebuah lagu, bukankah kamu tidak lagi begitu mengingatnya, seakan-akan kata-kata syair lagu itu seperti keluar secara otomatis dari mulutmu? Nah, gantilah syair-syair lagu itu dengan teori, definisi atau rumus-rumus dari pelajaranmu. Jangan takut untuk melanggar hak cipta, karena kamu tidak perlu merekam dan menjualnya.



10. Lakukanlah beberapa kesenangan yang serius!


Sebagai pelajar kamu tidak harus 100% berkutat dengan pelajaran semata. Kamu juga harus melampiaskan kegembiraan dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan.


Tapi ingatlah untuk tidak memboroskan rasa senang pada hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak memberikan imbal balik yang berguna bagi sekolahmu, karena kegiatan yang menyenangkan sekalipun tetap membutuhkan energi. Kegiatan yang tidak bermanfaat hanya akan menghabiskan energi tanpa memberikan efek manfaat, bahkan bisa melelahkan pikiran dan membuat kamu kehilangan gairah belajar.


Apabila kamu orang yang senang berolahraga, ambilah kegiatan olahraga yang betul-betul kamu sukai dan lakukan pada hari yang tidak mengganggu sekolahmu. Atau kalau kamu menyukai permainan musik, kamu bisa melakukannya untuk menyegarkan pikiran kamu, seperti halnya berolah raga untuk menyegarkan badanmu. Kegiatan ekstra yang membuahkan prestasi, akan menunjang nilai kamu di sekolah untuk mata pelajaran terkait.


Ada satu catatan penting yang mesti diperhatikan oleh para pelajar, yakni kegiatan berkumpul dengan teman-teman di luar jam sekolah yang diisi hanya dengan acara jalan-jalan dan hura-hura, akan memberikan dampak negatif pada tingkat konsentrasimu terhadap pelajaran di sekolah. Sebaiknya kegiatan tersebut dikurangi, atau diganti dengan kelompok belajar atau kelompok diskusi dengan membahas hal-hal berguna dan terkait dengan pelajaran di sekolah secara langsung.



Ingatlah kegiatan bersekolah bagi seorang pelajar adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan dengan baik, sama halnya dengan bekerja pada orang dewasa yang sudah tidak lagi bersekolah. Apabila kalian berhasil menunaikannya, semua penghargaan dan manfaat akan terpulang kepada kalian juga. Salam.

Selasa, Januari 13, 2009

Ayam atau Telur, Guru atau Murid

Bertemu teman lama memang mengasyikan. Terutama teman lama yang sudah lama tidak bertemu dan orangnya baik. Banyak cerita yang terlewatkan selama belasan tahun menjadi ramai untuk dibicarakan. Satu per satu nama orang-orang lama terungkap untuk dijadikan bahan pembicaraan. Pokoknya asyik.


Tapi itu masih kalah asyik dibandingkan bertemu guru di waktu masa sekolah dulu. Guru di masa saya masih SMP, 22 tahun yang lalu. Beliau yang dulunya galak dan suka menghukum anak-anak muridnya yang bandel dan suka ribut di kelas, sekarang seperti seorang teman lama yang seumur, ramah, akrab dan banyak bercerita. Di dalam pandangannya – mungkin – seseorang yang dulunya sebagai murid sekarang setelah dewasa, ya seperti orang-orang lainnya juga, harus dihormati sebagaimana layaknya orang yang sudah dewasa.


Sebut saja nama beliau Pak Rahmat (nama samaran), seorang guru di SMP-ku dulu. Beliau mengajar mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) ketika saya duduk di kelas 2. Terakhir tercatat sebagai pensiunan kepala sekolah sebuah SMP lain di kotaku. Dia memimpin SMP tersebut setelah berpindah dari SMP tempat dia mengajarku dulu, dan diangkat sebagai kepala sekolah di sana. Di dalam pertemuan itu dia menceritakan mengenai pengalamannya selama menjadi guru dan kepala sekolah.


Pertama-tama beliau berkisah mengenai pertemuannya dengan beberapa mantan muridnya yang sudah menjadi orang besar alias pejabat. Ada yang menjadi gubernur, wakil gubernur dan walikota. Kebetulan ketiga orang pejabat tersebut, yang sekarang masih aktif menduduki jabatan-jabatan itu adalah alumni SMP-ku itu.


Beliau sangat terkesan dengan keramahan-tamahan ketiga bekas muridnya itu. Termasuk juga kebaikan hati mereka mau menyisihkan bantuan untuk sekolah kami. Beliau bilang bahwa dia tanpa sungkan-sungkan “menodong” (istilah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana suasana saat itu) ketiga bekas muridnya itu untuk turut membantu perbaikan sekolah, sarana jalan dan perangkat lainnya di sekolah. Bantuan akhirnya diberikan untuk bekas sekolah dari ketiga mantan murid yang “sudah menjadi prang” itu.


Kemudian beliau juga bercerita bahwa bekas murid-muridnya yang sudah berhasil banyak yang memberinya uang – atau diminta dengan cara halus? – apabila bertemu dengannya. Katanya dia senang dan sangat berterimakasih karena mantan muridnya mengerti dengan keadaannya yang sudah tua dan pensiun.


Singkat cerita, menjelang akhir pertemuan saya dengannya, dia menjelaskan mengenai perbedaan murid yang pintar dan cerdas. Katanya murid pintar itu hanya menguasai ilmu secara tekstual atau text book. Kemampuan menghafalnya boleh diacungi jempol, tetapi apabila dihadapkan dengan permasalahan yang memerlukan suatu solusi, maka akan kehabisan akal dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Sedangkan murid yang cerdas adalah murid yang memahami permasalahan dan mampu mencari dan memberikan solusi apabila dihadapkan pada problem di dalam kehidupan. Dan dia sangat mengagumi murid yang cerdas seperti ini.


Pertamanya, sih aku cukup memahami pendapatnya itu. Karena seperti pendapat banyak orang bahwa pemahaman tentang hidup dan kehidupan tidak bisa ditemukan di bangku sekolah dan tidak mungkin ada di dalam buku pelajaran. Semua pengalaman hidup akan diperoleh di dalam perjalanan kehidupan seseorang. Suatu sekolah alam di mana pengalaman adalah gurunya.


Tetapi pembicaraan selanjutnya membikin alis saya berkerut. Beliau menceritakan tentang masa-masa penerimaan siswa baru di sekolahnya. Katanya ada orang tua calon murid yang tidak jadi mendaftarkan anaknya di SMP kami karena nilainya tidak mencukupi standar nilai terendah. Dan orang tua seperti itu, menurut beliau adalah orang tua yang “tidak cerdas”.


Saya balik bertanya, “Kalau yang cerdas itu bagaimana, Pak?”


Beliau jawab, “Seharusnya kalau orang tua itu memang cerdas, dia mendatangi kepala sekolah dan bertanya, ‘adakah solusi lain agar anak saya bisa bersekolah di SMP ini?’.”


“Lalu, Pak?” tanya saya berlagak bodoh karena saya betul-betul sudah mengerti arah pembicaraan ini.


“Kepala sekolah pasti akan menyebutkan sejumlah uang tertentu sebagai pelicin,” jawabnya mantap. “Jadi orang tua yang cerdas tinggal menyediakan uang sejumlah itu dan anaknya bisa menjadi murid di sekolah kita.”


Saya menyela mantap dengan maksud menyindir, “Hal seperti itu memang tidak bisa diperoleh di pelajaran sekolah, Pak. Hanya ada di dalam kehidupan.”


“Ya, betul,” jawab beliau bersemangat.


Hati saya dibuat gelisah oleh obrolan ini. Saya terkenang dengan beberapa orang pejabat, pengusaha dan politikus kita yang terlibat korupsi di negara ini. Beberapa sudah dipenjara dan yang lain masih dalam proses pengadilan. Lalu saya teringat ketiga pejabat yang merupakan alumni SMP saya tersebut dan sering bertemu dengan Pak Rahmat, mantan gurunya ini.


Apakah mereka yang mengajarkan tentang “pengalaman hidup” dan kepandaian “mencari solusi” kepada mantan gurunya atau Pak Rahmat ini yang telah mengajarkan kepada mantan murid-muridnya dulu mengenai perbedaan “murid pintar” dan “murid cerdas” sebagai bekal ilmu sebagai pejabat – walaupun saya merasa belum pernah menerima pelajaran seperti itu.


Kondisi itu jadi mirip dengan permasalahan ayam atau telur, yang mana yang lebih dulu ada? Atau barangkali Pak Rahmat memperoleh banyak pengalaman setelah lama menjadi guru atau kepala sekolah di sekolahnya yang baru. Hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Minggu, September 07, 2008

Buku Pelajaran Elektronik, Solusi Murah atau Mahal?


Setiap tahun ajaran baru permasalah buku pelajaran di setiap jenjang sekolah selalu menjadi masalah bagi orang tua siswa. Dari permasalahan berganti-gantinya buku pelajaran karena adanya permainan antara penerbit dan pihak sekolah, sampai permasalahan mahalnya harga buku pelajaran karena harganya selalu bertambah mahal dari tahun ke tahun.

Sekarang ini sepertinya permasalah tersebut tidak akan terjadi lagi. Karena pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sudah mengeluarkan buku pelajaran on line yang bisa dibaca maupun diunduh (download) secara bebas melalui internet di alamat situsnya adalah http://bse.depdiknas.go.id/ . Orang tua murid, siswa atau siapa saja hanya membutuhkan pendafataran di situs tersebut untuk mendapatkan nama pengguna (user id) dan kata kunci (password) untuk memasuki (log in) situs itu.

Pengguna hanya membutuhkan waktu beberapa detik sudah bisa membaca, mengunduh, menggandakan (copy – paste), sampai mencetak (print) seluruh isi buku dengan bebas. Dijamin tidak akan melanggar hak cipta karena sudah dibebaskan dari hal tersebut. Bahkan buku hasil unduhan di situs tersebut bisa diperbanyak dan diperdagangkan, tapi kata Kepala Sub Dinas Bina Program Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin, Rudi Ikhwansyah, Sabtu (6/9), asalkan dengan proyeksi keuntungan yang tidak melebihi 15 persen sesuai dengan ketentuan Mendiknas.

Lebih murah atau lebih mahal?

Mari kita berhitung-hitung seandainya kita mengunduh dan mencetak (print) buku on line tersebut. Sebagai contoh adalah buku mata pelajaran IPS untuk tingkat SMP kelas 7 yang berjumlah 229 halaman. Kalau siswa atau orang tua siswa yang tidak memiliki komputer dan tidak bisa berinternet, maka berarti dia harus ke warung internet terdekat dan mencetak di sana. Harga ngenet per 1 jam misalnya Rp.4.000,- ditambah biaya cetak (print) sebesar misalnya Rp. 500,- per lembar. Berarti perhitungan menjadi: Biaya internet Rp.4.000,-, karena waktu untuk mengunduh tidak lama, simpan di harddisk lalu cetak. Biaya cetak Rp. 500,- dikalikan 229 lembar halaman menjadi Rp. 114.500,-. Ditambahkan dengan biaya internet menjadi Rp.118.500,-. Wow! Mahal sekali hanya untuk sebuah buku pelajaran sekolah!

Tapi tenang saja, karena masih ada jalan keluarnya, yakni dengan cara kegiatan mengunduh dan mencetak buku ini dilakukan secara urunan atau patungan dengan oleh beberapa orang siswa atau orang tua siswa. Biaya internet, cetak dan biaya perbanyakannya (fotokopi) bisa dibagi agar menjadi lebih ringan. Untuk hal tersebut seandainya biaya fotokopi per lembar adalah Rp.100,- berarti untuk 229 halaman dikali 29 siswa, berarti dibutuhkan dana tambahan sebesar Rp. 664.100,-, sehingga seluruh biaya menjadi Rp.118.500 ditambah dengan Rp.664.100,- sama dengan Rp.782.600,-. Jadi apabila 29 siswa ditambah 1 siswa pertama menjadi 30 siswa, berarti masing-masing hanya akan dibebani biaya Rp.782.600 dibagi 30 siswa sama dengan Rp.26.086,- per buku. Nah, ternyata bisa lebih murah dari harga buku paket aslinya yang rata-rata di atas Rp.30.000,-.

Solusi lain yang lebih tepat adalah dengan bekerja sama dengan percetakan dimana percetakan bisa mengunduh (down load) di internet tanpa kena biaya royalti asalkan mengambil keuntungannya tidak boleh lebih dari 15 %. Jika diproduksi secara massal tentu akan bisa lebih murah lagi.

Ayo, mari dimanfaatkan fasilitas baru ini. Selain bisa dipermurah dari harga buku aslinya juga tidak akan melanggar UU Hak Cipta dan Kekayaan Intelektual seperti kalau difotokopi dari buku aslinya.

Sumber: Harian Pagi Banjarmasin Post tanggal 07 September 2008