Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Agustus 01, 2009

7 Prinsip Pendidikan Tanpa Kekerasan

Dewasa ini banyak pendidik atau guru dan para orang tua yang kebingungan menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat di mana era kebebasan, keterbukaan dan kemajuan sains teknologi telah mempengaruhi anak didik dan remaja pada umumnya begitu rupa sehingga mereka menjadi lebih bebas, terbuka dan berpikir maju dalam membela hak-haknya.


Ketika Indonesia memasuki era reformasi politik, yang kemudian mengalami pelebaran hingga reformasi di bidang hukum, hal-hal yang dulunya tidak begitu dimengerti oleh masyarakat umum akhirnya difahami dengan baik, terutama dengan adanya kebebasan media dalam memberitakannya. Hal itu adalah pemahaman tentang hak-hak asasi manusia secara luas. Apalagi ditunjang dengan ketersediaan sarana undang-undang yang diperkuat oleh publikasi media yang tanpa tekanan.


Undang-undang Perlindungan Anak dan Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah contoh ketentuan yang sangat memperhatikan hak-hak asasi anak dalam perannya di antara orang dewasa. Kelemahan dari segi fisik dan kelabilan mental yang belum dewasa pada anak dan remaja, dilindungi oleh kedua undang-undang ini dari kekuasaan orang dewasa yang sewenang-wenang. Pelanggaran terhadap kedua perundangan ini dikatagorikan pidana dan bisa menyeret pelakunya ke dalam penjara.



Sejarah kekerasan di dunia pendidikan


Pendidikan dan pengajaran memang tidak identik dengan kekerasan, baik di masa yang lalu apalagi sekarang ini. Tapi kekerasan sering kali dihubung-hubungkan dengan kedisiplinan dan penerapannya dalam dunia pendidikan. Istilah “tegas” dalam membina sikap disiplin pada anak didik, sudah lazim digantikan dengan kata “keras”. Hal ini kemudian ditunjang dengan penggunaan kekerasan dalam membina sikap disiplin di dunia militer, khususnya pendidikan kemiliteran.


Ketika kemudian cara-cara pendidikan kemilitera itu diadopsi oleh dunia pendidikan sipil, maka cara “keras” ini – istilah sekarang adalah kekerasan – juga ikut diambil alih. Teriakan, tendangan, tamparan menjadi cara-cara biasa dalam membina kedisiplinan anak didik, khususnya di bidang pelajaran yang melatih fisik seperti olah raga.


Namun saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua guru olah raga suka main pukul. Tapi sejarahnya sering kali mengidentikan guru olah raga dengan guru yang suka menghukum – push up atau lari keliling lapangan – dan suka memukul atau menendang terutama anak yang bandel.


Dari sinilah kemudian cara kekerasan dicontoh oleh guru-guru di bidang lain – biasanya materi pelajaran yang “berat” bagi siswa secara umum, misalnya matematika dan ilmu pengetahuan alam. Kekerasan pendidik di bidang ini bisa berbentuk bentakan, merobek buku pe-er bagi yang lupa melakukan pekerjaan rumahnya, atau menyuruh anak didik berdiri di tengah lapangan pada hari panas terik.



Bagaimanakah seharusnya para guru, pendidik dan pengajar, bersikap menghadapi kebandelan siswa tanpa harus menggunakan kekerasan?


Anak didik tidak jauh berbeda dengan manusia biasa. Mereka akan membentuk pertahanan diri apabila diserang. Pertahanan itu berupa balas membentak apabila dimarahi, melawan dengan fisik kalau disakiti, atau lari bila dia merasa tidak mempunyai kemampuan membalas.


Seni menghadapi anak didik sama seperti seni menghadapi anak-anak da remaja pada umumnya. Mereka sebenarnya adalah makhluk yang lemah yang mudah diajak berunding. Mereka mudah percaya dengan orang lain, apalagi orang yang dianggapnya lebih dewasa dan pandai. Membuka hati anak untuk menerima pendapat orang dewasa, sebetulnya adalah seni menumbuhkan kepercayaan.


Ada 7 prinsip yang harus difahami dan kemudian diterapkan oleh pendidik untuk memperoleh kepercayaan anak didik agar mencapai maksud dari pendidikan itu, tanpa harus menggunakan kekerasan.



1. Tindakan alternatif


Cara pendidikan tanpa kekerasan digambarkan sebagai sebuah cara ketiga atau alternatif ketiga, setelah tindakan menyalahkan dan aksi kekerasan karena hal itu. Seorang pendidik yang melihat kesalahan seorang siswa, mempunyai tiga pilihan setelah itu, apakah dia akan menyalahkannya, menggunakan kekerasan untuk memaksa siswa memperbaiki kesalahan itu atau menggunakan cara ketiga yang tanpa kekerasan.


Menahan diri untuk tidak menyalahkan tentu bukan perkara mudah bagi orang dewasa apabila melihat sebuah kesalahan dilakukan oleh anak di depan matanya. Tapi perlu diingat bahwa sebuah tudingan bagaimanapun akan berbuah balasan dari anak, karena secara insting dia akan mempertahankan dirinya. Reaksi atas sikap anak yang membela diri inilah yang ditakutkan akan berbuah kekerasan dari pendidik terhadap anak didik.



2. Keakraban penuh keterbukaan


Dasar pemikirannya adalah persaudaraan kemanusiaan. Bahwa antara pendidik dan anak didik ada sebuah benang merah persaudaraan kemanusiaan yang tidak akan terputus sampai kapan pun, di mana telah terjadi hubungan memberi dan menerima ilmu pengetahuan.


Keakraban maksudnya berbagi dengan orang lain dengan tidak membeda-bedakan anak-anak didik, dan terbuka adalah tidak menutup-nutupi hal apa pun atau mencoba mengambil keuntungan dari hal-hal yang tidak diketahui siswa. Sebuah keakraban yang penuh keterbukaan hanya bisa terjalin apabila adalah rasa persaudaraan kemanusiaan antara pihak pendidik dan siswa.


Di dalam keakraban ada kasih sayang, keramahan, sopan-santun, saling menghargai dan menghormati. Sedang keterbukaan mengandung unsur kejujuran, kerelaan dan menerima apa adanya.

Keakraban yang terbuka ini ibarat pintu bagi masuknya sebuah kepercayaan. Ketika anak didik sudah merasakan keakraban yang terbuka dari gurunya, maka dia dengan senang akan mendengarkan apa pun yang disampaikan oleh sang guru.



3. Komunikasi yang jujur


Anugerah terbesar dari kecerdasan manusia adalah komunikasi yang jelas satu sama lain, tidak hanya berupa tindakan-tindakan langsung, tapi juga secara simbolis dengan bantuan bahasa. Karena bahasa adalah sebuah simbol abstrak yang mengacu pada obyek, hubungan-hubungan, dan konsep-konsep, kata-kata boleh jadi tidak akurat dengan kenyataan, namun kata-kata mencoba untuk menjelaskannya. Dengan kata lain, bahasa bisa salah, atau kita bisa berbohong ketika menggunakannya. Penipuan adalah sesuatu yang sulit dipisahkan dari kekerasan, disebabkan kurangnya rasa hormat kepada orang lain atau takut terhadap kenyataan. Tindakan dengan kasih sayang didasarkan pada ukurannya dalam kebenarannya setiap orang, yang tidak bisa memisahkan dirinya dari kebenaran dan kenyataan.


Jadi, untuk menjadi benar kepada diri sendiri, kita juga harus benar terhadap orang lain. Sampaikan kepada anak didik kebenarannya; arahkan kemarahan kita terhadap kesalahannya, bukan kepada orangnya. Temukan solusi dalam konflik dan kesalahfahaman, dan itu tidak bisa dibangun apabila kita menggunakan kebohongan dan penipun.



4. Hormati Kebebasan dan Persamaan


Pendidikan tanpa kekerasan adalah juga cara kebebasan, karena hanya diri kita sendiri yang mengarahkan bagaimana caranya mewujudkannya. Hal ini sangat bertentangan dengan otoritarianisme militer, di mana setiap individu harus mengikuti perintah-perintah atasan secara mutlak. Di dalam pendidikan tanpa kekerasan ini, kita semuanya bebas dan setara, setiap orang mendengarkan suara nurani sendiri dan saling berbagi perhatian. Lalu kemudian dengan bebas diputuskan, berdasarkan pada semua pertimbangan individu-individu, bagaimana keinginan bersama ingin diwujudkan. Dengan demikian kita harus mengenali dengan jelas kebebasan memilih dan hak yang sama setiap orang untuk mengambil bagian dalam kegiatan itu.


Yang lebih penting lagi adalah kita menyadari persamaan semua manusia dan menghormati kebebasan anak didik sama seperti kita menghendaki kebebasan kita sendiri dihormati. Tindakan tanpa kekerasan bukanlah bentuk usaha untuk mengendalikan yang lain atau penggunaan paksaan terhadap mereka. Jika kita mencintai anak didik, kita menghormati otonomi mereka untuk membuat keputusan-keputusan mereka sendiri. Kita pasti dapat berkomunikasi dengan mereka, dan kita bahkan dapat menghadapi mereka dengan kehadiran kita untuk memaksa mereka tanpa kekerasan untuk membuat sebuah pilihan, jika kita yakin mereka telah melakukan kesalahan. Perbedaan yang penting adalah kita tidak memaksa mereka secara fisik atau dengan kasar untuk mencapai apa yang kita inginkan.


Dalam pendidikan tanpa kekerasan kita tidak menyakiti anak didik, meski pun mungkin mereka merasa tidak nyaman di dalam urusan ini. Di dalam hal ini kita memperlakukan anak didik sebagaimana kita menghormati mereka sebagai individu.



5. Rasa kasih yang berani


Bertentangan dengan kepercayaan umum, pendidikan tanpa kekerasan bukan sebuah metoda pasif dan lemah, dan itu pasti bukan untuk para penakut. Tindakan tanpa kekerasan lebih banyak membutuhkan keberanian dibanding perkelahian dengan kekerasan seperti dalam peperangan, meski tampaknya itu semacam keberanian. Karena jika kita melihat lebih jauh penggunaan senjata merupakan kompensasi dari rasa takut terhadap lawan. Dan tindakan kekerasan merupakan bukti adanya perasaan takut lawan lebih dulu melakukannya terhadap kita. Jadi melakukan tindakan tanpa kekerasan menunjukkan ketinggian martabat yang penuh keberanian.


Rasa kasihan adalah anugerah kepada hati kita. Rasa kasihan bisa digambarkan sebagai kasih yang tidak hanya berempati terhadap orang lain di dalam merasakan apa yang mereka alami, tetapi juga mempunyai keberanian dan kebijaksanaan untuk melakukan sesuatu terhadap hal itu. Di dalam rasa kasihan, kita tidak melampiaskan kemarahan dan rasa benci kepada anak didik yang melakukan kesalahan, namun dengan kemurahan hati dan kepedulian, kita memperbaikinya. Rasa kasihan datang dari rasa kesatuan dengan orang lain, memperluas hati kita sehingga kita bisa merasakan empati atas penderitaan orang lain dan menolong mereka.



6. Saling mempercayai secara penuh


Cara dengan kasih sayang didasarkan pada keyakinan bahwa jika kita bertindak dengan cara yang baik tidak akan pernah merugikan bagi siapapun, dan akan menghasilkan kebaikan juga. Alih-alih mengendalikan anak didik dengan ancaman dan kekuasaan kita, lebih baik menggunakan kecerdasan masing-masing pihak untuk memecahkan masalah dengan komunikasi yang baik dan negosiasi.


Untuk mempercayai anak didik secara penuh kita harus melepaskan kepercayaan itu dari kendali kita sendiri, dan membiarkan situasi memprosesnya. Tentu saja melepaskan kepercayaan tidak berarti kita mempercayai dengan membabi buta. Kita harus tetap memonitor apa yang terjadi dan memantau hasilnya secara terus menerus. Jika anak didik mengkhianati kesepakatan, sampaikan hal itu kepada orang banyak agar yang lain mengetahui hal itu.

Penghargaan hanya diberikan kepada anak didik yang berintegritas, sedangkan yang jahat tidak pantas mendapatkannya. Pada kasus tersebut kita tidak menarik rasa kasih sayang kita untuk mereka, tetapi kita hanya menarik kerjasama kita dari mereka karena tidak bisa memegang kepercayaan.



7. Ketekunan dan kesabaran


Dalam pendidikan tanpa kekerasan, kesabaran adalah kebaikan yang bersifat revolusioner. Kesabaran bukanlah sebuah pembiaran tanpa tindakan apa pun, tetapi peningkatan kualitas dari sebuah pertolongan yang bertahan pada tuntutannya, dan melanjutkannya dengan cara cerdas penuh ketenangan. Ketika kita terperangkap dalam situasi konflik, emosi kita sering sangat aktif dan bergolak. Kita harus hati-hati dengan reaksi tanpa pemikiran atas apa yang sedang kita lakukan dan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi. Kesabaran memberikan kepada kita waktu untuk berpikir tentang tindakan-tindakan kita agar terhindar dari kekerasan dan bertindak efektif. Lebih baik menunggu dan kehilangan sebuah peluang kecil dibandingkan terburu-buru namun menemui sesuatu yang bodoh dan tidak dipersiapkan. Peluang baru pasti akan muncul kemudian, jika kita berusaha memecahkan persoalan, karena di lain waktu kita akan siap untuk bertindak dengan cara yang baik.


Tidak seperti cara militer yang cepat dan kasar, pendidikan tanpa kekerasan bersifat melambat dan dimulai dengan peringatan-peringatan untuk memberikan kesempatan kepada anak didik secara sadar berpikir bagaimana seharusnya. Kita tidak menghendaki anak didik bereaksi dengan cepat secara insting. Kita menghendaki anak didik mengetahui metoda-metoda kita sehingga mereka dapat menanggapi sama tenang dan cerdasnya.


Ketekunan juga berarti kita harus fleksibel di dalam strategi dan taktik kita. Jika metodanya tidak berhasil, kita perlu mencoba cara lain. Jika jalannya mendapatkan halangan, kita dapat beralih ke hal lain yang juga memerlukan perhatian. Jika anak didik seperti kehilangan minatnya, kita dapat dengan kreatif mencoba pendekatan baru terhadap permasalahan. Jika kita merasa lelah, kita dapat beristirahat sejenak untuk mengisi sumber daya kita secara rohani dan kembali agar energi kita diperbaharui. Kita perlu tetap bertahan bukan hanya dalam usaha kita mengadakan perbaikan, tetapi yang lebih penting lagi kita harus tetap pada kasih sayang kita satu sama lain.


Pendidikan tanpa kekerasan harus dipenuhi kesabaran dan memaafkan dan di saat yang sama gigih dalam membantu. Ketika anak didik mengakui bahwa mereka sudah melakukan kesalahan, kita harus menunjukkan sifat pemaaf kepada mereka. Sasaran terakhir dari pendidikan tanpa kekerasan bukanlah kemenangan atas anak-anak didik kita tetapi menemukan sebuah kehidupan yang harmonis antara pendidik sebagai orang tua, bersama-sama dengan anak didik dalam damai dan keadilan.



Kita semua berharap kisah-kisah suram kekerasan oleh pendidik dan orang tua secara umum tidak terjadi lagi. Pendidikan dengan kekerasan hanya akan melahirkan traumatis-traumatis yang berujung pada pembalasan dendam, dan kita semua pasti tidak menghendaki hal demikian terus berlanjut tanpa berkeputusan, kemudian melahirkan generasi-generasi penuh kekerasan.

Rabu, Maret 18, 2009

7 Hal Penting bagi Orang Tua, Guru dan Masyarakat Tentang Anak Indigo

Kehadiran anak Indigo di tengah keluarga dan lingkungan sering disalahfahami sebagai anak yang pembangkang, susah diatur dan berlagak dewasa. Beberapa anak Indigo menjadi sangat pendiam dan penyendiri, ada yang menjadi pemberontak dan tidak mau diatur, bahkan ada yang tidak mau lagi bersekolah. Orang tua, anggota keluarga dan guru seringkali kehabisan akal menghadapi tingkah laku anak Indigo.


Kekeliruan identifikasi terhadap anak Indigo sebagai anak kurang perhatian dan hiperaktif atau ADD (Attention Deficit Disorder = atau Gangguan Kekurangan Perhatian) dan ADHD (Attention Deficit Hyperaktive Disorder = Gangguan Hiperaktif Kekurangan Perhatian) adalah salah satu sebab kesalahan perlakuan terhadap mereka.



Jiwa yang tua


Perbedaan karakteristik yang menonjol pada anak Indigo dibandingkan dengan anak kurang perhatian dan hiperaktif adalah jiwanya yang sangat dewasa. Dari kedewasaan jiwa ini muncul karakter menggurui karena anak Indigo memahami banyak hal dengan secara mendalam.


Jiwa dewasa anak Indigo menunjukkan kehadirannya adalah untuk memperbaiki kondisi kejiwaan masyarakat secara umum yang sudah mulai melupakan hakikat kebenaran dan kian merajalelanya kerusakan moral, akhlak dan kejahatan.


Keadaan jiwa yang tua ini sering dihubung-hubungkan dengan reinkarnasi dan penciptaan ruh yang bersifat supranatural. Kedua hubungan ini tidak bisa dijelaskan di sini, karena akan semakin sulit untuk dimengerti.


Untuk membantu para orang tua, guru dan masyarakat memahami dengan benar karakteristik dan sifat pembawaan anak Indigo agar tidak terjadi kesenjangan hubungan yang akan berakibat buruk pada perkembangan jiwa anak Indigo, berikut ini dipaparkan beberapa hal yang harus difahami dari anak Indigo. Bagaimanapun mereka tetaplah anak-anak yang membutuhkan perhatian, pengertian dan kasih sayang dari orang yang lebih tua. Kekuatan cita-cita dan semangat yang dewasa melebihi umur dan tubuh fisiknya pasti akan menemukan ketidakseimbangan, khususnya dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Pemahaman dan penerimaan dari orang sekitar tentunya akan membantu anak Indigo untuk menenangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan mereka tinggal hingga dewasanya kelak.



1. Jiwa yang dewasa


Karakter dewasa dan menggurui adalah karakter khas anak Indigo. Anda tidak bisa melakukan kesalahan yang dianggap keliru oleh anak Indigo di depan mereka, karena mereka pasti akan segera protes, memberikan nasehat dengan menunjukkan bagaimana yang seharusnya.


Apabila anda tidak mau mengikuti apa kata mereka, maka mereka akan protes dengan tidak mau bercakap-cakap atau bahkan marah kepada anda. Kemarahan anda atas nasehat-nasehat mereka akan membuat mereka membenci anda selama-lamanya. Ada sebagian anak Indigo yang menggunakan kemampuan tidak umumnya untuk menyalurkan kemarahannya terhadap orang yang tidak mau mengikuti nasehat-nasehat mereka.


Anak Indigo juga memahami kehidupan secara mendalam, mengetahui hukum sebab akibat dan memahami dunia supranatural. Hubungan mereka yang dekat dengan Tuhan dan membawa misi kebenaran untuk memperbaiki moral manusia membuat mereka bersikap seperti orang suci dan ningrat. Kondisi ini bisa dilihat secara fisik pada pandangan mata mereka yang terlihat bijaksana, mendalam dan tua.



2. Indera keenam


Kemampuan berupa indera keenam yang kuat membuat anak Indigo tidak bisa dibohongi dan mampu membaca perasaan dan pikiran orang lain. Siapa pun yang berlaku sebagai pembohong dan penipu akan ditempatkan anak Indigo sebagai musuh terbesarnya. Karena bagi mereka kejujuran adalah modal dasar untuk menegakkan kebenaran.


Anak Indigo sering merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah manusia pada umumnya. Penilaian mereka akan sifat manusia berdasarkan kemampuan indera keenam mereka yang tajam membuat mereka melihat keburukan yang terdapat dalam diri orang lain. Selain itu sikap penolakan atas kehadiran mereka yang ganjil oleh orang lain pada umumnya juga menjadi sebab ketidaknyamanan ini.


Indera keenam yang peka juga membuat mereka mampu melihat objek-objek tidak terlihat dan berasal dari dimensi yang lebih tinggi. Kemampuan ini sering membuat orang lain (khususnya orangtua dan anggota keluarga dekat) menganggap anak Indigo aneh, bahkan menyimpulkan bahwa mereka mengalami trens atau kerasukan.



3. Tidak taat dengan otorisasi yang tanpa alasan


Orang tua yang keras dan ingin dipatuhi tanpa bertanya adalah kondisi paling menyakitkan anak Indigo. Bagi mereka semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan. Jadi kesewenang-wenangan adalah hal yang sangat mereka benci. Apalagi penindasan pihak yang kuat atas yang lemah akan membuat mereka sangat sedih dan marah. Seringkali mereka menggunakan kemampuan mereka untuk mengatasi hal ini.


Hukuman yang diberikan kepada mereka harus jelas alasannya dan sesuai dengan kadar kesalahan mereka. Bagi mereka hukuman hanya diberikan kepada anak yang melakukan kesalahan bukan bagi anak yang menegakkan kebenaran.


Kalau tidak terpaksa, berada dalam antrian adalah hal paling dihindari. Mereka tidak suka menunggu, tapi juga tidak mau berbuat tidak benar untuk memperoleh kemudahan. Mereka adalah orang yang paling tertekan dalam sebuah antrian, kecuali mereka bisa melakukan permainan, membaca buku atau mendengarkan musik.



4. Kreatif


Anak Indigo sangat kreatif sehingga seringkali mereka tidak suka formalitas dan aturan-aturan yang baku dan kaku. Bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam hubungan dengan Tuhan mereka sering berada di luar pakem yang ada. Ritual-ritual yang tidak perlu menurut mereka akan cenderung ditinggalkan dan menggunakan cara mereka dalam membina hubungan dengan Tuhan. Kreatifitas mereka dalam menyelesaikan suatu permasalahan akan membuahkan suatu jalan keluar yang baik dan seringkali cukup mencengangkan bagi orang dewasa.



5. Cerdas


Tugas yang sederhana dan monoton akan membosankan anak Indigo. Mereka butuh tantangan untuk kemampuan berpikirnya yang analitik. Karena juga sangat berbakat dan pintar sebaiknya anak Indigo di tempatkan di sekolah khusus atau pada kelas yang kebih tinggi dari anak seumur dia pada umumnya. Apabila sekolah memberikan pelajaran yang menurut mereka tidak menarik (hafalan, kaku, tidak visioner), bisa membuat anak Indigo menjadi malas ke sekolah.


Orang dewasa hendaknya memandang kecerdasan anak Indigo dengan hati-hati, karena tidak bisa disamakan dengan anak jenius. Pada anak jenius aturan dan disiplin adalah hal yang harus dipatuhi, sedangkan pada anak Indigo sebaliknya, aturan dan disiplin adalah hal yang harus dicermati.


Kemampuan intusi yang kuat pada anak Indigo adalah hasil perpaduan dua kemampuan, yakni indera keenam yang tajam dan kemampuan analisa yang cepat dan luas. Peramalan akan kejadian yang belum terjadi oleh anak Indigo didapat dari penglihatan indera keenamnya dan analisa atas faktor-faktor yang ada sekarang.


Kesadaran mereka akan keberadaan dan tugas mereka di dunia, menjadikan anak Indigo bercita-cita kuat dan penuh visi. Tidak ada yang bisa menggoyahkan keyakinan mereka akan kedua hal ini. Usaha anda untuk mematahkan semangatnya atau menunjukkan sikap meremehkan visi dan misi mereka hanya akan membuat anda dicap sebagai orang yang tidak pantas dihormati.



6. Mudah marah


Anak Indigo mudah mengekspresikan kemarahan disebabkan mereka tidak bisa menutup-tutupi reaksi mereka terhadap kondisi yang tidak sesuai dengan ukurannya. Terutama keadaan yang kacau, penuh kebohongan, kepalsuan dan kejahatan.


Mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak marah ketika sebuah kekeliruan yang dicoba untuk diperbaiki ternyata terjadi kembali. Orang-orang yang melawan usaha-usaha perbaikan yang mereka lakukan akan menjadi musuh utama mereka.



7. Orang tua adalah harapan anak Indigo


Kebanyakan anak Indigo menjadi anti sosial karena lingkungan tidak mau menerima mereka apa adanya, memahami visi, misi dan cita-cita mereka yang mulia akan kehidupan ini.


Anak Indigo yang frustasi dengan sikap penolakan dari orang-orang di lingkungan mereka, khususnya orang tua, keluarga terdekat dan sekolah akan menarik diri dan menjadi anti sosial.


Di sinilah peran orang tua menjadi dominan untuk memahami keberadaan anak Indigo dengan karakteristiknya yang unik. Sehingga bisa ditemukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan mereka dalam berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya. Sikap orang tua yang bijaksana diperlukan untuk menghantarkan mereka menuju kedewasaan tanpa masalah yang dibawa di dalam kehidupan mereka nantinya.




Sumber gambar : http://c2.api.ning.com/files/G30bn4YcQun0IoS7zc*SlL44mgcLQ1q9F0zqJsbXWLHqNQ*MIGch8Ed0P8JSwH4-ldTpsbYjUGkrtv17kP8ZGZHrOwso1s3V/fire.jpg

Selasa, Januari 13, 2009

Ayam atau Telur, Guru atau Murid

Bertemu teman lama memang mengasyikan. Terutama teman lama yang sudah lama tidak bertemu dan orangnya baik. Banyak cerita yang terlewatkan selama belasan tahun menjadi ramai untuk dibicarakan. Satu per satu nama orang-orang lama terungkap untuk dijadikan bahan pembicaraan. Pokoknya asyik.


Tapi itu masih kalah asyik dibandingkan bertemu guru di waktu masa sekolah dulu. Guru di masa saya masih SMP, 22 tahun yang lalu. Beliau yang dulunya galak dan suka menghukum anak-anak muridnya yang bandel dan suka ribut di kelas, sekarang seperti seorang teman lama yang seumur, ramah, akrab dan banyak bercerita. Di dalam pandangannya – mungkin – seseorang yang dulunya sebagai murid sekarang setelah dewasa, ya seperti orang-orang lainnya juga, harus dihormati sebagaimana layaknya orang yang sudah dewasa.


Sebut saja nama beliau Pak Rahmat (nama samaran), seorang guru di SMP-ku dulu. Beliau mengajar mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) ketika saya duduk di kelas 2. Terakhir tercatat sebagai pensiunan kepala sekolah sebuah SMP lain di kotaku. Dia memimpin SMP tersebut setelah berpindah dari SMP tempat dia mengajarku dulu, dan diangkat sebagai kepala sekolah di sana. Di dalam pertemuan itu dia menceritakan mengenai pengalamannya selama menjadi guru dan kepala sekolah.


Pertama-tama beliau berkisah mengenai pertemuannya dengan beberapa mantan muridnya yang sudah menjadi orang besar alias pejabat. Ada yang menjadi gubernur, wakil gubernur dan walikota. Kebetulan ketiga orang pejabat tersebut, yang sekarang masih aktif menduduki jabatan-jabatan itu adalah alumni SMP-ku itu.


Beliau sangat terkesan dengan keramahan-tamahan ketiga bekas muridnya itu. Termasuk juga kebaikan hati mereka mau menyisihkan bantuan untuk sekolah kami. Beliau bilang bahwa dia tanpa sungkan-sungkan “menodong” (istilah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana suasana saat itu) ketiga bekas muridnya itu untuk turut membantu perbaikan sekolah, sarana jalan dan perangkat lainnya di sekolah. Bantuan akhirnya diberikan untuk bekas sekolah dari ketiga mantan murid yang “sudah menjadi prang” itu.


Kemudian beliau juga bercerita bahwa bekas murid-muridnya yang sudah berhasil banyak yang memberinya uang – atau diminta dengan cara halus? – apabila bertemu dengannya. Katanya dia senang dan sangat berterimakasih karena mantan muridnya mengerti dengan keadaannya yang sudah tua dan pensiun.


Singkat cerita, menjelang akhir pertemuan saya dengannya, dia menjelaskan mengenai perbedaan murid yang pintar dan cerdas. Katanya murid pintar itu hanya menguasai ilmu secara tekstual atau text book. Kemampuan menghafalnya boleh diacungi jempol, tetapi apabila dihadapkan dengan permasalahan yang memerlukan suatu solusi, maka akan kehabisan akal dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Sedangkan murid yang cerdas adalah murid yang memahami permasalahan dan mampu mencari dan memberikan solusi apabila dihadapkan pada problem di dalam kehidupan. Dan dia sangat mengagumi murid yang cerdas seperti ini.


Pertamanya, sih aku cukup memahami pendapatnya itu. Karena seperti pendapat banyak orang bahwa pemahaman tentang hidup dan kehidupan tidak bisa ditemukan di bangku sekolah dan tidak mungkin ada di dalam buku pelajaran. Semua pengalaman hidup akan diperoleh di dalam perjalanan kehidupan seseorang. Suatu sekolah alam di mana pengalaman adalah gurunya.


Tetapi pembicaraan selanjutnya membikin alis saya berkerut. Beliau menceritakan tentang masa-masa penerimaan siswa baru di sekolahnya. Katanya ada orang tua calon murid yang tidak jadi mendaftarkan anaknya di SMP kami karena nilainya tidak mencukupi standar nilai terendah. Dan orang tua seperti itu, menurut beliau adalah orang tua yang “tidak cerdas”.


Saya balik bertanya, “Kalau yang cerdas itu bagaimana, Pak?”


Beliau jawab, “Seharusnya kalau orang tua itu memang cerdas, dia mendatangi kepala sekolah dan bertanya, ‘adakah solusi lain agar anak saya bisa bersekolah di SMP ini?’.”


“Lalu, Pak?” tanya saya berlagak bodoh karena saya betul-betul sudah mengerti arah pembicaraan ini.


“Kepala sekolah pasti akan menyebutkan sejumlah uang tertentu sebagai pelicin,” jawabnya mantap. “Jadi orang tua yang cerdas tinggal menyediakan uang sejumlah itu dan anaknya bisa menjadi murid di sekolah kita.”


Saya menyela mantap dengan maksud menyindir, “Hal seperti itu memang tidak bisa diperoleh di pelajaran sekolah, Pak. Hanya ada di dalam kehidupan.”


“Ya, betul,” jawab beliau bersemangat.


Hati saya dibuat gelisah oleh obrolan ini. Saya terkenang dengan beberapa orang pejabat, pengusaha dan politikus kita yang terlibat korupsi di negara ini. Beberapa sudah dipenjara dan yang lain masih dalam proses pengadilan. Lalu saya teringat ketiga pejabat yang merupakan alumni SMP saya tersebut dan sering bertemu dengan Pak Rahmat, mantan gurunya ini.


Apakah mereka yang mengajarkan tentang “pengalaman hidup” dan kepandaian “mencari solusi” kepada mantan gurunya atau Pak Rahmat ini yang telah mengajarkan kepada mantan murid-muridnya dulu mengenai perbedaan “murid pintar” dan “murid cerdas” sebagai bekal ilmu sebagai pejabat – walaupun saya merasa belum pernah menerima pelajaran seperti itu.


Kondisi itu jadi mirip dengan permasalahan ayam atau telur, yang mana yang lebih dulu ada? Atau barangkali Pak Rahmat memperoleh banyak pengalaman setelah lama menjadi guru atau kepala sekolah di sekolahnya yang baru. Hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Rabu, November 26, 2008

Hasil Survey PPIM : Kebanyakan Guru Agama Islam Menentang Pluralisme


Kebanyakan guru agama Islam di sekolah umum dan swasta di pulau Jawa menentang pluralisme, dan memelihara keberadaan radikalisme dan konservatisme, menurut sebuah survey yang dirilis di Jakarta, hari Selasa 25/11.


Hasil survey menunjukkan 62,4 % dari para guru agama Islam yang disurvei, yang berasal dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah – dua organisasi Islam yang paling besar negeri ini – menolak kepemimpinan non Muslim.


Survei tersebut diselenggarakan bulan lalu oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan mengikutkan sebanyak 500 orang pelajar Islam dan para guru sepulau Jawa sebagai responden.


Survey tersebut mengungkapkan 68,6 % dari responden menolak prinsip-prinsip non Muslim menjadi peraturan di sekolah mereka dan 33,8 % menolak keberadaan guru non Muslim di sekolah-sekolah mereka.


Sekitar 73,1 % dari para guru itu tidak menghendaki para penganut agama lain membangun rumah ibadahnya di lingkungan mereka.


Sekitar 85,6 % dari para guru melarang para siswa mereka untuk ikut merayakan hari-hari besar yang merupakan bagian dari tradisi-tradisi bangsa Barat (contoh : Valentin Day), sementara 87 % melarang para siswanya untuk mempelajari agama-agama.


Sekitar 48 % dari para guru lebih menyukai kalau para pelajar perempuan dan laki-laki dipisahkan ke dalam kelas yang berbeda.


Direktur PPIM Jajat Burhanudin berkata para guru itu anti pluralisme yang dicerminkan di dalam pelajaran yang diberikan oleh mereka dan berperan dalam menumbuhsuburkan konservatisme dan radikalisme di tengah masyarakat Muslim di negeri ini.


"Saya pikir mereka memainkan sebuah peran kunci dalam mempromosikan konservatisme dan radikalisme di tengah masyarakat Muslim sekarang ini. Anda tidak bisa berkata bahwa sekarang konservatisme dan radikalisme hanya berkembang di jalan-jalan seperti apa yang telah dikampanyekan oleh FPI (Pront Pemberla Islam), tetapi secara lebih jauh telah bertumbuh kembang di dalam dunia pendidikan," katanya, dengan memberi contoh kepada sebuah kelompok Islam yang radikal.


Jajat berkata sifat tidak toleran seperti itu akan mengancam hak-hak sipil dan politik dari warganegara yang berlainan agama (non Muslim).


Survei juga menunjukkan 75,4 % dari responden para guru meminta kepada para siswa mereka untuk mengajak para guru yang non Muslim untuk berpindah ke agama Islam, sementara itu 61,1 % menolak keberadaan sekte baru di dalam Islam.


Sejalan dengan keyakinannya yang tegas, 67,4 % responden berkata mereka lebih merasa sebagai Muslim dibandingkan sebagai bangsa Indonesia.


Mayoritas dari responden juga mendukung adopsi hukum syariah di dalam negeri untuk membantu kejahatan perang (diterjemahkan dari fight crime, pen).


Menurut survei, 58,9 % dari responden berpendapat hukuman rajam (dilempari dengan batu) adalah bentuk hukuman untuk bermacam-macam kejahatan dan 47,5 % berkata hukuman untuk kasus pencurian adalah dengan dipotong tangan, sementara itu 21,3 % menghendaki hukuman mati bagi mereka yang murtad atau keluar dari agama Islam.


Hanya 3 % dari para guru tersebut yang merasakan bahwa tugas mereka adalah untuk menghasilkan siswa yang bersikap toleran.


Dengan 44,9 % dari responden mengaku diri adalah anggota Nahdlatul Ulama dan 23,8 % pendukung Muhammadiyah, Jajat berkata berarti kedua organisasi yang moderat itu telah gagal untuk mananamkan nilai-nilai organisasinya di akar rumput.


"Pluralisme dan sikap moderat hanya tampak di kalangan elit organisasi saja. Saya takut kalau fenomena ini ikut memberikan kontribusi terhadap peningkatan semangat radikalisme dan bahkan terorisme di negeri kita," katanya.


Tapi saya tidak tahu, bagaimana perasaan anda setelah membaca berita ini, takut, cukup kuatir atau bahkan gembira ?


Sumber : http://www.thejakartapost.com/