Malaysia bikin ulah lagi.Setelah beberapa kali mengakui sejumlah seni budaya kita – yang sudah diketahui dunia sebagai seni budaya Indonesia – sebagai bagian dari seni budaya mereka,Malaysia kembali “mengklaim” salah satu seni budaya Indonesia melalui iklan kunjungan ke Malaysia.
Tari Pendet yang sudah dikenal oleh manca negara sebagai tarian khas Bali, yang juga berarti milik Indonesia, tiba-tiba dimunculkan dalam iklan kunjungan ke Malaysia (internasional.kompas.com).Sungguh, tingkah negara jiran ini bikin telinga kita memerah lagi.
Teroris seni budaya
Kata teror berasal dari bahasa Inggris, terror yang mempunyai makna 1. Yang kuat, tajam, ketakutan yang menaklukkan perasaan, yang menyebabkan keresahan atau kekalutan; 2. Satu kejadian atau penyebab ketakutan atau ketertarikan yang kuat; tingkat kualitas dari penyebab teror untuk dijadikan sebuah teror oleh orang jahat.Sedangkan teroris (B.Ing.terrorist) adalah orang yang melakukan teror atau menyebarkan rasa takut, keresahan dan kekalutan terhadap orang lain.
Dari arti kata teror di atas, sangat jelas tindakan Malaysia yang mengakui seni tari Pendet dan juga beberapa seni budaya Indonesia lainnya sebagai unsur seni budaya mereka bisa dikatagorikan tindakan teror karena telah menyebabkan keresahan di tengah masyarakat Indonesia, secara khusus bagi masyarakat pemilik asli seni budaya tersebut, yakni masyarakat Bali.Dan berarti Malaysia bisa disebut sebagai negara teroris, yang tindakannya telah meresahkan bangsa lain, yakni Indonesia dan orang Bali.
Tanggung jawab Pemerintah Indonesia
Sudah saatnya pemerintah Indonesia secara proaktif bergerak dan mengambil tindakan terhadap teroris seni budaya ini.Karena ini bukan sekedar pengakuan, tapi sudah mengarah kepada perampokan seni budaya, kekayaan pribadi bangsa Indonesia.
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mempunyai UNESCO (United Nation Education Scientifis and Cultural Organisation) sebuah badan yang mengurusi masalah pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan tingkat dunia.Lemparkan permasalahan “tetangga yang tidak tahu diri dan culas” ini kepada dunia.Biarkan masyarakat dunia yang memberikan penilaian keadilan terhadap permasalahan ini.Jangan sampai “rasa muak” masyarakat Indonesia bertransformasi menjadi kebencian mendalam, dan memicu pertikaian yang lebih jauh.
Seni budaya Indonesia adalah warisan turun-temurun dari nenek moyang bangsa Indonesia.Sebuah pusaka yang wajib dijaga dan dilestarikan, terus dibina dan dikembangkan sebagai identitas bangsa.Ketika pusaka itu sudah tidak diperhatikan dan dipelihara, maka siapa saja dengan mudah mengambil dan memilikinya.Yang bertanggung jawab akan hal ini adalah kita semua, khususnya pemerintah yang berkuasa.
Pertanyaannya adalah; apa lagi setelah tari Pendet ini?
Bom Jakarta kemarin (17/7) menyisakan banyak luka.Bukan hanya luka di tubuh para korban bom di kedua hotel, J.W. Marriot dan Ritz Carlton, dan luka di hati anggota keluarga korban yang tewas, tapi juga luka di hati para penggemar kesebelasan Manchester United dari Inggris.Bagaimana tidak, ulah para teroris itu membuat tim MU membatalkan kunjungannya ke Indonesia untuk mengadakan pertandingan uji coba melawan Tim Indonesia All Star di Jakarta.
Selain itu, kerugian juga diderita oleh pihak panitia penyelenggara di Indonesia, para sponsor dan pihak-pihak terkait yang sudah mengeluarkan biaya cukup tinggi, plus harapan promosi bagi bisnis mereka.Tidak kurang juga para pedagang cendera mata berlogo MU, yang sampai menjual propertinya untuk dijadikan modal berbisnis, dan sekarang terpaksa obral barang dagangan untuk mengurangi kerugian.
Para teroris, dengan fanatisme brutalnya, telah melukai banyak pihak.Persis seperti pecahan bom yang terhambur ke segala penjuru, efek bola besi dari peristiwa peledakan kedua hotel tersebut juga memantul ke segala arah.Mungkin ada pihak yang diuntungkan, tapi pasti lebih banyak lagi yang telah dirugikan.
Walaupun para pelaku peledakan bom serta orang-orang yang berada di belakangnya sebagian adalah orang Indonesia juga, sepertinya rasa cinta kepada bangsa dan tanah air ini sudah luntur sama sekali.Kalau tidak, kenapa tidak ledakkan saja kota-kota di Amerika sana, atau di Australia, atau di Inggris.Jangan merusak dan menyakiti bangsa sendiri, begitu kata sebagian orang.Rasa fanatik terhadap perjuangan mereka sudah mengalahkan rasa cinta kepada sesama anak bangsa dan tanah airnya, Indonesia.
Tapi benarkah hanya fanatisme para teroris saja yang keterlaluan dan rasa cinta Indonesia mereka sudah tidak ada lagi?Bagaimana dengan fanatisme para penggemar Manchester United asal Indonesia sendiri, yang sudah rela sampai menjual harta benda demi menonton pertandingan sepak bola kesebelasan pujaannya?
Seandainya pertandingan antara kesebelasan MU melawan Tim Nasional jadi terselenggara, kira-kira kesebelasan mana yang akan dieluk-elukkan oleh para penggemar fanatik MU asal Indonesia tersebut?Bagaimana reaksi mereka seandainya gawang kesebelasan kita sedang diserang habis-habisan oleh MU?
Tulisan ini mengungkapkan fakta-fakta mengenai konspirasi terorisme khususnya serangan terhadap gedung World Trade Center (WTC) di New York, AS pada tanggal 11 September 2001.Serangan yang kemudian menjadi titik awal legalisasi program “peperangan global terhadap terorisme” yang dicanangkan oleh pemerintan AS di bawah kepemimpinan Presiden George Walker Bush.
Program anti terorisme itu kemudian memaksa negara-negara dunia ketiga untuk bersekutu dengan AS melawan terorisme, dan sekaligus disebabkan kerjasama itu bersedia untuk menerima resiko berhadapan dengan teror-teror.
Al-Qaeda dan Osama bin Laden, tokoh rekaan demi kucuran anggaran
“Kebenarannya adalah, tidak ada tentara Islam atau kelompok teroris yang disebut Al-Qaida. Dan setiap petugas intelijen yang diberitahukan mengetahui hal ini. Tetapi ada suatu kampanye propaganda untuk membuat publik percaya akan kehadiran sebuah kesatuan seperti itu.Dan negara di balik propaganda ini adalah Amerika Serikat” – Robin Cook, mantan Sekretaris Luar Negeri Inggris.
Perhatikan juga kelepasan bicara oleh Dick Cheney, Wakil Presiden dari George W. Bush yang mengatakan, “Memang kita belum pernah membuat kasus, atau membantah kasus yang mana Osama bin Laden secara langsung terlibat dalam peristiwa 11 September. Bukti itu tidak pernah ada”.
Dalam 2007, departemen pertahanan menerima 161,8 milyar dolar AS untuk apa yang disebut “peperangan global terhadap terorisme”. MenurutNationalCounterTerrorismCenter, dalam 2004 dengan perkiraan kasar 2.000 orang dibunuh di seluruh dunia yang diduga disebabkan aksi teroris. Jumlah itu, sekitar 70 orang adalah warga Amerika. Menggunakan angka ini sebagai rata-rata secara umum adalah menarik untuk dicatat bahwa sebenarnya dua lebih banyak orang mati karena alergi kacang tanah dalam setahun dibandingkan dengan hasil perbuatan para teroris. Selain itu, penyebab utama kematian di Amerika adalah penyakit serangan jantung, telah menewaskan – dengan perkiraan kasar – sebesar 450,000 orang setiap tahun. Dan, dalam tahun 2007, alokasi dana dari pemerintah AS untuk riset penyakit jantung hanya sekitar 3 milyar dolar AS.
Ini berarti bahwa pemerintah AS dalam tahun 2007 membelanjakan anggaran 54 kali lebih banyak untuk mencegah terorisme, dibandingkan dengan pembelanjaan untuk mencegah suatu penyakit yang membunuh 6600 kali lebih banyak.
Hingga saat ini, nama terorisme dan Al-Qaida secara sewenang-wenang dimasukkan dalam setiap laporan berita yang berhubungan dengan berbagai tindakan yang berlawanan dengan kepentingan AS, dan dongeng semakin meluas.Di pertengahan 2008, jaksa agung AS benar-benar mengusulkan agar konggres AS secara resmi mendeklarasikan peperangan melawan khayalan. Belum lagi hingga july 2008, ada lebih dari 1 juta orang sekarang ini termasuk dalam “daftar pengawasan terhadap teroris di AS”.
Di sini yang disebut tindakan perlawanan terhadap terorisme tentu saja tidak ada hubungannya dengan perlindungan sosial, dan segala yang dilakukan atas pemeliharaan di antara pertumbuhan sentimen anti Amerika, baik lokal maupun internasional, yang secara legal didasarkan pada ketamakan perluasan kerajaan bisnis dengan mengeksploitasi dunia.
Teroris yang sebenarnya dari dunia kita tidak akan ditemukan di lorong-lorong pada tengah malam, atau menjerit Allahu Akbar sebelum melakukan tindakan yang kejam. Teroris yang sebenarnya adalah pakaian kita yang berharga 5.000 dolar dan bekerja dalam posisi keuangan tertinggi, dalam pemerintahan dan bisnis.
Penurunan pembelian saham dan lemahnya sistem keamanan yang misterius sebelum serangan 11 September atas WTC
Aksi beli saham mengalami penurunan menukik tajam pada tanggal 11 September yang berhubungan dengan saham penerbangan dan asuransi, hingga mengalami kekalahan 600% tepat sebelum tanggal 11 September, yang berarti bahwa ada orang yang mengetahui tentang serangan-serangan tersebut sebelum terjadi.Siapakah persisnya seseorang itu? Merrill Lynch dan HSBC, Morgan Stanley Dean Witter dari Bank of America, pengusaha pabrik senjata Raytheon, Lehman Brothers, General Motors, Swiss Re, Munich Re, dan AXA Re insurance companies yang memiliki 25% daham American Airlines. Orang dalam ini membeli opsi menempatkan melalui Deutsche Bank. Buzzy Krongard, mantan direktur eksekutif CIA, secara kebetulan adalah juga manajer Deutsche Bank.
Pada tanggal 18 Agustus, satu bulan sebelum serangan 11 September, sebuah artikel di New York Times oleh wartawan Sheila K. Dewan menggambarkan sebuah kelompok yang terdiri dari empat seniman asing yang menyelundupkan diri ke dalam World Trade Center (WTC) hanya beberapa bulan sebelum 11 September. Seniman menempati ruang studio gratis di lantai ke-91 dengan 14 seniman lainnya dan mengaku telah menulis sebuah buku yang disebut B-Thing. Mereka juga mengaku membangun sebuah balkon sementara di lantai ke-91 sebagai sebuah kelakar. Bagaimanapun juga ini dikatakan, seniman yang suka berolok-olok ini dapat meloloskan diri dari perhatian sistem keamanan perusahaan level tinggi di gedung WTC. Saudara George W. Bush, Marvin Bush secara kebetulan adalah direktur Securacom yang menyediakan pengamanan elektronik untuk gedung WTC. Dengan beberapa kebetulan yang misterius, perusahaan Marvin Bush juga menjadi penyedia perangkat pengamanan elektronik United Airline yang pesawatnya ditabrakkan ke WTC dan DullesAirport tempat pesawat tersebut berangkat.
Bush melibatkan dirinya sendiri ketika berada di California
Informasi berikut telah dimintakan berdasarkan FOIA (The Freedom Of Information Act), semacam peraturan atau hukum yang memberikan hak kepada publik untuk meminta data dari pemerintah, yang mana permintaan FOIA ini menimbulkan sebuah kenyataan yang diingkari poin-poinnya dan ditutup-tutupi oleh Gedung Putih.
Salah satu dari bukti yang sedikit lebih memberatkan dari keterlibatan pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam tragedi 11 September adalah kenyataan George Bush sudah memberi tahu kami, dalam lebih dari satu kali kesempatan, bahwa dia melihatuntuk pertama kalinya gedung WTC mendapat serangan udara, di televisi, sebelum dia memasuki ruang kelas di suatu sekolah di Florida itu pada pukul 9 pagi.
Bagaimanapun, satu-satunya video yang diketahui mengenai peristiwa sepanjang hari di wilayah sekitar WTC itu, berada dalam kamera si kameramen. Dan hasil rekamannya disiarakan pertama kali sekitar 15 jam setelah kejadian itu.
Kita ingin melihat video yang disaksikan oleh Bush pagi itu! Karena sudah jelas, Presiden Bush sedang menyaksikan sebuah video yang tak dikenal dari beberapa jaringan komunikasi yang telah “mengantisipasi” serangan yang “mengejutkan” itu.
Ketika menara pertama dari gedung WTC dihantam pada pukul 8:46, George Bush sedang berada di dalam sebuah limosin 2001 kepresidenan AS. Jika anda memperhatikan ketebalan dari atap sarana limosin itu, tidaklah sulit untuk mengkhayalkan kalau di sana tertanam susunan antena satelit yang bertingkat.
Niscaya antena itu mampu, bukan hanya menerima tetapi juga memancarkan siaran langsung video via satelit selagi limosin itu bergerak. (Siapapun dengan 2.000 dolar AS dan berlangganan transmisi satelit dapat melakukan hal itu di dalam mobilnya).
Amerika Serikat mempunyai sebuah cabang dari Departemen Pertahanan dan tidak banyak orang yang mengetahuinya, yaitu Defense Information Systems Agency (DISA). Badan ini membuatnya menjadi mungkin untuk secara umum melihat gambaran-gambaran medan perang secara langsung dan video moncong-moncong roket secara nyata dari seluruh dunia via satelit. Mereka juga bertanggung jawab untuk membawa gambaran-gambaran dari jenis ini kepada POTUS (President Of The United States). Inilah statemen dari misi mereka:
Defense Information Systems Agency (DISA) adalah sebuah agensi pendukung pertempuran yang bertanggung jawab atas perencanaan, rekayasa, perolehan, lapangan, dan pendukung Global Net-Centric Solutions dan mengoperasikan Defense Information System Network untuk melayani kebutuhan President, Wakil Presiden, Secretary Pertahanan, dan komponen-komponen DoD yang lain, dalam semua kondisi, baik damai dan peperangan.
Dari beberapa fakta di atas, masihkah Wikmuers meyakini bahwa serangan 11 September 2001 atas gedung WTC di New York, AS, yang menjadi dasar “peperangan global terhadap terorisme” merupakan hasil perbuatan para teroris seperti selama ini kita baca dan dengar di media?Dan bagaimana pula serangan-serangan teror setelah itu di negara-negara lainnya, seperti yang terjadi di Jakarta tanggal 17 Juli kemarin?
Negara yang lahir pada tanggal 4 Juli 1776 ini saat ini telah berusia 233 tahun.Sebagai salah satu pemenang Perang Dunia II (PD II), dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB dengan hak vetonya, AS mulai menanamkan kuku-kuku kekuasaan atas ekonomi dan politik negara-negara kecil di dunia setelah pasca PD II.
Dengan menggunakan kekuatan perusahaan-perusahaan pengeksplor minyak besar yang berhasil menguasai ladang-ladang minyak dunia, dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara, seperti Indonesia, maka kekuasaan politik AS terhadap negara-negara dunia ketiga mudah untuk diwujudkan karena kelimpahan uang hasil penjualan minyak. (Lihat juga warta lain Sejarah Konflik Palestina-Israel dari Masa ke Masa).
Pengeboman atom kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman, menandai akhir Perang Dunia II.Enam hari setelah dijatuhkannya bom di Nagasaki, pada 15 Agustus, Jepang mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.
Kejatuhan bom nuklir satu-satunya yang pernah terjadi ini membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945.Sejak itu, ribuan telah tewas akibat luka atau sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom. Pada kedua kota, mayoritas yang tewas adalah penduduk sipil.
17 Agustus 1945
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Proklamator Soekarno-Hatta.
24 Oktober 1945
Perserikatan Bangsa-bangsa didirikan di San Francisco pada 24 Oktober 1945 setelah Konferensi Dumbarton Oaks di Washington, DC.Dewan Keamanan, salah satu badan PBB, mempunyai kekuatan untuk mengambil keputusan yang harus dilaksanakan para anggota di bawah Piagam PBB.Dewan ini mempunyai 5 anggota tetap yang merupakan pemenang utama PD II, yakni: 1.Republik Rakyat Cina (dulu Republik Cina); 2.Perancis; 3.Rusia (dulu Uni Sovyet); 4.Britania Raya; 5.Amerika Serikat.Kelima anggota tersebut adalah negara-negara yang boleh mempunyai senjata nuklir di bawah Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, dan memiliki hak veto untuk membatalkan keputusan atau resolusi yang diajukan PBB atau Dewan Keamanan PBB.
Era Perang Dingin (perang ideologi negara) sesama anggota PBB, yakni Amerika Serikat (Demokrasi Liberal) melawan Uni Sovyet dan China (Komunis)
25 Juni 1950 – 27 Juli 1953
Perang Korea adalah sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang ini juga disebut "perang yang dimandatkan" (bahasa Inggris proxy war) antara Amerika Serikat dan sekutunya dan komunis Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet (juga anggota PBB). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Sekutu utama Korea Selatan termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Britania Raya, meskipun banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB.
15 April - 19 April 1961
Invasi Teluk Babi (di Kuba dikenal pula sebagai Playa Giron sesuai dengan pantai di Teluk Babi tempat pendaratan pasukan penyerbu) adalah sebuah pendaratan yang direncanakan dan didanai oleh Amerika Serikat dan dilakukan oleh orang-orang Kuba di pembuangan di Kuba barat daya untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro pada 1961. Peristiwa ini menandai klimaks tindakan anti Kuba oleh AS. Invasi ini gagal total dan ternyata menjadi noda internasional bagi pemerintahan Kennedy.
1962
Krisis Rudal Kuba adalah sebuah krisis yang terjadi sebagai akibat dari Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Krisis ini mengungkap fakta bahwa Amerika Serikat telah mensponsori sebuah serangan ke Teluk Babi milik Kuba, sebuah negara komunis di Laut Karibia. Meskipun gagal, penyerbuan ini telah menimbulkan kemarahan Uni Soviet, sebagai pemimpin komunis dunia, maupun rakyat Kuba sendiri.
Pada bulan September 1962, Nikita Khruschev, Perdana Menteri Uni Soviet, menyatakan kepada Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy bahwa setiap serangan berikutnya terhadap Kuba akan dinilai sebagai tindakan perang. Tidak lama kemudian, Uni Soviet segera menempatkan rudal-rudal berukuran sedang yang dilengkapi dengan hulu ledak nuklir di Kuba. Pada tanggal 22 Oktober 1962, Kennedy muncul di muka publik dan menuntut Uni Soviet untuk menarik rudal-rudalnya atau AS akan menyerang Kuba. Maka, dimulailah minggu-minggu yang dikenal dengan sebutan Krisis Rudal Kuba ini.
1965
Gerakan 30 September atau disebut juga pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dipimpin oleh D.N. Aidit.Karena kedekatan Presiden RI Soekarno pada saat itu dengan D.N. Aidit, dan kecenderungan Soekarno ke ideologi Komunis, menguatkan dugaan adanya campur tangan AS dengan dinas intelijennya (CIA) dalam penggulingan kekuasaan Soekarno oleh Soeharto.Lihat perisiwa 1973, penggulingan Presiden Chili.
1973
Melalui Operasi Jakarta, presiden AS, Richard Nixon menggunakan CIA untuk membantu junta militer Chili dalam mengkudeta Presiden Salvador Allende yang beraliran sosialis – yang menang secara demokratis melalui pemilu – dan menaikan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Chile, Augusto Pinochet Agurte.Dia kemudianmenjadi diktator Chili.Sekitar 3.000 orang Chili terbunuh selama masa pemerintahannya.
Kudeta yang dilakukan Pinochet terhadap Allende, bila dicermati amat mirip dengan yang diduga dilakukan Soeharto terhadap Soekarno yaitu setidaknya antara lain pada:
-Beredarnya dokumen yang meresahkan tentang perencanaan pembunuhan beberapa jenderal dan komandan-komandan militer. Hal itu selain terjadi di Chile (dokumen rencana ‘Z’) juga Indonesia (Beredarnya daftar pejabat AD yang akan dibunuh di kalangan tokoh-tokoh buruh, politisi dan elit militer Chili).
-Disebarnya isu yang menimbulkan keresahan dan ketidakstabilan poltitik dalam negeri. Di Chile masyarakat terutama serikat buruh militan dan jenderal-jenderal konservatif mendapat kiriman kartu-kartu kecil di mana tercetak kata-kata "Jakarta Se Acerca" (Jakarta Sudah Mendekat).
-Diduga sangat kuat kedua kudeta tersebut sama-sama di dukung CIA.
1957 - 1975
Perang Vietnam, juga disebut Perang Indochina Kedua, merupakan bagian dari Perang Dingin, di mana dua kubu yang saling berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam Selatan, sedangkan USSR (Uni Sovyet) dan Tiongkok (RRC) mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara komunis.Jumlah korban yang meninggal dari perang ini diperkirakan adalah 280.000 di pihak Selatan dan 1.000.000 di pihak Utara.
1975
Setelah 14 tahun perang gerilya untuk kemerdekaan, dan jatuhnya pemerintahan fasis Portugal oleh kudeta militer, partai nasionalis Angola mulai merundingkan kemerdekaan pada Januari 1975. Kemerdekaan akan dideklarasikan pada November 1975. Hampir segera, perang saudara pecah antara MPLA (Movimento Popular de Libertacao de Angola), UNITA (Uniao Nacional para a Independencia Total de Angola) dan FNLA (Frente Nacional de Libertacao de Angola) – tiga faksi utama di Angola – yang diperburuk oleh campur tangan asing. Pasukan Afrika Selatan bersekutu dengan UNITA dan menyerang Angola pada Agustus 1975 untuk memastikan bahwa di sana tidak ada gangguan (oleh negara Angola merdeka yang baru) di Namibia, yang saat itu masih di bawah pendudukan Afrika Selatan (Hodges, 2001, 11). Uni Soviet mulai membantu MPLA dan memberi banyak dukungan ekonomi, sedangkan pasukan Kuba datang untuk mendukung MPLA pada Oktober 1975, membuatnya bisa mengendalikan ibukota, Luanda, dan menjauhkan pasukan Afrika Selatan. MPLA mendeklarasikan diri untuk menjadi pemerintahan de facto atas negeri saat itu sedangkan secara resmi kemerdekaan diumumkan pada bulan November, dengan Agostinho Neto sebagai presiden pertama.
Pada 1976, FNLA dikalahkan oleh gabungan MPLA dan pasukan Kuba, meninggalkan UNITA (yang didukung oleh Amerika Serikat dan Afrika Selatan) dan MPLA yang Marxis berseteru untuk kekuasaan.
1976 – 1983
Nama Perang Kotor (dalam bahasa Spanyol: Guerra Sucia) seringkali digunakan khususnya untuk mengacu pada pembersihan terhadap warga negara pembangkang yang dilakukan antara 1976 dan 1983 oleh pemerintahan militer Jorge Rafael Videla di Argentina (pada apa yang disebut Proses Re-organisasi Nasional). Pada masa ini, pemerintahan junta yang dipimpin oleh Videla hingga 1981, kemudian oleh Roberto Viola dan Leopoldo Galtieri, bertanggung jawab atas penangkapan ilegal, penyiksaan, pembunuhan, atau penghilangan paksa atas sekitar 10.000 hingga 3.000 orang Argentina. Kejahatan-kejahatan ini adalah bagian dari suatu rencana terorisme negara yang lebih luas — hingga mencakup seluruh Amerika Selatan — yang disebut Operasi Burung Kondor, yang keberadaannya sekurang-kurangnya diketahui oleh Departemen Luar Negeri AS, yang dipimpin oleh Henry Kissinger di bawah Presiden Richard Nixon.
1983
Invasi Grenada, dinamai Operatsi Urgent Fury, adalah invasi Amerika Serikat dan sekutunya di Karibia ke Grenada sebagai respon dari deposisi dan eksekusi perdana Menteri Grenada, Maurice Bishop. Pada 25 Oktober 1983, Amerika Serikat, Saint Vincent dan Grenadines, Dominika, Barbados, Antigua dan Barbuda, Santa Lucia, dan Jamaika mendarat di Grenada, menaklukan perlawanan Grenada dan Kuba, lalu menurunkan pemerintahan militer Hudson Austin.
1983 – 1988
Amerika Serikat membantu persenjataan dan pelatihan gerilyawan Contra melawan pemerintahan sah di Nikaragua.Campur tangan AS ini kemudian diputuskan oleh Mahkamah Internasional – dalam kasus Republik Nikaragua melawan Amerika Serikat – telah melanggar hukum internasional dengan mendukung Contra guerrillas dalam perang melawan pemerintah sah Nikaragua.Pengadilan memutuskan bahwa AS telah melakukan pelanggaran hukum internasional untuk “tidak menggunakan kekerasan terhadap negara lain”, “tidak melakukan intervensi terhadap urusan negara lain”, “tidak melanggar kedaulatan negara lain”, “tidak mengganggu perdagangan damai maritim”, dan pelanggaran kewajibannya di bawah Pasal XIX dari Perjanjian Persahabatan, Perdagangan dan Navigasi antara pihak yang menandatangani di Managua pada tanggal 21 Januari 1956.
1979 - 1989
Perang Soviet-Afganistan merupakan masa sembilan tahun di mana Uni Soviet berusaha mempertahankan pemerintahan Marxis Afganistan, yaitu Partai Demokrasi Rakyat Afganistan, menghadapi mujahidin Afganistan yang ingin menggulingkan pemerintahan. Uni Soviet mendukung pemerintahan Afganistan, sementara para mujahidin mendapat dukungan dari banyak negara, antara lain Amerika Serikat dan Pakistan.
Perang ini menggerogoti perekonomian Uni Sovyet, sehingga memiliki dampak yang sangat besar atas bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991.Akibat perang ini lebih dari 1 juta orang Afganistan terbunuh. 5 juta orang Afganistan mengungsi ke Pakistan dan Iran, dan itu adalah 1/3 dari populasi Afganistan sebelum perang. 2 juta orang Afganistan lainnya dipaksa oleh perang untuk bermigrasi dari Afganistan. Pada tahun 1980, 1 dari 2 pengungsi di dunia adalah orang Afganistan.
1991
Bubarnya Uni Sovyet disebabkan oleh pemimpin terakhirnya, Mikhail Gorbachev, yang memulai semangat liberasasi politik dan ekonomi dengan tiga programnya yang terkenal, yakni program-programnya: glasnost (keterbukaan politik), perestroika (restrukturisasi ekonomi), dan uskoreniye (percepatan pembangunan ekonomi).
Upaya-upaya Gorbachev untuk merampingkan sistem komunis menawarkan harapan, namun akhirnya terbukti tidak dapat dikendalikan dan mengakibatkan serangkaian peristiwa yang akhirnya ditutup dengan pembubaran imperium Soviet. Kebijakan-kebijakan yang mulanya dimaksudkan sebagai alat untuk merangsang ekonomi Soviet, perestroika dan glasnost segera menimbulkan akibat-akibat yang tidak diharapkan.
Keruntuhan Uni Sovyet menandai berakhirnya Perang Dingin.Setelah itu beberapa negara yang dulunya komunis menjadi sekutu AS, seperti Hongaria, Polandia, dan Republik Czech menjadi anggota NATO, dan yang menjadi sekutu terdekat AS dalam “global war on terrorism” (GWOT), seperti Ukraina, Uzbekistan, dan Kyrgystan.
Hegemoni Amerika pasca Perang Dingin dan konspirasi terorisme
1992
Perubahan paradigma kebijakan luar negeri AS dimulai pada tahun 1992. Ketika itu, pada bulat Maret, sekumpulan pejabat penting pada masa pemerintahan George H. W. Bush (Bush senior) dimotori Dick Cheney dan Paul Wolfowitz mengeluarkan Draf Pedoman dan Rencana Pertahanan (Defence Planning Guidance Draft) yang mengharuskan dominasi militer dalam kebijakan AS di masa depan. Dokumen itu, yang di kemudian hari dinamai “Pentagon Paper” menganjurkan pre-emptive force untuk melindungi AS dari senjata pemusnah massal (WMD) serta melakukannya sendirian jika perlu. “Strategi kita (pascajatuhnya Uni Sovyet) harus difokuskan pada pemusnahan segala potensi timbulnya kompetitor global di masa depan” (New York Times, 08/03/1992).
1997
Langkah selanjutnya, di tahun 1997, Cheney, Wolfowitz, Donald Rumsfeld, dan I. Lewis Libby mengorganisasikan diri secara resmi dengan membentuk PNAC (newamericancentury.org).Anggota PNAC terdiri para politisi kanan Republik, Yahudi, intelektual, dan aktivis Christian Right.Zalmay Khalilzad, mantan duta besar AS untuk Afghanistan, yang sekarang menjadi duta besar AS untuk Irak, juga merupakan anggota PNAC.
PNAC merupakan revitalisasi dari serangkaian grup hawkish (penggemar perang) yang berebut pengaruh dengan kelompok antiperang Partai Demokrat di era 70-an.Grup-grup hawkish itu seperti Committee on the Present Danger (didirikan oleh sepasang suami istri, Midge Decter dan Norman Podhoretz) yang hadir di akhir 70-an dan Committee for the Free World (dirikan oleh Descter dan Rumsfeld).
2000
Sebuah dokumen yang berisi analis kontemporer AS dikeluarkan PNAC di bulan September 2000. Dokumen itu menegaskan kondisi AS yang harus “bermain sendirian” (no global rival) dan mengambil peran penting dalam menjaga perdamaian dan keamanan Eropa, Asia, dan Timur tengah. “Grand strategy Amerika harus diarahkan pada usaha memelihara dan mempertahankan posisi yang menguntungkan ini selama mungkin di masa depan” (Rebuilding America’s Defenses: Strategy, Forces and Resources for New Century, newamericancentury.org).
20 Januari 2001
George Walker Bush terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-43 dan dilantik pada tanggal 20 Januari 2001.Bush yang memperoleh kemenangan setelah Mahkamah Agung memenangkannya dalam kasus Floridamelawan capres Al-Gore, memberikan posisi-posisi kunci pada kaum hegemons (istilah yang dimunculkan oleh Daalder dan Lindsay dalam buku America Unbound: The Bush Revolution in Foreign Policy).Mereka itu adalah anggota PNAC, yakni Dick Cheney menjadi wakil presiden, Rumsfeld memperoleh kursi menteri pertahanan, dan Wolfowitz sekarang menjadi Presiden Bank Dunia setelah sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri pertahanan. Selain itu Rize sempat sebagai penasehat keamanan nasional lalu menjadi menteri luar negeri, Douglas Feith di posisi bidang politik di bawah menteri pertahanan, Stephen Hadley menggantikan posisi Rize, I. Lewis Libby mengepalai seluruh staf wakil presiden, Daniel Pipes di unit khusus bidang teror dan teknologi pada departemen pertahanan dan mengepalai US Institute of Peace, Peter W. Rodman di posisi asisten menteri pertahanan untuk hubungan keamanan internasional, dan John D. Negroponte mengepalai Badan Keamanan Nasional (National Security Service, NSC). NSC merupakan muara semua badan intelejen AS, seperti CIA dan FBI. John Bolton, figur kontroversial, yang secara resmi menjadi Duta Besar AS untuk PBB per 1 Agustus lalu.
Mereka inilah yang dikatakan sebagai kelompok rahasia yang mengambil alih kebijakan luar negeri negara yang paling kuat di dunia atau sebuah grup ideologi yang sangat kecil namun menggunakan kekuasaan yang tidak semestinya untuk mencampuri hubungan AS dengan negara lain, membuat sebuah kerajaan dan membuang hukum internasional (Economist, 26/04/03).
11 September 2001 (9/11 WTC Attacks)
Serangan gedung World Trade Center (WTC) di New York, AS oleh teroris internasional dengan menabrakkan dua pesawat komersial yang dibajak.Tuduhan kemudian diarahkan kepada Al-Qaeda, organisasi teroris di bawah pimpinan Osama bin Laden, para mantan pejuang mujahidin Afghanistan – disebut oleh AS sebagai “our local friends” – yang dulu semasa perang pembebasan Afghanistan dari Uni Sovyet yang komunis dilatih dan dipersenjatai oleh AS.
Serangan atas gedung WTC ini menandai dimulainya perlawanan global terhadap terorisme oleh AS, dan merupakan sebuah konspirasi, terkait upaya AS tetap menanamkan pengaruhnya di dunia (lihat perubahan paradigma kebijakan luar negeri AS sejak tahun 1992), dalam rangka perluasan jaringan ekonominya terutama perusahaan-perusahaan eksplorasi minyak, teknologi komunikasi dan informasi, serta penanaman modal (pinjaman luar negeri) kepada negara-negara dunia ketiga.
Dengan alasan telah melindungi Osamah bin Laden – pelaku teror penyerangan gedung WTC – pemerintahan Taliban yang berkuasa di Afghanistan sejak 1996 digulingkan pada tahun 2001 oleh AS.Adanya pemerintahan Taliban yang menggunakan hukum-hukum Islam secara keras di Afghanistan, dan perjuangan faksi-faksi Islam garis keras lainnya di dunia seperti suku Pattani di Thailand, suku Moro di Filipina, suku Tamil di India dan lain-lain merupakan salah satu alasan AS menciptakan isu terorisme sebagai upaya legalisasi perang melawannya.
Apabila anda berwajah arab atau berpenampilan muslim dan berbisik-bisik dengan teman atau saudara anda yang berpenampilan sama di dalam pesawat terbang di Amerika Serikat, anda bisa dicurigai sebagai teroris dan diusir dari pesawat terbang.
Hal ini dialami oleh keluarga Atif Irfan, bersama seorang istri, tiga anak, dua kerabat dan seorang temannya.Irfan adalah seorang pengacara berkewarganegaraan Amerika Serikat yang saat itu bersama-sama rombongannya sedang menaiki pesawat dari perusahaan penerbangan AirTran di Bandara Nasional Reagan, Washington DC (01/01/2009).
Alasan mereka diusir adalah seorang penumpang dan pramugari mencurigai keluarga ini mempunyai hubungan dengan kelompok teroris.Setelah keluar dari pesawat lalu diperiksa oleh FBI (polisi pemerintah federal AS) dan dinyatakan bersih, keluarga itu masih ditolak untuk terbang oleh maskapai AirTran.
“Kami hanya berdiskusi apakah aman jika duduk di bagian sayap, dekat mesin, duduk di depan atau di bagian belakang pesawat.Kami tidak ada mengucapkan kata-kata bom, ledakan, teror dan lain-lainnya.Kami tidak berbicara hal lainnya yang dapat membangkitkan rasa curiga,” ujar Irfan.
Sebagai seorang pengacara Irfan tidak akan menuntut uang tiket kembali, tapi akan tetap berpikir untuk memejahijaukan kasus ini.
Berikut ini video wawancara Irfan dan saudaranya oleh CNN (klik di sini).
Kebanyakan guru agama Islam di sekolah umum dan swasta di pulau Jawa menentang pluralisme, dan memelihara keberadaan radikalisme dan konservatisme, menurut sebuah survey yang dirilis di Jakarta, hari Selasa 25/11.
Hasil survey menunjukkan 62,4 % dari para guru agama Islam yang disurvei, yang berasal dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah – dua organisasi Islam yang paling besar negeri ini – menolak kepemimpinan non Muslim.
Survei tersebut diselenggarakan bulan lalu oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat(PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan mengikutkan sebanyak 500 orang pelajar Islam dan para guru sepulau Jawa sebagai responden.
Survey tersebut mengungkapkan 68,6 % dari responden menolak prinsip-prinsip non Muslim menjadi peraturan di sekolah mereka dan 33,8 % menolak keberadaan guru non Muslim di sekolah-sekolah mereka.
Sekitar 73,1 % dari para guru itu tidak menghendaki para penganut agama lain membangun rumah ibadahnya di lingkungan mereka.
Sekitar 85,6 % dari para guru melarang para siswa mereka untuk ikut merayakan hari-hari besar yang merupakan bagian dari tradisi-tradisi bangsa Barat (contoh : Valentin Day), sementara 87 % melarang para siswanya untuk mempelajari agama-agama.
Sekitar 48 % dari para guru lebih menyukai kalau para pelajar perempuan dan laki-laki dipisahkan ke dalam kelas yang berbeda.
Direktur PPIM Jajat Burhanudin berkata para guru itu anti pluralisme yang dicerminkan di dalam pelajaran yang diberikan oleh mereka dan berperan dalam menumbuhsuburkan konservatisme dan radikalisme di tengah masyarakat Muslim di negeri ini.
"Saya pikir mereka memainkan sebuah peran kunci dalam mempromosikan konservatisme dan radikalisme di tengah masyarakat Muslim sekarang ini. Anda tidak bisa berkata bahwa sekarang konservatisme dan radikalisme hanya berkembang di jalan-jalan seperti apa yang telah dikampanyekan oleh FPI (Pront Pemberla Islam), tetapi secara lebih jauh telah bertumbuh kembang di dalam dunia pendidikan," katanya, dengan memberi contoh kepada sebuah kelompok Islam yang radikal.
Jajat berkata sifat tidak toleran seperti itu akan mengancam hak-hak sipil dan politik dari warganegara yang berlainan agama (non Muslim).
Survei juga menunjukkan 75,4 % dari responden para guru meminta kepada para siswa mereka untuk mengajak para guru yang non Muslim untuk berpindah ke agama Islam, sementara itu 61,1 % menolak keberadaan sekte baru di dalam Islam.
Sejalan dengan keyakinannya yang tegas, 67,4 % responden berkata mereka lebih merasa sebagai Muslim dibandingkan sebagai bangsa Indonesia.
Mayoritas dari responden juga mendukung adopsi hukum syariah di dalam negeri untuk membantu kejahatan perang (diterjemahkan dari fight crime, pen).
Menurut survei, 58,9 % dari responden berpendapat hukuman rajam (dilempari dengan batu) adalah bentuk hukuman untuk bermacam-macam kejahatan dan 47,5 % berkata hukuman untuk kasus pencurian adalah dengan dipotong tangan, sementara itu 21,3 % menghendaki hukuman mati bagi mereka yang murtad atau keluar dari agama Islam.
Hanya 3 % dari para guru tersebut yang merasakan bahwa tugas mereka adalah untuk menghasilkan siswa yang bersikap toleran.
Dengan 44,9 % dari responden mengaku diri adalah anggota Nahdlatul Ulama dan 23,8 % pendukung Muhammadiyah, Jajat berkata berarti kedua organisasi yang moderat itu telah gagal untuk mananamkan nilai-nilai organisasinya di akar rumput.
"Pluralisme dan sikap moderat hanya tampak di kalangan elit organisasi saja. Saya takut kalau fenomena ini ikut memberikan kontribusi terhadap peningkatan semangat radikalisme dan bahkan terorisme di negeri kita," katanya.
Tapi saya tidak tahu, bagaimana perasaan anda setelah membaca berita ini, takut, cukup kuatir atau bahkan gembira ?