Tampilkan postingan dengan label Survey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Survey. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 26, 2009

Survey: 95% Publik Amerika Percaya Tuhan dan 68% Tidak Percaya Evolusi

Hasil survey kali ini cukup mengagetkan saya, dan mungkin menyedihkan bagi pendukung Charles Darwin yang ateis. Bagaimana tidak, 68 % publik Amerika Serikat (AS) tidak mempercayai dongengannya mengenai evolusi – dikatakan ilmuwan sebagai sebuah teori, yang menurut saya hanyalah sebuah hipotesa atau dugaan – dan 95% publik masih percaya kepada Tuhan, sementara Teori Evolusi Darwin semakin diagungkan oleh orang ateis, agnostik serta sekuler untuk melawan agama.


Survey yang dilakukan baru-baru ini oleh Pew Research Center untuk masyarakat dan pers, bekerjasama dengan American Association for the Advancement of Science (AAAS) dengan melibatkan 2.533 orang ilmuwan anggotanya dari tanggal 1 Mei hingga 14 Juni, 2.001 orang dewasa umum dihubungi via telpon dan ponsel dari tanggal 28 April hingga 12 Mei, dan 1.005 orang dewasa umum lainnya selama 18 hingga 21 Juni tahun ini.

Survey memperbandingkan pendapat saintis dengan masyarakat umum mengenai sains dan teknologi serta penerapannya di tengah masyarakat. Sebagian hasil survey tersebut adalah:


A.Tentang Tuhan dan agama


1.Percaya kepada adanya Tuhan: Saintis 51% Publik 95%


2.Ateis: Saintis 41%


3.Data komposisi agama


- Protestan: Saintis 20% Publik 51%


- Katolik: Saintis 10% Publik 24%


- Yahudi: Saintis 8% Publik 2


- Ateis, agnostik (ateis karena malas), agama lain, dan tidak menjawab Saintis 48% Publik 16%


4.Menyatakan diri secara khusus sebagai Ateis: Saintis 17%


B.Tentang sains dan teknologi


1.Peran sains di masyarakat


- Positif: Publik 84%


- Negatif: Publik 6%


- Lainnya: Publik 10%


2.Kontribusi saintis di tengah masyarakat: Publik 70%


3.Pengakuan akan sains



- Pengakuan prestasi Sains AS di dunia: Saintis 49% Publik 17%


- Pengakuan akan teori Evolusi: Saintis 87% Publik 32%


- Pengakuan akan pemanasan global: Saintis 84% Publik 49%


- Kebaikan penggunaan hewan dalam penelitian ilmiah: Saintis 93% Publik 52%


- Kebaikan riset stem sel embrio: Saintis 93% Publik 58%


- Kebaikan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN): Saintis 70% Publik 51%


- Perlunya orang tua memvaksinasi anaknya: Saintis 82% Publik 69%


4.Konflik antara sains dengan agama dalam diri mereka:

Publik 36%


Hasilnya mungkin tidak akan sama apabila survey seperti ini dilaksanakan di Indonesia, tapi bisa memberikan kepada kita sebuah gambaran bahwa publik AS yang sangat liberal – yang dijadikan contoh oleh masyarakat liberal kita – ternyata keyakinan kepada Tuhan masih terus hidup dan pemikiran mereka tidak bebas sama sekali ketika mereka berpikir tentang Tuhan dan agama.



Sumber :

http://pewresearch.org/pubs/1276/science-survey

http://www.republibot.com/content/americans-opinions-science-and-sciences-opinion-itself

Minggu, Juli 12, 2009

Harakiri Ala Lembaga Riset Informasi (LRI)

Ibarat perang, maka Pemilu juga memakan korban. Seperti calon legislatif yang sedeng, anggota dewan yang menjadi pengangguran lagi, pemilih yang terpaksa golput karena tidak masuk DPT, capres-cawapres yang siap pulang kandang, dan yang terakhir; lembaga survey yang harakiri (bunuh diri tradisi Jepang).


Setelah melihat hasil sementara perolehan suara Pilpres 2009 berdasarkan perhitungan cepat atau quick count yang menunjukkan kemenangan mutlak untuk pasangan Susilo Bambang Yodhoyono (SBY)-Boediono, Lembaga Riset Informasi (LRI) – diwakili pentolannya Johan Silalahi, yang juga berada di balik iklan kampanye pasangan Jusuf Kalla-Wiranto – menyatakan membubarkan LRI sebagai wujud pertanggungjawabannya (B.Post 9/7).


Sebelumnya LRI merilis ke publik hasil survey polling pemilih yang dilakukannya, yakni dengan memberikan jaminan bahwa Pilpres akan berlangsung dua putaran. Dikatakannya, survey yang dilakukan di 15 provinsi terpadat di Indonesia ini telah melibatkan 4.000 sampai 12.000 responden per provinsi. Dengan margin of error di bawah dua persen, survey ini juga dikombinasikan dengan analisa sejumlah media massa. Dengan prediksi perolehan suara di atas 30 persen untuk pasangan SBY-Boediono dan Jusuf Kalla-Wiranto, serta di atas 20 persen untuk Megawati-Prabowo, LRI yakin Pilpres akan berlangsung dua putaran.


“Jika pilres satu putaran, saya langsung menutup LRI. Silakan dicatat,” ujar Johan Silalahi, Direktur LRI (B.Post 8/7).

Ternyata kenyatan berkata lain. Dengan perolehan suara lebih dari 60% versi quick count untuk pasangan SBY-Boediono, maka dijamin Pilpres akan berlangsung satu putaran. Untuk itu, dengan tegas Johan Silalahi berkata, “Kami berani menyatakan bahwa Yudhoyono adalah Presiden Indonesia untuk masa jabatan 2009-2014. Pilpres tahun ini juga hanya satu putaran. Karena berbeda dengan survey terakhir, saya membubarkan LRI sebagai bentuk tanggung jawab.” (B.Post 9/7).


Karena dilandasi sikap seorang ksatria, harakiri ala LRI ini patut diberikan hormat yang mendalam. Haik, Sayonara!

Kamis, Desember 25, 2008

Ternyata Wanita Lebih Pilih Ngenet daripada Ngeseks

Kalau anda laki-laki bisa lupa diri ketika sudah membuka komputer dan online di internet, maka jangan salahkan kalau suatu saat pasangan anda menolak untuk berhubungan intim. Bukan karena mereka marah pada anda, tapi kaum wanita juga sudah tergila-gila dengan internet dan mengacuhkan anda!


Ini dibuktikan dengan sebuah survei bebas yang diadakan secara online oleh Harris Interactive bekerjasama dengan Intel Corp., pembuat cip komputer terbesar di dunia dengan responden 2.119 orang dewasa.

Hasil survei membuktikan hampir satu dari dua wanita lebih memilih hidup tanpa seks selama dua minggu dibanding kehilangan waktu untuk online di internet, menurut sebuah survei bebas.


Untuk responden laki-laki hanya 30 % yang lebih menyukai membatalkan hubungan intim demi kesenangannya jalan-jalan di dunia maya.


46 % wanita lebih menyukai tidak melakukan kegiatan seks selama dua minggu dibanding kehilangan akses Internet untuk jangka waktu yang sama, menurut survei dengan judul "Kepercayaan akan Internet di Dunia Ekonomi Saat Ini."


95 % dari keseluruhan responden berkata bahwa “sangat penting, penting atau cukup penting" untuk kemampuan mengakses Internet.


Sedangkan 65 % responden mengaksek Internet untuk mencari kebutuhan sehari-hari seperti langganan televisi kabel (39 %), tempat-tempat makan (20 %), pakaian (18 %) atau keanggotaan klub kesehatan (10 %).


61 % dari responden wanita yang disurvei lebih menyukai tidak menonton televisi selama dua minggu dibanding kehilangan akses Internet untuk satu minggu.

Survei ini diselenggarakan dari tanggal 18 sampai dengan 20 Nopember dengan tidak menyajikan margin kesalahan untuk hasilnya.

Kalau seandainya anda mengikuti survei tersebut kira-kira lebih memilih ngeseks atau ngenet ?

Rabu, Desember 03, 2008

Hasil Survei Terbaru IRDI : Kinerja SBY Cukup Bagus


Suatu survei yang terbaru yang dilaksanakan oleh The Indonesian Research dan Development Institute (IRDI) mengungkapkan bahwa rakyat Indonesia menilai cukup atas kinerja President Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.


Survei nasional ketiga dengan mewawancarai 2.000 responden ini dilaksanakan dari tanggal 6 Oktober sampai dengan 13 Oktober 2008.


Direktur IRDI Nofrida Mandica mengatakan hari Senin (1/12) kebanyakan responden-responden menyukai program pendidikan, kesehatan dan keamanan yang diterapkan oleh pasangan SBY-Kalla, seperti dilaporkan wartawan Antara.


Ketika responden ditanya mengenai agenda-agenda kesehatan dan keamanan maka berturut-turut 57,9 % dan 57,6 % menjawab secara positif, 55,5 % memberi tanda positif untuk program pendidikan dan 52,7 % menyetujui usaha-usaha pemberantasan korupsi.


Tanggapan-tanggapan yang dikumpulkan sekitar kenaikan harga bahan pokok dan kemiskinan berkelanjutan adalah: 63,5 % dari responden tidak puas dengan program pengendalian harga bahan pokok, 52,4 persen merasa tidak senang dengan upaya memecahkan permasalahan kemiskinan dan pengangguran, selagi 49,3 persen tidak puas dengan distribusi bahan bakar dan gas pada waktu enam bulan yang lalu.


Survei juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak begitu memahami mengenai inisiatif-inisiatif pemerintah terhadap keluarga berpendapatan rendah seperti program subsidi buku pelajaran sekolah (30,3 %) dan kredit usaha mikro (39 %).

"Di sisi yang positif, 75,9 % responden menahami perihal dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)," kata Nofrida.


Hasil survey di atas bisa menjadi catatan penting bagi pasangan SBY-Kalla, seandainya tetap berpasangan, jangan sampai menjelang hari pemilihan nantinya tidak melakukan perbaikan-perbaikan. Bagaimana pun permasalahan harga bahan pokok, pengangguran dan kemiskinan akan menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintahan.


Menurut catatan yang ada, selama pemerintahan di era reformasi, tidak satu presiden pun yang bisa mengendalikan harga pasar. Yang sering terlontar adalah kalimat, "Kita akan menyerahkan kepada mekanisme pasar." "Mekanisme" dimaksud adalah siapa yang mempunyai uang banyak bisa mengendalikan harga sesukanya. Mereka menimbun barang sehingga susah dicari di pasaran, setelah harga melambung baru mereka mengeruk untung.


Secara sederhana, apabila harga kebutuhan bahan pokok dapat dikendalikan dan terjangkau oleh kantong masyarakat, tekanan akibat meningkatnya pengangguran dan kemiskinan akan bisa dikurangi.

Rabu, November 26, 2008

Hasil Survey PPIM : Kebanyakan Guru Agama Islam Menentang Pluralisme


Kebanyakan guru agama Islam di sekolah umum dan swasta di pulau Jawa menentang pluralisme, dan memelihara keberadaan radikalisme dan konservatisme, menurut sebuah survey yang dirilis di Jakarta, hari Selasa 25/11.


Hasil survey menunjukkan 62,4 % dari para guru agama Islam yang disurvei, yang berasal dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah – dua organisasi Islam yang paling besar negeri ini – menolak kepemimpinan non Muslim.


Survei tersebut diselenggarakan bulan lalu oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan mengikutkan sebanyak 500 orang pelajar Islam dan para guru sepulau Jawa sebagai responden.


Survey tersebut mengungkapkan 68,6 % dari responden menolak prinsip-prinsip non Muslim menjadi peraturan di sekolah mereka dan 33,8 % menolak keberadaan guru non Muslim di sekolah-sekolah mereka.


Sekitar 73,1 % dari para guru itu tidak menghendaki para penganut agama lain membangun rumah ibadahnya di lingkungan mereka.


Sekitar 85,6 % dari para guru melarang para siswa mereka untuk ikut merayakan hari-hari besar yang merupakan bagian dari tradisi-tradisi bangsa Barat (contoh : Valentin Day), sementara 87 % melarang para siswanya untuk mempelajari agama-agama.


Sekitar 48 % dari para guru lebih menyukai kalau para pelajar perempuan dan laki-laki dipisahkan ke dalam kelas yang berbeda.


Direktur PPIM Jajat Burhanudin berkata para guru itu anti pluralisme yang dicerminkan di dalam pelajaran yang diberikan oleh mereka dan berperan dalam menumbuhsuburkan konservatisme dan radikalisme di tengah masyarakat Muslim di negeri ini.


"Saya pikir mereka memainkan sebuah peran kunci dalam mempromosikan konservatisme dan radikalisme di tengah masyarakat Muslim sekarang ini. Anda tidak bisa berkata bahwa sekarang konservatisme dan radikalisme hanya berkembang di jalan-jalan seperti apa yang telah dikampanyekan oleh FPI (Pront Pemberla Islam), tetapi secara lebih jauh telah bertumbuh kembang di dalam dunia pendidikan," katanya, dengan memberi contoh kepada sebuah kelompok Islam yang radikal.


Jajat berkata sifat tidak toleran seperti itu akan mengancam hak-hak sipil dan politik dari warganegara yang berlainan agama (non Muslim).


Survei juga menunjukkan 75,4 % dari responden para guru meminta kepada para siswa mereka untuk mengajak para guru yang non Muslim untuk berpindah ke agama Islam, sementara itu 61,1 % menolak keberadaan sekte baru di dalam Islam.


Sejalan dengan keyakinannya yang tegas, 67,4 % responden berkata mereka lebih merasa sebagai Muslim dibandingkan sebagai bangsa Indonesia.


Mayoritas dari responden juga mendukung adopsi hukum syariah di dalam negeri untuk membantu kejahatan perang (diterjemahkan dari fight crime, pen).


Menurut survei, 58,9 % dari responden berpendapat hukuman rajam (dilempari dengan batu) adalah bentuk hukuman untuk bermacam-macam kejahatan dan 47,5 % berkata hukuman untuk kasus pencurian adalah dengan dipotong tangan, sementara itu 21,3 % menghendaki hukuman mati bagi mereka yang murtad atau keluar dari agama Islam.


Hanya 3 % dari para guru tersebut yang merasakan bahwa tugas mereka adalah untuk menghasilkan siswa yang bersikap toleran.


Dengan 44,9 % dari responden mengaku diri adalah anggota Nahdlatul Ulama dan 23,8 % pendukung Muhammadiyah, Jajat berkata berarti kedua organisasi yang moderat itu telah gagal untuk mananamkan nilai-nilai organisasinya di akar rumput.


"Pluralisme dan sikap moderat hanya tampak di kalangan elit organisasi saja. Saya takut kalau fenomena ini ikut memberikan kontribusi terhadap peningkatan semangat radikalisme dan bahkan terorisme di negeri kita," katanya.


Tapi saya tidak tahu, bagaimana perasaan anda setelah membaca berita ini, takut, cukup kuatir atau bahkan gembira ?


Sumber : http://www.thejakartapost.com/