Tampilkan postingan dengan label Caleg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Caleg. Tampilkan semua postingan

Senin, April 13, 2009

Caleg Homo (Intermeso)

Pemilu legislatif sudah usai. Masing-masing calon legislatif (caleg) sudah ada yang mengetahui keberhasilan dan kegagalannya. Caleg yang gagal karena mendapatkan sedikit suara memberikan beragam respon atas kegagalannya itu, ada yang pasrah, ada yang nyantai aja, ada juga yang mencak-mencak mengambil kembali uang dan barang yang terlanjur diberikan kepada calon pemilihnya, bahkan ada yang depresi hingga meninggal.


Impian duduk di kursi dewan yang sudah pupus bukan berarti cerita sudah selesai. Sebagai caleg yang sudah mendapatkan suara dalam pemilu, walaupun tidak mencukupi untuk mendapatkan satu kursi di dewan, beberapa caleg yang “masih waras” mulai kasak-kusuk mencari informasi mau dikemanakan perolehan suara mereka itu.


Sebagai anggota spesies homo sapiens yang diciptakan memiliki akal panjang, para caleg yang termasuk golongan homo polyticus (makhluk berpolitik) dan juga tergolong homo economicus (makhluk berekonomi) tidak mungkin berdiam diri membiarkan suara-suara yang sudah dikantongi tersebut terbuang sia-sia alias tidak jadi uang.


Dengan prinsip symbiosis mutualism (hubungan saling menguntungkan) dengan caleg yang mengumpulkan suara kurang sedikit lagi untuk mendapatkan satu kursi, para caleg dengan suara kurang banyak ini pun mulai menawarkan harga jual. Kalau laku, khan lumayan menutupi sedikit lubang-lubang hutang buat biaya kampanye kemarin.


Meskipun secara akuntansi masih belum seimbang antara pengeluaran dan pemasukan, paling tidak mengurangi tingkat depresi hingga menjauhi titik nadir, dan asap dapur masih bisa mengepul lagi.


Kabarnya satu suara bisa laku dijual 1 sampai 2 juta rupiah. Kalau hanya mendapatkan 10 suara berarti akan mengantongi uang 10 sampai 20 juta rupiah, sedangkan untuk kampanye sudah ludes 300 juta rupiah. Apes.




Sumber gambar : http://www.jpnn.com/uploads/berita/dir10022009/img100220091408011.jpg

Minggu, Januari 04, 2009

10 Tokoh Politik Indonesia dan Harapannya pada Pemilu 2009

Pemilu Legislatif dan Pemilu Pemilihan Presiden sudah dekat, tepatnya tanggal 9 April 2009 dan 5 Juli 2009. Kesiapan partai-partai politik, calon legislatif dan calon presiden serta wakil presidennya untuk mengikuti Pemilu 2009 patut mendapat perhatian masyarakat.


Berikut ini adalah 10 tokoh politik dan harapan mereka pada Pemilu 2009.


1. Susilo Bambang Yudhoyono


Pemilu 2009 dilaksanakan dengan amanah, tertib, tenteram dan menghindarkan diri dari fitnah serta kekerasan. "Janganlah kompetisi yang terjadi lima tahun sekali merusak sendi-sendi persaudaraan dan tali silaturahmi,"


2. Jusuf Kalla


Kalau di pemilu legislatif dulu, meskipun Golkar hanya dapat 21 persen, Golkar tetap nomor satu. Targetnya ya tahun 2009 angkanya diharapkan naik. Angkanya berapa, kita lihat saja nanti.


3. Megawati Soekarnoputri


Pencalonan dirinya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2009 memikul tanggungjawab dan tugas berat.
Pada Pilpres tahun 2009 mendatang bisa merebut selisih 21 persen suara yang dimenangkan calon presiden lain, dengan mengoptimalkan semua kader partai dan simpatisan dari masyarakat.


4. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)


Meminta KPU menunda pelaksanaan Pemilu 2009. Gus Dur menganggap persiapan pemilu belum matang. "Ini permintaan besar, KPU pasti marah,"


5. Muhaimin Iskandar


Bentuk konkret koalisi antara PPP, Partai Golkar, Partai Demokrat, PKB dan beberapa partai lainnya tinggal menunggu waktu saja. “Saya yakin koalisi ini akan menjadi kekuatan terbesar dalam pemilihan presiden nanti”.


6. Sultan Hamengkubowono X


Tahun 2009 ini menjadi titik balik untuk membangun Indonesia dengan kerukunan dan kebersamaan. Kabarkan pada tetangga Bapak dan Ibu sekalian bahwa kita perlu perubahan.


7. Hidayat Nur Wahid


Itu adalah harapan dan cita-cita kami. Kami tidak mau datang hanya untuk memperbanyak jumlah partai atau bahkan sebagai pelengkap penderita dan membuat orang menjadi apatis terhadap solusi masa depan Indonesia. Tetapi kami datang sebagai bagian dari solusi. Caranya adalah kami jangan menjadi bagian dari problem atau masalah atau bahkan menjadi pembawa masalah. Problem itu seperti menjalankan politik kotor, menghalalkan segala cara, politik yang menolerir korupsi. Kami tidak terlibat di situ.


8. Prabowo Subianto


Saya mengharapkan Gerindra menjadi partai yang bersih dan benar-benar ingin mengabdi kepada rakyat Indonesia dalam upaya memperbaiki kehidupan bangsa.


9. Erros Djarot


Memang harus diakui bahwa parpol baru sangat sulit mencapai angka electoral threshold dan parliamentary threshold, namun partai kami yakin bisa memperoleh suara antara tiga sampai lima persen pada Pemilu 2009


10. Suryadarma Ali


PPP tahan nafas agar nafasnya sampai pada pemilu. Namun, ini bukan pengikisan. Hanya mengatur waktu, yang lain kan jor-joran di awal. PPP mengatur waktu, agar kekuatan finansial partai cukup hingga pemilu.

Senin, Desember 22, 2008

Mahasiswa dan Upaya Meningkatkan Kesadaran Berpolitik Masyarakat


Untuk ikut berpolitik tidak harus menjadi anggota partai dan menjadi caleg. Dengan mengikuti penyelenggaraan Pemilu dengan baik, dalam hal ini ikut menggunakan hak pilih sudah termasuk berkegiatan politik.


Apalagi seperti yang dilakukan oleh 400 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam ini. Di kantor PB HMI di Jalan Diponegoro, Jakarta mereka mendeklarasikan diri menjadi relawan dalam rangka mengampanyekan gerakan pemilih cerdas.


Selain sebagai antisipasi terhadap kemungkinan membludaknya pemilih yang golput pada Pemilu 2009 nanti, mereka juga menginginkan terjadinya perubahan mendasar di masyarakat dalam berpolitik.

“Ini gerakan relawan, nantinya akan digelar di 186 cabang di seluruh Indonesia. Tujuannya ingin menyadarkan masyarakat tentang perspektif yang rasional pemilu,” jelas Ketua Umum PB HMI, Arip Musthopa.


Artinya, lanjut Arip, pemilih bisa memilih pihak-pihak yang berkaitan diselenggarakannya pemilu seperti partai, caleg, dan yang lain-lain. “Kalau memang track record buruk ya jangan dipilih. Calon lama atau baru tidak masalah yang penting track record,” bebernya.


Arip menambahkan, pemilih yang cerdas merupakan salah satu syarat terselenggaranya pemilu yang berkualitas. Pemilu yang berkualitas harus meliputi kontestan, partai, maupun caleg beretika, taat aturan main, media yang sehat dan objektif, penyelenggara juga objektif, dan pemilihnya cerdas. Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang memahami peraturan pemilu, mengetahui orang dan partai yang dipilihnya dan pemilih yang tidak mau dibodohi oleh caleg yang menggunakan politik uang sebagai alat berkampanye.


Kali ini para mahasiswa yang tergabung di HMI tersebut sudah membuktikan dirinya bahwa stereotif mahasiswa sebagai tukang demo dan sarangnya golput ternyata tidak benar. Salute. Salute.

Rabu, Desember 03, 2008

Wulan Guritno Plin-plan di Banjarmasin Post






Rumah baru dan lebih luas terkadang bisa membingungkan penghuninya. Kebingungan mengatur tata letak barang perabotan, bingung memilih perabotan yang sesuai, juga bingung harus diisi dengan apa.


Begitu juga dengan koran yang mengadakan perubahan format dan penambahan halaman seperti koran pagi Banjarmasin Post. Kotan tertua dan terbesar di Kalimantan Selatan ini sekarang sudah tampil dengan format baru, full colour, bertambah halaman dan bertambah mahal! (Apa boleh buat mahal juga tetap harus berlangganan karena semua orang rumah masih tetap membutuhkannya, terutama ibu mertua yang tidak bisa membuka internet untuk mengunjungi situs Banjarmasin Post On-line atau issuu.com/denny_bpost/).



Wulan Guritno bisa plin-plan?


Seperti sudah diketahui publik, artis Wulan Guritno sedang mengalami “musibah” gagal menjadi calon legislatif untuk Pemilu 2009 nanti. Kabarnya dia “memalsu ijazah” untuk mendaftarkan diri sebagai calon legislatif. Isu miring ini tentu saja dibantahnya, karena katanya dia mengalami keterlambatan menerima ijazah asli dari almamaternya, yaitu sebuah SMA di London, Inggris.


Apakah semangat Wulan masih ada untuk mencalonkan diri kembali sebagai calon legislatif pada pemilu berikutnya di tahun 2014? Maka jawaban plin-plan Wulan Guritno bisa anda baca di koran Banjarmasin Post tanggal 03 Desember 2008. Pada halaman 3 dengan judul Tak Kapok Jadi Caleg, diceritakan Wulan Guritno siap untuk menjadi caleg pada Pemilu 2014, sedangkan pada halaman 27 tiba-tiba Wulan balik kanan dan masih pikir-pikir untuk menjadi caleg lagi pada pemilu tahun 2014, dengan judul berita Wulan Guritno Patah Arang Jadi Caleg.


Saya tidak tahu, apaklah Wulan Guritno yang plin-plan, wartawan pengisi berita yang berbeda dan editornya tidak jeli, atau hanya upaya mengisi kekosongan halaman secara konyol?

Jumat, Oktober 17, 2008

Politikus Menyanyi Cap Keledai

Ada sebuah tebak-tebakan: Seorang yang bukan penyanyi tapi tampil menyanyi di panggung. Suaranya kurang bagus, bahkan cenderung jelek, tapi pendengarnya tidak ada yang protes malahan senang dan memuji-mujinya. Siapakah dia ? Jawabannya : Politikus.


Tebak-tebakan di atas adalah guyonan dari fenomena terakhir yang ditampilkan oleh para politikus kita. Dalam berkampanye mereka menggunakan sarana menyanyi – live dengan alat musik atau berkaraoke – untuk “menghibur” sekaligus menarik dukungan masyarakat.


Sebagai usaha untuk menarik sebanyak-banyaknya konstituen, sah-sah saja. Untuk “menghibur” masyarakat – maaf dari tadi saya menggunakan tanda petik untuk frasa menghibur karena saya tidak merasa terhibur – juga boleh-boleh saja, tapi sebagai sebuah pendidikan politik saya menilainya NOL BESAR.


Kenapa saya mengatakan demikian ? Karena pada saat bersamaan di negeri seberang sana (USA), dua kandidat calon presidennya sedang berdebat seru mengenai bagaimana mengatasi keadaan negerinya dan apa saja upayanya untuk mengatasi keadaan tersebut. Mereka berdebat dengan elegan, tajam dan mengena. Kecerdasan sangat diperlukan dalam situasi seperti itu. Ketika seseorang politikus didesak oleh suatu pertanyaan dan pernyataan spontan dari lawan politiknya, maka seorang politikus yang handal harus segera menemukan jawaban hanya dalam beberapa detik!


Apa yang sudah ditampilkan para politikus kita? Mereka memilih menyanyi karena kata-kata mereka memang sudah tidak bisa dipercaya lagi. Yang mereka sanggup keluarkan dari tenggorokannya hanya serak suara keledai! Bodoh, jelek dan membosankan.

Sabtu, Oktober 04, 2008

Calon Legislatif, Menjual Potensi, Prestasi atau Menjual Diri ?

Daftar para calon legislatif untuk Pemilu 2009 sudah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum. Mungkin di dalamnya ada nama rekan, keluarga, saudara, orang tua atau bahkan nama Anda sendiri. Banyak terdapat nama-nama baru, yang mungkin belum pernah terdengar di kancah dunia politik di daerah maupun di tingkat nasional. Tapi lebih banyak lagi nama-nama lama, para senior, yang tampaknya belum “cukup puas” menikmati fasilitas sebagai anggota dewan dan sekarang mencoba lagi peruntungan dengan harapan terpilih kembali.

Bursa tenaga kerja

Calon legislatif tidak ada bedanya dengan calon tenaga kerja yang mencoba nasib dan peruntungan di bursa tenaga kerja. Mereka melengkapi persyaratan administratif, mengajukan surat lamaran kerja, menunggu pengumuman untuk dipanggil wawancara, interview lalu menunggu keputusan, diterima ataukah ditolak oleh perusahaan atau instansi penerima.

Persamaan caleg dengan pencari kerja bukan hanya itu, tapi pada dasarnya sebagian dari calon-calon legislatif adalah juga orang-orang yang mencoba mencari kesempatan memperbaiki “kehidupan ekonominya”, atau dengan kata lain mencari kehidupan yang lebih baik dari kehidupannya sekarang ini. Seandainya pun kehidupan ekonomi mereka sekarang sudah cukup baik, tentu ada ukuran yang “lebih” yang dikejar seandainya mereka terpilih menjadi anggota dewan nantinya. Mungkin mereka mengejar prestise, nama baik, atau kesempatan-kesempatan lainnya yang tidak bisa didapatkan apabila mereka tidak menjadi seorang anggota dewan – kesempatan untuk mendapatkan materi atau status sosial yang lebih baik.

Pemilih adalah staff bagian personalia

Sebagai pemilih para caleg tersebut di pemilihan umum, maka peran pemilih sangatlah menentukan diterima atau tidaknya caleg sebagai anggota dewan. Posisi pemilih bak bagian personalia yang menyeleksi calon pegawai baru yang sedang memasuki tahap interview. Kedudukan pemilih sedang berada di atas angin. Bisakah Anda sebagai pemilih berperan dengan baik dan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya ? Sehingga hasil pilihan Anda nantinya merupakan hasil terbaik yang akan menentukan nasib bangsa dan daerah Anda sampai lima tahun ke depan ?

Tentukan kriteria atas caleg pilihan Anda

Apa kriteria Anda atas diri caleg yang akan Anda pilih ? Kecerdasan, integritas dan loyalitas terhadap masyarakat, prestasi kerja, akhlak dan budi pekerti atau hanya ketampanan, kerapian berpakaian dan kecakapan berbicara ?

Untuk memudahkan Anda, saya akan membantu menyederhanakan kriteria tersebut dalam tiga hal :

1.Potensi

2.Prestasi

3.Visi dan misi.

1. Potensi pribadi caleg

Kenalkah Anda sebagai pemilih dengan caleg yang Anda dukung ? Teman, tetangga atau kerabat dekat. Atau sekedar dikenalkan oleh orang lain dan meminta kesediaan Anda untuk turut mendukung ?

Hindarkan sejauh mungkin alasan memilih karena permintaan pihak tertentu karena itu sama halnya Anda sudah “diperkosa” oleh kepentingan tersembunyi dari orang yang meminta tersebut. Belajarlah menjadi pemilih yang cerdas dengan belajar untuk mencari tahu, mengenal lebih jauh atau kalau perlu memperlajari secara seksama calon yang akan Anda dukung.

Hal pertama yang patut Anda ketahui adalah potensi apa yang ada pada caleg tersebut sehingga Anda patut memilihnya. Potensi tersebut bisa berupa :

-kecerdasan

-akhlak atau budi pekerti (agama)

-pengendalian emosi

-kematangan berpikir

-kreativitas

-inovatif

-kekayaan

-kedermawanan dan kepedulian sosial

-dan lain-lainnya.

Bagaimana cara Anda mengetahui semua potensi-potensi itu. Ikuti perkembangan kehidupannya pribadi orang itu, keluarganya, pekerjaaan, pertemanannya dan lain-lain. Gunakan sumber informasi dari teman-teman atau kerabatnya, atau dari beberapa media yang pernah memuat tulisan-tulisannya, berita-berita aktivitasnya di organisasi masyarakat dan lain-lainnya. Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya sampai Anda cukup yakin bahwa potensi caleg Anda adalah yang terbaik menurut Anda, baik kecerdasan maupun akhlak dan budi pekertinya.

2. Prestasi kerja dan peran di masyarakat.

Caleg yang Anda dukung seharusnya adalah seorang yang bukan hanya piawai dalam berbicara, tapi juga pandai pekerja dan menghasilkan prestasi yang bermanfaat. Maka kumpulkan informasi tentang prestasinya selama ini. Apakah ia merupakan anggota organisasi masyarakat yang aktif dan berperan penting, atau sekedar penggembira dan nebeng nama saja. Kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah digelutinya untuk kepentingan masyakarakat. Juga bagaimana prestasi kerja di ruang lingkup profesinya. Apa kedudukannya, bagaimana loyalitasnya terhadap pekerjaannya, kedisiplinan kerjanya dan juga bagaimana sikap-sikap kepemimpinan yang ada dalam dirinya.

Tapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana prestasinya dalam membina rumah tangga (seandainya dia sudah berkeluarga). Keberhasilan seseorang dalam membina sebuah organisasi terkecil seperti rumah tangga bisa diproyeksikan dalam menentukan keberhasilannya dalam membina organisasi yang lebih besar lagi.

3. Visi dan kemampuan melihat ke depan serta misi yang diembannya

Yang dimaksud visi dan kemampuan melihat ke depan adalah kemampuan seorang caleg memproyeksikan faktor-faktor potensi dan prestasi di dalam dirinya serta potensi-potensi alam dan masyarakat di lingkungan daerahnya dalam sebuah pandangan akan masa depan daerah beserta upaya-upaya untuk mencapainya.

Pemilih bisa menilai kemampuan ini dengan langsung membaca tulisan-tulisan si caleg di media, mendengar orasinya atau mengadakan diskusi secara langsung dengannya. Gali kemampuan berpikir ke depan dari caleg yang Anda dukung dan ujilah kemampuan analisa dan prediksinya. Tanyakan kepadanya pendapat mengenai permasalahan yang sudah terjadi dan cara menanggulanginya, juga korek kemampuan berpikir ke depannya dan ide-idenya tentang bentuk pembangunan daerah atau nasional yang dicita-citakannya.

Dan terakhir tanyakan apa misinya sehingga berani mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Dan upaya-upaya apa yang sudah dan akan dilakukan untuk mewujudkan visi dan misinya seperti tersebut di atas.

Jangan membeli kucing dalam karung

Peribahasa ini sering diungkapkan dengan maksud agar kita jangan memilih sesuatu tanpa pengetahuan sedikitpun tentang apa atau siapa yang dipilih. Kecerdasan dan sedikit upaya keras harus dimiliki seorang pemilih sebelum menjatuhkan pilihannya. Atau dengan kata lain, seorang pemilih dituntut memiliki kecerdasan untuk menentukan apakah caleg pilihannya masuk dalam kriteria yang dikehendakinya.

Pada dasarnya pendidikan politik yang benar adalah mendidik masyarakat pemilih menjadi pemilih yang cerdas, cermat, teliti dan bertanggung jawab. Cerdas menilai caleg pilihannya, cermat menentukan kriteria-kriteria si caleg, teliti terhadap hal-hal buruk yang terdapat dalam diri si caleg, dan bertanggung jawab seandainya si caleg di kemudian hari ternyata tidak seperti yang diharapkannya dengan cara tetap memberikan kritik, masukan dan saran.

Jangan pilih caleg yang sekedar “anak mami”, caleg “pelacur” dan caleg “bandit”.

Dari daftar caleg yang sudah ada terdapat beberapa caleg yang ternyata hanya merupakan caleg “anak mami” alias menjadi caleg karena kebetulan orang tua atau saudaranya sudah menjadi anggota dewan, pejabat, pengurus partai atau tokoh berpengaruh di daerah atau nasional, tanpa pernah terlihat prestasi nyatanya di tengah masyakarat dan untuk kepentingan rakyat banyak.

Ada juga caleg-caleg oportunis yang tidak jelas pretasinya tapi hanya mengandalkan tampang, kekayaan, dan penampilan yang elite. Caleg seperti ini tidak ada bedanya dengan pelacur yang menjual diri dengan mengandalkan kelebihan fisik untuk mendapatkan keuntungan materi di saat terpilih nanti.

Namun ada yang lebih berbahaya lagi, yakni caleg-caleg “tua” atau sudah pernah duduk sebagai anggota dewan dan sudah jelas-jelas tidak bekerja dengan baik dan suka petantang-petenteng di tengah rakyatnya dan suka makan uang suap. Tipe begini adalah caleg “bandit” yang seharusnya sudah dihukum gantung.

Nah, selamat memilih dengan benar, cermat, teliti, akurat dan bertanggung jawab.

Minggu, September 07, 2008

Masih Ada Partai Politik dan Politikus yang Baik


Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Opini, Kamis 04-09-2008 07:47:31

Pemilu tahun 2009 sudah semakin dekat. Tahapan-tahapan kerja KPU satu per satu dilalui sampai diselenggarakannya Pemilu dengan lancar dan aman nantinya. Partai-partai politik sudah memajang bendera dan simbol-simbolnya di mana-mana, dari kota besar sampai ke desa-desa. Kampanye sudah mulai dilakukan, baik kampanye langsung dengan mengumpulkan pendukung atau pun kampanye melalui televisi dan media lainnya.

Sebagian masyarakat ada yang antusias ikut meramaikan, tapi ada juga yang apatis dan memandang dengan sebelah mata penyelenggaraan Pemilu kali ini. Kenapa ? Jawabannya adalah karena sudah tidak ada lagi kepercayaan terhadap partai-partai politik maupun terhadap politikus-politikusnya yang ikut dalam Pemilu kali ini. Jejak-jejak oknum politikus di DPR yang meninggalkan citra buruk karena banyak yang terlibat korupsi dan kolusi dengan oknum eksekutif telah menumpulkan hati sebagian rakyat untuk mendukung penyelenggaraan Pemilu ini. Pada akhirnya kesimpulan sebagian masyarakat yang menjeneralisasi semua politikus dan semua partai sebagai politikus busuk maupun oportunis dan juga partai politiknya sebagai kumpulan politikus-politikus busuk dan oportunis, semakin sering terdengar. Apa iya ? Tidak ada lagikah partai politik dan politikus yang baik, yang masih bermain bersih dan bekerja dengan amanah ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka saya mengajak Wikimuers semua untuk mengkaji lagi semua peristiwa-peristiwa politik, pengungkapan kasus-kasus korupsi, proses pilkada di daerah masing-masing hingga pencalonan legislatif pada Pemilu 2009 ini. Cobalah kita berpikir jernih dan adil dengan melihat semua partai politik dan politikusnya, mana parpol yang bersih dengan catatan bersih dari para politikus pendukungnya dan mana parpol yang memang berisi politikus-politikus bermasalah dan mungkin busuk. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkan informasi tersebut, tinggal baca koran, tonton televisi atau surfing di dunia maya seperti kita-kita sekarang ini.

Saya yakin kalau kita mau jujur, adil dan tetap berprasangka baik, maka kita akan menemukan bahwa masih ada partai politik dan politikus-politikus yang baik dan bersih tersebut. Saya tidak akan menyampaikan hasil temuan saya, karena akan lebih bijaksana kalau Wikimuers mencarinya sendiri.

Seperti juga cerita malaikat yang protes kepada Tuhan karena akan menciptakan manusia untuk mengisi dunia, yang hanya bisa melakukan pertumpahan darah katanya. Tapi Tuhan bilang, Aku lebih tahu akan penciptaanKu daripada engkau.

Apakah sekarang ini kita akan selalu berprasangka buruk terhadap saudara kita sesama manusia, padahal dulu malaikat sudah berprasangka buruk terhadap kita ? Sedangkan Tuhan Yang Maha Mengetahui masih percaya terhadap kita.

Selasa, September 02, 2008

Partai Mencari Caleg dan Pendaftaran Siswa Baru

Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Opini, Senin 14-07-2008 14:36:18

Ada fenomena unik yang terjadi di Indonesia karena secara kebetulan berlangsung di saat yang hampir bersamaan, yaitu partai-partai politik (parpol) sedang mencari calon legislatif (caleg) untuk mewakili partainya di Pemilu 2009 sebagai wakil rakyat dan anggota DPR / DPRD dan sekolah-sekolah (SD, SMP & SMA) sedang melaksanakan pendaftaran siswa baru.

Apanya yang unik dari kedua kejadian ini ? Yang unik dari kedua kejadian ini adalah sama-sama memburu orang dan sama-sama mengincar uangnya !

Sekolah-sekolah favorit ramai diserbu para orang tua yang berambisi memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah tersebut. Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang memiliki kelas khusus dan berbiaya mahal menjadi incaran para orang tua yang senang mengejar gengsi ketimbang memikirkan masa depan anak-anaknya. Sekolah-sekolah itu pun mengalami panen raya tahunan. Dengan adanya otonomi sekolah, sekolah-sekolah favorit menjadi leluasa membikin program khusus, dan ini berarti pendapatan yang tinggi bisa diraih setiap tahunnya.

Lain lagi dengan parpol-parpol yang sekarang sedang berburu caleg dari kalangan umum dan awam politik - yang penting ada uangnya! Bagaimana ini? Ini bukan cerita isapan jempol ! Istri saya didatangi oleh salah seorang anggota dewan yang kebetulan adalah pelanggan perusahaan biro perjalanan kami, dan dia menawarkan dengan tanpa tedeng aling-aling : calon legislatif untuk Pemilu 2009 ! Padahal istri saya sama sekali awam dengan politik dan dunia politik.

Seandainya saya ijinkan mungkin istri saya akan menerima tawaran tersebut. Tetapi setelah saya menjelaskan bahwa nantinya seorang caleg akan diminta untuk menyediakan sejumlah uang setoran untuk kepentingan partai dan para anggotanya, baik pada masa pencalonan maupun setelah menduduki jabatan sebagai anggota dewan dan juga nantinya akan menjadi "boneka" partai di dewan, akhirnya istri saya memahaminya dan bahkan takut memasuki dunia politik.

Bagaimana seandainya saya yang ditawari kesempatan tersebut ? Maka saya akan memberikan jawaban singkat : terimakasih.