Tampilkan postingan dengan label Taktik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taktik. Tampilkan semua postingan

Rabu, Mei 13, 2009

Melihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) “Bermain Catur” (Jenderal Tanpa Bentuk)

Inilah beberapa cuplikan syair dari Seni Perang Sun Tzu sebagai ilustrasi bagi Anda:


“Jenderal yang terampil akan membentuk lawannya, sementara ia sendiri tanpa bentuk.”


“Gunakan keteraturan untuk menantikan kekacauan. Gunakan ketenangan untuk menantikan kebisingan, inilah yang dimaksud dengan mengatur hati dan pikiran.”


“Buatlah jalan mereka memutar. Dan pancinglah mereka dengan keuntungan.”



Strategi politik cantik


Tidak ada istilah yang tepat untuk menggambarkan langkah-langkah akhir dari SBY menjelang Pilpres 2009 selain: benar-benar langkah cantik.


Kalau seorang pecatur sudah berhasil memusingkan lawan mainnya, dengan menciptakan pion lawan bayangan, adalah benar-benar sebuah langkah cantik. Lihatlah SBY, yang belum menentukan cawapresnya sendiri, memasukkan pion Menteri Jusuf Kalla (JK) ke dalam “koalisi” PDIP-Gerindra-Hanura, mengobok-oboknya hingga pentolan Hanura, Wiranto, berhasil digandeng JK, dan Mega dibiarkan bertolak punggung dengan Prabowo. Ini benar-benar langkah cantik.


Apakah cukup sampai di situ?


Belum. Sekarang Partai Demokrat (PD) sedang melobi PDIP dan ini berarti berpotensi melemahkan “koalisi” PDIP-Golkar-Gerindra-Hanura sehingga jumlah kursi koalisi akan berkurang di kubu ini. Ini artinya SBY sedang melemahkan lawan bayangannya sendiri, yakni pasangan JK-Wiranto.


Sudah selesai?


Belum. Masih ada Prabowo dengan Partai Gerindra-nya yang masih “menjomblo”. Bisa saja PD segera melancarkan “rayuan maut” ke Gerindra, dan ini berarti skak-mat untuk Megawati.


Sekarang bagaimana dengan Megawati? Kalau PDIP menolak lamaran PD berarti oposisi yang lemah. Menerimanya berarti sebuah kemenangan yang sempurna bagi SBY.



Sumber gambar : http://theblogentrepreneur.com/wp-content/uploads/2008/01/samurai.jpg

Sabtu, April 25, 2009

Melihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) “Bermain Catur” (Pengorbanan Wapres Jusuf Kalla)

Tulisan sekuel ini bukan pengulangan tulisan sebelumnya, tapi mencoba memberikan pandangan dari sudut lain, yakni sudut pandang Bapak Jusuf Kalla (JK) Wakil Presiden RI yang sudah berpisah secara politis dengan Presiden SBY.


Memang sulit untuk kembali menarik pion menteri kalau sudah memasuki petak lawan. Seorang pecatur dengan “terpaksa” mempertahankan posisi menteri yang sudah memasuki daerah lawan, karena memang diperlukan di sana. Apalagi pion menteri tersebut berpotensi mengunci pion raja lawan.


Apakah JK terjebak dan tidak bisa melarikan diri? Bisa dibilang ya, bisa dibilang tidak. Dibilang ya, karena tampaknya SBY pun tidak bisa lagi menarik JK ke kubunya. Tidak, karena ada tujuan lain membiarkan JK “dipeluk” lawan. Apakah tujuan itu?



Mega bertemu Prabowo, si kuda hitam yang liar


Kekalahan suara di Pemilu Legislatif 2009 ini secara signifikan sangat memukul perasaan Partai Golkar dan PDIP. Namun rasa sakit lebih terasa di kubu Megawati sebagai lawan tanding utama bagi JK. Kalau bagi Golkar kekalahan ini masih bisa diredam dengan bermain cantik, loncat ke sana, loncat ke sini, bagi Megawati seperti kehilangan banyak darah.


Prabowo Subianto adalah kuda hitam yang lincah dan cenderung liar. Kesempatan emas baginya mendekati Megawati dan merealisasikan langkah-langkah liarnya. Apakah yang ada dalam benak Anda kalau semangat berontak PDIP bertemu dengan ide-ide liar si kuda hitam? Jawabannya adalah “pertempuran” habis-habisan.


Bagaimana SBY melihat hal ini? Kecemasan akan kelanjutan permainannya, yakni Pilpres 2009. Siapa yang bisa menjamin kalau Pilpres 2009 bisa berlangsung tepat waktu dan aman?


Bagi sang menteri sangat besar niatnya untuk kembali ke petak sendiri menemani raja. Namun formasi kadung memaksanya untuk bertahan di petak lawan. Kelangsungan Pilpres 2009 menjadi taruhan seandainya sang menteri berkeras mengambil langkah mundur.



JK dan Akbar


Ternyata perjalanan JK menjadi capres tidak benar-benar mulus. Penentangan di internal Partai Golkar menyeruak dari kubu Akbar Tanjung. Kegagalan JK memimpin Partai Golkar dalam perolehan suara di Pemilu Legislatif menjadi alasan untuk menyingkirkan JK. Kira-kira bagaimanakah nasib JK kalau resmi menjadi capres setelah berkoalisi dengan partai lain dan kemudian kalah dari SBY? Keluar dari permainan dan masuk kotak. Maka sempurnalah pengorbanan JK.




Sumber gambar : http://pecaturjogja.files.wordpress.com/2009/04/kunci3langkahmat2.jpg

Minggu, Februari 15, 2009

Melihat Presiden SBY “Bermain Catur” (Menjelang Babak Akhir)

Istilah “mbulet” dalam bahasa Jawa – saya pinjam dari seorang teman asal Jawa yang suka menggunakan kata ini – maknanya berbicara atau melakukan sesuatu yang bermacam-macam, berputar-putar kesana kemari, namun dengan tujuan dan maksud yang itu-itu juga. Apabila ada orang yang berbicara banyak hal, ngalor-ngidul – istilah dalam bahasa Jawa yang bermakna ke utara dan ke selatan – maka perhatikan ke arah mana pembicaran itu dan biasanya tujuannya hanya satu. Begitu kira-kira makna kata “mbulet”.


Strategi politik Presiden SBY kali ini – yang tergambar dalam “permainan catur politiknya” – adalah langkah berputar-putar dengan maksud membingungkan lawan. SBY mencoba memberi kesan “tidak siap”, “bingung” atau “kehilangan arah” kepada lawan bermainnya. Dan lawan yang terlalu asyik memperhatikannya bahkan menjadi bingung dan menjadi tidak memperhatikan langkah sendiri.



Isu ABS


Melempar sebuah isu politik ibarat melemparkan bom. Bisa melukai lawan politik, tapi juga bisa meledak di dekat sendiri. Tapi kalau kemudian tidak meledak, namun cukup mengagetkan banyak orang, bagaimana?


Maka itulah isu ABS dari SBY. Isu ABS (singkatan dari Asal Bukan presiden dengan nama berawal huruf “S”, maksudnya, ya SBY sendiri karena untuk apa ribut kalau itu orang lain) adalah isu yang kabarnya didapat dari SMS Info – atau dari warta saya di Wikimu tanggal 27 Januari 2009 berjudul ABOG, Asal Bukan Orang Gagal? – disebut beredar di kalangan elite militer. SBY memperingatkan kepada para elite militer itu agar bersikap netral dan tidak berpihak kepada salah satu partai atau capres tertentu.


Isu itu tidak meledak karena kemudian senyap dengan sendirinya, namun cukup mengagetkan kalangan petinggi di militer dan kepolisian. Dalam hati mungkin mereka ngomong, lho, kok tau, ya?



“Perseteruan” Demokrat dengan Golkar, “Perceraian” SBY – Kalla


Setelah berhasil menangkis sindiran “bermain yoyo”, pihak Demokrat dan Golkar tidak tinggal diam. Mereka mengeluarkan langkah “mentri” meninggalkan “raja”, sehingga posisi “raja” tampak lemah dan terancam.


Apabila anda adalah lawan bermain catur SBY saat ini, saya yakin anda akan terus mengincar pion raja yang lemah tersebut. Memusatkan penyerangan ke arah posisi raja dan melupakan bahwa pion menteri dan bidak-bidak lain sedang memasuki jantung pertahanan anda.


Ketidakpastian masa depan duet SBY-Kalla, suara-suara kader Golkar yang menghendaki Kalla sebagai capres dan pernyataan Wakil Ketua DPP Partai Demokrat mengenai perkiraan perolehan suara Golkar pada Pemilu 2009 – yang membikin berang orang-orang Golkar tentu – adalah bagian dari langkah-langkah itu.


Apabila anda belum yakin dengan pengamatan saya ini, anda bisa lihat sikap Wakil Presiden Jusuf Kalla sendiri. Apakah tampak kalau dia bermusuhan dengan SBY?


Sumber gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcr-uVacZgbWNocFFTxD7fhpFXqUrbEfFwSvY9bOk4Q1nXPqQ38Bgiw123hZ5fQkGvsRKxT92kWIIp_nsaYhwh-YS7FJz3HOMedqgTN03YPU_8UWNRlqDJ2uAqjCW0HdJtw8q_uWWFEUE/s320/015-noiz+-+czechmate_1600x1200.jpg


Baca juga :

1. Membaca Strategi Perang SBY

2. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 1)

3. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 2)

4. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 3)


Jumat, November 28, 2008

Melihat Presiden SBY “Bermain Catur” (Bagian 3)


Permainan catur benar-benar permainan otak karena yang berperan hampir seratus persen adalah otak. Mata dan tangan hanya merupakan alat bantu, dan tenaga yang dikeluarkannya juga lebih sedikit dibandingkan tenaga yang dikeluarkan untuk berpikir.


Kesalahan satu langkah dalam permainan catur berarti dua kali lebih berpikir keras untuk mengatasi keadaan akibat kesalahan tersebut. Dan kesalahan langkah akan lebih berbahaya lagi apabila lawan kita melihat dengan jelas ekspresi kita pada saat tengah menyadari kesalahan tersebut. Kenapa? Karena lawan akan mengetahui bahwa ada kesalahan langkah dan di bagian mana kesalahan itu terjadi, maka dia akan memberikan pukulan bertubi-tubi pada titik lemah itu.


Namun pada seorang pemain catur yang handal kesalahan kecil masih bisa ditutupi dengan pengaturan momen-momen. Pengaturan momen dan juga, yah … “sedikit nasib baik” juga menjadi sumber keberuntungan untuk mencapai akhir sebuah kemenangan.



Langkah-langkah manis SBY


Berikut ini saya akan mengemukakan fakta bahwa “papan catur” benar-benar dipegang oleh SBY. Fakta-fakta tersebut adalah langkah-langkah kebijakan pemerintahan SBY yang sebagian dari langkah-langkah itu benar-benar belum berani dilakukan oleh presiden lainnya di masa reformasi, yakni :


1. Dikeluarkannya SKB Tiga Menteri mengenai pembekuan kegiatan organisasi Ahmadiyah, selanjutnya diikuti dengan penangkapan dan penyidangan Habib Riziek pemimpin Front Pembela Islam (FPI) beserta Munarman – yang disebut-sebut sebagai penggerak kegiatan FPI di lapangan.


2. Upaya keras KPK memberangus para koruptor dan “great scene”-nya adalah penahanan Aulia Pohan, besan SBY sendiri sebagai tersangka kasus korupsi dana Bank Indonesia.


3. Pelaksanaan hukuman mati kepada tiga orang pelaku teror bom Bali.


4. Keberhasilan pemerintah menjaga stabilitas politik dan tingkat keresahan masyarakat melewati masa genting krisis keuangan global yang efeknya juga memukul sektor ekonomi makro dan mikro di Indonesia, yang sekarang masih belum berakhir.



Analisa langkah-langkah


Yang menjadi sasaran langkah-langkah SBY adalah meraih dukungan suara sebanyak-banyaknya dari semua golongan masyarakat untuk Pilpres 2009. Syukur-syukur apabila juga turut mendongkrak perolehan suara caleg-caleg Partai Demokrat.


Pada langkah nomor 1 sasarannya adalah umat Islam yang anti aliran sesat Ahmadiyah dan dengan dikeluarkannya SKB Tiga Menteri tersebut di atas sebagaian besar keinginan mereka sudah terpenuhi. Selain itu kalangan umat Islam maupun Non Islam yang “kegerahan” dengan sepak terjang FPI juga terpenuhi “hasratnya” untuk merasa lega dengan ditangkap dan disidangnya pengurus FPI tersebut.


Pada langkah nomor 2 yang menjadi sasaran ada dua, yakni warga masyakarat di dalam negeri dan juga dukungan luar negeri. Bagi warga masyarakat di dalam negeri efek penangkapan dan penyidangan para koruptor – sebagian sudah divonis tetap – memang tidak bisa dirasakan secara langsung. Namun pemerintah tetap ingin menunjukkan kesungguhannya dan tidak tebang pilih dalam upaya memberantas korupsi. Sedangkan efek ke luar negeri adalah terjadinya peningkatan dukungan ekonomi dan politik, terutama dari USA dan negara-negara Eropa.


Langkah nomor 3 adalah kunci utama bagi terbukanya pintu bantuan luar negeri untuk memberikan dukungan ekonomi dan politik. Terbukti tidak lama setelah dilaksanakannya hukuman mati bagi tiga orang pelaku teror bom Bali, Presiden SBY langsung terbang ke luar negeri untuk bertemu dengan para pemberi “bantuan ekonomi” dan di sana terjadi pembicaraan mengenai hubungan bilateral dengan beberapa negara.


Langkah nomor 4 adalah merupakan langkah paling rawan dan masih dalam penuntasan. Kemampuan pemerintah “meredam” media cukup patut diacungi jempol, karena seringkali dalam kasus ekomoni, isu-isu tidak jelas yang di-blow up oleh media akan berujung pada kekacauan, baik berupa rush pada sektor perbankan, gejolak berlebihan di pasar uang, maupun kejahatan ekonomi seperti penimbunan-penimbunan. Akhir dari langkah nomor 4 mungkin akan teratasi dengan didapatnya “bantuan” yang diperoleh dari luar negeri seperti disebutkan pada langkah nomor 3, yang pada masa pemerintahan Orde Baru dulu sangat bangga diberitakan tapi sekarang berusaha ditutup-tutupi. Siapa, sih yang bangga punya hutang ?



Anjing menggonggong, langkah tetap jalan


Sebagai pakar strategi SBY adalah seorang yang benar-benar tenang. Tercatat beberapa komentar miring tidak ditanggapi dengan panas, bahkan benar-benar “no comment”. Dan ini adalah sifat pemain catur sejati. Bagaimanapun ributnya komentar penontonnya, seorang pemain catur tidak boleh terpengaruh, tetap berkonsentrasi ke papan caturnya dan memperhatikan dengan seksama langkah pion-pion lawan.


Beberapa komentar dari lawan politik seperti Gus Dur – yang berganti baju dari seorang negarawan menjadi penggerak golput – jadi bukti langkah politik SBY yang benar-benar mengena. Ini sesuai dengan sebuah ungkapan: “Di dalam sebuah peperangan, bikin lawanmu bertempur dengan orang lain, dan raih kemenangan tanpa luka dan darah.” Dan ini juga terlihat dengan dipertentangkannya Prabowo, Ketua Partai Gerindra dengan Megawati, Ketua PDIP dalam pemberitaan sebagai tokoh-tokoh politik yang dipertandingkan. Berita tersebut muncul tidak lama setelah Megawati memberitahukan kepada publik bahwa tema kampanyenya adalah “sembako murah” yang tidak pernah terwujud di pemerintahan SBY.


Yang paling up to date adalah komentar Syamsul Ma’arif ketua PP Muhammadiyah yang mengatakan “the real president” adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla. Komentar miring terhadap SBY ini sebenarnya tidak pantas keluar dari mulut seorang ketua PP Muhammadiyah. Kalau seandainya beliau mempunyai pengetahuan yang cukup tentang ilmu manajerial dan kepemimpinan, tentu tidak akan berkomentar seperti itu. Bagaimana nanti apabila Presiden lebih sibuk kesana-kemari dan Wapresnya nganggur, pasti akan dibilang Presidennya “One man show” dan “tebar pesona” saja ?


Persaingan di masa kampanye seperti sekarang ini, SBY benar-benar bersikap elegan. Di saat beberapa tokok politik berkoar-koar mengkampanyekan dirinya, SBY hanya muncul sesekali dan tidak “One man show”. Kata sebuah ungkapan: “Biarkan musuhmu berbuat apa saja sampai dia melakukan kesalahan, setelah itu jadikan kesalahan tersebut untuk memukulnya.” Dan kita akan lihat nanti siapa yang akan membuat kesalahan tersebut.



Baca juga :

1. Membaca Strategi Perang SBY

2. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 1)

3. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 2)

4. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Menjelang Babak Akhir)


Sabtu, September 13, 2008

Melihat Presiden SBY “Bermain Catur” (Bagian 2)


Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Opini, Kamis 11-09-2008 09:06:27


Menilai seorang SBY adalah menilai seorang ahli strategi ulung (baca http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8537 dan http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8981) dalam sebuah permainan catur politik. Bagi seorang pemain catur, pengorbanan pion-pion di dalam permainannya adalah hal biasa dan itu dimaksudkan untuk mempengaruhi pikiran lawan sekaligus membongkar pertahanan musuh. Pengorbanan yang diambil harus sesuai dengan nilai strategis yang didapat. Berkorban satu pion tidak akan merugikan apabila akhirnya berhasil menewaskan beberapa pion musuh dan memporakporandakan permainan lawan.

Pengorbanan perwira gajah

Sejatinya pion perwira gajah adalah pelindung jalur Raja sekaligus pendobrak pertahanan musuh dari jarak jauh. Pengorbanan seorang pecatur berupa pion perwira gajah biasanya harus bernilai tinggi dengan mendapatkan, paling sedikit pion kuda lawan. Dan langkah ini ternyata – seperti sudah diduga oleh saya sebelumnya – akan diambil oleh SBY. Perwira gajah itu adalah Aulia Pohan, besannya sendiri yang pernah menduduki jabatan Deputi Gubernur BI di masa pemerintahan presiden Megawati.

Semakin jelasnya kasus suap terhadap Komisi IX DPR RI

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar mengisyaratkan nasib Aulia Tantowi Pohan bakal sama dengan para petinggi Bank Indonesia lainnya yang kini ditahan.

Saat dicegat usai rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR, Rabu (10/9), Antasari pun menyatakan pihaknya berpijak pada proses dan melalui tahapan-tahapan. Dan menurutnya surat dakwaan terhadap Burhanuddin Abdullah (mantan Gubernur BI) adalah bersama-sama dengan beberapa orang lainnya. Ini menunjukkan kalau KPK tidak tebang pilih dalam kasus penyuapan terhadap Komisi IX DPR RI untuk menggolkan Miranda S. Goeltom sebagai Gubernur BI.

Dalam dengar pendapat dengan Komisi III DPR RI tersebut, Antasari dicecar pertanyaan terkait status Aulia Pohan yang kini masih sebagai saksi. Walaupun status Aulia juga sebagai besan presiden, Antasari menegaskan bahwa tidak ada tebang pilih dalam pemberantasan korupsi. Yang dihukum kan perbuatannya, bukan statusnya, jelasnya.

Di dalam surat dakwaan terhadap mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah secara jelas disebutkan bahwa Aulia Pohan bersama-sama dengan yang lainnya ikut melakukan pencairan dana suap tersebut.

Lawan yang mulai kelimpungan

Lawan SBY di depan papan catur sudah terlihat garuk-garuk kepala. Bagaimana tidak ? Ternyata langkah strategis SBY telah membabat tidak sedikit pion-pionnya yang saat itu menjadi sebagian besar anggota Komisi IX DPR RI dan ikut merasakan nikmatnya aliran dana Rp. 20 milyar tersebut. Maklum saat itu kemenangan berada pada partainya sehingga beberapa anggota legislatif dari partai tersebut mengisi sebagian besar keanggotaan di Komisi IX DPR RI.

Sekarang, kita tinggal menunggu saja apa langkah-langkah selanjutnya, karena Pemilu 2009 sudah semakin dekat dan suhu politik pun semakin panas.



Sumber: Harian Pagi Banjarmasin Post tanggal 11 Septembe 2008


Baca juga :

1. Membaca Strategi Perang SBY

2. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 1)

3. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 3)


Senin, September 01, 2008

Melihat Presiden SBY “Bermain Catur”



Pernah tayang di Wikimu pada Kanal Opini, Selasa 17-06-2008 15:20:14


Pesta demokrasi Pemilu 2009 sudah di depan mata. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menyelesaikan sebagian tahapan-tahapan kerjanya dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Pemilu tersebut. Tahapan-tahapan kerja dimaksud ditetapkan di dalam Peraturan KPU No. 09 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Program dan Jadual Penyelenggaraan Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tahun 2009 - lihat keterangan situs di bawah yang memuat peraturan KPU tersebut.

Tahapan kerja berikutnya yang harus dilaksanakan oleh KPU menurut peraturan tersebut adalah Tahapan Pencalonan Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Dimana untuk tahapan pencalonan tersebut akan dilangsungkan dari tanggal 5 Agustus sampai dengan 3 Oktober 2008. Berarti waktu yang tersisa bagi partai politik untuk menentukan calon legislatifnya adalah tinggal tiga bulan lagi.

Kubu Muhaimin dimenangkan PN Jaksel

Setelah dimenangkannya kubu Muhaimin Iskandar dan Lukman Edy dalam persengketaan dirinya dengan kubu Ali Masykur Musa disebabkan diberhentikannya Muhaimin Iskandar dari jabatan ketua umum Dewan Tanfidz DPP PKB dan Lukman Edy sebagai sekretaris jenderal (Sekjen) Dewan Tanfidz DPP PKB oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan pada hari Kamis (12/6) kemarin, rencananya PKB kubu Ali Masykur Musa akan melakukan kasasi ke tingkat pengadilan yang lebih tinggi.

Seperti diketahui pihak-pihak yang berseteru di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini adalah terdiri dua kubu. Kubu pertama sebagai penggugat adalah Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB Muhaimin Iskandar dan secara terpisah penggugat yang lain adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Tanfidz DPP PKB Lukman Edy, sedangkan kubu yang berstatus sebagai tergugat adalah sebagai DPP PKB, Ketua Umum Dewan Syura Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sekretaris Dewan Syura Muhyidin Arubusman, Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz Ali Masykur Musa, serta Sekjen Dewan Tanfidz Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid). Sementara itu, Lukman Edy menggugat dirinya sebagai Sekjen DPP PKB dengan pihak tergugatnya adalah Gus Dur, Muhyidin Arubusman, Muhaimin Iskandar, dan Yenny Wahid.

PKB bisa ketinggalan kereta

Rencana pihak tergugat untuk naik banding (kasasi) ke tingkat pengadilan yang lebih tinggi bisa menjadi bumerang bagi partai mereka, PKB. Waktu yang tersisa untuk menentukan calon legislatif dan pendaftarannya ke KPU kurang lebih tiga bulan lagi sesuai dengan jadual kerja KPU untuk Pemilu 2009 tersebut di atas. Maka apabila pihak PKB masih belum selesai mengkonsolidasikan diri dan menentukan siapa-siapa yang akan ditunjuknya sebagai calon legislatif mewakili partai mereka pada Pemilu Legislatif Tahun 2009 sebelum tanggal pendaftaran calon legislatif berakhir, berarti PKB bisa ketinggalan kereta di Pemilu 2009 ini. Apakah artinya semua ini ?

Keterkaitan kasus Ahmadiyah dengan kasus ini

Apabila kita menghubungkan antara kasus Ahmadiyah dengan kasus PKB ini, maka ada gambaran yang jelas bahwa permainan ini sedang berlangsung. Strategi "perang" SBY sudah berjalan di atas sebuah "papan catur" politik menjelang Pemilu 2009. Langkah-langkah manis sudah diambil. Kasus SKB Ahmadiyah adalah sebuah langkah kuda yang cantik sebagai bagian langkah pembukaan Italia setelah sebelumnya menjalankan bidak - sebagai langkah awal - yaitu letupan-letupan penolakan keberadaan Ahmadiyah oleh sekelompok umat Islam sejak beberapa bulan lalu.

Apakah pihak Ahmadiyah akan menggugat SKB - dan kemungkinan besar pihak Ahmadiyah akan dikalahkan di pengadilan oleh pihak pengusung SKB - atau tidak, langkah SBY selanjutnya tetap akan memajukan gajah ke petak berikutnya. Gajah ini adalah perseteruan di kubu PKB seperti tersebut di atas. Dengan menangnya pihak Muhaimin Iskandar sebagai penggugat berarti pihak tergugat - Ali Masykur Musa dan kawan-kawan - akan mengajukan banding (kasasi) ke tingkat pengadilan yang lebih tinggi. Menurut analisa jangka waktu yang tersedia untuk pendaftaran calon legislatif seperti tersebut di atas, maka pihak PKB bisa kehilangan kesempatan untuk mengikuti Pemilu 2009 apabila sibuk mengurusi kasasi ke MA. Langkah gajah SBY ini pun hampir tidak bisa dimentahkan. Apakah mungkin Gus Dur sebagai orang yang berada di kubu Ali Masykur Musa mau mengalah dengan keponakannya sendiri, Muhaimin Iskandar ? Kecuali Gus Dur mau mengalah dan PKB tetap bisa ikut Pemilu 2009, tetapi hal ini berarti selamanya Gus Dur akan tetap kalah dengan keponakannya itu.

Siapa lawan SBY bermain catur ini ?

Sampai di sini mungkin pembaca bisa meneruskan analisanya sendiri dan menjawab pertanyaan di atas, siapakah lawan SBY bermain catur ini ?

Sebagai gambaran saya mencoba meringkas analisa permainan catur SBY ini, yaitu :

1. Massa yang anti dengan keberadaan Ahmadiyah di Indonesia adalah sebagian besar massa Islam yang tergolong mayoritas (Termasuk massa Islam tradisional, sayap lain dari NU yang tidak berada di pihak Gus Dur dan juga massa Islam dari kelompok lain).

2. Massa yang mendukung Ahmadiyah di Indonesia adalah kelompok massa Islam di pihak Gus Dur ditambah dengan massa Islam Liberal dan kaum nasionalis liberal.

3. PKB yang terpecah kemungkinan akan mengalami kekacauan sehingga tidak bisa menetapkan calon legislatif dan bahkan calon presiden untuk Pemilu 2009.

4. Massa PKB di kubu Muhaimin Iskandar jelas tidak akan memilih Gus Dur sebagai calon presiden, dan kemungkinan akan memalingkan muka ke calon presiden yang lain. Calon presiden yang mana ? Yaitu calon presiden yang telah "membantu" kemenangan kubu Muhaimin Iskandar atas kubu Ali Maskyur Musa.

5. Gambaran yang jelas sudah terbentuk bahwa massa mulai terkelompokkan menjadi dua kubu besar, massa Islam mayoritas yang mengusung SKB Tiga Menteri dan massa Islam dari PKB kubu Muhaimin Iskandar yang kemungkinan berada di belakang SBY, dan massa Islam di belakang Gus Dur, massa Islam Liberal serta kaum nasionalis Liberal lainnya yang tergolong minoritas yang kemungkinan akan berada di belakang "calon lain". Siapakah dia ?


Catatan :

Peraturan KPU No. 09 Tahun 2008 bisa dilihat pada : http://www.scribd.com/doc/2890421/Peraturan-KPU-No-09-Tahun-2008 dan bagian lampirannya pada http://www.scribd.com/doc/2890698/Lamp-Per-KPU-No-09-Tahun-2008



Baca juga :

1. Membaca Strategi Perang SBY

2. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 2)

3. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 3)

Membaca Strategi “Perang” SBY


Pernah dimuat di Wikimu pada Kanal Opini, Jumat 30-05-2008 14:21:57


Catur, kata teman saya, adalah sebuah simulasi sebuah peperangan. Permainan catur bukan sekedar masalah menang dan kalah yang bersifat kebetulan, tapi adalah kemenangan yang diraih dengan strategi dan perhitungan yang matang. Kata teman saya yang memang gemar bermain catur - kebetulan saya bukan pemain catur yang handal - permasalahan utama dalam permainan catur adalah permasalah position (letak) dan timing (waktu). Permasalahan buah catur mana yang tersisa bukanlah masalah bagi seorang pecatur handal, tapi yang prinsip adalah letak-letak buah catur tersebut di atas papan dan kapan serta ke petak mana buah catur itu dipindahkan.

Mengurus negara ini seperti bermain catur, kata teman saya lagi. Pengaturan strategi perang yang baik di dalam permainan catur akan sama pentingnya apabila diterapkan di dalam pengaturan strategi mengurus negara. Strategi yang dibicarakan di sini adalah strategi mengeluarkan kebijakan ke publik. Pemerintah sebagai penghasil kebijakan adalah suatu pihak di satu sisi dan publik adalah pihak lain di sisi yang berseberangan. Apabila publik berpotensi melawan kebijakan, maka publik bisa menjadi "musuh" bagi pemerintah . Dan bagi pemerintah tidak ada jalan lain bahwa publik harus dibikin tunduk terhadap kebijakan tersebut dengan cara apa pun.

Ahli strategi perang

Presiden SBY dikenal sebagai seorang Jendral TNI dan Panglima Tertinggi yang benar-benar mempunyai pengalaman di bidang militer selama puluhan tahun dengan berbagai bidang dan jabatan, antara lain pernah menjabat dosen di Seskoad (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat), Command and General Staff College di Amerika Serikat, komandan pasukan dan teritorial, perwira staf, pelatih dan dosen, baik di daerah operasi maupun markas besar, Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad, Panglima Kodam II Sriwijaya dan Kepala Staf Teritorial TNI, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman setumpuk di bidang perang dan strategi peperangan dalam hampir sebagian besar hidupnya seperti tersebut di atas, tentu SBY akan memandang pengaturan negara ini menurut cara pandang seorang tentara. Seorang pengatur strategi perang akan melihat "lawan-lawannya" dengan penuh perhitungan dan tidak gegabah, karena kesalahan perhitungan sedikit saja dalam sebuah pengaturan strategi perang, bisa membawa akibat fatal dan akan berujung pada kekalahan.

Taktik menciptakan kebingungan lawan

Dalam filsafat perang Zen disebutkan bahwa mengenal musuh dengan jelas adalah merupakan sebuah kemenangan awal. Dan ini berarti pihak yang tidak mengenal musuhnya adalah pihak yang lemah dan cenderung kalah. Dalam sebuah perang, kebingungan yang terjadi dalam sebuah pasukan tempur bisa berakibat kacaunya komando dan bisa berarti melemahnya mental sehingga akan menumbuhkan rasa takut di hati prajurit. Kebingungan dan ketakutan dalam sebuah peperangan adalah sebuah kombinasi buruk yang bisa berakibat sebuah kekalahan telak.

Rencana pemerintah menaikkan harga BBM beberapa waktu yang lalu menurut sebagian pengamat ekonomi dan sosial berkesan tidak terencana dan sangat tidak jelas. Rumor yang beredar seperti absurd dan tidak jelas sehingga masyarakat dibikin bingung akan kepastian kenaikan harga BBM tersebut. Kenaikan harga BBM di tingkat dunia sudah jelas terjadi secara berfluktuatif setiap saat, dan sebagai imbas langsung sepertinya kenaikan harga minyak di dalam negeri sudah tidak bisa dihindarkan.

Beberapa pengamat dan pakar ekonomi memberikan pendapat sebaliknya bahwa harga BBM tidak perlu dinaikkan dengan alasan pemerintah bisa mencari solusi lain untuk menutupi pembengkakkan biaya yang mungkin terjadi pada kas negara. Ditambah lagi desakan dari bagai pihak kepada pemerintah untuk membatalkan rencana menaikkan harga BBM. Pendapat para pakar-pakar tersebut turut menambah lengkap penyebab kebingungan publik, apakah harga BBM di dalam negeri akan dinaikkan dan subsidinya dikurangi atau tidak jadi ?

Publik yang bingung, termasuk para mahasiswanya, akan sulit untuk menentukan langkah. Di awal-awal bulan sebelum kenaikkan harga BBM demonstrasi-demonstrasi kecil yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa seperti tidak mendapatkan dukungan dari teman sejawatnya sesama mahasiswa dari daerah-daerah lain, apalagi kalau mengharapkan dukungan masyarakat. Masyarakat selain bingung akan kepastian kenaikan harga BBM, juga sedang sibuk mempersiapkan diri secara ekonomi dan mental apabila sewaktu-waktu harga BBM benar-benar dinaikkan oleh pemerintah. Jadilah kelompok mahasiswa kehilangan "partnernya".

Pasukan lawan yang terpecah

Kelompok mahasiswa dan masyarakat umum seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Mahasiswa sibuk dengan program-program demonstrasinya, dan masyarakat yang masih bingung terlihat sibuk dengan persiapan mental dan ekonominya menghadapi kenaikan harga BBM.

Ketika kenaikan harga BBM mendekati hari H-nya, konstelasi demonstrasi oleh para mahasiswa meningkat di mana-mana, tapi bagaimana dengan masyarakat luas ? Ternyata tidak ada sedikitpun pergerakan di tengah masyarakat, kebanyakan mereka hanya berharap bahwa demo para mahasiswa akan dapat mengetuk hati pemerintah dan harga BBM di dalam negeri tidak jadi dinaikkan. Bahkan ada sebagian masyarakat yang mencibir bahwa demo oleh para mahasiswa itu sia-sia saja, seperti pelanduk melawan gajah. Sepertinya kenangan sentimentil akan mahasiswa tahun 1998 yang berhasil mengulang kejayaan parlemen jalanan mahasiswa tahun 1966 di masa lampau, tidak akan terulang di tahun 2008 ini. Karena ternyata "pasukan" mahasiswa dan rakyat yang telah berhasil membuahkan reformasi di tahun 1998 telah terpecah, jadilah tinggal mahasiswa sendiri yang harus menghadapi "perang" tanpa harapan.

Bom BLT

Setelah berhasil menciptakan kebingungan dan perpecahan, pemerintah pun sudah menyiapkan langkah stategis berikutnya, yaitu menjatuhkan bom yang bernama Bantuan Langsung Tunai (BLT). Bom ini tidak hanya akan menambah jauh jarak antara mahasiswa dengan rakyat, tapi juga sanggup memecah-belah barisan mahasiswa sendiri dan juga menambah kebingungan yang sudah terakumulasi terus berlanjut. Pasukan menjadi kocar-kacir. Rakyat kecil beramai-ramai mendaftarkan diri untuk mendapatkan jatah BLT, aparatur di daerah mengalami kebingungan apakah harus melaksanakan perintah pembagian BLT ini atau menolaknya, bahkan para mahasiswa juga bingung setelah pemerintah menjatuhkan bom BLT ke barisan mahasiswa. Ya, setiap mahasiswa juga akan diberikan BLT setiap satu semester sebesar Rp.500 ribu !

Kebingungan menghadapi akibat langsung kenaikan harga BBM dan rasa sukacita karena mendapatkan BLT bercampur aduk di tengah masyarakat. Para supir angkot dan angkutan umum lainnya demo menuntut kenaikan tarif angkutan, sementara masyarakat sedang "menikmati" kenaikan harga barang kebutuhan hidup sehari-hari sambil berharap bisa mendapatkan BLT, dan mahasiswa sibuk terus berdemo dan seperti keasyikan sendiri. Sebuah suasana "perang" yang kacau dan tidak fokus.

Kemana partai-partai politik ?

Komentar miring sebagian pengurus partai-partai politik, terdengar hambar dan tidak menyentuh di hati rakyat. Komentar-komentar dari mereka berkesan asal keluar setelah mendengar suara-suara sumbang di tengah masyarakat yang mempertanyakan perihal keberadaan mereka ketika rakyat berteriak-teriak kebingungan menghadapi kenaikan harga BBM dan akibatnya terhadap perekonomian rakyat. Bahkan komentar seorang mantan presiden yang dulu juga pernah menaikkan harga BBM berkesan seperti dagelan karena kemudian diujung komentarnya mengungkapkan alasan kenapa dulu dia menaikkan harga BBM.

Barangkali kita bisa menjadi maklum karena partai-partai itu sedang sibuk bersiap-siap diri menghadapi Pemilu 2009, baik persiapan personal maupun persiapan dana. Partai-partai politik di negeri ini memang tidak ada yang betul-betul kaya, sehingga masih mengharapkan dana Pemilu dari pemerintah untuk operasionalnya. Kalau sudah begini bagaimana mungkin mereka bisa bicara dengan benar ?

Jadi karena semua kondisi inilah mungkin yang membuat pemerintah, dalam hal ini Wakil Presiden Jusuf Kalla berani mengungkapkan rencana pemerintah untuk kembali menaikkan harga BBM untuk kedua kalinya. Hanya Tuhan Yang Tahu.



Baca juga :

1. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 1)

2. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 2)

3. Melihat Presiden SBY "Bermain Catur" (Bagian 3)